Carroline ( dimuat di koran Jurnal Bogor, 26 September 2010 )

oleh Mashdar Zainal

Liz telah menyiapkan hidangan makan malam dengan sangat sempurna. Sup wortel sebagai makanan pembuka, steak cumi panggang dan nasi merah sebagai hidangan inti, ditutup dengan pudding cokelat bertabur kacang almond. Anggur, apel kiss, dan carry muda selalu ia siapkan sebagai pencuci mulut. Carroline (7 tahun), putri semata wayang Liz, sudah tidak sabar menunggu ibunya menyelesaikan tata hidangnya. Celemek bermotif kelopak sakura sudah dipakainya sejak tadi.

“Kau sudah lapar, Carrol?” Tanya Liz sambil menata piring dan garpu-sendok dengan tata aturnya.

“Tentu, Mom. Aku sudah tidak sabar. Perutku sudah berkokok-kokok.”

“Sabar sedikit ya! Kita tunggu Dad dulu, sebentar lagi dia pulang.”

“Ah…, Tunggu Dad lagi. Tapi Carrol sudah lapar, Mom!” Liz terdiam memandangi wajah putrinya, memohon sedikit pengertian.

“Dad pasti akan pulang terlambat lagi, Mom, dan aku sudah lapar. Benar-benar lapar.” Carroline merajuk, tidak memedulikan tatapan ibunya.

“Kenapa kita harus selalu menunggu Dad, Mom?” Cerocos Carroline lagi.

Liz tersenyum kecut. “Karena, tanpa Dad, makan malam ini bukan makan malam keluarga.” Ungkapnya.

“Ingat!!! Makan malam keluarga bukan malam malam keluarga tanpa seorang lelaki. Jadi, jangan pernah ada makan malam sebelum aku datang!” Liz terigat ancaman Matt, suaminya. Liz tak sanggup menjelaskan pada putrinya tentang perangai bapaknya yang begitu keras.

Liz tak bisa mengingat-ingat, sejak kapan perilaku Matt, suaminya, menjadi demikian kasar. Tapi yang Liz sadari, perilaku Matt berangsur berubah sejak pertama kali Matt tahu bahwa bayi yang dikandung Liz adalah bayi perempuan, bayi yang menurut Matt hanya pandai merajuk dan menangis.

Memang, sejak pertama kali mereka berpacaran, Matt selalu berangan-angan menimang bayi lelaki. Sering sekali Matt bercerita panjang lebar tentang keajaiban bayi lelaki. Kata Matt, lelaki adalah awal dari sesuatu yang megah. Bahkan wanita pertama sekalipun dicipta dari rusuk seorang lelaki.

Maka, sepanjang hari Liz memelihara kekhawatirannya. Ia takut jika suatu saat nanti tak bisa memberi Matt sebuah kebanggaan: bayi lelaki. Liz membayangkan, Matt akan membencinya, menjauhinya, memadunya, atau kalau lebih buruk lagi menceraikannya. Ah, rasa sakit itu sudah terawang-awang di benak Liz sejak lama. Tapi apa boleh buat, waktu itu Liz begitu mencintai Matt. Ia sangat takut akan kehilangan Matt. Tapi entah mengapa, cinta itu berangsur pudar ketika perilaku Matt berubah menjadi demikian liar dan ringan tangan, jauh dari yang ia bayangkan. Meski lahir dan bathin Liz sudah memar membiru, namun Liz tetap berusaha mempertahankan jatidirinya sebagai istri, juga sebagai ibu dari Carroline, permata hatinya. Ya, setidaknya Liz masih punya Carroline, jika suatu saat nanti Matt melemparnya ke jalanan.

Sejak Carroline menggeliat dalam timangannya, Matt menjadi jarang di rumah. Ia lebih sering nongkrong di café biliyard, bermain taruhan dan sesekali berburu rusa ke hutan di pinggiran kota. Kealpaan Matt di rumah, bagi Liz adalah hal yang lebih baik. Karena, ketika Matt berada di rumah, Liz tak pernah menemui kenyamanan. Matt selalu saja mencari-cari kesalahan Liz, agar bisa melampiaskan kekecewaanya. Bahkan hal-hal sepele seperti hidangan makan malam yang kurang cocok, cukup bisa Matt jadikan alasan untuk menyeret Liz ke dalam kamar, menggelandangnya melewati tangga, dan menjadikannya bulan-bulanan tengah malam. Dan Carroline tak pernah bisa memahami itu. Begitu rapi Liz menyembunyikan memar di balik senyumnya, demi Carroline. Ketika Carroline bertanya, mengapa Liz suka menjerit-jerit dalam kamarnya, Liz selalu menjawab bahwa Dad suka menggelitiknya habis-habisan.

“Lalu mengapa malam itu Dad menyeretmu, Mom?” Tanya Carroline juga.

“Oh, kalau itu memang Mom yang salah! Mom pantas mendapatkan itu. Sebenarnya Dad-mu sangat sayang pada Mom, dan tentu juga padamu. Kau tahu itu, kan?” Carroline mengangguk saja.

***

Setengah jam berlalu, Matt belum juga muncul dari balik pintu. Carroline menatap pudding cokelat yang mengkilap di atas meja. Carroline menelan ludahnya. Liz memperhatikan itu. Carroline lemas, menundukan kepalanya hingga membentur bibir meja.

“Dad sebentar lagi datang, dan kita akan makan malam bersama. Makan malam keluarga. Oh ya, bonekamu mana, Carrol? Tak kau ajak dia makan malam?” Liz mengalihkan perhatian putrinya.

Carroline mengangkat kepala dan tersenyum lebar. “Kau benar, Mom. Aku melupakan Chaty, akan kujemput dia sekarang.” Carroline melompat dari kursinya, berlari ke dalam kamar untuk mengambil Chaty, boneka chubby-nya. Liz tersenyum lalu menundukkan kepalanya. Beberapa saat kemudian, Carroline datang dengan Chaty yang sudah ia dekap di dadanya.

“Katakan pada Chaty, sebentar lagi makan malam akan dimulai. Suruh dia bersiap-siap.” Tutur Liz. Carroline mulai berbisik di telinga Chaty. Selanjutnya ia asyik bersama bonekannya. Beberapa kali Liz menatap jam dinding tua yang detiknya terasa sangat lelet.

“Dad kapan pulang, Mom?” Liz tersentak ketika tiba-tiba Carroline muncul di hadapannya. Liz menatap mata putrinya. Sayu.

“Aku dan Chaty sudah lapar, Mom. Benar-benar lapar!” Liz melirik jarum jam sekali lagi, dia menghela napas,

“baik sayang, kau dan Chaty boleh bersiap-siap. Mom akan ambilkan kau hidangan pembuka.”

“Yeach!!!” Teriak Carroline, girang.

Liz mulai menyendokkan semangkup sup, dan memberikannya pada Carroline. Carroline tak sabar untuk segera menyantapnya. Hati Liz tak tenang, tapi Liz sempat tersenyum ketika melihat putrinya menyantap sup dengan lahapnya.

“Mom tak makan?” Tanya Carolline.

“Usssst…! Tak baik makan sambil bicara. Mom akan tunggu Dad-mu. Makanlah! Akan Mom ambilkan kau steaknya.” Liz mendengar suara pintu berderit disusul kemeletak pantofel ketika menyunguhkan sepiring steak untuk Carroline. Tiba-tiba tangannya gemetar.

Matt datang terburu-buru. Setelah menggantungkan jas kulitnya, Matt menyambar sebotol bir yang berjajar di atas meja kecil, di sudut ruang. Matt duduk dan mereguk bir botolnya beberapa kali, lalu matanya nyalang menatap Liz dan Carroline bergantian. Liz merasakan kakinya gemetar. Carroline mengkerut, menyantap hidangannya pelan-pelan sambil menunduk. Tiba-tiba Matt meletakkan botolnya dan bangkit menuju meja hidang. Matt duduk di kursi paling ujung, kursi khusus tempat kepala keluarga. Dengan cepat Liz menyiapkan rangkaian makan malam untuk suaminya, setelah itu ia menyiduk semangkuk sup untuk dirinya sendiri. Matt mulai menyantap hidangan di depannya. Liz dan Carroline duduk berhadap-hadapan, sesekali bertukar pandang. Ketika tatapan Matt menelisik mereka, mereka kembali menekuni piring masing-masing. Liz masih menyeruput supnya pelan-pelan, ketika tiba-tiba Matt bangkit dan menggebarak meja. Sup dalam mangkuk kecil di hadapan Liz terguncang dan meruah, kuahnya menggenang di atas meja lalu mengalir ke lantai.

Matt menarik tangan Liz dengan kasar lalu menyeretnya, menggelandangnya melewati tangga, Liz meronta, tapi cekalan tangan Matt terlalu kuat. Carroline menghentikan kunyahan wortel yang ada di mulutnya. Ia hanya terpaku di meja makannya. Menyaksikan-lagi-ibunya diseret Dad dengan kasar. Matt terus menyeret Liz dan memasukkanya ke dalam kamar.

Diam-diam Carroline bangkit dan berlari menyusul Liz. Carroline berhenti di depan pintu kamar Matt yang sedikit terbuka, dari situ Carroline bisa melihat dua kaki Liz yang menendang-nendang lantai. Pandangannya terhalang punggung Matt yang lebar. Tapi dengan sangat jelas Carroline bisa mendengar bunyi tamparan, kulit beradu kulit. Carroline juga bisa mendengar suara Liz mengaduh kesakitan. Carroline tersentak ketika tiba-tiba wajah Matt berbalik menatapnya. Tatapan yang sangat menyeramkan. Carroline tak juga bergerak dari tempatnya ketika Matt mendekatinya dan menyeretnya, persis seperti ketika ia menyeret Liz. Liz bangkit dan berusaha menarik tangan Matt yang mencengkram kuat-kuat lengan Carroline. Tapi usaha Liz sia-sia. Matt terus menyeret Carroline. Boneka di tangan Carroline burguncang-gungang. Matt melempar Carroline ke dalam kamar tamu yang sudah lama kosong dan tak terpakai. Matt memutar batang kunci, mancabutnya, dan menaruhnya ke dalam saku celana. Liz hanya bisa menangis.

***

Sehari sudah Carroline mendekam dalam kamar kosong itu Sesekali Matt membukanya untuk menaruh sepiring nasi dan segelas air. Kali ini Matt benar-benar berkuasa atas Carroline. Beberapa kali Liz memohon kepada Matt supaya membiarkan Carroline, tapi Matt hanya bergeming. Bila rengekan Liz didengarnya mulai menganggu, tak segan-segan Matt menyumpalnya dengan kain.

Bila tengah malam mulai merembang, Liz tak pernah jenak tidur. Ia membayangkan Carolline yang terpuruk menyedihkan dalam kamar gelap itu. Lepas tengah malam Liz selalu mendengar suara Pintu digedor-gedor. Ketika Liz beranjak ke kamar itu. Matt selalu memelototinya, dan seolah berkata ‘Jangan ke sana, atau kukurung sekalian kau di sana’. Bila gedoran pintu itu tak juga berhenti, Matt segera bertindak. Ia akan mendatangi kamar itu, masuk dan menguncinya dari dalam. Dari balik pintu Liz hanya bisa bersimpuh menempelkan telinga pada daun pintu, berusaha mendengarkan suara-suara Carolline. Tapi Liz tak mendapati suara apapun, kecuali suara reot ranjang, atau sesuatu yang dipukul-pukul. Liz benar-benar tak tahan. Bahkan pada hari kedua. Liz belum juga melihat wajah Carroline. Ia kelewat kesal pada Matt. Maka pada sebuah kesempatan makan malam (Tanpa Carroline tentunya), Liz sudah merencanakan sesuatu.

“Apa menumu malam ini, Liz?” Tanya Matt. Tanpa Carroline Matt tampak lebih lembut.

“Seperti biasa.” Jawab Liz lesu.

“Bisa kau buatkan secangkir cappucino untukku?”

“Tentu.”

Lizz beranjak ke dapur. Inilah kesempatan yang ditunggu-tunggu Liz. Segelas cappucino kental ia ramu. Sedikit serbuk venom ia campurkan. Liz mengaduknya tergesa-gesa, dengan rahang bergemeletuk. Matanya nyalang menyimpan kesumat. Liz kembali pada Matt dengan secangkir cappucino panas yang berguncang di tangannya.

“Ini.”

“Thanks!” Liz tak sabar menunggu Matt meneguknya. Matt masih asik dengan surat kabar di tanganya.

“Minumlah, Matt, sebelum dingin.”

“Oh, tentu.” Matt meletakkan korannya dan mengangakat secangkir cappucino yang masih mengepul di tangannya. Beberapakali ia meniupnya sebelum akhirnya meneguknya. Dengan senyum puas dan mata mengkilat Liz menyaksikan suaminya meneguk racun itu. Bahkan Lizz menyaksikan kemenangannya ketika Matt menggelinjang memegangi lehernya, Liz juga merasakan matanya mulai berair.

Tubuh Matt merosot dari kursinya. Kaku tak bergerak. Liz segera menggeledah kantung baju dan celana Matt. Di sana ia menemukan kunci kamar itu.

“Carroline…!” Ia berteriak. Berlari menaiki tangga. Dibukanya kamar itu tergesa-gesa. Liz memeutar kunci dan mendorong daun pintu sampai menghantam dinding.

“Carrol…!?” Mata Liz menelisik seisi kamar, tapi ia tak menemukan siapapun.

“Carrol…! Kau dimana sayang? Ini Mom!” Serunya sekali lagi. Tetap tak ada jawaban. Liz mulai panik.

Ditengoknya pojok-pojok kamar, bawah meja, bawah ranjang. Tapi Liz tak menemukan siapapun. Ia duduk bersimpuh. Lemas. Beberapa detik kemudian, sebelum ia menemukan boneka chubby milik Carroline terpotong-potong di atas ranjang, ia baru menyadari sesuatu: daun jendela di hadapannya menganga lebar.

* Malang, April 2010

0 komentar:

Poskan Komentar

Mohon Saran Kritiknya ya.... Thanks... Syukron... Suwun...