Tamu (Surabaya Post, Minggu 5 Juni 2011)


















Rumah kami tidak terlalu besar, tapi juga tidak bisa dibilang kecil. Rumah kami memuat 3 kamar yang masing-masing berukuran 4x5 meter, 3 kamar madi, sebuah ruang keluarga—tempat anak-anak menonton TV, sebuah ruang baca sekaligus perpustakaan pribadi, sebuah dapur yang bersebelahan dengan garasi, dan sebuah ruang tamu berukuran 4x6 meter. Di depan rumah ada taman yang tidak terlalu luas, tapi lebih dari cukup untuk ditanami berbagai macam bunga serta membuat pancuran dan kolam ikan. Di rumah, kami tinggal berlima. Saya dan istri, dua putra kami yang semuanya masik duduk di bangku SD (yang besar sudah kelas empat, yang kecil baru masuk kelas satu), dan seorang khadimah yang bertugas memasak dan mengurus rumah.
Rumah kami terasa mati meski tak pernah sepi. Setiap hari jerit anak-anak dan suara bising Play Station sudah menyambut kami setiap kali pulang kerja di sore hari. Rumah kami juga terang benderang, lampu-lampu besar berhias kristal menempel dan menggantung di mana-mana, namun dalam hati kecil kami, kami merasa rumah kami sangat redup dan suram.
***
Suatu malam, sepulang dari pengajian, kami langsung ambruk di pembaringan. Bahkan aku tak sempat mengucapkan selamat malam pada istriku. Begitu juga dia. Kami sama-sama letih. Dan pada malam itulah—jauh selepas malam, lelaki itu datang. Kami mendengar bel berbunyi. Sesekali sayup-sayup suara pintu diketuk. Aku tak menggubris sama sekali. Biasanya, sekali saja ada bel berbunyi, pembantuku yang akan langsung membukakan pintu. Tapi aneh sekali, lebih dari lima kali, dan bel itu masih terus berbunyi, diiringi ketukan pintu sesekali. Terpaksa aku bangkit dari tidur sambil mengumpat dalam hati.
“Siapa sih, bertamu malam-malam begini. Tak tahu aturan.” gumamku masih setengah sadar.
Aku berjalan sempoyongan, mendekati pintu. Dengan mata yang masih setengah mengatup, kutarik grendel pintu. Kutarik gagang pintu itu pelan-pelan—telah kusiapkan pula muka masam. Dan mataku terbelalak ketika daun pintu telah kubuka lebar. Seorang lelaki dengan perawakan tinggi sudah beruluk salam sambil melempar senyum. Entah bagaimana kujelaskan ketampanannya, dibalik kulit wajahnya seperti tersimpan butiran cahaya yang terus berpendar. Entah musabab apa, aku seperti tersihir oleh cahaya di wajahnya. Maka rasa kantukku seperti hilang begitu saja, hatta lelaki itu kupersilahkan masuk. Ketika aku hendak beranjak untuk memanggil pembantuku—supaya membuatkan segelas teh atau kopi, lelaki itu melarangku.
Lelaki itu mengaku bernama Ahmad. Ia bilang, ia mengenalku, bahkan ia bersikeras menyatakan bahwa aku juga sangat mengenalnya. Entahlah, setelah kutilik wajahnya beberapa kali, aku memang merasa pernah mengenalnya, bahkan sangat mengenalnya. Namun entah kapan, entah di mana, aku lupa.
“Maaf, sudah menggangu istirahat, Tuan.” Tuturnya lembut.
“Oh, tidak apa-apa. Ngomong-ngomong ada keperluan apa bertamu malam-malam begini, apa ada sesuatu yang sangat mendesak.” Balasku.
“Oh, tidak, saya hanya ingin bermalam saja di rumah Tuan yang hangat ini.”
Pernyataanya sesungguhnya cukup ganjil, bagaimana mungkin ada orang ingin menginap di rumah orang lain tanpa alasan yang jelas, datang malam-malam buta pula. Namun lagi-lagi, entah kenapa, semua yang meluncur dari mulutnya terasa benar dan tidak mengada-ada.
“Memangnya Tuan berasal dari mana.” Aku mencoba mengorek sesuatu tentang dirinya.
“Tuan tahu saya dari mana. Hanya saja Tuan lupa.” Balasnya enteng. Namun lagi-lagi, aku tidak memperslahkannya. Semua yang meluncur dari mulutnya terdengar mantap.
“Sebentar, sebentar, siapa ya?” aku mengetuk-ketuk jidadku sendiri. Kupicingkan mata ke lelaki itu. Dan lelaki itu hanya tersenyum.
“Tak perlu dipaksa, nanti Tuan juga akan tahu siapa saya.”
“Siapa, ya?” aku masih penasaran.
“Mmm… bolehkan saya numpang sholat sunnah. Apa ada mushola di rumah Tuan?” ucapnya tiba-tiba.
Aku terantuk, dan tak tahu harus menjawab apa, “oh, maaf. Tak ada mushola khusus di rumah saya. Saya menggelar sajadah di sebelah ranjang, dan biasanya saya sholat di sana.”
“Oh tidak apa-apa. Sholat bisa di mana saja.”
Segera saya antar lelaki itu ke kamar tamu, saya ambil sajadah yang masih terlipat dalam lemari.
“Silahkan!” lirihku.
Lelaki itupun menggelar sajadahnya ke arah kiblat. Aku mengintip ia dari balik pintu. Beberapa kali aku menepuk kepala, mengingat-ingat, kapan terakhir kali aku sholat malam. Sebulan yang lalu? Setahun yang lalu? Dua tahun yang lalu? Lima tahun yang lalu? Entahlah! Aku benar-benar lupa. Tiba-tiba aku merasa sangat malu pada diriku sendiri.
Hampir setengah jam aku menunggunya di ruang tamu. Aku kembali terkantuk-kantuk.
“Kalau Tuan mengantuk. Sebaiknya Tuan istirahat saja.” Suaranya membuatku terhenyak.
“Oh, sudah selesai. Tidak, saya tidak mengantuk.”
“Maaf, apa Tuan ada Al-Quran?” ia kembali bertanya.
“Al-Quran?” Aku tertohok. “Oh ya, sebentar-sebentar.” Aku bangkit dan berjalan ke dalam kamar. Aku sudah mulai deg-degan. Jujur, aku tidak tahu apakah di rumahku ada Al-Quran atau tidak. Tapi aku terus mencari. Mustahil seorang muslim tak punya Al-Quran di rumahnya. Aku terus mencari, membongkar lemari dan buku-buku. Hingga kitab itu kutemukan di antara tumpukan buku-buku lawas yang tak pernah kubaca. Ia begitu usang dan berdebu. Aku memeluk kitab itu dengan lega, dan entah kenapa aku ingin menangis. Segera aku berlari memui lelaki itu di ruang tamu. Ia masih di sana, matanya terpejam, tapi mulutnya merapal surah-surah yang tak kutahu.
“Maaf. Ini Al-Qurannya.” Kuserahkan kitab itu padanya dengan tangan gemetar. Tapi lelaki itu tersenyum. Ia mulai membuka mushaf itu dan membacanya. Ia sudah membaca beberapa ayat saat aku menyelanya.
“Maaf. Nanti kalau Tuan hendak instirahat, silahkan beristirahat di kamar tamu saja. Anggap saja rumah sendiri.” Kataku, sebelum memohon diri untuk kembali ke kamar.
Aku berjalan lesu ke kamar. Kulihat istriku masih mendengkur. Dari dalam kamar. Kudengar suara lelaki itu melantunkan ayat-ayat dengan sangat sempurna dan merdu. Entah kenapa aku tak bisa tidur lagi. Ingin kubangunkan isteriku, tapi melihat tidurnya yang sangat pulas, niat itu kuurungkan.
Pikiranku kemali pada lelaki itu, lelaki yang bertamu malam-malam dan sekarang tengah membaca mushaf di ruang tamu. Hal itu seharusnya sangat aneh. Sangat sangat aneh. Tapi tidak untuk malam itu. Kucoba utuk memejamkan mata kembali, namun gagal. Maka kuputuskan untuk kembali ke ruang tamu. Di sana, lelaki itu masih duduk terpaku dengan mushaf di pangkuanya. Ia melihatku datang, lantas ia menyudahi bacaanya. Ia bagai bersiap-siap untuk kuajak berbincang-bincang panjang. 
“Rumah Tuan lumayan besar, ya!” komentarnya tiba-tiba.
“Yah… Alhamdulillah. Ini patut saya syukuri.”
“Tuan suka membaca?” Tanyanya lagi.
Tiba-tiba aku sangat bersemangat dengan pertanyaannya, “ouh, aku punya perpustakaan pribadi.” Sambutku girang. “Mau melihat-lihat?” lanjutku.
“Dengan senang hati.” Balasnya singkat, tetap tersenyum.
Aku bangkit dan melenggang menuju perpustakaan pribadi kebangganku. Sampai di ruang buku, lelaki itu kembali berkomentar, “Wow, buku Tuan banyak sekali. Buku apa saja ini?”
“Oh… Insya Allah komplit. Mulai dari ensiklopedi, kamus, filsafat, pendidikan, bahkan sastra dan novel juga banyak.”
“Mmm… ada Siroh Nabawiyah?” celetuknya.
Aku terdiam di tempatku berdiri. Membeku. Kembali aku tertohok.
“Perjalanan hidup Rasulullah sangat menarik bukan untuk kita baca?”
Aku hanya mengangguk.
“Saya yakin Tuan punya banyak buku Siroh Nabawiyah.” Katanya lagi.
“Oh, tentu.” Aku berbohong.
“Beliau teladan kita. Nabi kita. Namnya kita agung-agungkan, bagai seorang idola. Alangkah lucu jika kita tidak tahu menahu bagaimana kisah hidupnya. Betul bukan?” uangkapnya lagi. Sungguh, kata-katanya bagai sebilah tombak yang menusuk ke ulu hatiku. Aku hanya gemetar.
“Oh. Di mana rak buku-buku Sirohnya?” lelaki itu langsung ke point pertanyaan.
“Sungguh maaf, buku-buku Siroh koleksi saya dipinjam seorang teman untuk refrensi tugas kuliah, dan belum dikembalikan.”
“Ooo… Kalau kitab hadits, tentu Tuan punya.”
“Kitab Hadits?” aku seperti orang bodoh.
“Iya. Shahih Bukhori atau Shohih Muslim. Tuan punya, kan? Hadits adalah sumber hukum ke 2 setelah Al-Quran. Tentu Tuan punya. Saya yakin.”
“Iya. Termasuk kitab hadits, juga dipinjam teman saya. Ada Riyadhus Sholihin. Jami’us Shaghir juga ada. Tapi ya itu, semua ada pada teman saya.” Kilahku lagi. Dalam hati aku berdoa, semoga nama-nama kitab hadist yang kusebutkan tidak ada yang salah.
“Ooo…” kembali lelaki itu ber’o’ panjang.
Aku sangat lega, lelaki itu memakluminya. Namun, kebohongan yang telah melesat dari mulutku beberapa saat yang lalu bagai sebilah cambuk yang terus melecutkan rasa bersalah dan tidak nyaman. Kami masih berjibaku dengan bukubuku. Membacanya sekilas dan mengembalikannya ke rak. Hingga beberapa saat kemudian, lelaki itu berpamitan untuk beristirahat. Aku mengantarnya sampai kamar tamu. Namun sampai di ruang keluarga mendadak ia berhenti di depan tivi. 
“Ini apa? Besar sekali. Cermin, ya?” kembali ia melontarkan pertanyaan aneh.
“Oh, ini tivi. Biasa buat hiburan anak-anak.” Kataku.
“Kalau ini?”
“Ini PS, game. Buat hiburan anak-anak juga.”
“Sangat berguna, ya, untuk hiburan anak-anak.” Komentarnya bagai sebuah sindiran. Dan aku menelanya mentah-mentah. Rasanya sepat. Mushola saja tak ada, al-quran usang tak terbaca, kitab siroh dan hadits tak pernah terpikirkan untuk mengoleksinya, sedangkan tivi terpajang di ruang keluarga bagai benda kebanggaan yang sangat berharga. Oo... bagaimana kuhadapi ini?
***
Selepas kuantarkan lelaki itu ke kamar tamu. Aku ngeloyor ke kamar. Pikranku berkecamuk tidak karuan. Sekali lagi kutengok istriku yang masih tertidur dengan mulut menganga. Kali ini, dengkuranya terdengar sangat menjijikan. Aku kembali berjalan keluar kamar. Kutilik kamar tamu tempat lelaki itu beristirahat, sudah tertutup. Aku berjalan menuju kamar anak-anak. Mereka juga masih pulas. Maka kuputuskan untuk keluar rumah. Aku duduk di bangku taman depan. Dingin sekali. Kutilik langit. Bintang-bintang berpendar bagai hendak menjatuhkan diri. Siapa gerangan lelaki itu?
Aku kembali masuk ke dalam, ke perpustakaan. Kugeledah satu demi satu buku-buku di sana. Aku sendiri tak percaya kalau aku tidak punya buku-buku tentang Rasulullah. Nyatanya, memang tak satupun kudapatkan buku tentang Rasulullah di sana, apalagi kitab hadits. Aku ingat, aku memang tak pernah membeli kitab hadits, sama sekali. Aku menggelengkan kepala. Ada yang salah denganku.
Tiba-tiba aku teringat buku-buku anakku. Mereka semua kusekolahkan di sekolah islam terpadu. Tentu di sana ada pelajaran Siroh. Segera aku menghambur ke kamar anakku. Kegeledah meja belajar mereka. Dan di sana kutemukan buku modul tipis: Siroh Nabawiyah. Serta merta kupeluk buku itu. Kubuka satu persatu buku itu. Di halaman-halaman awal kutemukan bab pertama tentang Masyarakat Islam Sebelum Rasulullah, kubaca sekilas. Kubuka halaman berikutnya, tentang Kelahiran dan Masa Kecil Rasulullah. Kubaca dengan saksama, tak terasa mataku berair. Kubaca lagi halaman demi halaman, hingga aku tertidur di kamar anakku sambil mendekap buku itu.
***
Aku terbangun oleh suara tarhim yang bagai menyilet telinga. Aku tergeragap. Pertama kali yang singgah dalam kepalaku adalah lelaki itu. Lelaki berwajah cahaya yang datang tengah malam tadi. Kutengok kamar tamu tempatnya beristirahat. Masih tertutup rapat. Barangkali ia kelelahan, pikirku.
Kulihat Nani, pembantuku, sudah menyiapkan teh hangat di ruang keluarga.
“Sudah bangun, Pak.” Sapanya.
“Iya. Alhamdulillah, bisa bangun pagi. Mmm… Nani?”
“Ya, Pak?”
“Tolong tamunya dibikinkan juga, ya, tehnya!”
“Tamu?” Nani balas bertanya seperti orang bingung.
“Iya. Semalam bapak ada tamu. Sekarang masih istrirahat di kamar tamu.”
“Di kamar tamu?” Nani masih seperti orang ling-lung. “Tapi, barusan saya dari kamar tamu, di sana tidak ada siapa-siapa.” Jelasnya.
“Ha? Bercanda kamu. Wong semalam saya sendiri kok yang ngater dia ke kamar.”
“Lho? Bener, Pak. Barusan saya beresin kamar tamu, dan tidak ada siapa-siapa. Tak ada juga bekas-bekas orang tidur di sana.”
Aku mengernyitkan dahi. Daripada berdebat kuputuskan untuk langsung beringsut ke kamar tamu, dan Nani benar, di sana tidak ada siapa-siapa. Buru-buru kutengok kamar mandi, barangkali ia sedang ke kamar mandi. Tapi di kamar mandi juga tidak ada siapa-siapa. Aku semakin bingung dan heran. Apa semalam aku mimpi?
Hingga matahari meninggi, otakku masih kacau dipenuhi pertanyaan-pertanyaan. Bahkan ketika anak-anak berpamitan hendak berangkat ke sekolah. Aku masih seperti orang ling-lung. Hingga anakku yang paling kecil mengguncang-guncangkan tanganku. Ia berisyarat ingin membisikkan sesuatu. Maka telingaku kudekatkan pada mulutnya yang mungil.
“Abi, Abi! Semalam ada tamu, ya?” ia mendesis bagai membisikkan sebuah rahasia. Aku terhenyak. Kepalaku kembali pada sosok lelaki yang semalam kuakrabi.
“Memangnya adik tahu, kalau semalam ada tamu?” aku menanggapi pertanyaan itu sambil mengusap wajahnya yang polos. Ia mengedip-ngedipkan matanya.
Detak jantungku kian memburu, “Memangnya, adik kenal sama tamu kita semalam?”
“Memangnya Abi gak kenal?” Ia balik bertanya. Sebelum bibirku bergerak untuk menjawab pertanyaanya, ia sudah kembali bersuara, “Kalau Abi baca buku sirohku, pasti Abi kenal…”, sambungnya singkat, sebelum mengecup tanganku, mengucap salam, lalu melesat berangkat.***

Kembang di Liang Pasungan (Radar Surabaya, Minggu 15 Mei 2011)

Cerpen Mashdar Zainal

Dengan sebilah paku di tangannya yang selalu gemetar, ia mengukir kebahagiaan yang miris pada dinding-dinding pengap yang mengurungnya sejak belasan tahun lalu. Ia membuat goresan-goresan dalam pada muka-muka dinding angkuh itu. Dibayangkannya seorang pemuda tampan yang berpakaian mengkilap seperti pangeran-pangeran dalam legenda Dinasti Ming yang selalu ia dengar dari mulut ibunya sewaktu ia kecil. Ah, itu terlalu maya. Nyatanya, semua terjadi dan berlalu begitu cepat. Mungkin juga begitu lama. Beribu alam telah ia selam, berjuta bentuk telah ia ketuk. Dan ia tahu, tak satu pun jengkal nafasnya akan memberinya kesembuhan. Memar di hatinya terlalu pekat. Membaur dengan darahnya yang telah menjadi gulita.

***



Bertahun-tahun, Sin Han—lelaki kekar yang ia panggil bapak itu—memperlakukanya seperti binatang piaraan, hingga tubuh kecilnya tak pernah bisa merekah seperti gadis-gadis seusianya. Perjalanan hidupnya seolah hanya setapak pematang yang kelam berkepanjangan. Lelaki kekar itu telah leluasa memenggal haknya untuk hidup sebagaimana layaknya manusia. Meski begitu ia belum juga paham. Baginya, hidup atau mati barangkali sudah tak ada pembatasnya. Bahkan ia tak juga mengerti kalau yang sedang dijalaninya itu adalah kehidupan.

Belasan tahun ia hidup dalam liang pengap di lantai dasar, di perut tanah. Sesekali lelaki kekar itu datang mencekokinya beraneka makanan lalu memainkannya layaknya barang murah yang bisa dijadikan hiburan kapanpun dibutuhkan. Lelaki kekar itu selalu datang dan pergi seperti musim-musim yang congkak. Ia pun tak bisa berbuat banyak, alam tak pernah mengajarinya melawan keterpurukan. Hari-hari, ia hanya bisa meringkuk seperti angin yang letih memikul musim-musim yang selalu datang dan pergi.

Barangkali, lambat laun, rasa sakit akan membuatnya paham, bahwa lelaki kekar itu hanya mengumbar kesumat yang disemai oleh isterinya yang pergi dengan lelaki lain, beberapa tahun silam. Tepatnya dua belas tahun silam. Ketika usianya masih enam tahun. Lamat-lamat ia masih mengingat kejadian itu. Ketika ia di seret lelaki kekar itu ke sebuah rumah penginapan di pinggiran kota. Di sebuah kamar yang remang tiba-tiba lelaki kekar itu menunjukan sebuah pemandangan yang sulit untuk ia cerna. Lelaki kekar itu mendobrak pintu kamar sampai roboh. Dalam kamar itu ia bisa melihat jelas wajah ibunya yang masih berkeringat dengan tubuhnya yang tanpa sehelai benang. Ia menduga-duga permainan apa yang sudah dilakukan ibunya dengan lelaki muda di sampingnya, dalam kamar remang itu.

“Biar… biar Mei Ling, anakmu yang hijau ini tahu apa saja yang dilakukan ibunya di luar rumah….!” Pekik lelaki kekar itu.

Ibunya terperanjak dan segera menutup tubuhnya dengan selimut. Tanpa ampun lelaki kekar itu menjambak rambut ibunya, menyeretnya, dan meludahinya sepanjang jalan pulang. Ia hanya bisa melihat dengan tubuh gemetar sambil menyeru nama ibunya berkali-kali. Sampai di rumah ia menyimak kembali silat mulut antara ibunya dan lelaki kekar itu. Dari balik jendela kamarnya ia mengawasi ibunya yang tersungkur beberapa kali akibat hantaman tangan kekar lelaki itu. Malam-malam berikutnya ia dan ibunya dikurung dalam sebuah kamar. Semenjak itulah ibunya bersikap sangat dingin padanya. Dalam kamar itu, ibunya hanya diam dan sesekali merintih. Entah menahan sakit, entah menahan geram. Beberapa kali ia mendekati ibunya yang layu. Beberapa kali pula ibunya mendorongnya, memintanya menjauh.

“Kau anak bapakmu… ikut saja bapakmu.” Sentak ibunya. Ia benar-benar tak mengerti apa maksud kata-kata itu.

Ketika lelaki kekar itu pergi, ketika rumah sepi, ia melihat ibunya mencongkel pintu kamar lalu menyeret sebuah tas koper yang berisi pakaian.

“Ibu mau kemana?” tanyannya.

“Sudah... jangan nyiyir terus!” ibu menyentaknya.

“Mei Ling mau ikut ibu.” rengeknya.

“Sudah… kau sama sialnya dengan bapakmu. Sudah kubilang… ikut bapakmu saja.”

“Mei Ling takut sama bapak, bu.”

“Kau tak takut sama ibu!?”

Ia menunduk tak berani melawan tatapan ibunya yang dingin dan beraroma kekecewaan. Ia terlalu polos untuk menerima tiap lecutan kata itu. Ia menggelendoti langkah ibunya sambil menangis. Ibunya merengkuh tangan kecilnya dan melemparnya seperti kucing, sampai kepalanya terbentur dinding. Ia beranjak lagi mengejar ibunya sambil masih menangis. Ibunya yang geram menyeretnya ke kamar mandi dan mengurungnya di dalam. Ia tersedu-sedu. Tak ada yang peduli.

***



Ia menangis sampai tertidur, bersandar dinding dingin yang tak ramah. Sampai lelaki kekar itu menemukannya menggigil dan lemas dalam kamar dingin itu. Lelaki kekar itu menyentaknya berkali-kali. Menanyakan dimana ibunya. Ia lemas tak bisa mejawab. Lelaki kekar itu berteriak-teriak, membanting pintu dan vas bunga. Ia bersimpuh. Berusaha memahami ketidakberdayaan yang melumatnya.

“Aku akan membuat ibumu menyesal, menangis darah karena telah meninggalkanmu sendiri. Dipikirnya aku mau mengurusmu. Heh!?” lelaki kekar itu menguncang-guncangkan kepalannya. Lalu berpaling sambil menangis agak dalam.

“Aku sangat mencintai ibumu. Hh… Barangkali aku memang bodoh. Ah, tidak. Aku tidak bodoh. Wanita lacur itu yang bodoh. Ibumu itu yang tolol. Ah, kenapa? Ia pikir aku akan diam saja setelah dilemparnya pisau membara ke mukaku. Huh! dia salah. Aku takkan diam menerima kekalahan ini. Ha…ha…. Akan kubuatkan neraka untukmu agar di seberang sana ibumu bisa menggelepar merasakan panasnya. Heh!”

Lelaki kekar itu kemudian mendekatinya. Langkahnya seperti malaikat pencabut nyawa. Ia tercekat, melihat dua liang menyala pada wajah lelaki itu, mata membara yang menatapnya tanpa jeda. Seolah ada gelegak panas yang hendak meluap dan menghanguskan tubuhnya yang rapuh. Dengan cekatan lelaki kekar itu menyambar tubuhnya yang kecil dan menyangkingnya seperti segepok kayu kering.

Malam itulah, pertama kalinya ia merasakan lentik jari neraka yang disematkan lelaki kekar itu di hara jantungnya. Bahkan saat itu ia masih belum dapat mencerna goresan apa yang telah tertoreh pada lembar awal hidupnya yang masih putih dan polos. Malam itulah, malam pertama ia menghuni liang pengap di lantai bawah tanah itu. Lelaki kekar itu menyeretnya menuruni anak tangga usang yang lembab dan berjamur. Pengap, lembab dan gelap. Di sana ia dilempar. Meringkuk berteman dengan tikus-tikus tanah dan barang-barang rongsokan penghuni gudang.

“Ini tempatmu! Kau takkan pernah bisa pergi dari sini sebelum ibumu kembali dan bersujud di kakiku.” Lelaki itu melempar kasur tipis ke arahnya. Lalu merengkuhnya dan membaringkanya di sana. Agak lama lelaki kekar itu memperhatikan wajahnya yang manis, lalu tubuhnya yang kecil dan terbaring lemah. Itulah pertama kalinya lelaki kekar itu melucuti pakaianya dan menindihnya erat-erat. Ia hanya bisa menjerit tak mengerti.

“Apa bedanya kau dan ibumu. Kalian sama-sama perempuan.” Erang lelaki itu.

Setelah selesai mengoyak tubuh kecilnya, lelaki kekar itu pergi menaiki tangga, meninggalkannya dalam gua kelam itu seorang diri. Ia meringis, bagian tubuhnya ada yang terasa sangat ngilu. Tubuhnya terasa remuk. Ia berteriak dan menangis tak karuan. Lelaki itu tak mempedulikannya. Ia berlari menyusuri anak tangga, mengikuti langkah lelaki itu. Tapi terlambat. Pintu di puncak tangga terkunci dari luar. Ia tak berkutik.

***



Seharian ia menangis karena takut gelap dan sepi. Tapi rupanya lelaki kekar itu selalu menjenguknya untuk mengantarkan sepiring makan dan seteko air. Sesudah itu mengusap tubuhnya, merangkulnya, melumatnya lalu pergi. Setiap kali perutnya mual dan berasa ingin muntah, lelaki itu selalu mencekokinya nanas muda. Sampai ia benar-benar muntah. Begitulah hari-harinya berlanjut sampai belasan tahun. Sampai ia benar-benar sadar bahwa ia ada dalam lingkar kehidupan. Kehidupan yang nyata. Kenyataan yang ganjil. Keganjilan yang sangat berat untuk ia tuntaskan.

***



Setiap kali lelaki kekar itu pergi. Ia akan melukiskan banyak hal yang ia inginkan di muka dinding itu. Lalu meraba-raba goresan dalam pada dinding itu dan membenturkan kepalanya keras-keras pada goresan di dinding itu, sampai kepalanya terasa berat dan tidur yang indah menjemputnya, mengantarkannya pada bunga-bunga, menemui pangeran tampan yang menunggang kuda putih. Di sana pangeran tampan itu mengajaknya naik kuda, memboncengnya di belakang. Lalu mereka jalan-jalan mengelilingi perkampungan bunga atau kadang berbaring di gelaran rumput yang membentang seperti permadani hijau. Lalu pangeran tampan itu tersenyum dan menyematkan bunga-bunga rumput di rambutnya. Hahh… indah bukan?

Dulu ia pernah bercita-cita menjadi gadis korek api yang menemukan kebahagiaanya pada batang-batang korek api. Tapi sayang sekali. Ruang yang ia huni tak pernah mengizinkannya untuk mencari sebatang korek api, bahkan untuk sekedar bergerak. Liang itu telah menjadi pasungan sempurna. Liang itu hanya bisa memberikan sedikit celah udara untuk bernafas dan berbongkah-bongkah gulita untuk menjadi kawan baiknya.

Maka ketika ia mulai gelisah, diam-diam tangannya meraba-raba sesuatu di bawah kasurnya yang lembab. Sebilah paku itu ia simpan di sana. Setelah ia rasa cukup tenang. Ia kembali membuat goresan-goresan tak jelas di dinding hitam itu. Sudah tak terhitung jumlahnya goresan-goresan di dinding-dinding liang itu. Hanya saja, lelaki kekar itu tak menyadarinya. Atau mungkin tak mempedulikanya. Lelaki itu hanya sangat tidak suka melihat wajahnya yang lebam akibat benturan.

***



Dengan sebilah paku di tanganya, ia mulai melukis lagi. Kali ini bunga-bunga, atau mungkin wajah Dewi Kwan Im. Ia tak pernah lelah menggoreskan sesuatu yang tak pernah bisa ia lihat dengan mata kasatnya. Ia hanya merabanya, dan membayangkan sesuatu atas apa yang mungkin ditangkap oleh indera perabanya. Sejurus kemudian, ia akan membenturkan kepalanya keras-keras sampai batok kepalanya terasa berat dan ia terjerembab. Dalam nyeri itu, ia selalu mendapati sosok yang sama yang selalu terpatri dalam mimpinya. Sosok yang selalu ia temukan di dunia yang penuh bunga-bunga. Sosok pemuda tampan yang menunggang kuda putih dengan pakaian berkilau.

“Bangunlah, cantik! Akan kupenggalkan setangkai seruni untukmu!” tuturnya merdu, mengulurkan kedua tangannya yang putih.

Ia berlari menyambutnya. Menyongsong dunia yang tak pernah menyimpan malam di dalamnya. Dunia yang luas, yang sejauh mata memandang akan ia temukan hamparan bunga. Dunia yang tak pernah lelah melantunkan puisi dan gesekan biola. Di sana, dengan pangeran tampan itu, ia akan membangun istana kecil di seberang sungai. Memelihara itik dan ikan koi. Ia juga akan membangun sebuah kuil dan di dalamnya akan ia pajang patung Dewi Kwan Im dari pahatan emas. Ia berharap, agar Dewi Kwan Im selalu menjenguknya diam-diam dan menaburkan kebahagian yang tak berkesudahan dari guci ajaibnya. Agar ia dan sang pangeran bisa hidup rukun berdampingan, membesarkan anak-anak sampai renta menjemputnya dalam ketenangan.

***



Ah! Selalu saja. Mimpi-mimpinya tak pernah tuntas. Lelaki kekar itu selalu mengusiknya.

Kreet…..

Ia tersentak. Pintu di puncak tangga berderit. Terbuka. Sebelum lelaki itu menutupnya kembali, berkas cahaya dari balik pintu ia rasakan seperti tombak tajam yang terhunus memanah kedua matanya yang kelam. Lantas ia mendengar suara pantofel, kemeletak menuruni anak tangga. Seperti biasanya. Anehnya, ia masih saja gemetar.

“Ini… makan!!” bentak lelaki itu sambil melempar nasi bungkus dari tangannya.

“Makanlah! Aku akan menyiapkan air untuk minum dan membersihkan tubuhmu. Cepat kau makan!” gertaknya lagi.

Ia bergegas mengambil bungkusan itu. Kalau tidak, lelaki itu akan marah dan menjejalkan apa saja ke mulutnya.

Usai ia makan, lelaki itu mengelap tubuhnya yang kurus dengan sehelai handuk kecil.

“Aku benar-benar merindukan ibumu…” cercau lelaki itu sambil terus memandanginya. Ia tak pernah peduli dengan kata-kata lelaki itu. Ia tahu, apa yang akan dilakukan lelaki itu selanjutnya.

“Untuk mengobati rinduku pada perempuan tolol itu, malam ini aku membutuhkanmu… kau harus bisa menggantikan tugas ibumu.” Tuntut lelaki kekar itu mulai merayunya. Ia diam saja menahan dingin. Selanjutnya lelaki kekar itu menerkamnya dengan beringas. Mencabik segala apa yang ada pada tubuhnya. Tak peduli pada tubuh ringkihnya yang terkulai dalam keadaan memar dan berdarah. Selalu saja begitu. Lelaki itu baru akan pergi, setelah kenikmatan memanen dendamnya ia rasa cukup. Lelaki itu terhuyung menaiki tangga.

Kreet….

Pintu di puncak tangga berderit. Terbuka lalu tertutup lagi. Semua kembali seperti semula. Gulita yang lebih membuatnya nyaman. Ia meringkuk lemas. Sekai-kali, sebenarnya ia ingin berteriak keras-keras. Tapi napasnya selalu tersengal-sengal setiap kali lelaki itu pergi seusai menuntaskan racun dendamnya.

Lelaki itu pergi. Gulita yang indah kembali. Ia ingin sekali menuntaskan mimpi-mimpinya. Dengan sebilah paku di tanganya. Tapi entah mengapa, ia benar-benar geram. Tubuhnya terasa lengket. Lambat laun, ia rasakan sosok lelaki kekar itu seperti srigala raksasa yang menyeramkan. Hitam, berbulu lebat, bertaring dan sangat suka menerkam. Diam-diam ia merinding mengingat sosok lelaki kekar itu.

***



Ia kembali meraba-raba dinding, memahat seraut wajah yang tersenyum dalam benaknya. Dalam dan perlahan. Ia merabanya, perlahan pula. Setelah agak lama. Ia membenturkan kembali kepalanya ke dinding-dinding bisu itu. Beberapa kali. Ia tersungkur. Tapi aneh sekali, suara merdu itu tidak muncul. Ia beranjak lagi, membenturkan kepalanya lebih keras lagi. Tapi wajah tampan itu tak juga muncul. Ia berdiri lagi dan membenturkan kepalanya seperti orang kesetanan. Ia mengguncang-guncangkan kepalanya, beberapa kali sampai akhirnya ia roboh mencium tanah yang pekat. Ia tak percaya, masih sepi.

Ia merasakan nyeri yang sangat di tengkorak kepalanya. Mulutnya menggumam sesuatu yang tak terdengar, seperti keluhan kekecewaan yang tak terukur dalamnya. Matanya terpicing seperti menantikan sesuatu. Tidak. Pangeran tampan yang ditunggunya tak juga datang. Ia berusaha memejamkan mata, tapi matanya becek oleh sesuatu yang merah, pekat. Sekilas ia melihat lesatan cahaya. Di dengarnya derap langkah yang tergesa. Pangeran itukah? Ia mengerjapkan matanya. Sesosok srigala raksasa mengaum, menangis di hadapanya. ]*



* Madiun, September 2009-Februari 2011