Kisah Kelam tentang Bangu Taman (dimuat di Surabaya Post 30 Januari 2011)

















Cerpen Mashdar Zainal


31 Desember, Pukul 20.00

Aku menggigil saat melewati gerbang taman ini. Aku berkeliling. Dan semua masih sama persis dengan tahun lalu. Setiap malam pergantian tahun, taman ini selalu tampak lebih cantik. Di seantero taman lilin-lilin dinyalakan. Air mancur di jantung taman bergemericik bagai memilihkan iramanya sendiri.

Setiap malam pergantian tahun, taman Hyde memang selalu ramai dan akan selalu ramai. Penjual kembang api dan trompet keliling. Penjual coklat kacang dan popcorn. Perempuan-perempuan yang tengah sibuk menggelar tikar dan menyiapkan berbagai hidangan. Anak-anak kecil dengan segenggam kembang api di tangan. Sepasang kekasih yang saling berpelukan di sebuah bangku panjang dan tak henti-henti menatap langit. Dan pendar bintang yang selalu berkeriap, seperti percikan kembang api yang menyebar dan tak pernah padam.

Tak terasa satu tahun berlalu. Dari Greenwich aku menyengaja datang malam ini, untuk sebuah kejutan. Aku tahu, malam ini pasti kau akan datang. Dengan jaket woll dan syal merah di leher yang sama seperti kau kenakan tahun lalu. Aku masih ingat, setahun lalu kita duduk berpeluk di sebuah bangku panjang yang terletak paling ujung. Di bawah pohon Maple yang batangnya sangat kurus. Lihatlah, pohon itu sekarang sudah menjulang. Daunya merimbun seperti ribuan telapak tangan yang sedang melambai. Indah sekaligus misterius. Tapi sayang, bangku itu sudah ditempati orang. Dua muda-mudi yang sepertinya tengah di mabuk cinta. Tak apa, di sini masih banyak tempat bukan?



31 Desember, Pukul 21.00

Aku terus berkeliling. Udara dingin membuat kudukku meremang. Aku berjalan pelan. Menyedekapkan tangan. Mengamati sekeliling taman. Aku juga membeli dua terompet panjang, satu pak kembang api dan cokelat batang yang paling besar. Nanti puklul 00.00 kita akan menyalakan kembang api itu bersama. Meiup terompet. Dan setelah itu kita bisa duduk berhadap-hadapan sambil mengulum cokelat kacang batangan kesukaanmu. Dan aku akan menceritakan semuanya padamu. Kemana saja aku selama ini, kenapa pula aku jarang menghubungimu dan hanya menelponmu sesekali saja… Setelah lama berpisah, kupikir, komunikasi yang terlalu intim akan mengurangi manisnya sebuah pertemuan.

Aku memutar langkah menuju sudut taman. Aku ingin memastikan, apakah dua muda-mudi yang duduk di tempat yang biasa kita duduki itu sudah pergi atau belum. Kurasa mereka takkan betah duduk disitu berlama-lama. Karena tempat itu berada di paling ujung, paling sudut dan berpapasan langsung dengan Danau Serpentine yang sunyinya seperti menyimpan misteri. Tempatnya agak menyeramkan. Kukira, hanya penyendiri saja yang suka duduk di tempat itu. Tapi sungguh, tempat itu sangat istimewa bagi kita. Barangkali hanya kita yang tahu keistimewaannya.

Ah, dua mudi-mudi itu merebut bangku kenangan kita.



31 Desember, Pukul 22.00

Malam bertamba malam. Tapi kenapa kau belum datang. Aku yakin malam ini kau datang. Aku masih ingat, tahun lalu, di taman ini kau mengatakan, hanya orang-orang bodoh yang melewatkan malam pergantian tahun di taman Hyde begitu saja. Katamu, perayaan akhir tahun (barangkali maksudmu awal tahun) adalah masih serangkaian dengan perayaan natal.

“Kau dapat dari mana teori semacam itu?” aku menyelamu.

“Setiap orang, ketika mengucapkan Happy Cristmast selalu diakhiri dengan ucapan Happy New Years, ya, kan?”

Aku manggut-manggut.

“Menurutmu, apa hubunganya Natal dan Tahun baru? Kupikir, itu hanya kebetulan saja. Waktunya hampir bersamaan.”

“Oh, kau salah. Sebentar, sebentar… apa kau percaya bahwa sinterklas itu ada.”

“Sewaktu kecil aku percaya.”

“Sekarang?”

“Sekarang aku bukan anak kecil lagi.”

“Meski bukan anak kecil, aku tetap percaya kalau Sinterklas itu ada.”

“Buktinya?”

“Perayaan akhir tahun ini. Setiap akhir tahun.”

“Apa hubunganya?”

“Ini kado susulan dari Sinterklas. Untuk semua orang yang belum mendapatkan hadiah darinya. Kau senang, kan, dengan kado ini.”

“Berarti sinterklas tidak adil, dong!?”p

“Apanya yang tidak adil?”

“Mereka yang sudah dapat hadiah juga merayakan perayaan akhir tahun. Berarti hadiah mereka dobel dong!”

“Tidak masalah, kan?”

Aku memilih diam. Menghentikan perdebatan kita. Aku tahu, jika ini kita lanjutkan, takkan ada habisnya.

“Kenapa kau diam?” kau balas bertanya.

“Oh, tidak apa-apa. Barangkali kau benar.”

Aku kembali mendekapmu. Kuacungkan telunjukku ke langit. Di sana, satu dua kembang api mulai dinyalakan.

Suara letusan kembang api membuatku terantuk dari lamunan. Waktu terus berjalan. Baru kusadari kau tak ada di sampingku. Kau belum datang. Tidak apa, masih ada waktu satu jam lebih. Pasti kau datang. Bukankah hanya orang bodoh saja yang melewatkan perayaan malam pergantian tahun di taman ini. Dan aku sangat tahu, kau bukan tipe orang semacam itu.





31 Desember, Pukul 23.00

Kutengok alrojiku sudah menunjukkan pukul 23.00 . Aku mulai gelisah. Aku berjalan mengelilingi taman. Seperti orang hilang (atau kehilangan?). Beberapa kali aku melirik bangku itu. Dua mudi-mudi itu masih di sana. Ah, jangan-jangan kau sudah datang, dan karena bangku itu telah ditempati orang, lalu kau pergi mencari tempat lain, bangku lain. Ya, aku yakin sekali, pasti kau sudah datang, sudah ada di taman ini. Tapi di mana?

Orang di taman ini jumlahnya ada ratusan, bahkan ribuan. Satu-satunya tempat yang bisa mempertemukan kita adalah bangku itu. Tapi bangku itu telah di tempati orang. Ini tempat umum, rasanya tidak lucu jika aku mengusir muda-mudi itu hanya karena bangku yang mereka tempati adalah bangku yang biasanya kita tempati. Ini hampir pukul 00.00. Apakah aku harus menghubungimu? Baiklah, tak ada salahnya aku memastikan apakah kau sudah berada di taman ini atau belum. Sebaris pesan pendek akhirnya kukirimkan.

“Apa kabarmu malam ini, Sayang? Sekarang kau di mana?”

Lima menit, sepuluh menit, belum ada balasan. Kutelpon, tak kau angkat. Aku mulai khawatir. Apa kau sedang sakit? Jam sudah menunjukan pukul 23.30. Aku menelpon ke HP ibumu. Kata ibumu kau berangkat ke taman sejak sore tadi. Kutanyakan, kau berangkat dengan siapa. Kata ibumu, kau berangkat seorang diri.

“Dia bilang, dia menunggu seseorang yang akan datang dari Greenwich, di sana.” Kata ibumu lagi. Aku yakin, orang yang kau maksud adalah aku.

Segera kututup teleponku setelah mengucapkan terima kasih. Aku kembali mengelilingi taman selebar puluhan hektar itu. Beberapa menit lagi, hari akan berganti nama baru. Bulan akan kembali ke satu. Tahun akan berganti dengan tahun yang baru. Dan kita harus merayakannya bersama. Seperti tahuntahun sebelumnya.

Aku terus mengayunkan kaki. Memperhatikan gadis-gadis yang duduk seorang diri. Gadis-gadis yang berjalan seorang diri. Dan aku tak menemukanmu. Menit berjalan semakin cepat. Detik-detik pergantian tahun sudah di depan mata. Kulihat orang-orang di sekelilingku sudah bersiap-siap meniup terompet dan menyalakan kembang api. Aku masih sibuk mencarimu. Dan aku hampir putus asa. Maka kuputuskan untuk kembali ke bangku paling ujung, bangku yang biasa kita tempati. Barangkali muda-mudi pengacau itu sudah pergi. Dan kau sudah duduk di sana seorang diri, menungguku.



1 Januari, Pukul 00.00

Tepat lima menit sebelum pukul 00.00, aku sudah sampai di sudut taman, beberapa meter dari bangku itu. Dua mudi-mudi itu masih di sana. Mereka melepaskan pelukannya satu sama lain, lalu berdiri dengan terompet yang masih di apit di ketiak masing-masing. Mereka berdiri berhadap-hadapan. Yang laki-laki memegang beberapa kembang api yang siap dilesatkan. Yang perempuan, mulai menyalakan api dari korek api kecil. Hari, bulan, dan tahun akan segera berganti dalam hitungan detik. Aku masih tersengal-sengal. Lumat dalam kekecewaan yang menyergap begitu saja.

Sepuluh...

Sembilan....

Delapan...

Tujuh...

Enam...

Lima...

Empat...

Tiga...

Dua... dan

Jentik api mulai menyala dari korek api kecil itu, menyulut kembang api yang mulai memercikkan api-api kecil. Beberapa saat sebelum kembang api itu melesat ke langit. Tampak jelas wajah gadis itu oleh cahaya kembang api. Gadis itu sangat cantik. Tawanya, picing matanya, garit lesung pipinya, benar-benar mirip denganmu. Tentu saja, karena gadis itu bukan orang lain. Gadis itu kau. Benar benar kau.

Aneka rupa kembang api mulai memenuhi langit. Taman Hyde terasa riuh. Suara terompet, letusan kembang api, orang-orang berteriak. Semua melebur. Bersatu untuk mempecundangiku. Kembang api, terompet, cokelat, satu-persatu luruh dari genggamanku. Aku masih berdiri di tempatku. Membeku. Kaku. ***<



*Madiun, akhir Desember 2010

Lomba Penulisan Cerita Pendek Islami Lazuardi Birru













Satu lagi persembahan Lazuardi Birru, kali ini kami ingin merangkul teman-teman yang memiliki kemampuan dalam bidang menulis. Tapi tak menutup kemungkinan untuk teman-teman yang ingin ikut berpartisipasi.

Lomba ini terbuka untuk pelajar dan mahasiswa (usia 18-24 tahun)
Persyaratan peserta:

1. Peserta berkewarganegaraan Indonesia (WNI)
2. Peserta beragama Islam dari berbagai suku dan latar belakang.
3. Peserta berusia 18-24 tahun per tanggal 21 Januari 2011.
4. Peserta tidak dikenai biaya.

Ketentuan Lomba:

1. Lomba ini bertemakan : a. perjuangan di jalan Allah, b. Islam rahmat seluruh umat, c. Mengikuti jejak Rosul.
2. Peserta yang akan mengikuti lomba dapat memilih satu dari tema lomba .
3. Lomba ini diselenggarakan oleh Lazuardi Birru.
4. Peserta diperbolehkan membuat cerpen dengan ketentuan: a. Cerpen yang dibuat merupakan karya sendiri, belum pernah dilombakan, atau belum pernah dipublikasikan. b. Cerpen yang dibuat tidak boleh menyinggung unsur suku, ras, dan, kepercayaan orang lain. c. Cerpen dibuat dengan ketentuan: huruf: arial, besar huruf: 11, jarak spasi 1,5, format MS. Word, total kata 1.000- 1.500 kata, besar file: 200 kb (maksimal) d. Peserta diperbolehkan mengirimkan cerpen lebih dari satu. e. Cerpen yang dibuat harus disertai dengan penjelasan konsep atau ide dari cerpen tersebut (terlampir pada formulir pendaftaran)
5. Cerpen harus masuk ke Lazuardi Biru paling lambat 28 Februari 2011.
6. Pengumuman pemenang lomba akan diumumkan pada tanggal 10 Maret 2011.
7. Peserta dapat mengikuti lomba ini dengan cara mengirimkan hasil karyanya dalam format MS.Word melalui email: Lazuardi Biru (kompetisi@lazuardibirru.org) dengan dilampiri oleh: a. formulir pendaftaran. b. scan kartu identitas. c. hasil karya cerpen.
8. Setiap peserta hanya diperbolehkan untuk mengirimkan cerpen dengan besaran file maksimal 200 kb. Lebih dari itu Lazuardi Birru berhak untuk tidak menerima/ mengikutsertakan.
9. Untuk para peserta diwajibkan menjadi member di website www.lazuardibirru.org dan Fanspage Islam Didadaku (www.facebook.com/islamdidadaku)
10. Penilaian bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat.
11. Peserta yang telah mengirimkan karyanya akan dikonfirmasi secara resmi oleh Lazuardi Birru dan dipublikasikan di web www.lazuardibirru.org.

Kriteria Penilaian:

1. Orisionalitas karya.
2. Kesesuaian tema.
3. Kedalaman eksplorasi tema serta komunikatif dalam menyampaikan pesan.
4. Inovasi serta kreativitas penulisan cerita pendek.

Hadiah yang diberikan:

1. Juara 1 Rp 5.000.000,00
2. Juara 2 Rp 4.000.000,00
3. Juara 3 Rp 3.000.000,00
4. Juara 4 Rp 2.000.000,00
5. Juara 5 Rp 1.000.000,00

Ketentuan Pengiriman:

1. Pengiriman dilakukan setelah semua persyaratan keikutsertaan dipenuhi.
2. Karya diterima paling lambat 28 Februari 2011 pukul 23:59 WIB.
3. Lewat dari tanggal pengiriman tersebut maka peserta dinyatakan tidak mengikuti lomba.
4. Peserta yang tidak mengikuti registrasi untuk menjadi member Lazuardi Birru, baik diwebsite maupun Fase page Islam Didadaku, dan tidak melampiri formulir pendaftaran, serta tidak menyertakan identitas diri yang masih berlaku maka dianggap batal keikutsertaaan lombanya.

Lain-Lain:

1. Hasil karya dikirimkan peserta menjadi hak milik panitia.
2. Peserta dapat melakukan konfirmasi, meminta konfirmasi, dengan mengajukan pertanyaanm ke kompetisi @lazuardibirru.org atau menghubungi sekretariat Lazuardi Birru di nomor (021) 97168961.
3. Setiap perubahan informasi atau apa pun akan diumumkan melalui website resmi www.lazuardibirru.org atau page facebook Islam Di Dadaku.

Lomba Cerpen Oleh Guru 2011

Deadline: 31 Maret 2011

Ibu-Ibu Guru dan Bapak-Bapak Guru yang kami hormati!
Menyambut Hari Ulang Tahun Ke-38 Majalah Bobo, tanggal 14 April 2011 nanti, Majalah Bobo kembali menyelenggarakan Lomba Mengarang Cerpen oleh Guru. Kami mengundang Ibu dan Bapak Guru sekalian untuk ikut serta dalam lomba ini.
Majalah Bobo berharap, karya Ibu dan Bapak Guru bisa memberikan hiburan, sekaligus panduan nilai moral kepada anak dalam kehidupan sehari-hari. Tema cerpen bebas. Boleh tentang apa saja. Yang penting cerita itu indah, menarik, dan sesuai untuk anak.

Untuk teman-teman pembaca Bobo, tolong, sampaikan pengumuman ini kepada Ibu dan Bapak Guru di sekolahmu, di sekolah temanmu, atau di sekolah saudaramu. Terima kasih, ya!

Syarat Lomba

1. Lomba ini untuk para guru.
2. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
3. Naskah harus asli, bukan terjemahan, saduran, atau mengambil ide dari karya lain yang sudah ada.
4. Naskah belum pernah diterbitkan di media massa, (cetak maupun elektronik), dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba lain.
5. Tema bebas, asalkan sesuai untuk anak.
6. Atas karya yang menang, Redaksi Bobo berhak menerbitkannya di Majalah Bobo, mengumumkan/memperbanyak, dan mewujudkannya kembali dalam format digital maupun non digital yang tetap merupakan bagian dari Majalah Bobo.
7. Atas naskah yang tidak menang lomba tetapi memenuhi syarat untuk diterbitkan, Redaksi Bobo berhak menerbitkannya di Majalah Bobo, mengumumkan/memperbanyak, dan mewujudkannya kembali dalam format digital maupun non digital yang tetap merupakan bagian dari Majalah Bobo. Penulis akan mendapat honor atas pemuatan naskah tersebut.
8. Naskah yang masuk menjadi hak Redaksi dan tidak dikembalikan.
9. Keputusan juri mengikat dan tidak bisa diganggu gugat.
10. Hadiah untuk pemenang sudah termasuk honorarium pemuatan di Majalah Bobo maupun segala alih bentuknya.

Ketentuan Teknis

1. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah cerpen.
2. Naskah diketik di kertas berukuran folio dengan jarak 2 (dua) spasi. Panjang tulisan maksimal 3 halaman.
3. Lampirkan di setiap naskah: biografi singkat penulis, surat keterangan dari Kepala Sekolah serta cap sekolah, fotokopi KTP, nomor telepon rumah/hp, nomor rekening bank, dan selembar foto terbaru ukuran kartu pos (3R).
4. Naskah dimasukkan ke dalam amplop. Tuliskan: Lomba Mengarang Cerpen Anak oleh Guru di sudut kiri atas amplop.
5. Karya dikirimkan ke: Panitia Lomba Mengarang Cerpen Anak oleh Guru, Redaksi Majalah Bobo, Jl. Panjang No. 8A, Jakarta 11530.
6. Karya peserta diterima panitia paling lambat pada tanggal 31 Maret 2011.

Hadiah:

* Juara I: Rp8.000.000,00 (delapan juta rupiah)
* Juara II: Rp6.500.000,00 (enam juta lima ratus ribu rupiah)
* Juara III: Rp5.500.000,00 (lima juta lima ratus ribu rupiah)
* 10 (sepuluh) pemenang harapan, masing-masing berhadiah Rp1.000.000,00.
* (satu juta rupiah)

Lain-Lain:

1. Pengumuman Pemenang akan dimuat di Majalah Bobo No. 5/XXXIX, yang terbit tanggal 12 Mei 2011.
2. Hadiah akan dikirim melalui transfer lewat bank.
3. Pemenang akan mendapat surat pemberitahuan langsung dari Majalah Bobo, dan tidak melalui agen/perantara lain.
4. Waspadalah dengan penipuan yang berkedok ingin membantu/mengurusi pemenang. Jangan pernah melayani permintaan transfer uang sedikit pun. Kalau ada hal yang mencurigakan, segeralah menelepon Redaksi Majalah Bobo: (021) 5330150, (021) 5330170, pesw. 33201, 33206.

Penari Topeng (dimuat di Malang Post 5 Desember 2010)









Cerpen Mashdar Zainal

Ketika gendang dan rebana mulai ditalu, dan syair-syair mulai dilantunkan, lelaki itu pun mulai beranjak dari duduknya. Sejenak ia membungkuk, memberi penghormatan kepada penonton, lantas ia mulai menggerakkan jari-jarinya yang lentik. Selendang tipis yang melilit di pinggangnya ia angkat perlahan, seolah hendak terbang. Ia pun mulai menari. Tarian yang begitu anggun. Lihat! Gerak tarinya selentik jari-jemarinya. Kakinya yang tertutup celana hitam hingga separuh betis juga tampak elok. Tak seperti kaki laki-laki. Kakinya begitu putih, seputih tanah botak yang menghampar di puncak Pawitra. Siapa gerangan lelaki anggun itu? Bagaimana rupa wajahnya? Benarkah ia seorang lelaki?

Raden Inu Kertapati benar-benar dibuat penasaran oleh penari itu. Penari kentrung keliling yang selalu menari mengenakan topeng. Cukup aneh memang. Topeng itu tak pernah lepas dari wajahnya, bahkan ketika ia usai menari. Beberapa kali Raden Inu Kertapati mendekatinya—untuk sekedar bertegur sapa dan menyatakan kekaguman akan tariannya—namun Raden Inu Kertapati tak pernah mendapat kabar lebih. Lelaki bertopeng itu selalu bicara di balik topengnya. Hanya tampak kedua matanya yang berkerling-kerling ketika bicara. Ia mengaku bernama Warga Asmara, seorang pengembara dari negeri antahberantah yang kebetulan singgah di Kahuripan. Ia bercerita bahwa hari-harinya ia habiskan dengan menghibur warga, menyampaikan pesan-pesan kehidupan lewat seni kentrung, dari desa ke desa. Setiap desa akan ia singgahi barang sehari-dua hari, begitu ia bercerita.

“Tapi, seingatku sudah hampir satu minggu kau singgah di Kahuripan. Aku senang kau betah di desa ini, menghibur warga dengan pertunjukan elokmu itu. Menyampaikan kearifan lewat syair dan tarianmu.” Raden Inu Kertapati terus menatap wajah bertopeng itu. Matanya memicing seperti mencerna sesuatu.

“Maaf. Kenapa Raden memandangi saya seperti itu?” Warga Asmara mulai merasakan kecemasan itu.

“Kenapa, ya? Kok rasa-rasanya aku pernah mengenalmu?”

Warga Asmara terdiam. Ia merasa bahwa Raden Inu Kertapati sedang menggali sesuatu tetang dirinya. “Oh, tentu Raden. Gambuh macam kami ini memang acap berlalu lalang di sembarang tempat. Jadi, tak heran kalau Raden merasa pernah mengenal saya.”

Raden Inu Kertapati manggut-manggut, menyepakati pendapat Warga Asmara.

“Oh, tiba-tiba aku memikirkan sesuatu.” Raden Inu Kertapati kembali mengangkat suara.

“Ya?”

“Sesekali kau harus datang ke balai istana. Orang-orang istana juga butuh hiburan. Aku yang mengundangmu. Bagaimana?”

“Saya? Ke istana Kahuripan?” Warga Asmara tercekat.

“Iya. Kau dan grup kentrungmu yang setia itu. Bagaimana?”

Bagai mimpi. Raden Inu Kertapati memintanya untuk datang ke istana dan menghibur orang-orang istana. Tawaran yang menggiurkan. Tapi… Warga Asmara punya sebuah alasan untuk menolak tawaran itu. Alasan yang tak mungkin bisa ia paparkan pada Raden Inu Kertapati.

“Jika kau menolak untuk datang ke istana, tolong berikan aku alasan yang tepat. Soal bayaran bisa dirundingkan, bukan?”

“Bukan itu Raden.” Mulut Warga Asmara seperti tersekap oleh topengnya. Dari balik topengnya ia menilik senyum kemenangan yang menyimpul di bibir Raden Inu Kertapati.

“Oh, ya, maaf, satu lagi, apa kau keberatan jika kuminta untuk membuka topeng?” tutur Raden Inu Kertapati samar-samar.

Warga Asmara tergelak, “O, kalau untuk yang satu ini, sepertinya saya akan mengecewakan Raden. Maaf.”

“Jenaklah, Warga Asmara! Aku takkan memaksamu.” Raden Inu Kertapati membenamkan sedikit kekecewaanya. Rasa penasarannya bertambah-tambah. Mungkinkah ia sosok Batara yang turun dari langit untuk membenahi kehidupan zaman yang koyak-moyak ini, dengan pesan-pesan bijak dalam tari-syairnya? Ataukah ia seorang mata-mata dari raja Daha, yang diutus untuk mengawasi perilakunya terhadap Galuh Ajeng, istrinya.

Memang fatal pertautan hati yang tak didasari budi bahasa, yang tak dilandasi oleh cinta. Meski lepas zaman berbulan-bulan Galuh Ajeng resmi menjadi istrinya, Raden Inu Kertapati sama sekali tidak menyentuhnya. Ia tak bisa. Tak akan bisa. Bagian hatinya (yang) untuk memanjakan wanita telah raib bersama hilangnya Galuh Chandra Kirana setahun lalu. Hanya Galuh Chandra Kirana satu-satunya gadis yang mampu menggetarkan hatinya. Suaranya, tutur lakunya, senyum tulusnya, benar-benar sikap seorang putri yang sebenar-benarnya putri. Bahkan membayangkan wajahnya saja hati Raden Inu Kertapati sudah bergetar hebat.

Meski bagaimanapun, tak ada manusia yang tahu teka-teki dari Sang Hidup. Begitu saja Galuh Chandra Kirana lenyap bagai tertelan bumi. Lantas ia dipaksa menikah dengan saudara tiri Galuh Chandra Kirana, Galuh ajeng. Siapa pula yan membisikan mantra ke palung benaknya. Begitu saja ia menerima Galuh Ajeng sebagi istrinya. Namun tetap saja, urusan hati bukanlah urusan yang bisa direkayasa. Lambat laun Raden Inu Kertapati pun insyaf, bahwa seseorang yang bisa menyematkan ketenangan di bilik hidupnya hanya Galuh Chandra Kirana seorang. Tak ada yang lain.

Berbulan-bulan, dengan sembunyi-sembunyi Raden Inu Kertapati melakukan pencarian, ke desa-desa, ke kampung-kampung asing di tengah belantara, bahkan hingga ke kerajaan-kerajaan jauh. Betapapun keras pencarian Raden Inu Kertapati, Galuh Chandra Kirana tak kunjung ia temukan. Hanya saja, satu hal yang ia yakini: detak jantungnya yang terus membunga. Ia benar-benar masih menyimpan decak-decak itu. Decak-decak yang mengabarkan bahwa sebagian hatinya masih nyata. Bukankan dua hati yang saling berkait itu tak ubahnya dua kutub magnet yang saling berinteraksi satu sama lain? Mereka hanya terpisah ruang. Raden Inu Kertapati yakin, bahwa suatu saat cinta yang tulus serupa itu, pasti akan dipertemukan. Hanya urusan waktu saja.

***

Warga Asmara dan iring-iringan grup kentrung telah singgah di istana Kahuripan. Raden inu kertapati meluangkan sebuah kamar untuk-tamunya itu. Warga Asmara harus benar-benar mempersiapkan dirinya. Mulai malam ini hingga dua atau tiga malam ke depan ia akan tampil di depan para punggawa istana. Ia bukan tampil di tengah kerumunan warga. Jadi, ia harus menyuguhkan penampilan terbaiknya.

Sesekali waktu, Warga Asmara dan grup kentrungnya berunding mengenai lagu dan lakon yang hendak mereka tampilkan. Raden Inu Kertapati pun telah mengumumkan kepada para punggawa dan semua pekerja-pekerja di istana, bahwa tiga hari ke depan akan ada hiburan kentrung yang manggung di balai istana. Mulai dari pejabat tinggi hingga tukang rawat taman, semua dipersilahkan hadir.

Maka, malam itupun pertunjukan dimulai. Para punggawan dan pekerja kerajaan telah berkumpul dibalai pertunjukan. Warga Asmara dan grup kentrungnya mulai beraksi. Gendang mulai ditabuh. Syair-syair mulai dilantunkan. Dan Warga Asmara pun siap dengan gerak tarinya. Dua kaki Warga Asmara mulai bergeser, mengangkang, serupa mengambil kuda-kuda. Kedua tangannya mulai terangkat dan meliuk-liuk, lehernya mematah ke kanan dan ke kiri, sementara kedua matanya mengerjap-kerjap.

Sekali lagi Raden Inu Kertapati terpesona dengan lantunan itu, dengan tarian itu. Bukan hanya Raden Inu Kertapati, semua penonton pun tampak terperangah menyaksikan keluwesan Warga Asmara dalam menari. Tak sembarang laki-laki bisa melentikan tarian dengan begitu lihainya.



Dari balik topengnya, Warga Asmara dapat menyaksikan orang-orang bersorak, mengagumi lelakunya di atas panggung. Dari balik topengnya pula, ia bisa dengan leluasa menatap Raden Inu Kertapati yang duduk di garda paling depan. Ia melihat Raden Inu Kertapati tak berjeda kedip menatap dirinya. Ahai, tiba-tiba dadanya berdesir.

***

Raden Inu Kertapati yakin sekali mengenal sosok itu, sosok yang berkelebat dalam kepalanya namun sangat sulit untuk ia telusuri. Benar-benar ada sesuatu dalam diri penari topeng itu. Sesuatu yang muncul tenggelam dalam benaknya. Rasa penasarannya akan sosok Warga Asmara benar-benar memuncak ketika dirasainya ia mulai terpesona pada sosok penari itu. Maka, seusai pertunjukan, Raden Inu Kertapti mengundang Warga Asmara untuk makan malam bersama. Ia berharap, dengan cara itu Warga Asmara mau membuka topengnya.

Warga Asmara pun menghadiri undangan itu, dengan topeng yang masih menempel di wajahnya. Beberapa punggawa kerajaan menatapnya dengan tatapan aneh. Raden Inu Kertapati, Istrinya, Warga Asmara, dan beberapa punggawa kerajaan telah duduk melingkari meja makan yang megah. Berbagai macam hidangan dan buah-buahan telah disiapkan. Setelah berbincang-bincang ringan, dan Raden Inu Kertapati memberikan mukaddimahnya, makan malam pun dimulai.

Para hadirin mengambil porsinya masng-masing dan mulai menyantapnya. Raden Inu Kertapati terus melirik Warga Asmara, berharap melihat Warga Asmara melepas topengnya perlahan-lahan. Sementara Warga Asmara yang sedang diawasi tidak sadar kalau ia sedang diawasi. Setelah Warga Asmara menyelesaikan menu yang dipilihnya, ia duduk agak jenak, dengan perlahan ia mulai menyingkap topeng kayu yang menutupi wajahnya. Raden Inu Kertapati sudah berdebar-debar, tak sabar ingin meihat wajah penari itu yang sebenarnya. Namun sungguh disayangkan, Warga Asmara hanya mengangkat topengnya sebatas mulut. Raden Inu kertapati hanya mampu menelanjangi bibir Warga Asmara yang begitu indah untuk ukuran bibir laki-laki.

“Kau yakin tidak ingin melepas topengmu, Warga Asmara?” telisik Raden Inu Kertapati.

“Segala Maaf saya haturkan, Raden.”

Raden Inu Kertapati tersenyum kecewa. Rasa penasarannya akan wajah yang tersembunyi dibalik topeng itu meletup-letup. Rasa penasaran yang menggelayutinya beberapa hari terakhir ini kini berubah menjadi kecurigaan. Pasti ada sesuatu yang tidak beres, pikir Raden Inu Kertapati. Mana mungkin ada seseorang yang begitu kukuh mempertahankan kedok kalau tidak ada apa-apa.

Maka, tengah malam, diam-diam Raden Inu Kertapati menjadi penyusup di istananya sendiri. Ia mengendap-endap serupa maling. Ia berjingkat mendekati kamar tamu, dimana ia mempersilahkan Warga Asmara dan rekan-rekannya untuk beristirahat.

Malam bertambah malam. Sepi berpadu-kawin dengan larut. Hanya suara-suara serangga malam yang begitu riuh, menguapkan nada-nada kesunyian. Dari lubang pintu, ia mengintai kamar itu. Pepohonan dan semak-semak melur yang tumbuh di depan kamar seolah menyempurnakan pengintaiannya. Tiba-tiba Raden Inu Kertapati merasa ada yang aneh dengan dirinya, mengendap-endap di depan kamar tamu seperti seorang pengecut. Betapapun gejolak perasaannya bercampur baur. Ia mengabaikannya.

Terus ditiliknya kamar itu dari luar, dari lubang pintu. Raden Inu Kertapi tergelak dan hampir berteriak ketika sosok-sosok yang terbaring di sana, di dalam kamar itu, bukan lagi sekelompok grup kentrung bertopeng yang gagah—yang ia jumpai sore tadi, melainkan perempuan-perempuan yang terbaring rapi dengan rambut-rambut panjang memburai. Raden Inu Kertapi masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya, ia malah merinding.

Dari balik lubang pintu, mata Raden Inu Kertapati terus menyalak mencari-cari sosok Warga Asmara. Hingga matanya mendarat pada seorang gadis yang masih terduduk di ranjangnya, menekuni sebuah boneka bergaun kain emas di tangannya. Bahu gadis itu berguncang-guncang seperti meratap. Tiba-tiba lutut Raden Inu Kertapati gemetar dan terasa lumpuh. Ia benar-benar hapal dengan dengan boneka yang dipegang gadis itu. Boneka yang ia hadiahkan untuk Galuh Chandra Kirana beberapa tahun lalu.***

Madiun, 3 Juni 20101



Catatan:

Pawitra: Nama lain dari gunung Penanggungan, sebuah gunung merapi tidur yang terletak di Mojokerto Jawa Timur.

Warga Asamara: Nama samaran dari Galuh Chandra Kirana, ketika ia menyamar menjadi seorang lelaki. Galuh Chandra Kirana juga pernah menyamar dengan nama Panji Sumirang.

Kentrung: Sebuah kesenian dari Jawa Timur yang berbentuk nyanyian, berisi cerita, sindiran, kritik, dsb. Yang diiringi dengan rebana.

Gambuh: Sebuah kesenian berbentuk total theater karena di dalamnya terdapat jalinan unsur seni suara, seni drama & tari, seni rupa, seni sastra, dan lainnya.