<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157</id><updated>2011-11-04T21:00:28.579-07:00</updated><title type='text'>D U N I A . . . I B A R A T</title><subtitle type='html'>Berenanglah dalam samudera ibarat... 
lalu menyelamlah ke palung-palungnya...
niscaya kan kau dapati mutiara 
dalam jengkal-jengkal kata 
yang akan mengajarimu bagaimana memperlakukan cinta...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>59</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-5601289380147930538</id><published>2011-07-17T23:30:00.000-07:00</published><updated>2011-07-17T23:33:57.653-07:00</updated><title type='text'>Pengumuman pengiriman Karya TSI-4 Ternate 2011</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-ZUJPt1k6MXQ/TiPTiQJbM0I/AAAAAAAAAVk/YWKCbDGrUaw/s1600/index.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 256px; height: 182px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-ZUJPt1k6MXQ/TiPTiQJbM0I/AAAAAAAAAVk/YWKCbDGrUaw/s320/index.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5630576544546763586" /&gt;&lt;/a&gt;Kepada&lt;br /&gt;Yth. Bapak/Ibu/Tuan/Puan/Saudara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kami beritahukan bahwa Temu Sastrawan Indonesia-4 akan dilaksanakan di Ternate, Maluku Utara, pada 25-29 Oktober 2011. TSI-4 bertema “Sastra Indonesia Abad ke 21, Keragaman, Silang Budaya dan Problematika”. Adapun kegiatan TSI-4 ini meliputi Seminar, Musyawarah Sastrawan, Penerbitan Antologi Sastra, Panggung Sastra, Pameran/Bazar/Launching Buku, Workshop dan Wisata Budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan itu, kami mengundang Bapak/Ibu/Tuan/Puan/Saudara untuk mengirimkan karya dengan ketentuan sebagai berikut:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;A. Puisi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- lima (5) buah puisi karya asli yang ditulis dalam tahun 2011&lt;br /&gt;- belum dipublikasikan ke media mana pun&lt;br /&gt;- Biodata maksimal 10 baris&lt;br /&gt;- diemailkan ke : puisi.tsi4@gmail.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;B. Cerpen :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- tiga (2) buah cerpen karya asli yang ditulis dalam tahun 2011&lt;br /&gt;- belum dipublikasikan ke media mana pun&lt;br /&gt;- panjang cerpen berkisar 5 halaman sampai 10 halaman kwarto (600 Kata)&lt;br /&gt;- memakai font times new roman size 12&lt;br /&gt;- Biodata maksimal 10 baris&lt;br /&gt;- diemailkan ke : cerpen.tsi4@gmail.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengiriman karya dapat dilakukan sejak: 23 Maret 2011 – 23 Juli 2011. Bagi sastrawan yang karyanya lolos seleksi Dewan Kurator TSI-4, akan mendapat undangan resmi dari panitia TSI-4 dan honorarium tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia akan menyediakan penginapan (akomodasi), makan-minum (kosumsi) dan transport lokal selama kegiatan berlangsung, uang lelah dan cinderamata. Mengingat keterbatasan dana, maka kami mohon maaf tidak bisa menyediakan biaya transportasi peserta undangan dari tempat asal ke tempat tujuan (pp).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas perhatian, kerja sama dan partisipasi Bapak/Ibu/Tuan/Puan/Saudara, kami ucapkan terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ternate 21 Maret 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Takzim,&lt;br /&gt;Panitia Temu Sastrawan Indonesia 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternate 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sofyan Daud Dino Umahuk&lt;br /&gt;Ketua Pelaksana Sekretaris &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBER: http://fordisastra.com/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=1150&amp;mode=thread&amp;order=0&amp;thold=0&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-5601289380147930538?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/5601289380147930538/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/07/pengumuman-pengiriman-karya-tsi-4.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/5601289380147930538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/5601289380147930538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/07/pengumuman-pengiriman-karya-tsi-4.html' title='Pengumuman pengiriman Karya TSI-4 Ternate 2011'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-ZUJPt1k6MXQ/TiPTiQJbM0I/AAAAAAAAAVk/YWKCbDGrUaw/s72-c/index.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-5311468640158955165</id><published>2011-06-07T21:07:00.013-07:00</published><updated>2011-06-07T21:16:26.886-07:00</updated><title type='text'>Tamu (Surabaya Post, Minggu 5 Juni 2011)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-ix69DCSmQiU/Te73fUZwtxI/AAAAAAAAAVU/eWZmOJhl-Po/s1600/cahaya-insan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 289px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-ix69DCSmQiU/Te73fUZwtxI/AAAAAAAAAVU/eWZmOJhl-Po/s320/cahaya-insan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5615697902802351890" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh Mashdar Zainal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah kami tidak terlalu besar, tapi juga tidak bisa dibilang kecil. Rumah kami memuat 3 kamar yang masing-masing berukuran 4x5 meter, 3 kamar madi, sebuah ruang keluarga—tempat anak-anak menonton TV, sebuah ruang baca sekaligus perpustakaan pribadi, sebuah dapur yang bersebelahan dengan garasi, dan sebuah ruang tamu berukuran 4x6 meter. Di depan rumah ada taman yang tidak terlalu luas, tapi lebih dari cukup untuk ditanami berbagai macam bunga serta membuat pancuran dan kolam ikan. Di rumah, kami tinggal berlima. Saya dan istri, dua putra kami yang semuanya masik duduk di bangku SD (yang besar sudah kelas empat, yang kecil baru masuk kelas satu), dan seorang khadimah yang bertugas memasak dan mengurus rumah.&lt;br /&gt;Rumah kami terasa mati meski tak pernah sepi. Setiap hari jerit anak-anak dan suara bising Play Station sudah menyambut kami setiap kali pulang kerja di sore hari. Rumah kami juga terang benderang, lampu-lampu besar berhias kristal menempel dan menggantung di mana-mana, namun dalam hati kecil kami, kami merasa rumah kami sangat redup dan suram. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Suatu malam, sepulang dari pengajian, kami langsung ambruk di pembaringan. Bahkan aku tak sempat mengucapkan selamat malam pada istriku. Begitu juga dia. Kami sama-sama letih. Dan pada malam itulah—jauh selepas malam, lelaki itu datang. Kami mendengar bel berbunyi. Sesekali sayup-sayup suara pintu diketuk. Aku tak menggubris sama sekali. Biasanya, sekali saja ada bel berbunyi, pembantuku yang akan langsung membukakan pintu. Tapi aneh sekali, lebih dari lima kali, dan bel itu masih terus berbunyi, diiringi ketukan pintu sesekali. Terpaksa aku bangkit dari tidur sambil mengumpat dalam hati.&lt;br /&gt;“Siapa sih, bertamu malam-malam begini. Tak tahu aturan.” gumamku masih setengah sadar.&lt;br /&gt;Aku berjalan sempoyongan, mendekati pintu. Dengan mata yang masih setengah mengatup, kutarik grendel pintu. Kutarik gagang pintu itu pelan-pelan—telah kusiapkan pula muka masam. Dan mataku terbelalak ketika daun pintu telah kubuka lebar. Seorang lelaki dengan perawakan tinggi sudah beruluk salam sambil melempar senyum. Entah bagaimana kujelaskan ketampanannya, dibalik kulit wajahnya seperti tersimpan butiran cahaya yang terus berpendar. Entah musabab apa, aku seperti tersihir oleh cahaya di wajahnya. Maka rasa kantukku seperti hilang begitu saja, hatta lelaki itu kupersilahkan masuk. Ketika aku hendak beranjak untuk memanggil pembantuku—supaya membuatkan segelas teh atau kopi, lelaki itu melarangku.&lt;br /&gt;Lelaki itu mengaku bernama Ahmad. Ia bilang, ia mengenalku, bahkan ia bersikeras menyatakan bahwa aku juga sangat mengenalnya. Entahlah, setelah kutilik wajahnya beberapa kali, aku memang merasa pernah mengenalnya, bahkan sangat mengenalnya. Namun entah kapan, entah di mana, aku lupa. &lt;br /&gt;“Maaf, sudah menggangu istirahat, Tuan.” Tuturnya lembut.&lt;br /&gt;“Oh, tidak apa-apa. Ngomong-ngomong ada keperluan apa bertamu malam-malam begini, apa ada sesuatu yang sangat mendesak.” Balasku.&lt;br /&gt;“Oh, tidak, saya hanya ingin bermalam saja di rumah Tuan yang hangat ini.”&lt;br /&gt;Pernyataanya sesungguhnya cukup ganjil, bagaimana mungkin ada orang ingin menginap di rumah orang lain tanpa alasan yang jelas, datang malam-malam buta pula. Namun lagi-lagi, entah kenapa, semua yang meluncur dari mulutnya terasa benar dan tidak mengada-ada.&lt;br /&gt;“Memangnya Tuan berasal dari mana.” Aku mencoba mengorek sesuatu tentang dirinya.&lt;br /&gt;“Tuan tahu saya dari mana. Hanya saja Tuan lupa.” Balasnya enteng. Namun lagi-lagi, aku tidak memperslahkannya. Semua yang meluncur dari mulutnya terdengar mantap.&lt;br /&gt;“Sebentar, sebentar, siapa ya?” aku mengetuk-ketuk jidadku sendiri. Kupicingkan mata ke lelaki itu. Dan lelaki itu hanya tersenyum.&lt;br /&gt;“Tak perlu dipaksa, nanti Tuan juga akan tahu siapa saya.”&lt;br /&gt;“Siapa, ya?” aku masih penasaran.&lt;br /&gt;“Mmm… bolehkan saya numpang sholat sunnah. Apa ada mushola di rumah Tuan?” ucapnya tiba-tiba.&lt;br /&gt;Aku terantuk, dan tak tahu harus menjawab apa, “oh, maaf. Tak ada mushola khusus di rumah saya. Saya menggelar sajadah di sebelah ranjang, dan biasanya saya sholat di sana.”&lt;br /&gt;“Oh tidak apa-apa. Sholat bisa di mana saja.”&lt;br /&gt;Segera saya antar lelaki itu ke kamar tamu, saya ambil sajadah yang masih terlipat dalam lemari. &lt;br /&gt;“Silahkan!” lirihku. &lt;br /&gt;Lelaki itupun menggelar sajadahnya ke arah kiblat. Aku mengintip ia dari balik pintu. Beberapa kali aku menepuk kepala, mengingat-ingat, kapan terakhir kali aku sholat malam. Sebulan yang lalu? Setahun yang lalu? Dua tahun yang lalu? Lima tahun yang lalu? Entahlah! Aku benar-benar lupa. Tiba-tiba aku merasa sangat malu pada diriku sendiri.&lt;br /&gt;Hampir setengah jam aku menunggunya di ruang tamu. Aku kembali terkantuk-kantuk.&lt;br /&gt;“Kalau Tuan mengantuk. Sebaiknya Tuan istirahat saja.” Suaranya membuatku terhenyak.&lt;br /&gt;“Oh, sudah selesai. Tidak, saya tidak mengantuk.”&lt;br /&gt;“Maaf, apa Tuan ada Al-Quran?” ia kembali bertanya. &lt;br /&gt;“Al-Quran?” Aku tertohok. “Oh ya, sebentar-sebentar.” Aku bangkit dan berjalan ke dalam kamar. Aku sudah mulai deg-degan. Jujur, aku tidak tahu apakah di rumahku ada Al-Quran atau tidak. Tapi aku terus mencari. Mustahil seorang muslim tak punya Al-Quran di rumahnya. Aku terus mencari, membongkar lemari dan buku-buku. Hingga kitab itu kutemukan di antara tumpukan buku-buku lawas yang tak pernah kubaca. Ia begitu usang dan berdebu. Aku memeluk kitab itu dengan lega, dan entah kenapa aku ingin menangis. Segera aku berlari memui lelaki itu di ruang tamu. Ia masih di sana, matanya terpejam, tapi mulutnya merapal surah-surah yang tak kutahu. &lt;br /&gt;“Maaf. Ini Al-Qurannya.” Kuserahkan kitab itu padanya dengan tangan gemetar. Tapi lelaki itu tersenyum. Ia mulai membuka mushaf itu dan membacanya. Ia sudah membaca beberapa ayat saat aku menyelanya.&lt;br /&gt;“Maaf. Nanti kalau Tuan hendak instirahat, silahkan beristirahat di kamar tamu saja. Anggap saja rumah sendiri.” Kataku, sebelum memohon diri untuk kembali ke kamar.&lt;br /&gt;Aku berjalan lesu ke kamar. Kulihat istriku masih mendengkur. Dari dalam kamar. Kudengar suara lelaki itu melantunkan ayat-ayat dengan sangat sempurna dan merdu. Entah kenapa aku tak bisa tidur lagi. Ingin kubangunkan isteriku, tapi melihat tidurnya yang sangat pulas, niat itu kuurungkan.&lt;br /&gt;Pikiranku kemali pada lelaki itu, lelaki yang bertamu malam-malam dan sekarang tengah membaca mushaf di ruang tamu. Hal itu seharusnya sangat aneh. Sangat sangat aneh. Tapi tidak untuk malam itu. Kucoba utuk memejamkan mata kembali, namun gagal. Maka kuputuskan untuk kembali ke ruang tamu. Di sana, lelaki itu masih duduk terpaku dengan mushaf di pangkuanya. Ia melihatku datang, lantas ia menyudahi bacaanya. Ia bagai bersiap-siap untuk kuajak berbincang-bincang panjang.  &lt;br /&gt;“Rumah Tuan lumayan besar, ya!” komentarnya tiba-tiba.&lt;br /&gt;“Yah… Alhamdulillah. Ini patut saya syukuri.”&lt;br /&gt;“Tuan suka membaca?” Tanyanya lagi.&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku sangat bersemangat dengan pertanyaannya, “ouh, aku punya perpustakaan pribadi.” Sambutku girang. “Mau melihat-lihat?” lanjutku.&lt;br /&gt;“Dengan senang hati.” Balasnya singkat, tetap tersenyum.&lt;br /&gt;Aku bangkit dan melenggang menuju perpustakaan pribadi kebangganku. Sampai di ruang buku, lelaki itu kembali berkomentar, “Wow, buku Tuan banyak sekali. Buku apa saja ini?”&lt;br /&gt;“Oh… Insya Allah komplit. Mulai dari ensiklopedi, kamus, filsafat, pendidikan, bahkan sastra dan novel juga banyak.”&lt;br /&gt;“Mmm… ada Siroh Nabawiyah?” celetuknya.&lt;br /&gt;Aku terdiam di tempatku berdiri. Membeku. Kembali aku tertohok.&lt;br /&gt;“Perjalanan hidup Rasulullah sangat menarik bukan untuk kita baca?”&lt;br /&gt;Aku hanya mengangguk.&lt;br /&gt;“Saya yakin Tuan punya banyak buku Siroh Nabawiyah.” Katanya lagi.&lt;br /&gt;“Oh, tentu.” Aku berbohong.&lt;br /&gt;“Beliau teladan kita. Nabi kita. Namnya kita agung-agungkan, bagai seorang idola. Alangkah lucu jika kita tidak tahu menahu bagaimana kisah hidupnya. Betul bukan?” uangkapnya lagi. Sungguh, kata-katanya bagai sebilah tombak yang menusuk ke ulu hatiku. Aku hanya gemetar.&lt;br /&gt;“Oh. Di mana rak buku-buku Sirohnya?” lelaki itu langsung ke point pertanyaan.&lt;br /&gt;“Sungguh maaf, buku-buku Siroh koleksi saya dipinjam seorang teman untuk refrensi tugas kuliah, dan belum dikembalikan.”&lt;br /&gt;“Ooo… Kalau kitab hadits, tentu Tuan punya.” &lt;br /&gt;“Kitab Hadits?” aku seperti orang bodoh.&lt;br /&gt;“Iya. Shahih Bukhori atau Shohih Muslim. Tuan punya, kan? Hadits adalah sumber hukum ke 2 setelah Al-Quran. Tentu Tuan punya. Saya yakin.”&lt;br /&gt;“Iya. Termasuk kitab hadits, juga dipinjam teman saya. Ada Riyadhus Sholihin. Jami’us Shaghir juga ada. Tapi ya itu, semua ada pada teman saya.” Kilahku lagi. Dalam hati aku berdoa, semoga nama-nama kitab hadist yang kusebutkan tidak ada yang salah.&lt;br /&gt;“Ooo…” kembali lelaki itu ber’o’ panjang.&lt;br /&gt;Aku sangat lega, lelaki itu memakluminya. Namun, kebohongan yang telah melesat dari mulutku beberapa saat yang lalu bagai sebilah cambuk yang terus melecutkan rasa bersalah dan tidak nyaman. Kami masih berjibaku dengan bukubuku. Membacanya sekilas dan mengembalikannya ke rak. Hingga beberapa saat kemudian, lelaki itu berpamitan untuk beristirahat. Aku mengantarnya sampai kamar tamu. Namun sampai di ruang keluarga mendadak ia berhenti di depan tivi.  &lt;br /&gt;“Ini apa? Besar sekali. Cermin, ya?” kembali ia melontarkan pertanyaan aneh.&lt;br /&gt;“Oh, ini tivi. Biasa buat hiburan anak-anak.” Kataku.&lt;br /&gt;“Kalau ini?”&lt;br /&gt;“Ini PS, game. Buat hiburan anak-anak juga.”&lt;br /&gt;“Sangat berguna, ya, untuk hiburan anak-anak.” Komentarnya bagai sebuah sindiran. Dan aku menelanya mentah-mentah. Rasanya sepat. Mushola saja tak ada, al-quran usang tak terbaca, kitab siroh dan hadits tak pernah terpikirkan untuk mengoleksinya, sedangkan tivi terpajang di ruang keluarga bagai benda kebanggaan yang sangat berharga. Oo... bagaimana kuhadapi ini?&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Selepas kuantarkan lelaki itu ke kamar tamu. Aku ngeloyor ke kamar. Pikranku berkecamuk tidak karuan. Sekali lagi kutengok istriku yang masih tertidur dengan mulut menganga. Kali ini, dengkuranya terdengar sangat menjijikan. Aku kembali berjalan keluar kamar. Kutilik kamar tamu tempat lelaki itu beristirahat, sudah tertutup. Aku berjalan menuju kamar anak-anak. Mereka juga masih pulas. Maka kuputuskan untuk keluar rumah. Aku duduk di bangku taman depan. Dingin sekali. Kutilik langit. Bintang-bintang berpendar bagai hendak menjatuhkan diri. Siapa gerangan lelaki itu? &lt;br /&gt;Aku kembali masuk ke dalam, ke perpustakaan. Kugeledah satu demi satu buku-buku di sana. Aku sendiri tak percaya kalau aku tidak punya buku-buku tentang Rasulullah. Nyatanya, memang tak satupun kudapatkan buku tentang Rasulullah di sana, apalagi kitab hadits. Aku ingat, aku memang tak pernah membeli kitab hadits, sama sekali. Aku menggelengkan kepala. Ada yang salah denganku.&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku teringat buku-buku anakku. Mereka semua kusekolahkan di sekolah islam terpadu. Tentu di sana ada pelajaran Siroh. Segera aku menghambur ke kamar anakku. Kegeledah meja belajar mereka. Dan di sana kutemukan buku modul tipis: Siroh Nabawiyah. Serta merta kupeluk buku itu. Kubuka satu persatu buku itu. Di halaman-halaman awal kutemukan bab pertama tentang Masyarakat Islam Sebelum Rasulullah, kubaca sekilas. Kubuka halaman berikutnya, tentang Kelahiran dan Masa Kecil Rasulullah. Kubaca dengan saksama, tak terasa mataku berair. Kubaca lagi halaman demi halaman, hingga aku tertidur di kamar anakku sambil mendekap buku itu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Aku terbangun oleh suara tarhim yang bagai menyilet telinga. Aku tergeragap. Pertama kali yang singgah dalam kepalaku adalah lelaki itu. Lelaki berwajah cahaya yang datang tengah malam tadi. Kutengok kamar tamu tempatnya beristirahat. Masih tertutup rapat. Barangkali ia kelelahan, pikirku. &lt;br /&gt;Kulihat Nani, pembantuku, sudah menyiapkan teh hangat di ruang keluarga. &lt;br /&gt;“Sudah bangun, Pak.” Sapanya.&lt;br /&gt;“Iya. Alhamdulillah, bisa bangun pagi. Mmm… Nani?”&lt;br /&gt;“Ya, Pak?”&lt;br /&gt;“Tolong tamunya dibikinkan juga, ya, tehnya!”&lt;br /&gt;“Tamu?” Nani balas bertanya seperti orang bingung.&lt;br /&gt;“Iya. Semalam bapak ada tamu. Sekarang masih istrirahat di kamar tamu.”&lt;br /&gt;“Di kamar tamu?” Nani masih seperti orang ling-lung. “Tapi, barusan saya dari kamar tamu, di sana tidak ada siapa-siapa.” Jelasnya.&lt;br /&gt;“Ha? Bercanda kamu. Wong semalam saya sendiri kok yang ngater dia ke kamar.”&lt;br /&gt;“Lho? Bener, Pak. Barusan saya beresin kamar tamu, dan tidak ada siapa-siapa. Tak ada juga bekas-bekas orang tidur di sana.”&lt;br /&gt;Aku mengernyitkan dahi. Daripada berdebat kuputuskan untuk langsung beringsut ke kamar tamu, dan Nani benar, di sana tidak ada siapa-siapa. Buru-buru kutengok kamar mandi, barangkali ia sedang ke kamar mandi. Tapi di kamar mandi juga tidak ada siapa-siapa. Aku semakin bingung dan heran. Apa semalam aku mimpi?&lt;br /&gt;Hingga matahari meninggi, otakku masih kacau dipenuhi pertanyaan-pertanyaan. Bahkan ketika anak-anak berpamitan hendak berangkat ke sekolah. Aku masih seperti orang ling-lung. Hingga anakku yang paling kecil mengguncang-guncangkan tanganku. Ia berisyarat ingin membisikkan sesuatu. Maka telingaku kudekatkan pada mulutnya yang mungil.&lt;br /&gt;“Abi, Abi! Semalam ada tamu, ya?” ia mendesis bagai membisikkan sebuah rahasia. Aku terhenyak. Kepalaku kembali pada sosok lelaki yang semalam kuakrabi. &lt;br /&gt;“Memangnya adik tahu, kalau semalam ada tamu?” aku menanggapi pertanyaan itu sambil mengusap wajahnya yang polos. Ia mengedip-ngedipkan matanya. &lt;br /&gt;Detak jantungku kian memburu, “Memangnya, adik kenal sama tamu kita semalam?”&lt;br /&gt;“Memangnya Abi gak kenal?” Ia balik bertanya. Sebelum bibirku bergerak untuk menjawab pertanyaanya, ia sudah kembali bersuara, “Kalau Abi baca buku sirohku, pasti Abi kenal…”, sambungnya singkat, sebelum mengecup tanganku, mengucap salam, lalu melesat berangkat.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-5311468640158955165?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/5311468640158955165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/06/tamu-surabaya-post-minggu-5-juni-2011_07.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/5311468640158955165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/5311468640158955165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/06/tamu-surabaya-post-minggu-5-juni-2011_07.html' title='Tamu (Surabaya Post, Minggu 5 Juni 2011)'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-ix69DCSmQiU/Te73fUZwtxI/AAAAAAAAAVU/eWZmOJhl-Po/s72-c/cahaya-insan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-1721646549491599543</id><published>2011-06-07T21:00:00.000-07:00</published><updated>2011-06-07T21:21:34.823-07:00</updated><title type='text'>Kembang di Liang Pasungan (Radar Surabaya, Minggu 15 Mei 2011)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-lx1Tq_YSoBk/Te74vFF5bFI/AAAAAAAAAVc/4kEp2oMpy-E/s1600/pasung.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 161px; height: 220px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-lx1Tq_YSoBk/Te74vFF5bFI/AAAAAAAAAVc/4kEp2oMpy-E/s320/pasung.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5615699273082039378" /&gt;&lt;/a&gt;Cerpen Mashdar Zainal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dengan sebilah paku di tangannya yang selalu gemetar, ia mengukir kebahagiaan yang miris pada dinding-dinding pengap yang mengurungnya sejak belasan tahun lalu. Ia membuat goresan-goresan dalam pada muka-muka dinding angkuh itu. Dibayangkannya seorang pemuda tampan yang berpakaian mengkilap seperti pangeran-pangeran dalam legenda Dinasti Ming yang selalu ia dengar dari mulut ibunya sewaktu ia kecil. Ah, itu terlalu maya. Nyatanya, semua terjadi dan berlalu begitu cepat. Mungkin juga begitu lama. Beribu alam telah ia selam, berjuta bentuk telah ia ketuk. Dan ia tahu, tak satu pun jengkal nafasnya akan memberinya kesembuhan. Memar di hatinya terlalu pekat. Membaur dengan darahnya yang telah menjadi gulita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun, Sin Han—lelaki kekar yang ia panggil bapak itu—memperlakukanya seperti binatang piaraan, hingga tubuh kecilnya tak pernah bisa merekah seperti gadis-gadis seusianya. Perjalanan hidupnya seolah hanya setapak pematang yang kelam berkepanjangan. Lelaki kekar itu telah leluasa memenggal  haknya untuk hidup sebagaimana layaknya manusia. Meski begitu ia belum juga paham. Baginya, hidup atau mati barangkali sudah tak ada pembatasnya. Bahkan ia tak juga mengerti kalau yang sedang dijalaninya itu adalah kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belasan tahun ia hidup dalam liang pengap di lantai dasar, di perut tanah. Sesekali lelaki kekar itu datang mencekokinya beraneka makanan lalu memainkannya layaknya barang murah yang bisa dijadikan hiburan kapanpun dibutuhkan. Lelaki kekar itu selalu datang dan pergi seperti musim-musim yang congkak. Ia pun tak bisa berbuat banyak, alam tak pernah mengajarinya melawan keterpurukan. Hari-hari, ia hanya bisa meringkuk seperti angin yang letih memikul musim-musim yang selalu datang dan pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, lambat laun, rasa sakit akan membuatnya paham, bahwa lelaki kekar itu hanya mengumbar kesumat yang disemai oleh isterinya yang pergi dengan lelaki lain, beberapa tahun silam. Tepatnya dua belas tahun silam. Ketika usianya masih enam tahun. Lamat-lamat ia masih mengingat kejadian itu. Ketika ia di seret lelaki kekar itu ke sebuah rumah penginapan di pinggiran kota. Di sebuah kamar yang remang tiba-tiba lelaki kekar itu menunjukan sebuah pemandangan yang sulit untuk ia cerna. Lelaki kekar itu mendobrak  pintu kamar sampai roboh. Dalam kamar itu ia bisa melihat jelas wajah ibunya yang masih berkeringat dengan tubuhnya yang tanpa sehelai benang. Ia menduga-duga permainan apa yang sudah dilakukan ibunya dengan lelaki muda di sampingnya, dalam kamar remang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biar… biar  Mei Ling, anakmu yang hijau ini tahu apa saja yang dilakukan ibunya di luar rumah….!” Pekik lelaki kekar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya terperanjak dan segera menutup tubuhnya dengan selimut. Tanpa ampun lelaki kekar itu menjambak rambut ibunya, menyeretnya, dan meludahinya sepanjang jalan pulang. Ia hanya bisa melihat dengan tubuh gemetar sambil menyeru nama ibunya berkali-kali. Sampai di rumah ia menyimak kembali silat mulut antara ibunya dan lelaki kekar itu. Dari balik jendela kamarnya ia mengawasi ibunya yang tersungkur beberapa kali akibat hantaman tangan kekar lelaki itu. Malam-malam berikutnya ia dan ibunya dikurung dalam sebuah kamar. Semenjak itulah ibunya bersikap sangat dingin padanya. Dalam kamar itu, ibunya hanya diam dan sesekali merintih. Entah menahan sakit, entah menahan geram. Beberapa kali ia mendekati ibunya yang layu. Beberapa kali pula ibunya mendorongnya, memintanya menjauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau anak bapakmu… ikut saja bapakmu.” Sentak ibunya. Ia benar-benar tak mengerti apa maksud kata-kata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika lelaki kekar itu pergi, ketika rumah sepi, ia melihat ibunya mencongkel pintu kamar lalu menyeret sebuah tas koper yang berisi pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu mau kemana?” tanyannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah... jangan nyiyir terus!” ibu menyentaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mei Ling mau ikut ibu.” rengeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah… kau sama sialnya dengan bapakmu. Sudah kubilang… ikut bapakmu saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mei Ling takut sama bapak, bu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak takut sama ibu!?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menunduk tak berani melawan tatapan ibunya yang dingin dan beraroma kekecewaan. Ia terlalu polos untuk menerima tiap lecutan kata itu. Ia menggelendoti langkah ibunya sambil menangis. Ibunya merengkuh tangan kecilnya dan melemparnya seperti kucing, sampai kepalanya terbentur dinding. Ia beranjak lagi mengejar ibunya sambil masih menangis. Ibunya yang  geram menyeretnya ke kamar mandi dan mengurungnya di dalam. Ia tersedu-sedu. Tak ada yang peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menangis sampai tertidur, bersandar dinding dingin yang tak ramah. Sampai  lelaki kekar itu menemukannya menggigil dan lemas dalam kamar dingin itu. Lelaki kekar itu menyentaknya berkali-kali. Menanyakan dimana ibunya. Ia lemas tak bisa mejawab. Lelaki kekar itu berteriak-teriak, membanting pintu dan vas bunga. Ia bersimpuh. Berusaha memahami ketidakberdayaan yang melumatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Aku akan membuat ibumu menyesal, menangis darah karena telah meninggalkanmu sendiri. Dipikirnya aku mau mengurusmu. Heh!?” lelaki kekar itu menguncang-guncangkan kepalannya. Lalu berpaling sambil menangis agak dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sangat mencintai ibumu. Hh… Barangkali aku memang bodoh. Ah, tidak. Aku tidak bodoh. Wanita lacur itu yang bodoh. Ibumu itu yang tolol. Ah, kenapa? Ia pikir aku akan diam saja setelah dilemparnya pisau membara ke mukaku. Huh! dia salah. Aku takkan diam menerima kekalahan ini. Ha…ha…. Akan kubuatkan neraka untukmu agar di seberang sana ibumu bisa menggelepar merasakan panasnya. Heh!”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki kekar itu kemudian mendekatinya. Langkahnya seperti malaikat pencabut nyawa. Ia tercekat, melihat dua liang menyala pada wajah lelaki itu, mata membara yang menatapnya tanpa jeda. Seolah ada gelegak panas yang hendak meluap dan menghanguskan tubuhnya yang rapuh. Dengan cekatan lelaki kekar itu menyambar tubuhnya yang kecil dan menyangkingnya seperti segepok kayu kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itulah, pertama kalinya ia merasakan lentik jari neraka yang disematkan lelaki kekar itu di hara jantungnya. Bahkan saat itu ia masih belum dapat mencerna goresan apa yang telah tertoreh pada lembar awal hidupnya yang masih putih dan polos. Malam itulah, malam pertama ia menghuni liang pengap di lantai bawah tanah itu. Lelaki kekar itu menyeretnya menuruni anak tangga usang yang lembab dan berjamur. Pengap, lembab dan gelap. Di sana ia dilempar. Meringkuk berteman dengan tikus-tikus tanah dan barang-barang rongsokan penghuni gudang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini tempatmu! Kau takkan pernah bisa pergi dari sini sebelum ibumu kembali dan bersujud di kakiku.” Lelaki itu melempar kasur tipis ke arahnya. Lalu merengkuhnya dan membaringkanya di sana. Agak lama lelaki kekar itu memperhatikan wajahnya yang manis, lalu tubuhnya yang kecil dan terbaring lemah. Itulah pertama kalinya lelaki kekar itu melucuti pakaianya dan menindihnya erat-erat. Ia hanya bisa menjerit tak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa bedanya kau dan ibumu. Kalian sama-sama perempuan.” Erang lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai mengoyak tubuh kecilnya, lelaki kekar itu pergi menaiki tangga, meninggalkannya dalam gua kelam itu seorang diri. Ia meringis, bagian tubuhnya ada yang terasa sangat ngilu. Tubuhnya terasa remuk. Ia berteriak dan menangis tak karuan. Lelaki itu tak mempedulikannya. Ia berlari menyusuri anak tangga, mengikuti langkah lelaki itu. Tapi terlambat. Pintu di puncak tangga terkunci dari luar. Ia tak berkutik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharian ia menangis karena takut gelap dan sepi. Tapi rupanya lelaki kekar itu selalu menjenguknya untuk mengantarkan sepiring makan dan seteko air. Sesudah itu mengusap tubuhnya, merangkulnya, melumatnya lalu pergi. Setiap kali perutnya mual dan berasa ingin muntah, lelaki itu selalu mencekokinya nanas muda. Sampai ia benar-benar muntah. Begitulah hari-harinya berlanjut sampai belasan tahun. Sampai ia benar-benar sadar bahwa ia ada dalam lingkar kehidupan. Kehidupan yang nyata. Kenyataan yang ganjil. Keganjilan yang sangat berat untuk ia tuntaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali lelaki kekar itu pergi. Ia akan melukiskan banyak hal yang ia inginkan di muka dinding itu. Lalu meraba-raba goresan dalam pada dinding itu dan membenturkan kepalanya keras-keras pada goresan di dinding itu, sampai kepalanya terasa berat dan tidur yang indah menjemputnya, mengantarkannya pada bunga-bunga, menemui pangeran tampan yang menunggang kuda putih. Di sana pangeran tampan itu mengajaknya naik kuda, memboncengnya di belakang. Lalu mereka jalan-jalan mengelilingi perkampungan bunga atau kadang berbaring di gelaran rumput yang membentang seperti permadani hijau. Lalu pangeran tampan itu tersenyum dan menyematkan bunga-bunga rumput di rambutnya. Hahh… indah bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu ia pernah bercita-cita menjadi gadis korek api yang menemukan kebahagiaanya pada batang-batang korek api. Tapi sayang sekali. Ruang yang ia huni tak pernah mengizinkannya untuk mencari sebatang korek api, bahkan untuk sekedar bergerak. Liang itu telah menjadi pasungan sempurna. Liang itu hanya bisa memberikan sedikit celah udara untuk bernafas dan berbongkah-bongkah gulita untuk menjadi kawan baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika ia mulai gelisah, diam-diam tangannya meraba-raba sesuatu di bawah kasurnya yang lembab. Sebilah paku itu ia simpan di sana. Setelah ia rasa cukup tenang. Ia kembali membuat goresan-goresan tak jelas di dinding hitam itu. Sudah tak terhitung jumlahnya goresan-goresan di dinding-dinding liang itu. Hanya saja, lelaki kekar itu tak menyadarinya. Atau mungkin tak mempedulikanya. Lelaki itu hanya sangat tidak suka melihat wajahnya yang lebam akibat benturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sebilah paku di tanganya, ia mulai melukis lagi. Kali ini bunga-bunga, atau mungkin wajah  Dewi Kwan Im. Ia tak pernah lelah menggoreskan sesuatu yang tak pernah bisa ia lihat dengan mata kasatnya. Ia hanya merabanya, dan membayangkan sesuatu atas apa yang mungkin ditangkap oleh indera perabanya. Sejurus kemudian, ia akan membenturkan kepalanya keras-keras sampai batok kepalanya terasa berat dan ia terjerembab. Dalam nyeri itu, ia selalu mendapati sosok yang sama yang selalu terpatri dalam mimpinya. Sosok yang selalu ia temukan di dunia yang penuh bunga-bunga. Sosok pemuda tampan yang menunggang kuda putih dengan pakaian berkilau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangunlah, cantik! Akan kupenggalkan setangkai seruni untukmu!” tuturnya merdu, mengulurkan kedua tangannya yang putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berlari menyambutnya. Menyongsong dunia yang tak pernah menyimpan malam di dalamnya. Dunia yang luas, yang sejauh mata memandang akan ia temukan hamparan bunga. Dunia yang tak pernah lelah melantunkan puisi dan gesekan biola. Di sana, dengan pangeran tampan itu, ia akan membangun istana kecil di seberang sungai. Memelihara itik dan ikan koi. Ia juga akan membangun sebuah kuil dan di dalamnya akan ia pajang patung Dewi Kwan Im dari pahatan emas. Ia berharap, agar Dewi Kwan Im selalu menjenguknya diam-diam dan menaburkan kebahagian yang tak berkesudahan dari guci ajaibnya. Agar ia dan sang pangeran bisa hidup rukun berdampingan, membesarkan anak-anak sampai renta menjemputnya dalam ketenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ah! Selalu saja. Mimpi-mimpinya tak pernah tuntas. Lelaki kekar itu selalu mengusiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kreet…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tersentak. Pintu di puncak tangga berderit. Terbuka. Sebelum lelaki itu menutupnya kembali, berkas cahaya dari balik pintu ia rasakan seperti tombak tajam yang terhunus memanah kedua matanya yang kelam. Lantas ia mendengar suara pantofel, kemeletak menuruni anak tangga. Seperti biasanya. Anehnya, ia masih saja gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini… makan!!” bentak lelaki itu sambil melempar nasi bungkus dari tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanlah! Aku akan menyiapkan air untuk minum dan membersihkan tubuhmu. Cepat kau makan!” gertaknya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bergegas mengambil bungkusan itu. Kalau tidak, lelaki itu akan marah dan menjejalkan apa saja ke mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai ia makan, lelaki itu mengelap tubuhnya yang kurus dengan sehelai handuk kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Aku benar-benar merindukan ibumu…” cercau lelaki itu sambil terus memandanginya. Ia tak pernah peduli dengan kata-kata lelaki itu. Ia tahu, apa yang akan dilakukan lelaki itu selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk mengobati rinduku pada perempuan tolol itu, malam ini aku membutuhkanmu…  kau harus bisa menggantikan tugas ibumu.” Tuntut lelaki kekar itu mulai merayunya. Ia diam saja menahan dingin. Selanjutnya lelaki kekar itu menerkamnya dengan beringas. Mencabik segala apa yang ada pada tubuhnya. Tak peduli pada tubuh ringkihnya yang terkulai dalam keadaan memar dan berdarah. Selalu saja begitu. Lelaki itu baru akan pergi, setelah kenikmatan memanen dendamnya ia rasa cukup. Lelaki itu terhuyung menaiki tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kreet….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu di puncak tangga berderit. Terbuka lalu tertutup lagi. Semua kembali seperti semula. Gulita yang lebih membuatnya nyaman. Ia meringkuk lemas. Sekai-kali, sebenarnya ia ingin berteriak keras-keras. Tapi napasnya selalu tersengal-sengal setiap kali lelaki itu pergi seusai menuntaskan racun dendamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu pergi. Gulita yang indah kembali. Ia ingin sekali menuntaskan mimpi-mimpinya. Dengan sebilah paku di tanganya. Tapi entah mengapa, ia benar-benar geram. Tubuhnya terasa lengket. Lambat laun, ia rasakan sosok lelaki kekar itu seperti srigala raksasa yang menyeramkan. Hitam, berbulu lebat, bertaring dan sangat suka menerkam. Diam-diam ia merinding mengingat sosok lelaki kekar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kembali meraba-raba dinding, memahat seraut wajah yang tersenyum dalam benaknya. Dalam dan perlahan. Ia merabanya, perlahan pula. Setelah agak lama. Ia membenturkan kembali kepalanya ke dinding-dinding bisu itu. Beberapa kali. Ia tersungkur. Tapi aneh sekali, suara merdu itu tidak muncul. Ia beranjak lagi, membenturkan kepalanya lebih keras lagi. Tapi wajah tampan itu tak juga muncul. Ia berdiri lagi dan membenturkan kepalanya seperti orang kesetanan. Ia mengguncang-guncangkan kepalanya, beberapa kali sampai akhirnya ia roboh mencium tanah yang pekat. Ia tak percaya, masih sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia merasakan nyeri yang sangat di tengkorak kepalanya. Mulutnya menggumam sesuatu yang tak terdengar, seperti keluhan kekecewaan yang tak terukur dalamnya. Matanya terpicing seperti menantikan sesuatu. Tidak. Pangeran tampan yang ditunggunya tak juga datang. Ia berusaha memejamkan mata, tapi matanya becek oleh sesuatu yang merah, pekat. Sekilas ia melihat lesatan cahaya. Di dengarnya derap langkah yang tergesa. Pangeran itukah? Ia mengerjapkan matanya. Sesosok srigala raksasa mengaum, menangis di hadapanya. ]*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Madiun, September 2009-Februari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-1721646549491599543?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/1721646549491599543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/06/kembang-di-liang-pasungan-radar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/1721646549491599543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/1721646549491599543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/06/kembang-di-liang-pasungan-radar.html' title='Kembang di Liang Pasungan (Radar Surabaya, Minggu 15 Mei 2011)'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-lx1Tq_YSoBk/Te74vFF5bFI/AAAAAAAAAVc/4kEp2oMpy-E/s72-c/pasung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-2264757660834014204</id><published>2011-05-16T21:53:00.000-07:00</published><updated>2011-05-16T21:55:26.188-07:00</updated><title type='text'>Memori Neal</title><content type='html'>Neal percaya, bagi kenangan waktu tak pernah berarti apa-apa. Semenjak kepergian Pearce empat puluh tahun lalu, Neal berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia takkan membiarkan kenangan tentang Pearce luntur oleh kehadiran orang lain. Dalam benaknya, di sebuah tempat yang jauh (barangkali di surga) Pearce senantiasa mengawasinya. Sebab itulah, Neal lebih memilih untuk merawat kesendiriannya. Ia tahu, Pearce telah menunggunya di sana, ia hanya butuh waktu sedikit lama dan menjadi tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di San Marina, Pearce meninggalkan sebuah rumah mewah dua lantai. Rumah besar yang dikelilingi puluhan pohon maple. Kata Pearce,  rumah itu sengaja ia siapkan sebagai hadiah istimewa untuk pernikahan mereka. Di rumah itu, mereka sempat menikmati Honey Moon paling indah di dunia. Tepat dua minggu setelah mereka menempati rumah itu, Pearce berpamitan, ia harus segera terbang ke Madrid untuk sebuah pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kepergian Pearce, Neal dirundung kegelisahan tanpa sebab. Saat berpamitan, Pearce mengatakan, ia hanya butuh waktu dua hari untuk pekerjaannya dan ia akan kembali pada Neal dalam keadaan utuh. Tepat hari kedua, kegelisahan Neal mendidih, Pearce tidak pulang, yang pulang hanya sebuah kabar bahwa pesawat yang ditumpangi Pearce terjatuh di lautan Tyrrhenian. Berhari-hari Neal terdiam seperti mayat dengan air mata membabi buta. Ia tak percaya Pearce tak kembali. Pearce sudah berjanji akan kembali dalam keadaan utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan limbung Neal masih tetap menunggu kabar ditemukannya mayat Pearce. Dan penantian paling menyedihkan itu ia akhiri setelah hampir tiga bulan ia dikutuk kesendirian. Akhirnya Neal memutuskan untuk kembali ke rumah peninggalan orang tuannya di Florence dan menyimpan memori tentang Pearce hanya dalam kepalanya dan rumah besar itu. Kepedihan Neal sebenarnya sudah sedikit terobati dengan kehadiran janin di rahimnya. Terkadang Neal berpikir bahwa hidup itu memang aneh. Semua datang dan pergi melewati sebuah pintu bernama misteri. Lambat laun Neal mulai benar-benar paham apa itu hidup, cinta, dan kepedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Seorang diri, Neal merawat bayi laki-lakinya yang manis. Neal menamai bayinya dengan Pearce Jr, memang benar-benar mirip, matanya, hidungnya, bibirnya, barangkali begitulah wajah Pearce semasa bayi, pikirnya. Ketika usia Pearce Jr  memasuki tujuh tahun, ia mulai bertanya: Mom, apa aku tidak punya Dad? Neal tidak menjawab langsung pertanyaan putranya, ia akan menjawab dengan mengajak Pearce Jr  mengunjungi rumah itu. Rumah yang ia rindukan selama bertahun-tahun namun tak bisa ia kunjungi karena usia Pearce Jr yang memang tak memungkinkan untuk ditinggal bepergian jauh. Tapi Neal tak perlu khawatir, ia sudah membayar orang untuk mengurus rumah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali mengunjungi rumah kenangan itu, dada Neal disergap sesak. Semua tentang Pearce benar-benar tampak nyata di depan matanya. Neal bisa menghabiskan waktu berjam-jam dalam rumah tua itu. Sebenarnya ia tak melakukan apapun, ia hanya berkeliling dari kamar ke kamar. Memandangi benda-benda yang pernah disentuh Perace berlama-lama. Beberapa kali ia mengusap benda-benda itu seperti mengusap air matanya yang tiba-tiba merembes. Baginya, rumah itu adalah Pearce dalam bentuk yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari itulah Neal berjanji pada dirinya, ia akan selalu mengunjungi rumah itu, paling sedikit sebulan sekali. Ia tak perlu membayar orang lagi untuk merawat rumahnya, relikui dari suaminya. San Marina dan Florence memang tidak dekat, tapi jarak tak pernah berarti apa-apa dibanding kerinduan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Neal sadar, ia tak muda lagi. Tubuhnya juga semakin rapuh. Rambutnya yang dulu kecoklatan luntur dan berwarna perak. Kulit wajahnya yang dulu kencang sudah mulai lembek. Tapi itu bukan masalah, bukankah itu berarti perjumpaanya dengan Pearce tidak akan lama lagi? Entahlah. Ia senang dengan keadaan itu, tapi di sisi lain ia merasa masih memiliki tanggung jawab untuk mengantarkan Pearce Jr menjadi manusia dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari itulah, Neal senang bukan kepalang ketika Pearce Jr menemuinya dengan membawa seorang gadis. “Ini Shopie, Mom. My girlfriend. Dia tinggal di Arezzo. Dia juga bekerja di hotel tempatku bekerja.” Ungkap Pearce Jr, Neal tersenyum menyalamai gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sophie. Senang bertemu Anda, Mom. Perace banyak bercerita tentang Anda.” Gadis itu balas tersenyum. Neal bisa melihat bahwa gadis yang dibawa putranya adalah gadis baik-baik. Neal melihat itu dari mata dan caranya berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kau memang suka dengan gadis itu, kau tidak perlu menunggu berlama-lama, Pearce. Bulan ini kau genap dua puluh lima.” Neal mengemukakan pendapatnya selepas gadis itu berpamitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu, Mom. Tapi…” Pearce menggantungkan kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sophie anak tunggal, Mom. Ibunya di rumah tinggal sendiri dan sering sakit-sakitan. Ia tak bisa meninggalkan ibunya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neal tertegun, ia paham, ia akan kembali sendiri. Dua puluh lima tahun jiwanya sepi, satu-satunya penghibur adalah Pearce Jr. Akankah ia pergi juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mom!” seruan Pearce Jr membuatnya terantuk. “Tentu saya tidak akan meninggalkan Mom seorang diri. Mom lebih berarti bagi saya.” Lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neal cukup terharu mendengar pernyataan putranya, tapi tidak, ia tidak akan memotong pertalian hati itu. “Temui dia, Pearce. Katakan padanya, kau akan segera menikahinya.” Ungkap Neal kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, Mom.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Arezzo tidak terlalu jauh dari sini. Kau bisa menjenguk Mom kapan pun kau mau, right?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pearce Jr terdiam lalu mencium tangan ibunya dalam-dalam. Matanya basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ketika Pearce Jr mengemasi pakaiannya dalam koper, dada tua Neal bagai terhimpit sesuatu. Sudah lama sekali Neal tidak merasakan sesak semacam itu. Sesak yang sama ketika ia mendengar kabar bahwa jenazah suaminya tak pernah ditemukan. Pearce Jr dan istrinya memeluk Neal erat-erat setelah berpamitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami akan sering-sering menjenguk Mom. Mom jangan bersedih.” Pearce Jr mengusap air mata ibunya. Matanya juga gerimis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neal tak bisa menguasai air matanya ketika Pearce Jr dan istrinya melangkah menjauh meninggalkannya. Neal sendiri tak paham mengapa ia menangis. Apa ia takut kesepian? Atau kehilangan? Tidak. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Semenjak Perace tinggal bersama istrinya, Neal hanya akan menghabiskan waktunya untuk merajut dan merawat kaktus-kaktus kecil di teras rumahnya. Beberapa bulan setelah kepergian Pearce Jr, Neal paham, ia hanya butuh membiasakan diri, dari kesendirian, dari kesepian, dari ditinggalkan, dan tentu saja, dari kehilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap senja naik, Neal selalu berdiri di depan jendela rumahnya yang menghadap ke barat. Di situ ia berdiri dengan mata berkilat seperti patung lilin. Ia mengamati musim yang berganti. Ia mengamati pucuk-pucuk daun Oak yang menghijau, lalu menguning, dan berguguran. Ia juga tak pernah alpa mengamati ranting-ranting pohon Oak yang kesepian dan kemudian ditumbuhi salju yang bergelantungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun demi tahun seperti hidup dan merangkak di depan matanya. Sendi-sendinya benar-benar rapuh. Rambutnya pun sempurna seperti tebaran salju. Keriput di wajahnya menggelambir. Hingga ia sendiri tak bisa membedakan gerak bibirnya tengah menangis atau tertawa. Melihat kondisi tubuhnya yang demikian Neal sadar, ia takkan mampu lagi mengunjungi rumah kenangan yang ditinggalkan suminya di San Marina. Semua benar-benar akan hilang, kecuali yang ada dalam kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neal juga tak mungkin meminta Pearce Jr supaya sesekali menjenguk rumah peninggalan bapaknya itu. Semenjak mempunyai bayi lima tahun lalu, Pearce Jr  jarang sekali menjenguknya. Sebulan sekali. Tiga bulan sekali. Setahun sekali. Atau hanya sesekali saja menelpon. Neal paham putranya sangat sibuk, dan ia takkan membebaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Suatu hari ketika kerinduan Neal memuncak, Neal merasakan kepalanya sangat berat. Tubuhnya menggigil. Kesepian yang bertahun-tahun memeluknya kini menindihnya. Ia mulai sulit bernapas. Saat itulah ia memberanikan diri untuk menelpon Pearce Jr. Ia meminta Pearce Jr datang ke Florence untuk mengantarkannya ke San Marina, ke rumah peninggalan suaminya. Entah kenapa, Neal merasa harus ke sana. Namun, di luar dugaannya, karena urusan pekerjaan, Pearce Jr meminta maaf, ia tidak bisa mengantar ibunya. Namun Pearce berjanji minggu depan ia akan pergi ke Florence dan mengantar ibunya ke San Marina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesak di dada Neal datang bertubi-tubi. Hingga ia putuskan untuk pergi sendiri ke San Marina dengan tubuh tuanya. Tentu saja ia tak memberi tahu Pearce Jr. Dan ajaib sekali, ketika kakinya yang gemetar menapaki  kabin kereta, Neal merasakan tubuhnya sangat ringan. Mungkin kerinduan yang sangat telah membantunya. Neal tak percaya ia bisa sampai di depan rumah besar itu dengan kaki rapuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah berapa tahun ia tak menjamah rumah kenangan itu. Lima tahun? Tujuh tahun? Sepuluh Tahun? Entahlah. Neal menjejakkan langkahnya. Ia memperhatikan pohon-pohon Maple yang menjulang di sekitarnya. Merah kemuning yang menyilaukan matanya. Ia terus melangkah. Beberapa kali langkahnya menyaruk guguran daun Maple yang kering dan tampak kesepian. Di jendela lantai dua, Neal bagai melihat bayangan berkelebat. Sosok yang sangat ia kenal. Ia semakin tak sabar untuk memasuki rumah itu, memasuki kenangan itu dan melebur di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan pintu utama, dari saku jaket wolnya, Neal mengeluarkan kunci kecil. Ia memasukkan kunci itu ke lubangnya dan memutarnya. Tanganya gemetar. Perlahan ia mendorong pintu itu. Deritan panjang menyambutnya. Mata Neal memandang jauh ke dalam rumah itu. Ia melangkah masuk dan menutup pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan ia memperhatikan tangannya. Otot-otot tua yang menujulur di sana mengencang. Ia meraba wajahnya. Ia menemukan kulit yang mulus dan bibir yang masih basah. Ia menilik rambutnya yang memutih—yang tiba-tiba tersepuh warna cokelat mengkilat. Ia kembali muda. Ia berjalan dengan sangat tegap. Sangat anggun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap jejak langkah dipacunya, lilin-lilin yang menggantung di dinding perlahan menyala. Lampu utama yang jatuh berantakan perlahan kembali menyatu dan menempel di tempatnya. Kursi dan meja yang ambruk kembali berdiri dan utuh seperti baru. Daun-daun maple yang berserakan perlahan terbang melewati atap yang berlubang—yang perlahan merapat kembali seperti semula. Piano tua yang dihinggapi sarang laba-laba tiba-tiba berdenting dan menyanyikan irama yang biasa dimainkan Pearce, suaminya. Dadaya berdesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Neal terus mengambah ruang demi ruang, kenangan demi kenangan. Hingga ia sampai di kamar utama. Kamar tempat ia dan Pearce memanjakan cinta. Di dalam kamar itu, Neal berdiri di depan sebuah cermin berdebu. Di depan cermin itu, Neal menitikkan air mata. Hingga tiba-tiba sebuah tangan mendekapnya dari belakang, menghapus air matanya. Dari cermin itu Neal melihat Pearce memeluk tubuhnya erat-erat dan tersenyum menatapnya. Dalam hati, Neal berjanji, takkan pernah meninggalkan rumah itu lagi. Ia ingin melebur di dalamnya.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Cerpen ini terilhami oleh lagu karya Within Temptation: Memories.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-2264757660834014204?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/2264757660834014204/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/05/memori-neal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/2264757660834014204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/2264757660834014204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/05/memori-neal.html' title='Memori Neal'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-7685433192341712502</id><published>2011-04-24T20:57:00.000-07:00</published><updated>2011-04-24T20:58:49.544-07:00</updated><title type='text'>G E L A R (Republika, 24 April 2011)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-VGoDq_Nelz4/TbTxbCb9yWI/AAAAAAAAAVA/7apYZTDKiZU/s1600/gelar.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 268px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-VGoDq_Nelz4/TbTxbCb9yWI/AAAAAAAAAVA/7apYZTDKiZU/s320/gelar.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5599365683541297506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;MENURUTKU, gelar dan nama adalah dua hal yang tak boleh dipisah-pisahkan. Seperti tubuh dan pakaian, sebuah nama akan telanjang tanpa gelar. Itulah mengapa aku sangat mengutuk orang-orang—terutama mahasiswaku—yang luput mencantumkan gelar pada namaku. Sebagai seorang dosen senior, aku telah menerapkan beberapa pantangan bagi seluruh mahasiswa yang mengikuti perkuliahanku. Salah satu di antaranya adalah mengenai gelar itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka—para mahasiswaku—yang berulang kali salah menyebutkan nama berikut gelarku, kujamin akan bernasib buruk. Seperti yang sudah kukatakan, gelar dan nama adalah sesuatu yang sakral bagiku, jadi tak boleh diotak-atik oleh siapa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, untuk mengantisipasi hal itu, aku selalu berbaik hati. Pada setiap awal semester, di perkuliahan, aku selalu berpanjang lebar memperkenalkan diri. Para mahasiswa yang belum pernah mengikuti perkuliahanku, mereka akan mendengarkan semua ceritaku dengan khidmat dan sesekali manggut-manggut. Jabatanku di kampus adalah pembantu rektor satu, sekaligus guru besar. Sudah berapa dosen di kampus ini yang dulunya bekas mahasiswaku? Toh, mereka semua menghormatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu ditebak, pastinya gelarku cukup mentereng. Setiap awal semester, pada acara perkenalan dengan mahasiswa baru, aku selalu menuliskan nama lengkapku besar-besar di jantung papan tulis. Aku selalu menuliskannya begini: Prof Dr H M Kibari MA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila para mahasiswa yang kuajak bicara mengernyitkan dahi, dengan semangat aku akan menjelaskan pada mereka, bahwa kata prof, dari namaku itu berarti profesor, yakni seorang ahli dalam suatu bidang, bidangku tentu kebahasaan. Untuk meyakinkan mereka, aku selalu menyebutkan prestasi-prestasi akademik dan non-akademik yang telah kukantongi. Sudah bertebaran pula buku-buku barat yang aku terjemahkan ke dalam bahasa ibu. Rasanya tak ada yang kurang dengan prestasiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun mengenai huruf Dr, dari namaku ialah singkatan dari kata doktor yang aku peroleh dari S3-ku yang kedua, di Jakarta. Tak pernah ketinggalan pula aku menjelaskan tentang huruf H, yang bertengger pada namaku. Huruf H di sana tentu saja singkatan dari kata haji, itu karena memang sudah berkali-kali aku ke Makkah. Dan untuk huruf M, aku takkan menjelaskan panjang lebar karena M di sana ialah singkatan dari nama depanku, Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang terakhir, huruf MA, master of art, merupakan oleh-oleh dari S2-ku dari negeri yang punya ibu Menara Eifel, Prancis. Hebat bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang perlu diragukan, rasanya gelar itu cukup sepadan dengan kemampuan akademik yang kumiliki. Mungkin bisa dibilang aku ini seorang multitalent. Mulai dari kecerdasan matematis, bahasa, kinestetik, sampai musikal, aku menguasainya. Tak banyak orang tahu bahwa diam-diam aku ini berbakat menggesek biola, itulah yang kukatakan sebagai kecerdasan musikal. Bukannya aku sombong, karena sombong itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Aku tidak begitu, justru aku mengagungkan kebenaran, semua tentangku memang benar adanya, bukan mengada-ada. Aku juga tak pernah memandang rendah orang lain, mungkin orang lain saja yang harus mengakui bahwa aku memang ada di atas mereka, dalam banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir semester seperti ini biasanya aku akan lebih sibuk dari biasanya. Banyak sekali agenda-agenda kampus yang harus rampung sebelum rapat wisuda digelar nanti. Belum lagi urusan konsultasi para mahasiswa yang bebal itu. Beberapa kali mereka datang ke rumah, mengemis-ngemis agar aku dapat menerima konsultasinya lalu mengasese skripsinya yang amburadul itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu terakhir ini, sudah terhitung tiga mahasiswa yang terpaksa aku depak untuk mengulang semester depan. Aku sudah terbiasa dengan wajah-wajah kecewa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal pekan lalu, seorang wanita berkunjung ke rumah. Setelah kuhitung-hitung, aku yakin, itu kedatangannya yang ketujuh. Sepertinya dia lebih pandai mengobral alasan daripada menekuni tugas akhirnya. Kali ini dia datang malam-malam dengan segepok kertas di tanganya. Aku menyesal sekali, istriku mempersilakannya masuk. Terpaksa aku meladeninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kita sudah buat janji sebelumnya?” ujarku tanpa basa-basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf Pak, saya tadi tidak sempat, tadi seharian penuh saya menyelesaikan bab terakhir ini. Dan, waktu saya ke kampus bapak tidak ada.” Dalihnya enteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Walah… itu alasan kamu saja, wong sedari pagi saya di kampus kok! Urusan kampus ya selesaikan di kampus. Lha, mengapa kamu berani menemui saya tanpa membuat janji terlebih dahulu. Sudah…, sebaiknya kamu pulang saja, saya mau istirahat….” Tukasku santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Pak, minggu depan sudah ujian. Izinkan saya bicara sebentar dengan bapak. Saya mau minta pertimbangan-pertimabangan lagi dari bapak supaya semuanya clear dan lusa saya sudah bisa daftar ujian skripsi.” Ia merajuk, membuatku semakin muak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entah besok ujian, entah minggu depan ujian, itu urusan kamu. Pertanyaannya, selama satu semester ini kamu ngapain aja? Bukannya dead line yang kuberikan sudah kedaluwarsa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh, Pak…! Ada urusan penting yang harus saya utamakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih penting dari skripsimu?” tandasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu tak bergeming, tapi matanya mengilat seperti kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah, terserah draf itu mau kamu apakan. Yang jelas malam ini saya mau istirahat. Badan saya rasanya remuk semua. Maaf.” Ucapku singkat, lalu beringsut meninggalkannya yang tergugu di ruang tamu. Entah dengan cara apa dia enyah, lagi-lagi aku takkan peduli. Aku benar-benar muak dengan mahasiswa model begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa kedua yang tidak kugubris kedatangannya juga seorang wanita. Ia mengaku tak punya banyak waktu untuk menyentuh skripsinya karena ia repot mengurus balitanya. Bagiku, itu risiko yang harus ia tanggung. Maka, baginya tak ada lagi toleransi. Aku hanya menyarankan padanya supaya ia pandai-pandai membagi waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ketiga ialah seorang pemuda kumal. Dia seorang aktivis organisasi ekstra kampus. Bertubi-tubi ia mengemukakan alasan dengan bahasa yang diplomatis dan dibuat-buat. Dipikirnya itu akan mengubah nasibnya, sama sekali tidak. Bahkan, terang-terangan aku memberinya dua pilihan, skripsi atau organisasi. Aku menyuruhnya pulang dan datang kembali semester depan dengan pilihan yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah para mahasiswa error itu, malam ini datang lagi seorang pemuda dengan potongan alim. Kalau tidak salah dia adalah seorang anggota takmir masjid kampus. Entah, aku lupa namanya siapa. Sebenarnya dia itu rajin, tapi untuk soal skripsi dia tak beda jauh dengan mahasiswa kebanyakan. Dari matanya aku masih menangkap kemuakkannya terhadapku. Mungkin dia teringat kejadian beberapa bulan lalu saat aku menegurnya karena kesalahan fatal menyebut namaku tanpa memakaikan bajunya, gelarnya. Pada khutbah Jumat waktu itu aku mendapat jadwal khatib dan dia sebagai bilal. Sebelum aku naik ke mimbar, dia menyebutkan namaku begini: “Dan pada Jumat kali ini, khutbah Jumat akan diisi oleh Bapak Muhammad Kibari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah seharusnya dia menyebut namaku begini: “Dan pada Jumat kali ini, khutbah Jumat akan diisi oleh Prof Dr HM Kibari, MA.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya kan? Seharusnya begitu, kan? Untung saja posisiku waktu itu sebagai khatib, kalau tidak pasti aku sudah melabraknya. Tapi sudahlah, aku sudah melupakan kejadian itu dan memaafkannya. Dan, malam ini aku menerima konsultasinya yang terakhir, tentu setelah dia membuat janji denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf Pak, ini hasil revisi saya yang terakhir,” ucapnya sambil menyerahkan bendel skripsinya yang tebal. Dengan malas aku meraihnya, lalu membolak-balik halaman itu dengan saksama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa ini? Sudah mau diwisuda ngetik saja belum becus. Lihat itu! Apa pantes itu dibaca orang.” Pekikku setelah mencoret beberapa kata yang salah redaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf Pak, mungkin saya memang kurang teliti. Iya, akan segera saya perbaiki.” balasnya. Belum selesai ia bicara aku sudah menemukan lagi kesalahannya yang lebih fatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini apa lagi. Rupanya kamu benar-benar tak tahu siapa nama dosen pembimbingmu sendiri. Ini lihat!” Tanganku mengacung pada tulisan: “Dosen Pembimbing: Prof H Kibari, MA.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini doktornya mana, terus M, Muhammadnya mana? Sudah, sudah, ini bawa lagi skripsimu. Besok saya tunggu di kampus, jam sepuluh. Ingat! Itu yang terakhir kali. Kalau kamu masih salah-salah lagi, saya sarankan kamu ujian semester depan saja! Kamu belajar ngetik dulu sambil menghafalkan gelar-gelar saya.” Emosiku meledak. Setelah sepatah dua patah kata yang terbata, ia memohon diri dengan wajah seperti terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya pemuda itu menemuiku di kantor, ia kembali dengan print out yang baru, tapi dasar penyakit, dia membuat kesalahan lagi dengan menghilangkan tanda baca titik pada ujung kata Prof dan Dr. Tanpa berpikir panjang aku menyuruhkannya menuliskan tanda titik itu secara manual, dengan pena yang digenggamnya. Setelah kurasa beres aku segera mengasesenya, aku tak ingin lama-lama berhadapan dengannya, bisa-bisa darah tinggiku kumat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai sidang skripsi, aku bisa bernapas lega. Hal yang paling sulit bagiku selama berpuluh-puluh tahun jadi dosen ialah saat menjadi penguji skripsi. Aku selalu dihadapkan pada dua pilihan yang menyebalkan: yakni memelihara kebodohan para mahasiswa itu atau mempermalukan mereka. Namun, aku lebih sering mengambil pilihan yang pertama: memelihara kebodohan mereka dengan dua kata: kamu lulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, setelah nilai keluar, para mahasiswa bimbinganku yang puas dengan nilainya akan mendatangiku dengan ucapan terima kasih berikut tandanya. Minggu ini sudah terhitung lima tanda mata yang aku terima, mulai dari karangan bunga, kemeja, arloji, hiasan dinding, bahkan sampai sepatu made in Italy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, malam ini aku menerima lagi sebuah kiriman paket dalam kardus besar tanpa nama pengirim. Aku tersenyum-senyum saja menerimanya. Dari beratnya, aku yakin isinya bukan barang biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dapat lagi, Bu!” kataku sambil memamerkan paket kotak itu pada istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, sepertinya berat sekali. Kira-kira isinya apa ya, Pak?” tanya istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, pastinya benda berharga, Bu. Mahasiswaku kalau memberi hadiah memang tak tanggung-tanggung.” Balasku girang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istriku tersenyum, “Cepet buka, Pak! Saya jadi ndak sabar pingin ngeliat isinya apa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, iya, saya buka. Sabar. Tapi tolong, ibu bikinin teh dulu buat bapak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, ibu bikinin. Tenang saja. Tunggu sebentar ya, Pak,” ujarnya sambil beranjak ke dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istriku pasti akan terkagum-kagum melihat kado istimewa dari mahasiswaku kali ini. Bagaimana tidak istimewa, bungkusnya saja dari kertas emas berkilauan dengan pita cokelat muda, masih dihiasi bunga-bunga rumput kering pula, artistik sekali. Dan untuk lebih memberi sensasi kejutan, pengirim kado ini pasti sengaja membuat saya penasaran dengan tidak mencantumkan siapa nama pengirimnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dengan tidak sabar aku membuka kardus itu. Satu per satu kulucuti pita dan plester yang rapat membalut kardus itu. Kubuka kertas emas mengilat itu pelan-pelan agar tidak sampai sobek. Aku benar-benar sudah tidak sabar untuk melihat isinya. Mulai kusingkap kardus itu dengan hati dag-dig-dug penasaran. Setelah kubuka kardus itu aku tercekat, kaget bukan main. Dua papan batu nisan dari marmer terbujur di sana. Pada salah satu batu nisan itu terukir tulisan yang sangat indah, berseni. Tulisan itu begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alm Prof Dr H M Kibari, MA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jidatku terasa dihantan pendulum satu ton saat kusadari apa yang baru saja kubaca. Kepalaku mulai terasa pening. Bersama dengan batu nisan itu, terselip pula selembar kertas dengan tulisan tangan yang cukup rapi, kubaca tulisan itu perlahan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak Prof Dr H M Kibari, MA. yang ter(gila) hormat. Mohon maaf sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini saya kirimkan kenang-kenangan berharga buat Anda. Batu mahal berukir gelar kebanggaan Anda. Jadi, kelak Anda tidak usah repot-repot membayar orang untuk mengukir gelar Anda pada batu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, saya juga telah menuliskan satu lagi Gelar bagi Anda: Almarhum. Tentu Anda senang, gelar Anda bertambah satu lagi. Gelar itu akan benar-benar Anda dapatkan, jadi Anda tak usah khawatir. Mohon disimpan baik-baik hadiah dari saya ini. Anda boleh memajangnya di ruang tamu atau di kamar tidur Anda, supaya Anda selalu bisa melihatnya. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai membacanya kepalaku berdenyut-denyut tak keruan. Wajah-wajah kecewa itu berkelebat satu per satu menggelayuti dinding kepalaku. Aku seperti menemukan maksud indah yang enggan kuterima kebenarannya. Tanganku masih gemetar menimang batu kuburan itu. Aku tak mau siapa pun tahu akan hal ini. Sebelum istriku melihatnya, secepat kilat kumasukkan kembali batu itu ke dalam kardus lalu membungkusnya kembali rapat-rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, isinya apa, Pak? Ibu mau ngeliat?” tutur istriku dengan secangkir teh yang masih bergoyang di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, tak perlu, Bu. Ini cuma hiasan batu berukir biasa.” Balasku kecut. Sesuatu yang tidak enak mulai menggeliat di kepalaku lalu meletup-letup di palung dadaku. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, 2009-2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-7685433192341712502?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/7685433192341712502/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/04/g-e-l-r-republika-24-april-2011.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/7685433192341712502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/7685433192341712502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/04/g-e-l-r-republika-24-april-2011.html' title='G E L A R (Republika, 24 April 2011)'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-VGoDq_Nelz4/TbTxbCb9yWI/AAAAAAAAAVA/7apYZTDKiZU/s72-c/gelar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-1434491285829945523</id><published>2011-04-24T20:51:00.000-07:00</published><updated>2011-04-24T21:04:47.133-07:00</updated><title type='text'>Pesan Tengah Malam (Harian Berita Pagi Palembang 24 April 2011 )</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-pI5wtrIpp6c/TbTwiJuiZsI/AAAAAAAAAU4/DLFMx9uA-sA/s1600/12--illustrasi--cerpen.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-pI5wtrIpp6c/TbTwiJuiZsI/AAAAAAAAAU4/DLFMx9uA-sA/s320/12--illustrasi--cerpen.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5599364706245699266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SATU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam berkawin dengan hitam. Angin berpeluk dengan sepi. Larut dan gigil. Jarum jam terus berdetak. Detaknya menyerupai suara mesin ketik tua yang terbata-bata. Lampu masih menyala. Buku-buku masih terbuka. Kulirik jam dinding yang terus berkemeletik, mengetikkan waktu:  jarum panjang di angka dua belas, jarum pendek mendekati angka enam. Mataku mengerjap-ngerjap. Berat. Aku harus pergi tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DUA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu kamar kumatikan. Separuh korden jendela kusingkap tepikan. Paku pandangku menembus langsung ke wajah bulan. Ketika tubuh mulai kurebahkan. Selimut kubentangkan. Dan kelopak mata siap-siap kupejamkan. Tiba-tiba, hape di sebelah bantal bergetar, layarnya berkedip-kedip. Diterima sebuah pesan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Maaf, malam-malam menganggu. Ini aku. Masih ingat?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyebalkan. Seperti orang tak punya nama saja. Tak kuacuhkan. Aku yakin, itu hanya ulah seorang teman. Beberapa menit kemudian. Sebuah pesan masuk lagi. Dari nomor yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sungguh, Kawan. Aku butuh bantua&lt;/span&gt;n.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh sekali. Setelah mengajak main tebak-tebakkan, tiba-tiba minta bantuan. Masih tak kuhiraukan. Namun tak lama kemudian, hape memekik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku sungguh-sungguh. Untuk membuatmu percaya, apakah aku harus bersumpah atas nama tuhan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa harus membawa-bawa nama Tuhan. Berlebihan sekali kata-katanya. Namun, setelah pesan itu. Tiba-tiba aku menjadi gugup. Dalam remang, kupencet tombol-tombol huruf yang menyala di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maaf. Ini siapa&lt;/span&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klik. Terkirim. Beberapa detik kemudian…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ini aku, Lilla. Masa lupa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klik. Balas.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Lilla? Lilla Nurlilla. Lilla Kalideres? Lilla anak IPA III?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kirim. Terkirim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, satu pesan diterima.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Memangnya kamu kenal berapa Lilla?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatta perbincangan berlanjut panjang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hehehe… btw apa kabar nih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Btw? Btw apaan maksudnya? Buwat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hih, tell me banget. Btw singakatan dari By The Way: ngomong-ngomong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh… sekarang ngomongmu pake bahasa ingrris, ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dong. Hari gini, gak bisa bahasa inggris… eh, nomormu kok gonta-gonti terus, kayak orang pacaran aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, HP yang dulu ilang. Nomornya ikut ilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabarmu bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabarku buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buruk? Buruk bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buruk sekali. Makanya aku sms. Aku butuh bantuanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan? Bantuan apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, ya, belum-belum sudah merepotkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walah, kayak orang baru kenalan aja. Denger-denger kamu kerja di Hongkong, ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, lebaran lalu saya pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He’eh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok gak kabar-kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis denger-denger kamu sibuk. Sudah jadi penulis, novelis. Sudah jadi sastrawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, siapa bilang. Saya juga babu kok! Babu tinta. Hahaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikut seneng, kamu sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amiiin. Jadi, bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apanya yang bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya kamu mau minta bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, iya aku lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dulu penyakit lupamu gak sembuh-sembuh, ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum nikah kok sudah punya penyakit pikun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu belum nikah, tho?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok hehe hehe terus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana ada laki-laki yang mau sama babu lulusan SMA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada. Laki-laki yang babu yang lulusan SMA juga. Hahaha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak lucu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maap. Control Z, deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Control Z?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya kembali ke laptop. Jadi bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apanya yang bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduuuh, tak jitak gundulmu. Katanya mau minta bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe, iya, aku mau minta bantuan. To the point aja, yah… Kamu bisa, gak, mengantarkan sesuatu ke alamat rumahku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho, memangnya kamu sekarang gak di rumah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enggak. Sekarang saya berada di tempat yang sangat jauh. Jauuuuh sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar negeri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan. Lebih jauh dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar angkasa. Hahaha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di alam baka… Hahahaha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, aku sedang ngobrol dengan hantu, dong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau hantunya cantik tak masalah, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sssst… aku sudah ada yang punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, aku tahu. Lagian mana mungkin cowok keren sepertimu mau sama aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru tahu, ya, kalau aku keren. Hahaha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iih Narsis. Control Z, ya. Kembali ke permasalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yups. So?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung saja. Di sebuah gardu kosong, deket lapangan bola, deket rumahmu, ada sebuah kardus. Aku minta, kamu mengantarkan kardus itu ke keluargaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ih, kayak recidivis, aja. Kenapa gak langsung dianter ke rumahku aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bisa, ngapain aku minta tolong kamu. Mendingan tak bawa pulang sendiri. Tapi, ya, itu. Aku benar-benar gak bisa. Makanya aku minta tolong sama kamu. Toloooooong banget. Ya? Pliiis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu siapa yang naruh kardus itu di gardu? Aneh-aneh saja, atau jangan-jangan isinya narkoba, atau malah bom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak kok! Tak jamin, isinya bukan narkoba, apalagi bom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa, dong?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanti setelah sampai rumahku, kamu akan tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walah, malah main teka-teki. Ogah, ah, kalau nggak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini jelas. Jelas sekali. Ayolah! Pliiis! Ini yang terakhir kali. Benar-benar yang terakhir kali. Ya? Oke?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya lah… tapi masa harus sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak. Besok pagi atau siang juga gak papa. Sekarang kalau mau istirahat, silahkan istirahat. Teima kasih, ya. Dadaaaa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho? Jadi ceritanya sudah bosen nih ngobrol sama teman lama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takut ganggu istirahatmu aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tadi sudah ganggu. Ganggu sekalian aja. Terlanjur basah, ya sudah, mandi sekali. Terlanjur malu ya sudah, malu sekali… (dangdutan.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hihi, gak nyangka kamu dangduters juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emang kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak papa sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah-olah, kalau cowok suka dangdutan kegagahannya ilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku gak bilang gitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong, pulsamu masih ada nih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeee, ngelunjak. Mau tak telpon. Tak telpon nih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak, gak, gak usah. Percaya kok. Penulis pasti duitnya banyak. Hehehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kayaknya masih banyakan duit yang baru pulang dari luar negeri, deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saja kau tahu bagaimana nasib TKW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saja kau tahu bagaimana nasib penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku bisa nulis, mendingan jadi penulis daripada jadi TKW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku malah pingin jadi TKW. Eh, salah, maksudku TKP: Tenaga Kerja Pria. Hahaha bisa jalan-jalan ke luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis malah bisa jalan-jalan keliling dunia, lewat tulisannya. Hahaha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, deh. Pokokke diyukuri aja. Eh, btw, kabarmu waktu di Hongkong bagaimana? Galakan mana majikanmu sama anjing lacaknya pak polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hush! Majikanku orangnya baik, ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, denger-denger bayak juga TKW di luar negeri yang dijadiin sate, dijadiin roti bakar setrika. Pulang ke kampung sudah pada gosong semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kalau aku bilang sih untung-untungan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kamu termasuk yang untung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Alhamdulillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ya, ya… (manggut-manguut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayaknya sudah kehabisan bahan obrolan, ya! : -)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu sudah ngantuk, ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keadaanku yang sekarang, aku tak mungkin mengantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memangnya sekarang kamu lagi ngapain, sih? Di mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berada di sebuah tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, nama tempatnya apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri tak tahu harus menyebutnya apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu tersesat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok, mungkin?Kamu bener-bener aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ini memang aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kau baik-baik, saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei, jangan bercanda, jangan bikin perasaanku gak enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pingin nangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sudah, tak telpon, ya!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klik. Pesan terakhir terkirim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka pesan masuk terakhir. Rincian pesan. Nomor. Simpan nomor: Lilla Kalideres. Klik. Kutekan tombol dial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tut… tut… tut… tut… tut….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tersambung. kembali kutekan dial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tut… tut… tut… tut… tut….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tersambung. Tiba-tiba perasaanku kacau. Aku teringat tentang kardus di gardu usang yang ia pesankan. Rasanya ingin kuambil kardus itu sekarang juga. Namun, malam begitu menyeramkan. Maka kuurungkan. Kutengok angka di layar HP: 01.45. Tubuh kembali kurebahkan. Selimut kembali kubentangkan. Kelopak mata siap-siap kupejamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam terus merangkak. Tubuhku terbuntal rapat seperti molen pisang. Lensa mataku menangkap remang bulan yang tiba-tiba ditutupi arakkan awan. Mendadak  aku teringat film-film vampire. Tepat saat adegan serigala mengaum di puncak malam. Bayangannya menyatu dengan  wajah bulan. Aku merinding. Tubuh kumiringkan. Bantal dan selimut kurapatkan. Mata kupejamkan. Aku harus pergi tidur.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt; TIGA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi buta, saat pertama kali kelopak mata tersingkap, tanganku sudah meraba-raba ke bawah bantal, ke sebelah bantal. Hape di mana? Klik. Panggilan terakhir: Lilla Kalideres. Klik dial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tut… tut… tut… tut…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak aktif. Ke mana anak ini? Semalam berbalas pesan. Sekarang hape gak diaktifkan. Apa dia kehabisan pulsa? Atau low bateray?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah metahari meninggi, aku segera menghambur ke gardu usang yang ia maksudkan. Ada di tepian gang yang sangat sepi. Gang yang terapit lapangan becek dan tanah kosong. Diantara rongsok kayu dan tumpukan karung-karung bekas, teronggok sebuah kardus yang terbungkus sangat rapi. Rapi sekali. Dilakban di sisi-sisinya, dan dililit rafia tebal sebagai tali pegangan. Kuedarkan pandangan ke kiri dan ke kanan. Sepi. Aku mendekati gardu using itu. Tapi tiba-tiba ada bau menyengat. Seperti ikan busuk. Tapi tak ada lalat. Segera kuambil kardus itu dan kubawa pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; EMPAT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang siang, dengan sepeda motor, aku melaju dari Kramatjati ke Kalideres. Kardus bau itu kuikat karet ban dan kubonceng di jok belakang. Sepanjang perjalanan aku memutar otak, mengingat-ingat jalan yang benar menuju rumah itu. Aku pernah ke sana dua kali, waktu masih SMA, dan bertahun-tahun, setelah lulus dari SMA, kami tenggelam dalam kesibukkan masing-masing, kehidupan masing-masing. Kami putus kontak, hingga semalam, tiba-tiba dia menghubungiku lewat sebuah pesan pendek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakda dhuhur, akhirnya aku sampai di depan rumah itu. Masih sama seperti dulu. Hanya cat temboknya berganti warna. Rumah itu pintunya terbuka. Beberapa orang tampak berkerumun di dalamnya. Kuketuk pintu, kulepas salam. Orang-orang yang berkerumun di dalam menoleh ke arahku. Lelaki paruh baya—yang kuingat sebagai bapaknya—segera berdiri dan mempersilahkanku masuk. Tanpa basa-basi, segera kuutarakan maksud kedatanganku, “Semalam Lilla sms saya, Pak, dia minta tolong saya untuk mengantarkan kardus ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lilla sms kamu? Semalam?” Seorang lelaki memekik. Semua pandangan terlempar ke arahku. Pertanyaan di kepalaku berkecambah. Semua terdiam. Tak bisa menjelaskan. Hingga seseorang berdiri dan mengambil sebuah koran, telunjuknya terarah pada sebuah kolom tulisan, ada foto Lilla di sana: Gadis korban perkosaan dan pembunuhan. Mayatnya dimutilasi dan dibuang di beberapa tempat yang berbeda. Sampai sekarang, potongan tangan dan kepala belum ditemukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;LIMA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku tak berkedip menatap kardus itu. Membayangkan isinya.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, Maret 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-1434491285829945523?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/1434491285829945523/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/04/pesan-tengah-malam-harian-berita-pagi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/1434491285829945523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/1434491285829945523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/04/pesan-tengah-malam-harian-berita-pagi.html' title='Pesan Tengah Malam (Harian Berita Pagi Palembang 24 April 2011 )'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-pI5wtrIpp6c/TbTwiJuiZsI/AAAAAAAAAU4/DLFMx9uA-sA/s72-c/12--illustrasi--cerpen.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-3949215638713298551</id><published>2011-03-22T18:39:00.000-07:00</published><updated>2011-03-22T18:43:42.615-07:00</updated><title type='text'>Di Sini, Hujan Turun Deras Sekali... (Suara Merdeka, Minggu 20 Maret 2011)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-H-f4vsAJj6k/TYlQAsx5wBI/AAAAAAAAAUw/XL6GVQmmBI0/s1600/di-sini-hujan-turun-deras-sekali.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 131px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-H-f4vsAJj6k/TYlQAsx5wBI/AAAAAAAAAUw/XL6GVQmmBI0/s320/di-sini-hujan-turun-deras-sekali.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5587084785680498706" /&gt;&lt;/a&gt; HUJAN turun deras sekali. Namun, seperti apa pun cuacanya, kau selalu datang tepat waktu. Kini, kubayangkan, kau sedang duduk gelisah di kafe itu, seorang diri. Menatap layar HP yang sinyalnya nyala-mati, sambil menyeruput jus alpokat susu kesukaanmu. Dan kini, mungkin jus alpokatmu sudah tandas. Sudah satu jam lebih dari waktu yang kita sepakati. Dan aku masih meringkuk di kamarku. Sudah tiga kali kau menelepon, tapi selalu putus. Sinyalnya pasti sedang buruk oleh cuaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari balik jendela kamarku, aku hanya membeku, menatap ruahan air langit yang seperti ditumpahkan dari bejana raksasa. Jalan-jalan tertutup genangan. Rumput-rumput terendam. Daun-daun kering mengambang terbawa arus. Bunga-bunga di halaman, dahannya bergoyang-goyang, seolah tak kuasa menahan tikaman air yang begitu runcing. Jendela kaca di mukaku sedikit buram, berembun. Beberapa kali aku menyekanya. Dan wajahmu yang gelisah seperti terbayang di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu harus kukatakan: maaf, petang ini aku tak bisa menepati janji—untuk bertemu denganmu. Aku yakin kau maklum. Di sini, hujan turun deras sekali. Aku tak mungkin menerobosnya. Demamku baru enyah beberapa hari lalu. Tak mungkin aku mengundangnya lagi. Tubuhku masih terlalu rapuh untuk melawan dingin. Jadi maaf, aku tak bisa memetik seikat pertemuan yang telah kujanjikan untukmu. Sekali lagi, maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAFE sepi. Beberapa meja paling tepi tampak basah oleh embun hujan. Aku duduk menggigil di meja paling tengah. Ada empat kursi, dua kosong, satu kuisi dengan tas dan kado yang ingin kuberikan untukmu. Tapi kau belum datang. Apa pun cuacanya, kau memang jarang tepat waktu. Tapi itu yang aku suka darimu. Kau selalu membuatku gelisah, gelisah yang sangat mengasyikkan. Karena meskipun kau terlambat, kau tak pernah lupa pada janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan terus mericis. Satu gelas jus alpokat susu tanpa es sudah karam di lambungku. Dua potong pisang keju, tinggal separuh. Aku memang sedikit gelisah. Gelisah yang mengasyikkan. Sudah satu jam lebih aku menunggumu. Dan kau belum muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, hujan turun deras sekali. Barangkali di tempatmu juga. Mungkin sebab itu kau tak bisa (atau belum) datang. Beberapa kali kukirim sms, tapi tidak terkirim. Kutelpon juga putus-putus terus. Hujan begini sinyalnya pasti buruk. Tapi tak apa. Aku akan menunggumu hingga hujan reda. Pun jika hari ini kau tak bisa datang juga tidak apa-apa. Beberapa hari lalu kau baru diizinkan pulang dari rumah sakit. Dan tentu fisikmu belum pulih sempurna. Salahku juga, memintamu bertemu pada musim hujan begini. Ini benar-benar bukan masalah. Tak apa. Aku hanya merindukanmu. Sudah sekitar tiga minggu kita tidak bertemu. Dan tenggang waktu itu cukup membuatku berdebar-debar menahan rindu. Apa kau juga merasakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMANG (rasanya) cukup lama kita tidak bertemu. Terakhir kali kita bertatap muka ialah saat aku terbaring di rumah sakit tiga minggu lalu. Selepas menjengukku dengan separcel buah, kita sempat ngobrol-ngobrol sebentar, setelah saling terdiam agak lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah berapa hari kau opname?” tanyamu lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiga hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kata dokter, apa sakitmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katanya gejala tipus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah. Pasti makanmu sembarangan dan tidak teratur. Sudah kubilang, jaga kesehatan. Jaga makan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya terdiam mendengar petuahmu yang lebih terdengar sebagai petuah ibu-ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, aku tak bisa berlama-lama. Aku harus kembali ke kantor. Kalau keadaanmu membaik. Tolong SMS aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum dan berterima kasih, sebelum kau pergi dan mengusap tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah! Hubungan kita memang aneh. Barangkali itu karena perbedaan usia di antara kita. Kau perempuan, dan kau tujuh tahun lebih tua dariku. Dan mungkin karena itu pula, terkadang aku merasa, bahwa hubungan kita bukan seperti hubungan sepasang kekasih, melainkan hubungan antara ibu dan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dirimu selalu terselip jiwa-jiwa keibuan: selalu perhatian, ingin melindungi, mengalah. Dan aku sebaliknya: ceroboh, sesuka hati, manja, dan sifat-sifat kekakanak-kanakan lain. Kau selalu pandai bersikap dewasa, sehingga aku merasa nyaman untuk terus bersikap kekanak-kanakan. Tapi masalahnya, aku seorang lelaki dan kau seorang perempuan. Terasa janggal jika seorang lelaki merengek di bahu kekasihnya, berceloteh manja, meminta ini-itu. Tapi ini sudah seperti diatur. Aku tak bisa berbuat apa-apa, selain satu: mencintaimu dengan caraku—yang mungkin membuatmu nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUJAN belum juga reda. Dari gelapnya, sepertinya langit telah menyiapkan debit air yang cukup banyak untuk memenggal pertemuan kita. Ini benar-benar seperti tangisan gadis patah hati, terus merinai, tak usai-usai. Suasana beginilah yang acap membuatku melamunkanmu. Melamunkan hubungan kita yang terus mengalir, lancar, tapi bagai tak bermuara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata cinta telah tunai kau ucapkan, namun, tampaknya tanganmu masih gemetar untuk memasangkan selingkar cincin di jariku. Kau masih tampak kanak-kanak untuk melantunkan ikrar sakral itu. Sedangkan usiaku terus merangkak bagai sesosok hantu yang terus menerorkan ancaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan kita pun masih rahasia. Setahu orang tuamu, aku hanya seorang kakak bagimu. Kakak perempuan yang penuh perhatian. Tak lebih. Jadi mereka tak pernah berpikir yang aneh-aneh tentang kita. Entahlah, bagaimana cerita ini nanti akan berakhir. Seolah-olah, sebuah alamat buruk jika seorang perawan tua jatuh hati pada pemuda kencur. Ah, tidak juga. Sebenarnya kau pun bisa bersikap dewasa. Kau sudah hampir 25. Banyak juga pemuda seusiamu yang sudah menimang momongan. Dan mereka baik-baik saja. Barangkali masalahnya, hanya, aku jauh lebih tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUJAN masih berdebaman. Apa kau masih di sana? Tiba-tiba aku merasa sangat bersalah padamu. Aku tahu, selama ini, diam-diam kau tersiksa. Selalu kau yang mengalah. Selalu kau yang berkata iya. Lambat laun kusadari juga. Ini tidak sepantasnya. Umurku sudah hampir 25. Aku sudah—sangat—bukan anak-anak. Aku tertawa sendiri menahan malu mengingat sikapku selama ini padamu. Dan satu hal lagi. Hal yang sebenarnya juga mengganggu pikiranku. Ya, tentang muara hubungan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tak akan mungkin bertanya, “Kapan kita menikah?” atau “Kapan kau nikahi aku?” Tapi aku benar-benar tahu, selama ini kau menunggu. Menunggu kata manis itu menyembul dari bibirku. Aku benar-benar tahu itu. Dan lagi-lagi, apa boleh buat, aku pun tak bisa membayangkan bagaimana reaksi bapak-ibuku jika aku berkabar pada mereka, “Pak, Bu, aku ingin menikah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski usiaku sudah mendekati 25, tapi aku masih pemuda yang belum layak untuk disebut dewasa. Pemuda yang belum bisa memakai kakinya sendiri untuk berdiri, pemuda yang masih “meminta gendhong” orang tua. Semua kebutuhanku mulai dari biaya kuliah, kebutuhan sehari-hari, makan, hiburan… semua masih murni, dari orang tua. Tak sedikit pun ada pautnya dengan keringatku. Maka bagaimana mungkin aku mengucapkan ikrar itu padamu. Begini-begini, aku juga tahu apa kewajiban suami terhadap istri. Karena itulah alasan mengapa aku menunda. Sekali lagi maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAMBAT laun, hujan ini terasa seperti tangisan. Ngilu dan panjang. Apa mungkin kau akan datang, sedangkan hujan sederas ini? Ah, kau. Selalu aku bertanya begini: bagaimana bisa aku jatuh hati padamu? Jujur, terkadang aku merasa sangat bersalah padamu. Aku bagai belati yang sesuka hati memenggal masa mudamu. Kau lelaki, masih muda. Belum habis waktumu menikmati kebebasan sebagai seorang lelaki, pemuda. Tapi tiba-tiba aku menuntutmu untuk turut memperhitungkan kebahagiaanku. Meski tidak secara langsung, aku tahu, itu mengganggu pikiranmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa boleh buat. Ini masalah perasaan. Apa iya, aku harus melepasmu. Sedangkan hatiku sudah benar-benar matang dalam genggamanmu. Tak apa, sungguh tak apa. Kenapa pula aku harus takut pada usia. Kau menikahiku pada usiamu yang ke tiga puluh pun aku tak apa-apa. Aku terima, asal kau sanggup mempertahankanku. Bagaimana pun aku perempuan—meski kini usiaku lebih matang. Jadi, aku juga punya perasaan ingin dilindungi, didekap, dimanja, seperti layaknya perempuan. Dan rasanya, hanya kau seorang dari sekian banyak lelaki, yang mampu memberikan itu, meski mungkin dalam bentuk berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUJAN ini seolah tak akan berhenti. Entah sampai kapan. Barangkali, sericis inilah perasaanku padamu, hanya saja, aku tak pandai melukiskannya. Apa pun yang akan terjadi, sepertinya perasaan yang kupikul ini takkan mungkin goyah. Jadi mana mungkin aku melepaskanmu hanya karena masalah usia. Dalam kamus percintaan, tak pernah mencantumkan usia sebagai syaratnya. Jadi semua sah-sah saja. Jikalau pun kau benar-benar memaksaku untuk menikahimu sekarang juga, aku akan melakukannya. Tapi aku senang, kau tidak menuntut itu. Kau memang perempuan paling pengertian setelah ibuku. Tapi apa imbalku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama perjalanan kita, rasanya semua berjalan lancar. Kita tak pernah ada masalah dengan keputusan. Setiap kali aku memutuskan sesuatu kau selalu berkata iya, entah bagaimana hatimu, apa berkata iya juga, aku tak tahu. Lagi-lagi, itu sebuah bukti nyata bahwa aku belum pantas untuk disebut sebagai lelaki. Mengapa begitu? Tentu saja. Lelaki yang selalu ingin menang sendiri dan segala arahnya dituruti, ia bukan lelaki. Karena ia lemah. Dan yang kurasakan selama ini, itulah aku. Karena itu, sesungguhnya aku perlu sesuatu yang baru untuk menyegarkan hubungan kita yang selama ini baik-baik saja (sebenarnya lebih layak untuk disebut datar-datar saja). Bagaimana jika tiba-tiba aku memberikan kejutan untukmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUJAN ini sebuah kejutan bagi kemarau panjang. Hei, aku berpikir tentang kejutan. Selama ini, kau tak pernah menciptakan sebuah kejutan pun untukku. Kado ulang tahun? Itu bukan kejutan yang kumaksud. Entahlah, tiba-tiba aku membayangkan jika dirimu menjadi lelaki yang lebih dewasa, lelaki yang sebenar-benarnya lelaki. Meski selama ini aku cukup nyaman dengan perangaimu yang kekanak-kanakan itu, tapi jujur, sebenarnya, sesekali, aku juga ingin merengek padamu. Bersandar di bahumu dan merajuk ini-itu. Seperti yang kukatakkan, aku masih seperti kebanyakan perempuan, yang sebenarnya lebih suka dicumbu-manja, daripada memanjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu, kenapa selama ini aku selalu menjadi ekormu? Karena aku tak mau kehilanganmu. Usiamu adalah usia labil, dan aku harus mengimbangi itu, meski diam-diam terkadang aku harus berkorban perasaan. Karena itu, sekali lagi, jujur, aku benar-benar tak mau kehilanganmu. Apa kau juga begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEDERAS apa pun, nanti, hujan ini pasti akan berhenti. Meski seolah tak bisa berhenti. Bicara soal henti-berhenti, aku yakin, aku pun bisa berhenti dari citra lelaki cemeng, yang selama ini kubangun sendiri. Ya, kenapa tidak? Aku lelaki murni, yang seharusnya memiliki sikap-sikap sebagai lelaki murni: tegas, melindungi, perhatian, mengalah… dan sifat-sifat lelaki lain. Benarkah, hanya karena berhadapan dengan perempuan dewasa lantas aku menjelma menjadi anak-anak? Tidak. Akan kubuktikan itu padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahai, hujan deras begini membuat darah lelakiku mengalir lancar. Hujan deras ini menjadikan pikiran-pikiran yang selama ini tersumbat menjadi plong, menjadi lebih jernih. Baik, baik, setelah hujan yang deras ini. Aku harus menemuimu dalam keadaan yang sudah berbeda. Tunggu, tunggu, mengapa harus menunggu hujan berhenti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, ini hanya hujan!” gumamku, seperti baru tersadar dari sebuah percakapan. Aku berdiri, mengambil jaket kulit yang tergantung di belakang pintu. Semoga kau masih menungguku di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LANGIT sudah gelap dan hujan masih mendendam. Menambah langit semakin gelap. Aku menjadi bingung, sebenarnya aku menunggumu datang atau menunggu hujan berhenti. Rasanya tak mungkin kau datang. Jadi? Aku menunggu hujan berhenti? Aih, ini hanya hujan. Mengapa aku tidak pulang saja. Ya, sebaiknya aku pulang saja. Tapi, bagaimana kalau nanti kau datang. Karena, selama ini kau tak pernah melupakan janji, seberapa pun kau terlambat, kau selalu datang. Aduh, kenapa aku jadi gamang begini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, hujan turun deras sekali. Kau pun baru pulih dari perawatan. Jadi tak mungkin kau datang. Aku pun tak mengizinkanmu datang kalau tahu hujan begini. Ya, ya, sebaiknya aku pulang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huft…!” aku berdiri, menghela napas panjang, seperti baru saja usai dari perbincangan panjang. Aku bergegas menuju kasir. Membayar bon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hujannya masih deras lho, Mbak. Nggak nunggu reda dulu.” Perempuan yang berdiri di depan mesin kasir mengingatkanku. Aku hanya tersenyum, lalu melenggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUJAN sedikit lebih jinak. Kukenakan jas hujan ala kadarnya, aku jalan berjingkat menuju teras rumah supaya tidak ketahuan ibu. Dengan degup memburu aku mulai melajukan sepeda motorku. Hujan ini tak seburuk yang kukira, meski hawa dingin mulai menjalar ke kuduk dan pori-pori. Sepanjang jalan aku terus berdoa, semoga kau masih di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan kembali menjadi gerimis ketika aku sampai di depan kafe itu. Bahkan nyaris reda. Namun, kini, detak jantungku yang menderas. Aku menggigil. Gemetar. Apa karena dingin? Bukan. Tapi lihatlah, kafe tampak sepi. Sepi sekali. Tak seorang pun tampak di sana kecuali para pelayan—dengan seragamnya—yang sibuk mengelap meja. Aku lumat dalam sekelumit kekecewaan. Apa kau sudah pulang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu kau akan datang. Jadi, aku masih menunggumu di sini.” Tiba-tiba suaramu mendekam di telingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau sudah berdiri di belakangku. Tersenyum. Kau benar-benar seperti sebuah kejutan. Aku tak bisa berkata lagi. Aku hanya ingin melafaskan sepatah maaf. Tapi bress, tiba-tiba hujan kembali mendendam. Kita berlarian. Kembali ke kafe itu. Kita duduk dan sama-sama terdiam. Agak lama. Seperti tengah sibuk, memilah kata-kata yang ingin kita ucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sini, hujan turun deras sekali…,” celetuk kita hampir bersamaan. Kita saling tatap sebelum akhirnya tertawa panjang. (*)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, 23 Oktober 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-3949215638713298551?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/3949215638713298551/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/03/di-sini-hujan-turun-deras-sekali.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/3949215638713298551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/3949215638713298551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/03/di-sini-hujan-turun-deras-sekali.html' title='Di Sini, Hujan Turun Deras Sekali... (Suara Merdeka, Minggu 20 Maret 2011)'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-H-f4vsAJj6k/TYlQAsx5wBI/AAAAAAAAAUw/XL6GVQmmBI0/s72-c/di-sini-hujan-turun-deras-sekali.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-3093470900276087293</id><published>2011-03-19T03:36:00.000-07:00</published><updated>2011-03-19T03:39:16.927-07:00</updated><title type='text'>Dongeng Pendek tentang Kota Kota dalam Kepala (Jawa Pos 13 Maret 2011)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-yWOWJo7e6C0/TYSHr00aO7I/AAAAAAAAAUo/2NfLsZG2E0k/s1600/dongeng-pendek-tentang-kota-kota-dalam-kepala.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 258px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-yWOWJo7e6C0/TYSHr00aO7I/AAAAAAAAAUo/2NfLsZG2E0k/s320/dongeng-pendek-tentang-kota-kota-dalam-kepala.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5585738624828849074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kota Tungku&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Entah sejak kapan kota itu tumbuh dalam kepalaku. Tepatnya di ceruk mata. Aku pernah terdampar di kota itu, mengalami dahaga yang sangat. Hingga kota itu, bagai wajib kukisahkannya….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota itu matahari memang tampak lebih besar dari yang seharusnya. Di kota itu, sungai-sungai dan perigi menganga bagai mangkuk tanpa isi. Satu per satu pepohonan mati, terberangus pelan-pelan tanpa seorangpun menyadarinya. Mereka hanya tahu, tiba-tiba pohon itu kering. Dan tak ada lagi tempat berteduh. Trotoar-trotoar berselimut debu dan asap yang warnanya kelabu. Di kota itu, matahari hampir tak tidur. Siang hari terasa lebih lama, lima kali lipat dari seharusnya. Di kota itu, di mana-mana akan terdengar orang mengeluhkan cuaca dan air. Bahkan AC pun tak bisa berfungsi di kota itu. Air minum, mandi, dan mencuci, semuanya menghangat oleh cuaca. Setiap hendak mandi, orang-orang harus mencari es batu untuk mendinginkan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang di kota itu selalu berkeringat dan lengket. Setiap jam mereka mandi dan meneguk air es. Namun tetap saja, mereka berkeringat dan lengket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok panas begini, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukannya dari dulu memang begini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kata nenekku, sewaktu ia kecil, kota ini adem.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu kan dulu, sekarang mana ada kota adem.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurutmu, kira-kira apa yang membuat bumi ini begini panas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Klasik sekali pertanyaanmu. Lihat saja, pohon besar di kota ini bisa dihitung jari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangkali itu, ya, yang bikin kota kita seperti tungku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cerobong-cerobong asap itu juga, kentut-kentut mobil itu juga, mesin-mesin itu juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau pernah dengar yang namanya global warming?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya sekarang ini global warming, Goblok!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kayaknya dunia mau kiamat. Makin hari makin panas. Tidak Cuma cuacanya, tapi juga manusianya….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kota Sampah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sejak kapan kota itu tumbuh dalam kepalaku. Tepatnya di ceruk mata. Aku pernah terdampar di kota itu, mengalami rasa jijik yang sangat. Hingga kota itu, bagai wajib kukisahkannya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang sangat jelas. Di kota itu, sampah menggunduk di mana-mana seperti bukit-bukit kecil. Di dalam rumah, di jalan-jalan, di pasar-pasar, di mall-mall, bahkan di tempat peribadatan. Lalat berpesta di mana-mana, berebut sisa makanan dengan manusia. Konon, sampah itu didatangkan oleh segerombolan makhluk asing dari planet yang berbeda. Planet yang penuh dengan rumah-rumah mengkilap, dinding-dinding kaca, dan kulkas-kulkas besar yang berisi makanan dan minuman segala rupa. Planet yang penuh dengan mainan dan barang-barang aneh yang setia melayani tuannya. Konon, dari sanalah sampah-sampah itu datang dan dituangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk kota sampah tak pernah sabar menunggu sampah baru datang. Mereka menunggu dengan sabar bersama lalat-lalat yang terus melagu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok lama, ya, truk sampahnya gak datang-datang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah. Tunggu saja. Sebentar lagi juga datang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngomong-ngomong, apa kamu tidak jijik dengan sampah-sampah itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Busyiiit! Jijik katamu. Itu kan yang kita makan setiap hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hihihi, makan sampah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di kota ini memang cuma ada sampah yang bisa dimakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kota ini memang begini sejak dulu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok tanya padaku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau kan yang lebih tua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tanya saja nenekmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nenekku kan sudah mati tertimpa gundukan sampah waktu dia berebut makanan di sini, sebulan lalu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah! Jangan banyak tanya. Itu, Truk sampahnya datang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cihuuuiiii!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau mau mati seperti nenekmu? Tunggu sebentar. Sabar. Jangan buru-buru. Biarkan sampahnya ditumpahkan dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah truk sampah pergi, mereka berlari beramai-ramai, mereka berlomba-lomba mengais. Ada yang membawa tongkat kecil seperti celurit, ada yang hanya menggunakan ranting, ada juga yang mengais-ngais dengan tangan telanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, aku menemukan kepala.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kepala? Ayam atau bebek?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manusia!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kota Lumpur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sejak kapan kota itu tumbuh dalam kepalaku. Tepatnya di ceruk mata. Aku pernah terdampar di kota itu, mengalami kotor yang sangat. Hingga kota itu, bagai wajib kukisahkannya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua penduduk di kota itu berbaju lumpur.  Lumpur yang masih meleleh dan akan terus meleleh. Bukan hanya itu, rumah-rumah, pohon-pohon, bahkan atap langit, semua utuh berbalur lumpur. Pekat dan terus meleleh seperti es krim cokelat yang mencair. Hanya bayi-bayi yang baru lahir saja yang mulus tak berbalur lumpur. Tak seorangpun tahu dari mana lumpur itu bermula. Tapi, kata orang-orang tua, lumpur itu menyembur dan meleleh dari dosa. Setiap seseorang melakukan dosa dengan kadar tertentu, lumpur itu akan menyembur dan meleleh dengan kadar tertentu pula. Semakin besar dosa yang dilakukan, semakin besar pula semburan yang muncul. Lumpur itu bisa menyembul dari mana saja. Dari mulut, telinga, kelopak mata, dari lubang pusar, bahkan dari lubang kemaluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berarti penduduk kota ini, semuanya berdosa, dong!?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cuma nabi dan bayi, manusia yang tak punya dosa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rumah-rumah, jalan-jalan, masjid, gereja… mereka tak punya dosa. Tapi kenapa mereka penuh lumpur?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak tahu, ya? Dosa itu menjulur bagai lidah, menjilati apa saja. Rumah-rumah, jalan-jalan, bahkan tempat ibadah. Pokoknya tempat-tempat di mana kita melakukan dosa, di situ lumpur juga akan ikut meleleh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lumpur ini benar-benar menghalangi kenikmatan. Kita tak bisa bicara dengan jelas, setiap kali bicara lumpur dari mulut kita akan ikut menyembur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita juga tak bisa makan dan minum dengan nikmat, semuanya becek oleh lumpur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita juga tak bisa tidur dengan pulas. Semua lembab dan gatal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahkan kita tak bisa bercinta dengan nyaman. Huft….!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, menurutmu, bagaimana cara menghentikannya? ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menghentikan apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya lumpur ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahaha, kau seperti bertanya bagaimana menghentikan dosa. Kau jawab sendirilah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kota Perempuan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Entah sejak kapan kota itu tumbuh dalam kepalaku. Tepatnya di ceruk mata. Aku pernah terdampar di kota itu, mengalami dilema yang sangat. Hingga kota itu, bagai wajib kukisahkannya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar adanya, di kota itu, lelaki menjadi makhluk yang sangat mahal. Mereka di pajang di kamar-kamar mengkilap, dengan harga bervariasi. Semakin lelaki, semakin mahal. Di kota itu, lelaki takkan berani keluar sembarangan. Karena, ia bisa diperkosa beramai-ramai oleh perempuan-perempuan liar di pinggir jalan. Kebanyakan dari perempuan-perempuan itu adalah perempuan yang tidak pernah memiliki cukup uang untuk membeli lelaki, sehingga mereka lebih suka mencari mangsa di jalan-jalan. Perempuan-perempuan itu tak pernah mengenakan pakaian. Mereka selalu berdiri gelisah di pinggir-pinggir jalan dengan birahi yang sangat dahaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita takkan pernah menjadi ibu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita tak mampu beli sperma.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beli lelaki maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama saja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya harus beli?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau bodoh atau lupa? Di kota ini kan lelaki sudah bosan bercinta dengan perempuan. Sekarang mereka lebih suka bercinta dengan sesamanya, kecuali kalau kita membelinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, kalau kita mau hamil kita harus kaya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Susah…, mau hamil saja harus kaya dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di kota ini memang begitu aturannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lelaki bercinta dengan lelaki, apakah termasuk aturan di kota ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya begitu, lelaki di kota ini sudah bosan dengan jumlah perempuan yang over populated.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau mereka bisa bercinta dengan sesamanya, kenapa kita tidak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya… menyayangkan sperma mereka yang terbuang sia-sia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kota Lapar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sejak kapan kota itu tumbuh dalam kepalaku. Tepatnya di ceruk mata. Aku pernah terdampar di kota itu, mengalami lapar yang sangat. Hingga kota itu, bagai wajib kukisahkannya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk kota itu selalu merasa lapar. Setiap hari mereka memakan apa saja. Mulai dari tumbuh-tumbuhan, binatang,  besi, tanah, dan bahkan bangkai. Di kota itu, rasa lapar terus melata dan mendatangi siapa saja, mereka menyebarkan virus-virus lapar ke dalam ceruk lambung melewati angin yang dihirup manusia. Setiap hari, kota itu selalu ramai oleh musik perut. Ada suara keroncongan, ada suara kokok ayam, ada pula siut seperti kentut. Perut-perut itu akan terus berbunyi hingga sesuatu mengisinya. Semakin lama garing, gaung perut itu akan semakin nyaring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap jam, penduduk kota lapar selalu berlomba-lomba mengais apa saja yang bisa mereka masukkan ke dalam perut mereka. Hal apapun yang mereka lakukan, tujuannya hanya untuk satu: perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari ini kau dapat apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu, yang sudah aku telan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Serongsok rangka kursi, semangkuk bulu ayam, dan seekor buaya rawa. Kalau kamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setumpuk koran bekas dan kasur bekas. Tapi jujur, aku masih sangat lapar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa, ya, kita kok selalu kelaparan. Padahal perut kita sudah begini buncit oleh apa-apa yang kita telan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manusia kan memang diciptakan untuk lapar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau pernah menahan lapar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik mati daripada menahan lapar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok begitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo kita kelaparan gara-gara menahan lapar, kan ujungnya mati juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Puasa maksudku. Jadi kita bukan tidak makan sama sekali, tapi kita kurangi porsinya, kita tahan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, sudah lama sekali di kota ini tak ada puasa-puasa… bapak-ibu kita juga tak pernah mengajarkan kita puasa. Yang mereka ajarkan adalah bagaimana caranya mencari makan, mengisi perut. Sudah! Kebanyakan ngobrol tambah bikin lapar. Ayo kita cari makan lagi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di kota ini sudah tidak ada apa-apa lagi, kita mau cari makan di mana lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya pokoknya kita cari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu kau makan aku saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau gila! Apa isi otakmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya berpikir, barangkali, setelah mati rasa lapar ini akan reda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kota Katastrofa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sejak kapan kota itu tumbuh dalam kepalaku. Tepatnya di ceruk mata. Aku pernah terdampar di kota itu, mengalami ketakutan yang sangat. Hingga kota itu, bagai wajib kukisahkannya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota itu, kejadian-kejadian miris telah diagendakan. Setiap hari, di kota itu akan terjadi kematian massal. Penyebabnya bisa apa saja dan tak pernah terduga. Penduduk kota itu, setiap hari selalu berpikir, memutar otak, bagaimana supaya agenda-agenda miris itu dapat dihentikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun mereka tak pernah berhasil. Mereka tak pernah bisa menemukan di mana list-list kejadian itu disimpan. Anehnya, penduduk kota itu setiap hari berpesta pora. Mereka memestakan apa saja yang bisa dipestakan. Seolah mereka lupa, bahwa kematian massal bisa saja mendatangi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya pula, dalam pesta itu mereka sempat membicarakan dan menduga-duga agenda miris apa yang akan menyongsong mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Disiram air baskom sudah. Bahkan sampai rumah-rumah rata dengan tanah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan yang mati ratusan ribu itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tanah gulung tikar juga sudah, bahkan sampai menganga setengah meter tanahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berapa kemarin korbannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belasan ribu atau berapa gitu… aku lupa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baru-baru ini gunung kentut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, yang korbannya pada gosong itu, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He’em. Bahkan kampung itu sekarang jadi kuburan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kira-kira, apalagi, ya, agenda ke depan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurut dugaanku, matahari akan tergelincir, menggelundung menimpa kota kita. Atau kalau tidak, barangkali atap langit bakal rubuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ih, sereeem!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makannya, tobat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, deh! Tapi, kita selesaikan dulu, ya, pestanya!?” (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-3093470900276087293?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/3093470900276087293/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/03/dongeng-pendek-tentang-kota-kota-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/3093470900276087293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/3093470900276087293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/03/dongeng-pendek-tentang-kota-kota-dalam.html' title='Dongeng Pendek tentang Kota Kota dalam Kepala (Jawa Pos 13 Maret 2011)'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-yWOWJo7e6C0/TYSHr00aO7I/AAAAAAAAAUo/2NfLsZG2E0k/s72-c/dongeng-pendek-tentang-kota-kota-dalam-kepala.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-695896362981354271</id><published>2011-03-09T22:44:00.000-08:00</published><updated>2011-03-09T22:47:28.709-08:00</updated><title type='text'>Di Kolong Langit Jeddah yang Pucat (Malang Post 6 Maret 2011)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-qyKiWQmWUCU/TXhz4lmEylI/AAAAAAAAAUg/ruOvhHNNShw/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 267px; height: 168px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-qyKiWQmWUCU/TXhz4lmEylI/AAAAAAAAAUg/ruOvhHNNShw/s320/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5582339154127407698" /&gt;&lt;/a&gt;Kau rasakan layar kecemasan mengembang di wajahmu yang kuning pucat. Seperti siluet senja yang melesat di antara punggung Gunung Radwa dan Abha yang kelabu. Kau teringat nenekmu yang sebatang kara di negeri seberang. Kau teringat wajahnya yang cekung, atau punggungnya yang membungkuk karna saban hari merangkak mengambah alas  Watu Gilang untuk memunguti ranting-ranting kering, atau geguguran daunan jati. Nenekmu hanya seorang buruh tani yang ketika menunggu musim panen sama halnya  dengan menunggu lebaran tiba. Bila musim tanam selesai, nenekmu selalu merangkak menyisiri hutan-hutan di kaki Gunung Wilis, untuk segendong kayu bakar atau segepok daun jati yang nantinya akan ia tukarkan dengan beras dan minyak curah. Ah, kau benar-benar merindukannya.&lt;br /&gt;Beberapa tahun lalu, sebelum kau melesat terbang untuk meraih serpihan rizqi di bawah langit kota Jeddah yang jauh, kau tak pernah bisa lepas dari nenekmu. Kau hidup berdua saja denganya. Ibumu keracunan ketuban saat melahirkanmu, biaya persalinan yang pas-pasan tidak memungkinkanya untuk memperoleh tindakan cepat, maka setiap nenekmu bercerita perihal kelahiranmu, kau seperti menyayat luka yang terpatri di wajahmu. Tak cuma itu, berselang satu setengah tahun terpaut usiamu, ayahmu mangkat karena sengatan paru-paru basah yang sama sekali tak tersentuh tangan medis, selain kehendak Tuhan tentu saja karena alasan klasik yang klise: biaya. Itulah mengapa kau begitu benci dengan kemiskinan. Kemiskinan telah merenggut orang-orang yang kau cinta sebelum kau sempat mematri raut wajah mereka dalam benakmu.&lt;br /&gt;Kau tahu, nenekmu begitu menyayangimu. Kau layaknya manik permata yang selalu di elu-elukannya. Wajahmu cantik, gerak lakumu jujur dan lugu. Ia tak mau jika kau menjadi lekang dan rapuh hanya karena pengaruh pergaulan di kampungmu yang mulai menyisihkan nilai-nilai ketimuran seorang gadis. Tentu kau masih ingat dengan Eli, teman sekelasmu yang mati bunuh diri gara-gara tak kuasa menanggung aib yang mengembung di perutnya. &lt;br /&gt;Maka, seusai menamatkan pendidikan di sekolah menengah atas, nenekmu menyarankanmu untuk bertebaran ke negeri jauh, menjemput berkah yang telah di sebar Gusti Allah di muka bumi. Awalnya kau bersikeras untuk tetap tinggal menemani nenekmu, agar tetap bisa menjagainya di usia senja. Namun air mata tua nenekmu telah meluluhkan keras kepalamu. Akhirnya kau pun berangkat. &lt;br /&gt;Ketika itulah, kau rasakan pertama kali betapa birunya warna perpisahan. Pikiranmu bergejolak. Di usiamu yang baru belasan tahun itu, tak pernah kau bayangkan kau akan melayarkan bahtera seorang diri, jauh ke tengah samudera kehidupan yang luas tak beranah tepi. &lt;br /&gt;“Jika perahu telah kukayuh ke tengah, pantang bagiku membalik arah, biarpun besar gelombang, kemudi patah, layar robek, itu lebih baik dari pada memutar haluan pulang.” Bisikmu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asing sekali ketika kakimu menapak negeri bertanah gurun itu. Di sebuah rumah yang megahnya seperti masjid itu kau bekerja. Merawat perempuan pikun dan balita. Dengan gaji tujuh ratus real yang tak pernah sampai ke tanganmu. Tahun pertama kau bekerja, kau hidup seperti budak tawanan perang. Sayyidah  Fatat yang bermata lebar dan bercelak tebal itu selalu mengawasi gerak-gerikmu. Barangkali ia tak mau melihatmu bermalas-malasan. Melihatmu duduk tanpa melakukan sesuatu, baginya adalah sama halnya membuang dirham .&lt;br /&gt;Jaddah  Raisyah, perempuan renta yang melata di kursi roda itu pun selalu menyusahkanmu. Kau merawat perempuan pikun itu seperti merawat cicitnya. Menyuapinya saat makan, menyeka tubuhnya yang lemir, mengelap air liurnya, atau kalau lebih buruk lagi menimpal bekas kotorannya. Awalnya kau merasa jijik dan hendak muntah, tapi lama semakin lama kau menjadi sangat terbiasa. Kau bayangkan wanita tua itu nenekmu dan semuanya menjadi lebih mudah kau lakukan.&lt;br /&gt;Tahun berganti tahun kau jalani, dapat kau rasakan lembaran demi lembaran hidupmu yang datar dan buram tanpa warna. Kebosanan yang merestan di kepalamu kini telah lumat oleh ketidakberdayaan. Dekat sekali kau rasakan campur tangan Tuhan atas skenario yang kau perankan sekarang ini. Maka kau bisa apa? Bahkan ketika Sayyid  Junaid, suami Sayyidah, mulai berani mencolek-colek pinggulmu, kau pun tak bisa berbuat apa-apa. &lt;br /&gt;Sampai datanglah suatu ketika yang celaka. Sayyidah menggelar sebuah pesta besar-besaran di rumahnya. Seluruh tenagamu dikurasnya. Kakimu gemetar melihat keramaian yang begitu mencekam. Dari balik gorden dapur kau lihat para tamu yang mengagungkan pesta dan kesenangan. Orang-orang berhidung panjang dan bercambang tebal, orang-orang berkulit hitam dan berambut kriting, mereka berkumpul melebur dalam tahniah  dan tari-tarian. Mereka menyatap kambing guling dan ikan sadil ‘arab seperti srigala lapar. Nasi samin yang kau tanak semalam suntuk, tandas oleh perut mereka. &lt;br /&gt;Seusai pesta, dan tamu-tamu pulang. Kau merangkak membereskan sisa-sisa pesta yang berantakan. Sayyidah pergi mengantarkan saudara jauhnya dan mungkin kembali esok lusa. Tinggalah kau seorang, bersama nenek pikun dan Sayyid Junaid yang tatapan matanya seperti hendak menerkam. &lt;br /&gt;Malam itulah, ketika tiba-tiba Sayyid Junaid memintamu ke kamarnya untuk memijtnya, kau juga tak bisa menolak. Malam itu bisa kau rasakan, kau seperti ayam kecil yang terperangkap dalam liang musang. Benarlah, Sayyid Junaid mulai merayumu. Kau menolaknya, akibatnya kau pun mendapat satu tamparan keras di pipi kananmu. Kau berontak, hendak berlari darinya, dengan cekatan pula lelaki arab bernafsu kuda itu merengkuhmu, melumatmu dalam tarian-tarian menyeramkan. Semenjak itu, malam-malam tua telah menjadi seteru yang menyematkan luka abadi dalam lubuk dadamu. Seperti lolongan rase gunung, setiap malam kau memperpanjang tangismu sambil mencakar wajahmu sendiri. Ngilu. &lt;br /&gt;“Telah tersemat ribuan jarum dalam ketubanku. Aku musafir asing yang kehilangan kaki. Lantas musti bagaimana aku meneruskan mimpi. Luka ini terlampau mendarah daging, rasanya waktu pun tak akan mampu menyembuhkannya. Ini memang tak lebih sakit dari mati, tapi ini lebih buruk dari mati.” Cercaumu, pilu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petang itu, ketika rumah Sayyidah sepi kau berjingkat meninggalkan perempuan tua yang tergolek di kasur bersama kotorannya sendiri itu. Kau benar-benar sudah tak tahan. Kau berjingkat membawa beberapa helai pakaian yang kau bungkus dalam kain jarit milik nenekmu. Kau cek setiap penjuru pintu. Semua terkunci rapat. Kau berpikir, mereka memang sengaja memasungmu. Kau pun tak pendek akal. Kau turun lewat balkon samping dengan beberapa utas kain yang kau kaitkan jadi temali. Kau sudah seperti buronan yang hendak kabur dari bui. Tak kau pikirkan, kau tak membawa bekal atau uang sepeserpun. Ah, barangkali gejolak badai di bathinmu mengalahkan rasa lapar. &lt;br /&gt;Lihatlah! Di tanah gharib  itu kau jadi gelandangan. Ayunan langkahmu selalu gontai musabab lututmu yang selalu gemetar menahan beratnya beban yang kau pikul seorang diri. Perutmu juga terasa melilit dan panas. Kepalamu berat bukan main. Kau mulai suka terbatuk-batuk. Sempurna sudah apa kau cemaskan sejak pertama kali menginjak tanah terik berdebu itu. Kau melanglang serupa orang terusir. Berteman baik dengan trotoar-trotoar dan rasa lapar. Hingga sampailah langkahmu pada bangunan kardus di bawah jembatan Waladhaek yang gagah itu. Di sana kau bertemu dengan Suryani, gadis 17 tahun asal Jombang, yang bernasib sama denganmu atau barangkali lebih buruk. Bisa kau tilik bekas luka memar di jidadnya, juga bekas luka bakar yang menghitam di lengan kirinya. Kabarnya ia kabur karena tak tahan oleh siksaan majikannya. Tak hanya Suryani yang jadi penghuni kolong jembatan angkuh itu. Di sana juga ada Nunung asal Tasikmalaya yang sengaja dibuang majikannya karena memiliki penyakit kulit menjijikan yang konon menular. Ada juga Dwi, Fauziah, dan Jumiati. Semua meiliki kisahnya sendiri-sendiri. Ah, bagimana dengan kisahmu sendiri? Sama mirisnya dengan kisah mereka.&lt;br /&gt;“Mengapa manusia harus lahir ke muka bumi, jika ia tak memiliki hak untuk hidup selayaknya manusia. Dunia memang angkuh.” Bisikmu lembut seperti kabut yang menguapkan aroma racun yang kental.&lt;br /&gt;Begitulah, di kolong jembatan itu kau hidup bersama mereka seperti keluarga. Saling bertukar kata dan saling menghibur. Apa yang mereka makan, itulah yang kau makan. Tapi, selalu saja, ada yang pahit yang membaur bersama hari-harimu, hari-hari kalian. Lihat saja Nunung, tampaknya dia yang paling rapuh menahan beban. Sepanjang siang dan malam yang dilakukanya hanya termenung dan menangis. Badanya kurus karena tak pernah mau makan. Pucat masih tampak di wajahnya meski hampir seluruh kulitnya dipenuhi bintil-bintil merah yang berminyak dan mengelupas. Beberapa kali ia menyalahkan Tuhan yang telah sempurna menyengsarakan hidupnya. Beberapa kali Nunung tampak mengeluhkan rasa perih di ulu hati dan sekujur tubuhnya. Ia menangis tak henti-henti, ingin bertemu dengan ibu-bapak dan sanak keluarganya di kampung halaman. Tapi apa boleh buat. Setelah menangis panjang itu, Nunung tak tampak lagi sampai kau menemukanya terjuntai kaku di tiang rangka jembatan dengan lilitan tambang di lehernya. Ah, haruskah semua ini berakhir memar. &lt;br /&gt;Kau terisak menahan bongkah cadas di dadamu. Kau usap perutmu yang kian hari kian mengembung. Ini salah siapa? Tak ada yang salah. Demi memikirkan semua itu, nyeri di kepalamu kambuh. Badanmu terasa semakin ringkih dan kedinginan. &lt;br /&gt;“Tuhan… kalau memang aku harus mati waktu dekat ini. Jangan biarkan aku mati dalam keterasingan. Izinkan aku mati di pangkuan nenekku, di kampung halamanku.” kau terus terisak sampai suaramu serak dan habis, sampai rasa kantuk yang indah menjemputmu untuk singgah ke alam bawah sadar. Alam di mana mimpi buruk menjadi hal yang lebih indah. Ah, semua mengalir saja seperti air. Kehidupan selalu begitu. Dunia selalu begitu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau gagap terbangun di akhir sepertiga malam, kau rasakan badanmu menggigil bukan main, perutmu terasa sangat mual, begitu pula, kepalamu terasa sangat nyeri dan berat. Kau beranjak dari rumah beratap jembatan itu. Kau semakin menggigil. Kedua gigimu bergemeletak menahan dingin. Kau tatap rembulan pucat yang berlayar ke utara menghindari arakan mendung gelap. Sepi. Teman-temanmu masih pada terlelap, terpasung gelap. Sekali lagi kau tengadahkan wajah ke langit lepas. Kau berusaha mengingat seperti apa warna langit di kampung halamanmu. Sama kah? Di kampungmu, pada detik itu, kau akan mendengar alunan tarhim seperti eufoni  kramat yang menlengking dari petala langit. Kemudian nenekmu akan membangunkanmu untuk mengambil air wudhu. &lt;br /&gt;Entah mengapa, tiba-tiba dadamu penuh sesak, perasaanmu tidak enak. Mungkin kau terlalu merindukan nenekmu, kampung halamanmu. Rasanya kau ingin tertidur lagi, dan tiba-tiba nenekmu datang dan membenarkan letak selimutmu. Ah, tapi perutmu sangat mual, tenggorokanmu sangat perih dan sesak bagai tercekik, bahkan kau terbatuk-batuk dalam. Ada apa lagi dengan tubuh rapuh ini? Beberapa jenak, kau terbatuk-batuk lagi, semakin dalam. Perlahan kau merasa ada yang meleleh dari lubang hidungmu. Kau menyentuhnya. Kau mendapati cairan kental, warnanya merah pekat. Tak kau pedulikan. Kau merebahkan tubuhmu di atas hamparan rumput kering yang mengembun. Matamu menyimpan cermin yang dapat mengundang kupu-kupu yang terpasung rembulan di atas sana. Kau tersenyum menyapa bintang-gemintang yang kesepian. Tiba-tiba kau merasa seperti tertidur di pangkuan nenekmu.]*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Malang, 2009-2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-695896362981354271?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/695896362981354271/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/03/di-kolong-langit-jeddah-yang-pucat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/695896362981354271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/695896362981354271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/03/di-kolong-langit-jeddah-yang-pucat.html' title='Di Kolong Langit Jeddah yang Pucat (Malang Post 6 Maret 2011)'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-qyKiWQmWUCU/TXhz4lmEylI/AAAAAAAAAUg/ruOvhHNNShw/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-4416418684346076323</id><published>2011-03-07T19:19:00.000-08:00</published><updated>2011-03-08T22:46:12.247-08:00</updated><title type='text'>L A R O N (dimuat di KOMPAS 6 Maret 2011)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-fiAE5h9c79E/TXWg29K2UMI/AAAAAAAAAUY/jQJ1WWgWpFc/s1600/laron.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 234px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-fiAE5h9c79E/TXWg29K2UMI/AAAAAAAAAUY/jQJ1WWgWpFc/s320/laron.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581544179189043394" /&gt;&lt;/a&gt;    Sedari pagi hujan terus mericis. Hingga menjelang magrib baru liris, menjadi gerimis-gerimis tipis. Ketika langit mulai gelap, dan lampu-lampu rumah dinyalakan, hujan sudah sempurna reda. Satu dua laron mulai muncul dan berputar-putar mengitari lampu di teras rumah. Semakin lama semakin banyak. Bahkan, beberapa sudah mulai menghambur ke dalam rumah, melewati ventilasi dan celah-celah pintu jendela. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sepengetahuan bapak, aku membuka pintu depan, sedikit, supaya laron-laron itu bisa masuk ke dalam rumah, dan bisa kuajak bermain dan berbincang-bincang. Tak kurang dari satu menit, laron-laron itu sudah memenuhi ruang tamu, dapur, dan kamar-kamar. Berputar-putar berebut cahaya. Sayap-sayap kecil mereka bertebaran di mana-mana bagai potongan-potongan kertas yang sengaja disemburatkan di pesta ulang tahun atau perayaan-perayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berteriak girang sambil meniupi sayap-sayap laron yang luruh ke lantai. Indah sekali. Aku membayangkan saat itu sedang hujan sayap, sayap peri. Tapi, tiba-tiba bapak muncul dari kamarnya dan berteriak-teriak. Aku mengkerut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dasar bocah gak punya otak, pintunya kok malah dibuka. Laronnya masuk semua, Goblok!” teriak bapak sambil menutup pintu depan yang tadi kubuka sedikit. Ia menutupnya dengan setengah membanting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sayapnya itu sulit disapu. Kamu mau nyapu?” kata bapak lagi sambil mendorong kepalaku dengan kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sangat cepat, bapak mematikan semua lampu di dalam rumah. Seketika itu semua gelap. Dan aku berteriak ketakutan, memanggil-manggil ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ada apa tho ini?” terdengar suara ibu, dan klik, ibu kembali menyalakan lampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dalam kamar, bapak berteriak lagi, ”Jangan dinyalakan lampunya! Laronnya biar keluar dulu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tidak menyahut. Ibu segera menggandengku dan membawaku masuk ke dalam kamar. Dari dalam kamarku, aku mendengar bapak mengumpat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kampreeet!! Dibilangin suruh matikan kok….” Dan klik, ruang depan kembali gelap. Hanya lampu kamarku yang menyala. Ibu menutup pintu kamarku rapat-rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ditutup, ya, biar laronnya gak masuk,” kata ibu lembut. Aku mengangguk karena di kamarku sudah ada beberapa laron yang beterbangan mengitari lampu, sebagian hinggap di gorden jendela, dan beberapa—yang sayapnya tinggal dua—berpusing-pusing di lantai. Aku tertawa geli melihatnya. Tapi, mendadak aku jadi ingat ketika bapak memusing-musingkan kepalaku dan mengguyuriku dengan air, beberapa waktu lalu, ketika aku asyik bermain keran dan kemudian mematahkannya. Maka, kembali aku bertanya dengan bahasa mata kepada ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mengapa bapak suka memarahiku, Bu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tersenyum, diusapnya liur yang hampir menetes dari bibirku yang lebar. Ibu mentapku, ”Bapak tidak marah padamu, bapak cuma tak suka kalau rumah kita ini kotor. Sayap-sayap laron itu bikin kotor. Susah disapu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencerna perkataan ibu, dan memanyunkan bibir sebagai pemakluman. Namun, pemakluman itu masih terasa belum tunai, mengingat perlakuan bapak selama ini padaku. Hati kecilku selalu mengatakan bahwa bapak memang tak pernah suka padaku. Lamat-lamat aku teringat pada sebuah malam, di mana bapak dan ibu bertengkar gara-gara aku tidak menghabiskan makan malam. Malam itu bapak sendiri yang mengambilkan porsiku karena waktu itu ibu belum pulang dari pengajian. Bapak mengambilkan porsiku dua kali lebih banyak dari biasanya—yang diambilkan ibu. Malam itu, bapak terus mengawasiku. Padahal sudah hampir setengah jam aku mendiamkan makananku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Habiskan nasinya!” gertakan bapak saat itu membuatku gemetar. Saat itu aku menyesalkan ibu yang tidak pulang-pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sekarang beras mahal!” Bapak terus memelototiku sambil sesekali menggebrak meja. Maka, dengan sangat terpaksa nasi itu kumasukkan ke dalam mulutku. Beberapa kali aku ber-”hoek”, hendak muntah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak semakin geram. Ia mendekatiku dan menjejalkan nasi itu ke mulutku hingga berceceran di lantai. Aku menangis tanpa suara. Saat itulah tiba-tiba ibu datang dan menampik tangan bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa-apaan ini, Pak!?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu membersihkan nasi yang tumpah di bajuku dan segera membawaku masuk ke dalam kamar. Di luar kudengar bapak berteriak-teriak, ganti memarahi ibu. Agak lirih suara ibu, menuntaskan pembelaan. Namun suara bapak semakin menggelegar, ia mengeluarkan sumpah serapah yang tak kupahami artinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudah kubilang, dari dulu, bocah cacat itu dititipkan ke panti asuhan saja. Biar tidak merepotkan kita.” Suara bapak terdengar jelas dari kamarku, disusul suara ibu yang terdengar seperti menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Gusti Allah menitipkan dia buat kita, Pak! Dia anak kita! Satu-satunya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kudengar bapak meneriakkan namaku dengan sebutan bocah idiot, autis, bisu, gagu, dan seterusnya… yang direnteti ungkapan penyesalan seperti dendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali terdengar suara ibu menyela dan meninggi, meminta bapak beristigfar. Kudengar juga ibu mengumpat bapak dengan sebutan ”seperti orang tak tahu agama”. Maka terdengar suara plak, kulit beradu kulit, dan setelah itu sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu mengusap rambutku ke belakang. Kemudian ibu bercerita panjang tentang bapak. Kata ibu, sebenarnya bapak sangat sayang padaku. Hanya saja, bapak tak suka bila aku berbuat nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maka dari itu, kamu tak boleh nakal lagi, yang nurut sama bapak,” kata ibu kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi sangsi pada perkataan ibu, bukankah selama ini aku selalu menuruti perkataan bapak. Bahkan, ketika bapak memintaku mengambil makanan yang telah kubuang di tempat sampah dan memakannya kembali, aku menurutinya. Tentu waktu itu ibu tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Janji, ya!” kata ibu lagi. Aku mengangguk saja hingga ibu mengecup keningku dan beringsut meninggalkan kamarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kamar, aku sudah tidak lagi memikirkan perkataan ibu ataupun perangai bapak padaku. Yang kupikirkan adalah laron-laron itu. Sebenarnya aku berniat membuka jendela kamarku supaya laron-laron di luar bisa turut masuk ke kamarku. Tapi hal itu kuurungkan. Aku takut, kalau membuka jendela kamar termasuk perbuatan nakal yang tidak disukai bapak. Maka aku bermain dengan laron-laron yang ada di kamarku saja. Sebagian besar dari mereka sudah gundul, tanpa sayap. Mereka berjalan beriringan di sudut-sudut lantai. Yang berputar-putar seperti gasing juga masih ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendekati laron-laron itu dan mengajaknya bermain. Tapi, ketika jari telunjukku menyentuh laron-laron itu, mendadak laron-laron itu berhenti bergerak. Kemudian, laron-laron itu mengeluarkan suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami sudah gundul, pesta kami sudah usai. Ternyata pesta kami sangat singkat,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sekarang kalian mau ke mana?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Menemui ajal,” jawab mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jika kami tahu, pesta kami sangat singkat, dan sayap-sayap kami sangat rapuh, kami akan memilih untuk tetap menjadi rayap,” kata laron yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mengapa?” tanyaku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami tak pernah merasa cukup menjadi rayap tanah, kami ingin punya sayap dan terbang bebas menikmati cahaya. Dan inilah yang terjadi….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa yang terjadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamu lihat sendiri. Kami hanya berputar-putar menunggu mati. Hidup kami akan berakhir di perut katak atau cicak. Kalau lebih buruk lagi, kami akan mati terinjak-injak manusia, tak bersisa, dan tak pernah berarti apa-apa. Semoga kamu tidak menjadi seperti kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Menjadi laron?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bukan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Menjadi apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Menjadi makhluk yang tidak pernah puas menerima pemberian Tuhan, anugerah Tuhan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku teringat bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudah! Biarkan kami pergi,” kata laron itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pergi ke mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maut. Kami harus menemui takdir kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau begitu kalian kupelihara saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jangan! Kami sangat bau. Nanti kamu dimarahi bapakmu lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalian kusembunyikan saja di kamarku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam, aku membuka pintu kamar. Berjingkat ke dapur, mengambil rantang plastik di rak piring. Jika bapak atau ibu memergokiku, aku akan bilang kebelet pipis. Tapi bapak ataupun ibu tak memergokiku. Aku berhasil kembali ke kamarku dengan selamat. Kukunci pintu kamarku rapat-rapat. Aku membuka jendela kamarku lebar-lebar, seperti orang lupa. Saat laron-laron dari luar berhamburan ke dalam kamarku, sama sekali aku lupa soal bapak. Yang kutahu hanya bahwa detik itu—saat laron-laron beterbangan menuju kamarku—adalah sebuah pemandangan yang menakjubkan. Kubayangkan kamarku penuh oleh peri-peri kecil yang berkerik lirih dan merdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku senang sekali, malam itu, bapak ataupun ibu tidak kembali ke kamarku. Pasti mereka mengira aku sudah tidur. Padahal, malam itu aku begadang sampai larut malam. Memunguti laron-laron itu dan memasukannya ke dalam rantang plastik. Sayap-sayap yang berceceran di lantai kubersihkan dengan kertas basah yang kulumuri ludah. Kutempelkan kertas basah itu perlahan ke sayap-sayap yang berceceran. Ternyata mudah sekali membersihkan sayap laron. Setelah kamarku bersih. Aku membuang kertas-kertas basah yang penuh sayap itu keluar jendela. Kututup kembali jendela kamarku pelan-pelan. Kututup pula rantang plastik yang penuh laron itu dengan sebuah buku tulis tebal sebelum akhirnya kudorong ke bawah ranjang dan kutinggal tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi sekali ibu sudah membangunkanku. ”Kenapa pintunya kok dikunci?” tanya ibu. Aku menatap ibu sambil mengibaskan tangan. Ibu paham yang kumaksudkan supaya laronnya tidak masuk. Hatiku agak tidak enak membohongi ibu. Tapi aku juga kasihan pada laron-laron itu. Ibu menyuruhku segera mandi. Detik itu aku berdoa semoga ibu tidak menggeledah kamarku. Apalagi bapak. Tapi doaku muspra, tak terwujud. Karena tiba-tiba bapak datang dan mengendus bau kamarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamar ini kok bau laron busuk, ya?” tukasnya. Hidungnya mengendus seperti tikus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku sudah tidak enak. Ibu mengingatkanku kembali untuk lekas-lekas mandi. Aku berjalan ke kamar mandi dengan hati cemas. Aku pun mandi ala kadarnya. Kalau tidak dimandikan ibu, aku memang tak pernah mau mandi memakai sabun. Apalagi gosok gigi. Dan tampaknya, pagi itu ibu masih sibuk membersihkan sayap laron di dapur, kamarnya, dan ruang tamu. Selepas mandi, aku buru-buru ke kamar. Kutengok kolong ranjangku, dan rantang plastik berisi laron yang kututupi dengan buku tulis sudah raib, tak ada di sana. Aku tersentak dan hampir terpeleset ketika tiba-tiba bapak menyeret telingaku dan membawaku ke muka ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lihat ini!” bapak melemparkan rantang plastik berisi laron itu ke depan ibu. Laron-laron itu tumpah dan merayap ke mana-mana. Secepat kilat ibu merapikannya dan membawanya ke dapur. Bapak menyusul ibu ke dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Semalam dia tak tidur; kau lihat pula sana, di bawah jendela kamarnya!” kata bapak lagi. Telingaku terasa nyeri, tapi tangan bapak masih utuh di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau membohongi ibu?” tutur ibu berkabut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai menangis. Air mataku mulai meleleh. Tapi tak seulas suara pun keluar dari mulutku. Ibu meninggalkanku dengan tatapan kecewa, ia berjalan menuju kamarku. Bapak masih menyeret telingaku, menyusul ibu. Di kamar ibu menengok keluar jendela dan menggelengkan kepala beberapa kali. Lantas ibu pergi begitu saja. Tapi matanya merah, seperti mau menangis. Sementara ibu pergi, bapak menghujani pipiku dengan tamparan. Dijambaknya rambutku sebelum akhirnya aku dilempar ke ranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kamar, aku sesenggukan menahan nyeri. Hingga akhirnya ibu datang dengan membawa salep dan sapu tangan. Setelah mengusap wajahku. Ibu menidurkan aku di pangkuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih belum berani keluar kamar dan bertemu bapak, hingga akhirnya ibu menuntunku ke ruang tengah untuk makan malam. Di sana kulirik bapak dengan wajahnya yang dingin seperti batu. Ibu mengambilkan aku nasi dan sayur. Perlahan kutilik satu demi satu lauk-pauk yang terhidang di meja. Hingga mataku mendarat pada sebuah toples berisi rempeyek dengan bintik-bintik hitam. Semula, aku mengira rempeyek yang dibuat ibu adalah rempeyek kedelai hitam. Namun, mendadak bapak berkomentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Rempeyek laronnya gurih sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangkat wajah. Memerhatikan bapak yang tengah lahap mengganyang rempeyek laron. Tak henti-henti bapak mengudapnya. Habis satu, ia ambil lagi dari dalam toples hingga rempeyek dalam toples tinggal separuh. Saksama kuperhatikan mulut bapak yang terus bergerak mengunyah rempeyek laron itu. Kuperhatikan mulut itu, bibir itu, gigi itu, lidah itu. Sungguh sangat menjijikkan. Dalam penglihatanku, bapak sudah menjelma menjadi seekor katak raksasa yang mengunyah serangga sampai sayap-sayapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sadar, kulemparkan piring berisi nasi dan lauk-pauk ke arah katak raksasa yang sedang mengunyah serangga itu. Dan lemparanku tepat mengenai kepalanya. Nasi berceceran di atas meja. Piring jatuh ke lantai, berdentang serak dan pecah menjadi beberapa keping. Tiba-tiba kulihat bapak memegangi kepalanya yang berdarah-darah. Matanya mendelik ke arahku. Mata yang berkilau dan tajam, seperti hendak menikamku.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, Desember 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-4416418684346076323?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/4416418684346076323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/03/l-r-o-n-dimuat-di-kompas-6-maret-2011.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/4416418684346076323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/4416418684346076323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/03/l-r-o-n-dimuat-di-kompas-6-maret-2011.html' title='L A R O N (dimuat di KOMPAS 6 Maret 2011)'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-fiAE5h9c79E/TXWg29K2UMI/AAAAAAAAAUY/jQJ1WWgWpFc/s72-c/laron.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-5430009358242755891</id><published>2011-02-24T17:17:00.000-08:00</published><updated>2011-02-24T17:19:43.476-08:00</updated><title type='text'>ON THE SPOT WRITING CONTEST; FLP Malang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-4J_pTE7sYMk/TWcDjW68w2I/AAAAAAAAAUI/yhEQ_rxwdgU/s1600/pena.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-4J_pTE7sYMk/TWcDjW68w2I/AAAAAAAAAUI/yhEQ_rxwdgU/s320/pena.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5577430569504785250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Assalamualaikum, semua…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Guys, Forum Lingkar Pena (FLP) Malang bikin event lomba menulis fiksi yang lain daripada yang lain! Tantangan kali ini adalah ON THE SPOT WRITING CONTEST!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apaan tuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi gini teman-teman semua datang ke tempat lomba dan menuliskan kreativitas kalian dalam batas waktu yang ditentukan oleh panitia. Dan yang lebih menantang lagi, tema tulisannya bakal ditentukan saat hari H! Weits! Emang bisa gituh nulis dalam waktu sekilat itu? Bisa...bisa... Makanya format fiksi yang digunakan kali ini adalah Flash Fiction alias fiksi yang panjangnya puendek banget. Cuma 1-2 halaman folio. FLP yakin teman-teman pasti sangat kreatif. Jadi tantangan segitu mah kecil, ya toh, ya toh? =D  Sekalian latihan fast writing, menuangkan ide dengan cepat gitu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan dan di mana tempatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetisi ini akan diadakan pada tanggal 6 Maret 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di SKODAM panggung IBF-Islamic Book Fair (dekat pintu masuk). Jam 1 tet (peserta wajib datang sebelum jam 1). Waktu yang diberikan bagi peserta untuk menyelesaikan karyanya adalah 1 jam. Jadi lomba akan dimulai jam 1 dan diakhiri jam 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sampai telat ya, kalau mau ikutan. Soalnya kalo telat nanti waktu pengerjaan tulisan tidak bisa ditambah. Ketentuannya cukup gampang, sebelum hari H daftar dulu via SMS ke CP:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gusti A.P (085649535704) atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intan (085755716956)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…trus pas hari H bayar Rp 10.000,00. Murah kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertas folio sudah disediakan oleh panitia. Teman-teman cukup membawa alat tulis sendiri-sendiri (iya dong, namanya penulis masa ga bawa alat tulis sih hehehe). Setelah selesai, peserta dipersilahkan berkeliling menikmati suasana IBF, tapi jangan meninggalkan tempat karena pengumuman karya pemenang akan dilakukan hari itu juga, satu jam setelah batas waktu lomba berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi don't worry pengumuman hasilnya juga kilat kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiah Pemenang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara 1 : Rp 150.000,00 + Piagam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara 2 : Rp 100.000,00 + Piagam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara 3 : Rp 75.000,00 + Piagam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMUA peserta akan mendapatkan soft drink n sertifikat dari FLP Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, peserta terbatas loh. So, buruan daftar…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Don't miss it, Guys!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu 'alaikum...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Forum Lingkar Pena Cabang Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-5430009358242755891?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/5430009358242755891/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/02/on-spot-writing-contest-flp-malang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/5430009358242755891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/5430009358242755891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/02/on-spot-writing-contest-flp-malang.html' title='ON THE SPOT WRITING CONTEST; FLP Malang'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-4J_pTE7sYMk/TWcDjW68w2I/AAAAAAAAAUI/yhEQ_rxwdgU/s72-c/pena.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-5943286238299446182</id><published>2011-02-21T21:54:00.000-08:00</published><updated>2011-02-21T21:59:33.036-08:00</updated><title type='text'>Lomba Menulis Cerpen Malang Post 2011</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-L1TNLsvizng/TWNQcBHFX7I/AAAAAAAAAUA/T8YFTbGDB-M/s1600/index.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 225px; height: 225px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-L1TNLsvizng/TWNQcBHFX7I/AAAAAAAAAUA/T8YFTbGDB-M/s320/index.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5576389205879513010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Harian Pagi Malang Post Menggelar “Lomba Menulis Cerpen”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lomba dibagi dalam dua kategori:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pelajar SMA/MA/SMK.&lt;br /&gt;2. Mahasiswa dan masyarakat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Lomba ini terbuka untuk semua kalangan di seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;   2. Tema cerpen bebas.&lt;br /&gt;   3. Karya cerpen belum pernah dimuat di media massa, belum pernah menang pada lomba lain, dan tidak sedang diikutkan pada lomba lain pada rentang waktu diadakannya lomba ini.&lt;br /&gt;   4. Diketik di atas kertas ukuran A4, spasi 1,5, panjang 4-8 halaman.&lt;br /&gt;   5. Tidak menuliskan identitas di lembar cerpen, identitas peserta ditulis di lembar tersendiri.&lt;br /&gt;   6. Satu peserta hanya boleh mengikutkan satu judul cerpen.&lt;br /&gt;   7. Tiap peserta membayar biaya pendaftaran Rp 20.000,- dan akan mendapat 1 eksemplar buku kumpulan cerpen Malang Post, Barisan Hujan. Khusus untuk kategori pelajar yang berdomisili di Kota Malang, gratis.&lt;br /&gt;   8. Uang pendaftaran ditransfer ke PT Malang Post Cemerlang Rekening BCA Gatot Subroto No 400 310 3598.&lt;br /&gt;   9. Naskah digandakan 3 rangkap dan dikirim via pos atau diantar langsung disertai bukti transfer asli (peserta membawa fotkopiannya) dan fotokopi indentitas ke harian Malang Post, Jl. Sriwijaya 1-9 Malang u.p. Anita D. Retnowati. &lt;br /&gt;  10. Periode pengiriman naskah tanggal 1 Februari-20 April 2011.&lt;br /&gt;  11. Pengumuman pemenang tanggal 7 Mei 2011 di Aula Perpustakaan Umum Kota Malang sekaligus peluncuran buku kumpulan cerpen Malang Post Barisan Hujan.&lt;br /&gt;  12. Masing-masing kategori akan diambil 3 pemenang setelah sebelumnya dipilih 10 nominasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kategor Pelajar&lt;br /&gt;Juara I Trofi dan uang sebesar Rp 500.000,-&lt;br /&gt;Juara II Trofi dan uang sebesar Rp 300.000,-&lt;br /&gt;Juara III Trofi dan uang sebesar Rp 200.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kategori Mahasiswa dan Umum&lt;br /&gt;Juara I Trofi dan uang sebesar Rp 750.000,-&lt;br /&gt;Juara II Trofi dan uang sebesar Rp 500.000,-&lt;br /&gt;Juara III Trofi dan uang sebesar Rp 350.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juri  Tamu: Sakti Wibowo (Penulis, tinggal di Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keterangan lebih lanjut bisa menghubungi Anita di (0341)7690074 atau Karkono 081 329 317 424.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-5943286238299446182?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/5943286238299446182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/02/lomba-menulis-cerpen-malang-post-201.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/5943286238299446182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/5943286238299446182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/02/lomba-menulis-cerpen-malang-post-201.html' title='Lomba Menulis Cerpen Malang Post 2011'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-L1TNLsvizng/TWNQcBHFX7I/AAAAAAAAAUA/T8YFTbGDB-M/s72-c/index.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-3606654746685245420</id><published>2011-01-31T01:30:00.000-08:00</published><updated>2011-01-31T01:46:02.176-08:00</updated><title type='text'>Kisah Kelam tentang Bangu Taman (dimuat di Surabaya Post 30 Januari 2011)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TUaEWFUNEHI/AAAAAAAAAT0/yXA6Jp4jq0s/s1600/stock-vector-woman-sitting-in-garden-vector-4618939.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 254px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TUaEWFUNEHI/AAAAAAAAAT0/yXA6Jp4jq0s/s320/stock-vector-woman-sitting-in-garden-vector-4618939.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5568283504209105010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Mashdar Zainal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;31 Desember, Pukul 20.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggigil saat melewati gerbang taman ini. Aku berkeliling. Dan semua masih sama persis dengan tahun lalu. Setiap malam pergantian tahun, taman ini selalu tampak lebih cantik. Di seantero taman lilin-lilin dinyalakan. Air mancur di jantung taman bergemericik bagai memilihkan iramanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap malam pergantian tahun, taman Hyde memang selalu ramai dan akan selalu ramai. Penjual kembang api dan trompet keliling. Penjual coklat kacang dan popcorn. Perempuan-perempuan yang tengah sibuk menggelar tikar dan menyiapkan berbagai hidangan. Anak-anak kecil dengan segenggam kembang api di tangan. Sepasang kekasih yang saling berpelukan di sebuah bangku panjang dan tak henti-henti menatap langit. Dan pendar bintang yang selalu berkeriap, seperti percikan kembang api yang menyebar dan tak pernah padam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa satu tahun berlalu. Dari Greenwich aku menyengaja datang malam ini, untuk sebuah kejutan. Aku tahu, malam ini pasti kau akan datang. Dengan jaket woll dan syal merah di leher yang sama seperti kau kenakan tahun lalu. Aku masih ingat, setahun lalu kita duduk berpeluk di sebuah bangku panjang yang terletak paling ujung. Di bawah pohon Maple yang batangnya sangat kurus. Lihatlah, pohon itu sekarang sudah menjulang. Daunya merimbun seperti ribuan telapak tangan yang sedang melambai. Indah sekaligus misterius. Tapi sayang, bangku itu sudah ditempati orang. Dua muda-mudi yang sepertinya tengah di mabuk cinta. Tak apa, di sini masih banyak tempat bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31 Desember, Pukul 21.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus berkeliling. Udara dingin membuat kudukku meremang. Aku berjalan pelan. Menyedekapkan tangan. Mengamati sekeliling taman. Aku juga membeli dua terompet panjang, satu pak kembang api dan cokelat batang yang paling besar. Nanti puklul 00.00 kita akan menyalakan kembang api itu bersama. Meiup terompet. Dan setelah itu kita bisa duduk berhadap-hadapan sambil mengulum cokelat kacang batangan kesukaanmu. Dan aku akan menceritakan semuanya padamu. Kemana saja aku selama ini, kenapa pula aku jarang menghubungimu dan hanya menelponmu sesekali saja… Setelah lama berpisah, kupikir, komunikasi yang terlalu intim akan mengurangi manisnya sebuah pertemuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memutar langkah menuju sudut taman. Aku ingin memastikan, apakah dua muda-mudi yang duduk di tempat yang biasa kita duduki itu sudah pergi atau belum. Kurasa mereka takkan betah duduk disitu berlama-lama. Karena tempat itu berada di paling ujung, paling sudut dan berpapasan langsung dengan Danau Serpentine yang sunyinya seperti menyimpan misteri. Tempatnya agak menyeramkan. Kukira, hanya penyendiri saja yang suka duduk di tempat itu. Tapi sungguh, tempat itu sangat istimewa bagi kita. Barangkali hanya kita yang tahu keistimewaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, dua mudi-mudi itu merebut bangku kenangan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31 Desember, Pukul 22.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam bertamba malam. Tapi kenapa kau belum datang. Aku yakin malam ini kau datang. Aku masih ingat, tahun lalu, di taman ini kau mengatakan, hanya orang-orang bodoh yang melewatkan malam pergantian tahun di taman Hyde begitu saja. Katamu, perayaan akhir tahun (barangkali maksudmu awal tahun) adalah masih serangkaian dengan perayaan natal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau dapat dari mana teori semacam itu?” aku menyelamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Setiap orang, ketika mengucapkan Happy Cristmast selalu diakhiri dengan ucapan Happy New Years, ya, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku manggut-manggut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Menurutmu, apa hubunganya Natal dan Tahun baru? Kupikir, itu hanya kebetulan saja. Waktunya hampir bersamaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, kau salah. Sebentar, sebentar… apa kau percaya bahwa sinterklas itu ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sewaktu kecil aku percaya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang aku bukan anak kecil lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meski bukan anak kecil, aku tetap percaya kalau Sinterklas itu ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buktinya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perayaan akhir tahun ini. Setiap akhir tahun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa hubunganya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini kado susulan dari Sinterklas. Untuk semua orang yang belum mendapatkan hadiah darinya. Kau senang, kan, dengan kado ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berarti sinterklas tidak adil, dong!?”p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apanya yang tidak adil?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka yang sudah dapat hadiah juga merayakan perayaan akhir tahun. Berarti hadiah mereka dobel dong!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak masalah, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memilih diam. Menghentikan perdebatan kita. Aku tahu, jika ini kita lanjutkan, takkan ada habisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau diam?” kau balas bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, tidak apa-apa. Barangkali kau benar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali mendekapmu. Kuacungkan telunjukku ke langit. Di sana, satu dua kembang api mulai dinyalakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara letusan kembang api membuatku terantuk dari lamunan. Waktu terus berjalan. Baru kusadari kau tak ada di sampingku. Kau belum datang. Tidak apa, masih ada waktu satu jam lebih. Pasti kau datang. Bukankah hanya orang bodoh saja yang melewatkan perayaan malam pergantian tahun di taman ini. Dan aku sangat tahu, kau bukan tipe orang semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31 Desember, Pukul 23.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutengok alrojiku sudah menunjukkan pukul 23.00 . Aku mulai gelisah. Aku berjalan mengelilingi taman. Seperti orang hilang (atau kehilangan?). Beberapa kali aku melirik bangku itu. Dua mudi-mudi itu masih di sana. Ah, jangan-jangan kau sudah datang, dan karena bangku itu telah ditempati orang, lalu kau pergi mencari tempat lain, bangku lain. Ya, aku yakin sekali, pasti kau sudah datang, sudah ada di taman ini. Tapi di mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang di taman ini jumlahnya ada ratusan, bahkan ribuan. Satu-satunya tempat yang bisa mempertemukan kita adalah bangku itu. Tapi bangku itu telah di tempati orang. Ini tempat umum, rasanya tidak lucu jika aku mengusir muda-mudi itu hanya karena bangku yang mereka tempati adalah bangku yang biasanya kita tempati. Ini hampir pukul 00.00. Apakah aku harus menghubungimu? Baiklah, tak ada salahnya aku memastikan apakah kau sudah berada di taman ini atau belum. Sebaris pesan pendek akhirnya kukirimkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kabarmu malam ini, Sayang? Sekarang kau di mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit, sepuluh menit, belum ada balasan. Kutelpon, tak kau angkat. Aku mulai khawatir. Apa kau sedang sakit? Jam sudah menunjukan pukul 23.30. Aku menelpon ke HP ibumu. Kata ibumu kau berangkat ke taman sejak sore tadi. Kutanyakan, kau berangkat dengan siapa. Kata ibumu, kau berangkat seorang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia bilang, dia menunggu seseorang yang akan datang dari Greenwich, di sana.” Kata ibumu lagi. Aku yakin, orang yang kau maksud adalah aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera kututup teleponku setelah mengucapkan terima kasih. Aku kembali mengelilingi taman selebar puluhan hektar itu. Beberapa menit lagi, hari akan berganti nama baru. Bulan akan kembali ke satu. Tahun akan berganti dengan tahun yang baru. Dan kita harus merayakannya bersama. Seperti tahuntahun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus mengayunkan kaki. Memperhatikan gadis-gadis yang duduk seorang diri. Gadis-gadis yang berjalan seorang diri. Dan aku tak menemukanmu. Menit berjalan semakin cepat. Detik-detik pergantian tahun sudah di depan mata. Kulihat orang-orang di sekelilingku sudah bersiap-siap meniup terompet dan menyalakan kembang api. Aku masih sibuk mencarimu. Dan aku hampir putus asa. Maka kuputuskan untuk kembali ke bangku paling ujung, bangku yang biasa kita tempati. Barangkali muda-mudi pengacau itu sudah pergi. Dan kau sudah duduk di sana seorang diri, menungguku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Januari, Pukul 00.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat lima menit sebelum pukul 00.00, aku sudah sampai di sudut taman, beberapa meter dari bangku itu. Dua mudi-mudi itu masih di sana. Mereka melepaskan pelukannya satu sama lain, lalu berdiri dengan terompet yang masih di apit di ketiak masing-masing. Mereka berdiri berhadap-hadapan. Yang laki-laki memegang beberapa kembang api yang siap dilesatkan. Yang perempuan, mulai menyalakan api dari korek api kecil. Hari, bulan, dan tahun akan segera berganti dalam hitungan detik. Aku masih tersengal-sengal. Lumat dalam kekecewaan yang menyergap begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembilan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua... dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jentik api mulai menyala dari korek api kecil itu, menyulut kembang api yang mulai memercikkan api-api kecil. Beberapa saat sebelum kembang api itu melesat ke langit. Tampak jelas wajah gadis itu oleh cahaya kembang api. Gadis itu sangat cantik. Tawanya, picing matanya, garit lesung pipinya, benar-benar mirip denganmu. Tentu saja, karena gadis itu bukan orang lain. Gadis itu kau. Benar benar kau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneka rupa kembang api mulai memenuhi langit. Taman Hyde terasa riuh. Suara terompet, letusan kembang api, orang-orang berteriak. Semua melebur. Bersatu untuk mempecundangiku. Kembang api, terompet, cokelat, satu-persatu luruh dari genggamanku. Aku masih berdiri di tempatku. Membeku. Kaku. ***&lt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Madiun, akhir Desember 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-3606654746685245420?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/3606654746685245420/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/01/kisah-kelam-tentang-bangu-taman-dimuat.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/3606654746685245420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/3606654746685245420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/01/kisah-kelam-tentang-bangu-taman-dimuat.html' title='Kisah Kelam tentang Bangu Taman (dimuat di Surabaya Post 30 Januari 2011)'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TUaEWFUNEHI/AAAAAAAAAT0/yXA6Jp4jq0s/s72-c/stock-vector-woman-sitting-in-garden-vector-4618939.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-7298580585954819989</id><published>2011-01-25T23:28:00.000-08:00</published><updated>2011-01-25T23:34:23.283-08:00</updated><title type='text'>Lomba Penulisan Cerita Pendek Islami Lazuardi Birru</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TT_OAQF5ZcI/AAAAAAAAATs/F1Q55jU61LI/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 278px; height: 181px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TT_OAQF5ZcI/AAAAAAAAATs/F1Q55jU61LI/s320/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5566394168168244674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi persembahan Lazuardi Birru, kali ini kami ingin merangkul teman-teman yang memiliki kemampuan dalam bidang menulis. Tapi tak menutup kemungkinan untuk teman-teman yang ingin ikut berpartisipasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lomba ini terbuka untuk pelajar dan mahasiswa (usia 18-24 tahun)&lt;br /&gt;Persyaratan peserta:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Peserta berkewarganegaraan Indonesia (WNI)&lt;br /&gt;   2. Peserta beragama Islam dari berbagai suku dan latar belakang.&lt;br /&gt;   3. Peserta berusia 18-24 tahun per tanggal 21 Januari 2011.&lt;br /&gt;   4. Peserta tidak dikenai biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan Lomba:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Lomba ini bertemakan : a. perjuangan di jalan Allah, b. Islam rahmat seluruh umat, c. Mengikuti jejak Rosul.&lt;br /&gt;   2. Peserta yang akan mengikuti lomba dapat memilih satu dari tema lomba .&lt;br /&gt;   3. Lomba ini diselenggarakan oleh Lazuardi Birru. &lt;br /&gt;   4. Peserta diperbolehkan membuat cerpen dengan ketentuan: a. Cerpen yang dibuat merupakan karya sendiri, belum pernah dilombakan, atau belum pernah dipublikasikan. b. Cerpen yang dibuat tidak boleh menyinggung unsur suku, ras, dan, kepercayaan orang lain. c. Cerpen dibuat dengan ketentuan: huruf: arial, besar huruf: 11, jarak spasi 1,5, format MS. Word, total kata 1.000- 1.500 kata, besar file: 200 kb (maksimal) d. Peserta diperbolehkan mengirimkan cerpen lebih dari satu. e. Cerpen yang dibuat harus disertai dengan penjelasan konsep atau ide dari cerpen tersebut (terlampir pada formulir pendaftaran)&lt;br /&gt;   5. Cerpen harus masuk ke Lazuardi Biru paling lambat 28 Februari 2011.&lt;br /&gt;   6. Pengumuman pemenang lomba akan diumumkan pada tanggal 10 Maret 2011.&lt;br /&gt;   7. Peserta dapat mengikuti lomba ini dengan cara mengirimkan hasil karyanya dalam format MS.Word melalui email: Lazuardi Biru (kompetisi@lazuardibirru.org) dengan dilampiri oleh: a. formulir pendaftaran. b. scan kartu identitas. c. hasil karya cerpen.&lt;br /&gt;   8. Setiap peserta hanya diperbolehkan untuk mengirimkan cerpen dengan besaran file maksimal 200 kb. Lebih dari itu Lazuardi Birru berhak untuk tidak menerima/ mengikutsertakan.&lt;br /&gt;   9. Untuk para peserta diwajibkan menjadi member di website www.lazuardibirru.org dan Fanspage Islam Didadaku (www.facebook.com/islamdidadaku)&lt;br /&gt;  10. Penilaian bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat.&lt;br /&gt;  11. Peserta yang telah mengirimkan karyanya akan dikonfirmasi secara resmi oleh Lazuardi Birru dan dipublikasikan di web www.lazuardibirru.org.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria Penilaian:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Orisionalitas karya.&lt;br /&gt;   2. Kesesuaian tema.&lt;br /&gt;   3. Kedalaman eksplorasi tema serta komunikatif dalam menyampaikan pesan.&lt;br /&gt;   4. Inovasi serta kreativitas penulisan cerita pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiah yang diberikan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Juara 1 Rp 5.000.000,00&lt;br /&gt;   2. Juara 2 Rp 4.000.000,00&lt;br /&gt;   3. Juara 3 Rp 3.000.000,00&lt;br /&gt;   4. Juara 4 Rp 2.000.000,00&lt;br /&gt;   5. Juara 5 Rp 1.000.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan Pengiriman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Pengiriman dilakukan setelah semua persyaratan keikutsertaan dipenuhi.&lt;br /&gt;   2. Karya diterima paling lambat 28 Februari 2011 pukul 23:59 WIB.&lt;br /&gt;   3. Lewat dari tanggal pengiriman tersebut maka peserta dinyatakan tidak mengikuti lomba.&lt;br /&gt;   4. Peserta yang tidak mengikuti registrasi untuk menjadi member Lazuardi Birru, baik diwebsite maupun Fase page Islam Didadaku, dan tidak melampiri formulir pendaftaran, serta tidak menyertakan identitas diri yang masih berlaku maka dianggap batal keikutsertaaan lombanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain-Lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Hasil karya dikirimkan peserta menjadi hak milik panitia.&lt;br /&gt;   2. Peserta dapat melakukan konfirmasi, meminta konfirmasi, dengan mengajukan pertanyaanm ke kompetisi @lazuardibirru.org atau menghubungi sekretariat Lazuardi Birru di nomor (021) 97168961.&lt;br /&gt;   3. Setiap perubahan informasi atau apa pun akan diumumkan melalui website resmi www.lazuardibirru.org atau page facebook Islam Di Dadaku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-7298580585954819989?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/01/lomba-penulisan-cerita-pendek-islami.html' title='Lomba Penulisan Cerita Pendek Islami Lazuardi Birru'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/7298580585954819989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/01/lomba-penulisan-cerita-pendek-islami.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/7298580585954819989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/7298580585954819989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/01/lomba-penulisan-cerita-pendek-islami.html' title='Lomba Penulisan Cerita Pendek Islami Lazuardi Birru'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TT_OAQF5ZcI/AAAAAAAAATs/F1Q55jU61LI/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-6389063971869104213</id><published>2011-01-21T00:50:00.000-08:00</published><updated>2011-01-21T00:55:02.264-08:00</updated><title type='text'>Lomba Cerpen Oleh Guru 2011</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TTlJc_JvqRI/AAAAAAAAATk/aPBI-3ug-80/s1600/sygxmngk.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TTlJc_JvqRI/AAAAAAAAATk/aPBI-3ug-80/s320/sygxmngk.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5564559576930429202" /&gt;&lt;/a&gt;Deadline: 31 Maret 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu-Ibu Guru dan Bapak-Bapak Guru yang kami hormati!&lt;br /&gt;Menyambut Hari Ulang Tahun Ke-38 Majalah Bobo, tanggal 14 April 2011 nanti, Majalah Bobo kembali menyelenggarakan Lomba Mengarang Cerpen oleh Guru. Kami mengundang Ibu dan Bapak Guru sekalian untuk ikut serta dalam lomba ini.&lt;br /&gt;Majalah Bobo berharap, karya Ibu dan Bapak Guru bisa memberikan hiburan, sekaligus panduan nilai moral kepada anak dalam kehidupan sehari-hari. Tema cerpen bebas. Boleh tentang apa saja. Yang penting cerita itu indah, menarik, dan sesuai untuk anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk teman-teman pembaca Bobo, tolong, sampaikan pengumuman ini kepada Ibu dan Bapak Guru di sekolahmu, di sekolah temanmu, atau di sekolah saudaramu. Terima kasih, ya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat Lomba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Lomba ini untuk para guru.&lt;br /&gt;   2. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar.&lt;br /&gt;   3. Naskah harus asli, bukan terjemahan, saduran, atau mengambil ide dari karya lain yang sudah ada.&lt;br /&gt;   4. Naskah belum pernah diterbitkan di media massa, (cetak maupun elektronik), dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba lain.&lt;br /&gt;   5. Tema bebas, asalkan sesuai untuk anak.&lt;br /&gt;   6. Atas karya yang menang, Redaksi Bobo berhak menerbitkannya di Majalah Bobo, mengumumkan/memperbanyak, dan mewujudkannya kembali dalam format digital maupun non digital yang tetap merupakan bagian dari Majalah Bobo.&lt;br /&gt;   7. Atas naskah yang tidak menang lomba tetapi memenuhi syarat untuk diterbitkan, Redaksi Bobo berhak menerbitkannya di Majalah Bobo, mengumumkan/memperbanyak, dan mewujudkannya kembali dalam format digital maupun non digital yang tetap merupakan bagian dari Majalah Bobo. Penulis akan mendapat honor atas pemuatan naskah tersebut.&lt;br /&gt;   8. Naskah yang masuk menjadi hak Redaksi dan tidak dikembalikan.&lt;br /&gt;   9. Keputusan juri mengikat dan tidak bisa diganggu gugat.&lt;br /&gt;  10. Hadiah untuk pemenang sudah termasuk honorarium pemuatan di Majalah Bobo maupun segala alih bentuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan Teknis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah cerpen.&lt;br /&gt;   2. Naskah diketik di kertas berukuran folio dengan jarak 2 (dua) spasi. Panjang tulisan maksimal 3 halaman.&lt;br /&gt;   3. Lampirkan di setiap naskah: biografi singkat penulis, surat keterangan dari Kepala Sekolah serta cap sekolah, fotokopi KTP, nomor telepon rumah/hp, nomor rekening bank, dan selembar foto terbaru ukuran kartu pos (3R).&lt;br /&gt;   4. Naskah dimasukkan ke dalam amplop. Tuliskan: Lomba Mengarang Cerpen Anak oleh Guru di sudut kiri atas amplop.&lt;br /&gt;   5. Karya dikirimkan ke: Panitia Lomba Mengarang Cerpen Anak oleh Guru, Redaksi Majalah Bobo, Jl. Panjang No. 8A, Jakarta 11530.&lt;br /&gt;   6. Karya peserta diterima panitia paling lambat pada tanggal 31 Maret 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Juara I: Rp8.000.000,00 (delapan juta rupiah)&lt;br /&gt;    * Juara II: Rp6.500.000,00 (enam juta lima ratus ribu rupiah)&lt;br /&gt;    * Juara III: Rp5.500.000,00 (lima juta lima ratus ribu rupiah)&lt;br /&gt;    * 10 (sepuluh) pemenang harapan, masing-masing berhadiah Rp1.000.000,00.&lt;br /&gt;    * (satu juta rupiah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain-Lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Pengumuman Pemenang akan dimuat di Majalah Bobo No. 5/XXXIX, yang terbit tanggal 12 Mei 2011.&lt;br /&gt;   2. Hadiah akan dikirim melalui transfer lewat bank.&lt;br /&gt;   3. Pemenang akan mendapat surat pemberitahuan langsung dari Majalah Bobo, dan tidak melalui agen/perantara lain.&lt;br /&gt;   4. Waspadalah dengan penipuan yang berkedok ingin membantu/mengurusi pemenang. Jangan pernah melayani permintaan transfer uang sedikit pun. Kalau ada hal yang mencurigakan, segeralah menelepon Redaksi Majalah Bobo: (021) 5330150, (021) 5330170, pesw. 33201, 33206.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-6389063971869104213?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/6389063971869104213/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/01/lomba-cerpen-oleh-guru-2011.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/6389063971869104213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/6389063971869104213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/01/lomba-cerpen-oleh-guru-2011.html' title='Lomba Cerpen Oleh Guru 2011'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TTlJc_JvqRI/AAAAAAAAATk/aPBI-3ug-80/s72-c/sygxmngk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-671595199153983104</id><published>2011-01-12T00:10:00.000-08:00</published><updated>2011-01-12T00:13:12.158-08:00</updated><title type='text'>Penari Topeng (dimuat di Malang Post 5 Desember 2010)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS1iepX53CI/AAAAAAAAASM/3QP7dBXEu-0/s1600/155696_1506759834381_1395854374_31223212_2709725_a.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 125px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS1iepX53CI/AAAAAAAAASM/3QP7dBXEu-0/s320/155696_1506759834381_1395854374_31223212_2709725_a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5561209393514142754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Mashdar Zainal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika gendang dan rebana mulai ditalu, dan syair-syair mulai dilantunkan, lelaki itu pun mulai beranjak dari duduknya.  Sejenak ia membungkuk, memberi penghormatan kepada penonton, lantas ia mulai menggerakkan jari-jarinya yang lentik. Selendang tipis yang melilit di pinggangnya ia angkat perlahan, seolah hendak terbang. Ia pun mulai menari. Tarian yang begitu anggun. Lihat! Gerak tarinya selentik jari-jemarinya. Kakinya yang tertutup celana hitam hingga separuh betis juga tampak elok. Tak seperti kaki laki-laki. Kakinya begitu putih, seputih tanah botak yang menghampar di puncak  Pawitra. Siapa gerangan lelaki anggun itu? Bagaimana rupa wajahnya? Benarkah ia seorang lelaki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Raden Inu Kertapati benar-benar dibuat penasaran oleh penari itu. Penari kentrung keliling yang selalu menari mengenakan topeng. Cukup aneh memang. Topeng itu tak pernah lepas dari wajahnya, bahkan ketika ia usai menari. Beberapa kali Raden Inu Kertapati mendekatinya—untuk sekedar bertegur sapa dan menyatakan kekaguman akan tariannya—namun  Raden Inu Kertapati tak pernah mendapat kabar lebih. Lelaki bertopeng itu selalu bicara di balik topengnya. Hanya tampak kedua matanya yang berkerling-kerling ketika bicara. Ia mengaku bernama Warga Asmara, seorang pengembara dari negeri antahberantah yang kebetulan singgah di Kahuripan. Ia bercerita bahwa hari-harinya ia habiskan dengan menghibur warga, menyampaikan pesan-pesan kehidupan lewat seni kentrung, dari desa ke desa. Setiap desa akan ia singgahi barang sehari-dua hari, begitu ia bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            “Tapi, seingatku sudah hampir satu minggu kau singgah di Kahuripan. Aku senang kau betah di desa ini, menghibur warga dengan pertunjukan elokmu itu. Menyampaikan kearifan lewat syair dan tarianmu.” Raden Inu Kertapati terus menatap wajah bertopeng itu. Matanya memicing seperti mencerna sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf. Kenapa Raden memandangi saya seperti itu?” Warga Asmara mulai merasakan kecemasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa, ya? Kok rasa-rasanya aku pernah mengenalmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Warga Asmara terdiam. Ia merasa bahwa Raden Inu Kertapati sedang menggali sesuatu tetang dirinya. “Oh, tentu Raden. Gambuh macam kami ini memang acap berlalu lalang di sembarang tempat. Jadi, tak heran kalau Raden merasa pernah mengenal saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Raden Inu Kertapati manggut-manggut, menyepakati pendapat Warga Asmara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            “Oh, tiba-tiba aku memikirkan sesuatu.” Raden Inu Kertapati kembali mengangkat suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            “Ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            “Sesekali kau harus datang ke balai istana. Orang-orang istana juga butuh hiburan. Aku yang mengundangmu. Bagaimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            “Saya? Ke istana Kahuripan?” Warga Asmara tercekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            “Iya. Kau dan grup kentrungmu yang setia itu. Bagaimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Bagai mimpi. Raden Inu Kertapati memintanya untuk datang ke istana dan menghibur orang-orang istana. Tawaran yang menggiurkan. Tapi… Warga Asmara punya sebuah alasan untuk menolak tawaran itu. Alasan yang tak mungkin bisa ia paparkan pada Raden Inu Kertapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            “Jika kau menolak untuk datang ke istana, tolong berikan aku alasan yang tepat. Soal bayaran bisa dirundingkan, bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            “Bukan itu Raden.” Mulut Warga Asmara seperti tersekap oleh topengnya. Dari balik topengnya ia menilik senyum kemenangan yang menyimpul di bibir Raden Inu Kertapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            “Oh, ya, maaf, satu lagi, apa kau keberatan jika kuminta untuk membuka topeng?” tutur Raden Inu Kertapati samar-samar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Warga Asmara tergelak, “O, kalau untuk yang satu ini, sepertinya saya akan mengecewakan Raden. Maaf.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            “Jenaklah, Warga Asmara! Aku takkan memaksamu.” Raden Inu Kertapati membenamkan sedikit kekecewaanya. Rasa penasarannya bertambah-tambah. Mungkinkah ia sosok Batara yang turun dari langit untuk membenahi kehidupan zaman yang koyak-moyak ini, dengan pesan-pesan bijak dalam tari-syairnya? Ataukah ia seorang mata-mata dari raja Daha, yang diutus untuk mengawasi perilakunya terhadap Galuh Ajeng, istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             Memang fatal pertautan hati yang tak didasari budi bahasa, yang tak dilandasi oleh cinta. Meski lepas zaman berbulan-bulan Galuh Ajeng resmi menjadi istrinya, Raden Inu Kertapati sama sekali tidak menyentuhnya. Ia tak bisa. Tak akan bisa. Bagian hatinya (yang) untuk memanjakan wanita telah raib bersama hilangnya Galuh Chandra Kirana setahun lalu. Hanya Galuh Chandra Kirana satu-satunya gadis yang mampu menggetarkan hatinya. Suaranya, tutur lakunya, senyum tulusnya, benar-benar sikap seorang putri yang sebenar-benarnya putri. Bahkan membayangkan wajahnya saja hati Raden Inu Kertapati sudah bergetar hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Meski bagaimanapun, tak ada manusia yang tahu teka-teki dari Sang Hidup. Begitu saja Galuh Chandra Kirana lenyap bagai tertelan bumi. Lantas ia dipaksa menikah dengan saudara tiri Galuh Chandra Kirana, Galuh ajeng. Siapa pula yan membisikan mantra ke palung benaknya. Begitu saja ia menerima Galuh Ajeng sebagi istrinya. Namun tetap saja, urusan hati bukanlah urusan yang bisa direkayasa. Lambat laun Raden Inu Kertapati pun insyaf, bahwa seseorang yang bisa menyematkan ketenangan di bilik hidupnya hanya Galuh Chandra Kirana seorang. Tak ada yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Berbulan-bulan, dengan sembunyi-sembunyi Raden Inu Kertapati melakukan pencarian, ke desa-desa, ke kampung-kampung asing di tengah belantara, bahkan hingga ke kerajaan-kerajaan jauh. Betapapun keras pencarian Raden Inu Kertapati, Galuh Chandra Kirana tak kunjung ia temukan. Hanya saja, satu hal yang ia yakini: detak jantungnya yang terus membunga. Ia benar-benar masih menyimpan decak-decak itu. Decak-decak yang mengabarkan bahwa sebagian hatinya masih nyata. Bukankan dua hati yang saling berkait itu tak ubahnya dua kutub magnet yang saling berinteraksi satu sama lain? Mereka hanya terpisah ruang. Raden Inu Kertapati yakin, bahwa suatu saat cinta yang tulus serupa itu, pasti akan dipertemukan. Hanya urusan waktu saja.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Warga Asmara dan iring-iringan grup kentrung telah singgah di istana Kahuripan. Raden inu kertapati meluangkan sebuah kamar untuk-tamunya itu. Warga Asmara harus benar-benar mempersiapkan dirinya. Mulai malam ini hingga dua atau tiga malam ke depan ia akan tampil di depan para punggawa istana. Ia bukan tampil di tengah kerumunan warga. Jadi, ia harus menyuguhkan penampilan terbaiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali waktu, Warga Asmara dan grup kentrungnya berunding mengenai lagu dan lakon yang hendak mereka tampilkan. Raden Inu Kertapati pun telah mengumumkan kepada para punggawa dan semua pekerja-pekerja di istana, bahwa tiga hari ke depan akan ada hiburan kentrung yang manggung di balai istana. Mulai dari pejabat tinggi hingga tukang rawat taman, semua dipersilahkan hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, malam itupun pertunjukan dimulai. Para punggawan dan pekerja kerajaan telah berkumpul dibalai pertunjukan. Warga Asmara dan grup kentrungnya mulai beraksi. Gendang mulai ditabuh. Syair-syair mulai dilantunkan. Dan Warga Asmara pun siap dengan gerak tarinya. Dua kaki Warga Asmara mulai bergeser, mengangkang, serupa mengambil kuda-kuda. Kedua tangannya mulai terangkat dan meliuk-liuk, lehernya  mematah ke kanan dan ke kiri, sementara kedua matanya mengerjap-kerjap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi Raden Inu Kertapati terpesona dengan lantunan itu, dengan tarian itu. Bukan hanya Raden Inu Kertapati, semua penonton pun tampak terperangah menyaksikan keluwesan Warga Asmara dalam menari. Tak sembarang laki-laki bisa melentikan tarian dengan begitu lihainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari balik topengnya, Warga Asmara dapat menyaksikan orang-orang bersorak, mengagumi lelakunya di atas panggung. Dari balik topengnya pula, ia bisa dengan leluasa menatap Raden Inu Kertapati yang duduk di garda paling depan. Ia melihat Raden Inu Kertapati tak berjeda kedip menatap dirinya. Ahai, tiba-tiba dadanya berdesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             Raden Inu Kertapati yakin sekali mengenal sosok itu, sosok yang berkelebat dalam kepalanya namun sangat sulit untuk ia telusuri. Benar-benar ada sesuatu dalam diri penari topeng itu. Sesuatu yang muncul tenggelam dalam benaknya. Rasa penasarannya akan sosok Warga Asmara benar-benar memuncak ketika dirasainya ia mulai terpesona pada sosok penari itu. Maka, seusai pertunjukan, Raden Inu Kertapti mengundang Warga Asmara untuk makan malam bersama. Ia berharap, dengan cara itu Warga Asmara mau membuka topengnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Warga Asmara pun menghadiri undangan itu, dengan topeng yang masih menempel di wajahnya. Beberapa punggawa kerajaan menatapnya dengan tatapan aneh. Raden Inu Kertapati, Istrinya, Warga Asmara, dan beberapa punggawa kerajaan telah duduk melingkari meja makan yang megah. Berbagai macam hidangan dan buah-buahan telah disiapkan. Setelah berbincang-bincang ringan, dan Raden Inu Kertapati memberikan mukaddimahnya, makan malam pun dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Para hadirin mengambil porsinya masng-masing dan mulai menyantapnya. Raden Inu Kertapati terus melirik Warga Asmara, berharap melihat Warga Asmara melepas topengnya perlahan-lahan. Sementara Warga Asmara yang sedang diawasi tidak sadar kalau ia sedang diawasi. Setelah Warga Asmara menyelesaikan menu yang dipilihnya, ia duduk agak jenak, dengan perlahan ia mulai menyingkap topeng kayu yang menutupi wajahnya. Raden Inu Kertapati sudah berdebar-debar, tak sabar  ingin meihat wajah penari itu yang sebenarnya. Namun sungguh disayangkan, Warga Asmara hanya mengangkat topengnya sebatas mulut. Raden Inu kertapati hanya mampu menelanjangi bibir Warga Asmara yang begitu indah untuk ukuran bibir laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kau yakin tidak ingin melepas topengmu, Warga Asmara?” telisik Raden Inu Kertapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            “Segala Maaf saya haturkan, Raden.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Raden Inu Kertapati tersenyum kecewa. Rasa penasarannya akan wajah yang tersembunyi dibalik topeng itu meletup-letup. Rasa penasaran yang menggelayutinya beberapa hari terakhir ini kini berubah menjadi kecurigaan. Pasti ada sesuatu yang tidak beres, pikir Raden Inu Kertapati. Mana mungkin ada seseorang yang begitu kukuh mempertahankan kedok kalau tidak ada apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tengah malam, diam-diam Raden Inu Kertapati menjadi penyusup di istananya sendiri. Ia mengendap-endap serupa maling. Ia berjingkat mendekati kamar tamu, dimana ia mempersilahkan Warga Asmara dan rekan-rekannya untuk beristirahat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam bertambah malam. Sepi berpadu-kawin dengan larut. Hanya suara-suara serangga malam yang begitu riuh, menguapkan nada-nada kesunyian. Dari lubang pintu, ia mengintai kamar itu. Pepohonan dan semak-semak melur yang tumbuh di depan kamar seolah menyempurnakan pengintaiannya. Tiba-tiba Raden Inu Kertapati merasa ada yang aneh dengan dirinya, mengendap-endap di depan kamar tamu seperti seorang pengecut. Betapapun gejolak perasaannya bercampur baur. Ia mengabaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus ditiliknya kamar itu dari luar, dari lubang pintu. Raden Inu Kertapi tergelak dan hampir berteriak ketika sosok-sosok yang terbaring di sana, di dalam kamar itu, bukan lagi sekelompok grup kentrung bertopeng yang gagah—yang ia jumpai sore tadi, melainkan perempuan-perempuan yang terbaring rapi dengan rambut-rambut panjang memburai. Raden Inu Kertapi masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya, ia malah merinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari balik lubang pintu, mata Raden Inu Kertapati terus menyalak mencari-cari sosok Warga Asmara. Hingga matanya mendarat pada seorang gadis yang masih terduduk di ranjangnya, menekuni sebuah boneka bergaun kain emas di tangannya. Bahu gadis itu berguncang-guncang seperti meratap. Tiba-tiba lutut Raden Inu Kertapati gemetar dan terasa lumpuh. Ia benar-benar hapal dengan dengan boneka yang dipegang gadis itu. Boneka yang ia hadiahkan untuk Galuh Chandra Kirana beberapa tahun lalu.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                                                                                         Madiun, 3 Juni 20101&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pawitra: Nama lain dari gunung Penanggungan, sebuah gunung merapi tidur yang terletak di Mojokerto Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Asamara: Nama samaran dari Galuh Chandra Kirana, ketika ia menyamar menjadi seorang lelaki. Galuh Chandra Kirana juga pernah menyamar dengan nama Panji Sumirang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentrung: Sebuah kesenian dari Jawa Timur yang berbentuk nyanyian, berisi cerita, sindiran, kritik, dsb. Yang diiringi dengan rebana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambuh: Sebuah kesenian berbentuk total theater karena di dalamnya terdapat jalinan unsur seni suara, seni drama &amp; tari, seni rupa, seni sastra, dan lainnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-671595199153983104?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/671595199153983104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/01/penari-topeng-dimuat-di-malang-post-5.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/671595199153983104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/671595199153983104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2011/01/penari-topeng-dimuat-di-malang-post-5.html' title='Penari Topeng (dimuat di Malang Post 5 Desember 2010)'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS1iepX53CI/AAAAAAAAASM/3QP7dBXEu-0/s72-c/155696_1506759834381_1395854374_31223212_2709725_a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-5558688058603306384</id><published>2010-11-04T01:32:00.000-07:00</published><updated>2010-11-04T01:33:30.788-07:00</updated><title type='text'>40 Cerita Kiriman Dajjal</title><content type='html'>Oleh: Mashdar Zainal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjual Daging&lt;br /&gt;Aku, sebagai pelanggan setiamu merasa sedikit kecewa. Sudah sebulan  ini kau tidak lagi berjualan daging  seperti biasanya. Padahal daging yang kau jajakan terkenal murah dan segar. Maka iseng-iseng aku main ke rumahmu. Kata istrimu, sudah genap tiga minggu kau meringkuk di sel tahanan, karena kasus pembunuhan. Kata istrimu juga, kau sudah membunuh beberapa pelanggan setiamu.&lt;br /&gt;“Dia memutilasi korbannya, dan menjual dagingnya.” Lirih istrimu. Mendengar kata mutilasi, aku jadi ingat bahwa sampai sekarang kepala dan paha kiriku belum ditemukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boneka&lt;br /&gt;Karena cemburu, ia membakar boneka hadiah ulang tahun dari kekasihnya. Esoknya ia mendapat kabar kekasihnya tewas terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Miskin yang Menjual Apa Saja&lt;br /&gt; Untuk sesuap nasi, ia telah menjual apa saja. Mulai dari rumahnya, anaknya, lalu istrinya, bahkan dirinya sendiri. Setelah semuanya ludes terjual, ia mulai mencari-cari sesuatu yang masih ia miliki, yang bisa ia jual.  &lt;br /&gt; “Apa, ya?” ia menggaruk kepala.&lt;br /&gt; “Oh ya, aku masih punya Tuhan.” ungkapnya girang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Ulang Tahun&lt;br /&gt; Pada hari ulang tahunnya yang ke seribu lima ratus, ia meminta hadiah kafan dan peti mati yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi Pemberani&lt;br /&gt;Seorang bayi yang berumur belum genap satu hari, merangkak mendatangi pos polisi, ia  melaporkan ibunya yang telah membunganya ke tempat sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Pelajaran Biologi&lt;br /&gt; Setelah selesai menjelaskan panjang lebar tentang teori alat reproduksi pada manusia. Pak guru mengajak murid-muridnya untuk  praktek bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukun Beranak&lt;br /&gt; Dukun beranak itu beranak dukun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapur barus&lt;br /&gt;Ia teringat wangi terakhir yang ia endus dari mayat ayahnya, wangi kapur barus. Diam-diam ia menggeledah lemari baju. “Aku rindu pada ayah,” gumamnya, sebelum menelan tiga butir kapur barus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelar &lt;br /&gt;Ia sempat memprotes ketika gelarnya tidak ditulis dengan lengkap di atas batu nisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaasiin &lt;br /&gt;“Ayo, ajari aku membaca Yaasiin, supaya aku bisa berkirim do’a,” desakmu. &lt;br /&gt;“Iya, sabarlah sedikit, paling tidak tunggu sampai jenazahmu dimakamkan.” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Fatiihah&lt;br /&gt; Kami semua tahu, kalau kau sudah sangat fasih mengaji. Bahkan ketika seorang pelayat salah melafalkan surah Al-Fathihah, kau buru-buru menegurnya. Padahal kau baru dimandikan, belum dikafani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setrika&lt;br /&gt;Ketika ibu menyetrika baju, nenek selalu duduk termangu di sebelahnya. Memperhatikan setrika yang mondar-mandir di tangan ibu.  Setelah ibu selesai, nenek menjawil ibu sambil menunjuk-nunjuk setrikaan dan mukanya sendiri yang kisut penuh keriput. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cermin Sang Koruptor&lt;br /&gt;Ia menyisir rambutnya di depan cermin.Tiba-tiba, ia melihat seeokor tikus buduk di hadapannya. Ia mengambil pentungan dan menghajar tikus itu sampai klenger. Pentungan itu ia lempar begitu saja ketika tikus di hadapannya sudah tidak berdaya. Ia kembali bercermin. Ia terbelalak melihat wajahnya sendiri babak belur seperti habis dihujani pukulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Cerita&lt;br /&gt;Sejak ia lahir ia sudah mulai membaca buku cerita itu. Buku cerita tebal yang baru ia selesaikan beberapa detik sebelum Izrail menggamit jemarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ending Cerita&lt;br /&gt;Sebenarnya ia sudah lama menjadi cerpenis. Haya saja ia tak pernah bisa membuat ending dari cerita-cerita yang ia tulis. Ia menulis kisah ibunya yang suka pergi ke diskotik. Ia juga menulis kisah bapaknya yang kawin dengan anjing betina. Tak ketinggalan pula, ia menulis kisah kekasihnya yang berulang kali berselingkuh. &lt;br /&gt;“Aku harus membuat ending dari cerita-ceritaku,” gumamnya, sambil menimang-nimang sebilah parang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahat Patung Lilin&lt;br /&gt;Patung lilin pahatannya sudah sangat masyhur di kalangan pejabat. Ia sangat piawai meniru bentuk wajah dan lekuk tubuh. Suatu saat, seorang menteri mengunjunginya untuk memesan sebuah patung sekaligus memberi penghargaan.&lt;br /&gt;“Aku ingin kau memahatkan patung istriku, kau bisa?” Tanya pak menteri. &lt;br /&gt;“Ya.”Ia mengangguk mantap.&lt;br /&gt;Setelah patung itu jadi, pak menteri memajangnya di ruang tamu. Herannya, semenjak itu istri pak menteri dikabarkan hilang, dan tak pernah ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karyawan Bom Bunuh Diri&lt;br /&gt;Bom yang melilit tubuhnya sudah ia rangkai sedemikian rapi. Beberapa detik sebelum bom itu meledak, mendadak ia ingat bahwa sisa gajinya belum dibayarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak Pembatu&lt;br /&gt; Anak itu terus berdiri di depan cermin. Ia menekuni wajahnya sendiri. Setelah yakin dengan sesuatu, ia berlari kepada ibunya dan bertanya, “Bu, mengapa wajahku lebih mirip wajah Tuan, daripada wajah ayah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjual Lontong&lt;br /&gt; Orang-orang yang menjadi pelangganya selalu bertanya-tanya, mengapa lontong buatannya sangat sempurna. Sempurna seperti seonggok  pocong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuyul 1&lt;br /&gt;Lepas tengah malam, calon korban belum juga terlelap. Sang tuyul terus menunggu, sampai rambutnya gondrong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuyul 2&lt;br /&gt; Sebelum memasuki pusat berbelanjaan tuyul itu mengenakan wig supaya orang-orang tidak curiga padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran Menggambar&lt;br /&gt; “Ayo anak-anak. Gambarlah sesuatu yang paling indah yang pernah kau lihat.” Jelas Bu Guru.&lt;br /&gt;Anak-anak pun mulai menggambar. Ada yang menggambar pemandangan, bunga, kupu-kupu, pantai, ada juga yang menggambar segelundung kepala yang berlumuran darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selingkuh&lt;br /&gt; Setelah jasadnya dikuburkan, malamnya  ia memergoki suaminya berselingkuh dengan mayatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tukang Tambal Ban Tengah Malam&lt;br /&gt; Seorang perempuan menghentikan sepeda motornya di depan kios tambal ban. “Pak, tolong tambalkan ini, ya? Lubangnya besar sekali.” pintanya, seraya berbalik menunjukkan punggungnya yang merah menganga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembar siam&lt;br /&gt;Sang ibu tak tahan melihat anak kembarnya terus berdebat. Yang satu ingin ke kamar mandi, dan satu ingin menonton tivi. &lt;br /&gt;“Sini, Nak! Biar ibu yang putuskan.” Sang ibu datang dengan sebilah parang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unta yang Lepas&lt;br /&gt; Setiap hari Jum’at, ia selalu datang paling awal. Duduk di shof paling depan. Ia tersenyum lebar, seekor unta akan ia dapatkan. Begitu sholat Jum’at selesai, ia mengutuki dirinya sendiri, menyesalkan untanya yang selalu lepas ketika ia teridur mendengarkan khotbah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermain Ayunan&lt;br /&gt;Karena stres tak mendapatkan pekerjaan, setahun yang lalu kau nekat gantung diri di ruang tengah. Bahkan sampai sekarang balitamu masih suka melihatmu berayun-ayun di situ, mengajaknya bercanda. Balitamu selalu tertawa cekikikan ketika melihat matamu melotot dan lidahmu menjulur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Pelupa&lt;br /&gt;Minggu yang lalu, kau meminjam mobilku untuk mengunjungi saudaramu di luar kota. Aku kaget ketika melihatmu pulang naik bus.&lt;br /&gt;“Mobilnya?” tanyaku.&lt;br /&gt;Sambil menepuk kepala kau bilang, “Masya Allah! Aku lupa!” &lt;br /&gt;Beberapa hari berikutnya, kau dan istrimu berkunjung ke rumahku. Waktu kau pulang, kau meninggalkan istrimu di rumahku. Kukira kau lupa lagi. Dan barangkali kau juga lupa bahwa aku masih lajang dan tinggal seorang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suap&lt;br /&gt;Sebelum memasuki liang lahad, istrinya membawakannya bekal berupa segepok kertas cek .&lt;br /&gt;“Ini buat apa?” ia bertannya.&lt;br /&gt;“Yah, seperti biasa, seperti para jaksa dan pejabat negara, nanti kalau ada dua malaikat menanyaimu yang macam-macam, suruh saja dia menyebutkankan berapa nominalnya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan Pengawet&lt;br /&gt;Ia membaringkanmu di kamar yang sepi. Ia mendandanimu layaknya seorang putri. Disaputnya bibirmu dengan gincu menyala. Dihiasinya kedua matamu dengan eye shadow termahal. Ia tak perlu memberimu bedak pemutih. Karena wajahmu sudah sempurna putih. Ya kau tak butuh suatu apapun, kecuali pengawet mayat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman Bunuh Diri&lt;br /&gt;Ketika kekasihmu tak mau menuruti kemauanmu, kau mengancam, “Kalau kau tak mau lakukan itu, lebih baik aku mati.” Lalu kekasihmu menuruti kemauanmu.&lt;br /&gt;Ketika kekasihmu jalan berduaan dengan teman akrabnya, kau pun mengancam, “Kalau kau selingkuh, aku akan bunuh diri.” Lalu kekasihmu menjadi seorang penyendiri.&lt;br /&gt;Terakhir, ketika kekasihmu berniat memutuskanmu, kau pun berkata, “Daripada kita putus, lebih baik aku mati saja.” &lt;br /&gt;“Aku akan membantumu!” kata kekasihmu sambil mengecupkan moncong pistol ke lambungmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahim Ibu&lt;br /&gt;Setelah beranjak dewasa anak lelaki itu meminta izin pada ibunya untuk masuk kembali ke rahimnya seperti kala ia bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Binatang Khas Negara-negara&lt;br /&gt;“Anak-anak, siapa tahu  apa binatang khas dari Australia?” Bu guru menyebutkan soal.&lt;br /&gt;“Saya, Bu.” Seorang bocah mengangkat tangan.&lt;br /&gt;“Ya?”&lt;br /&gt;“Kanguru!”&lt;br /&gt;“Ya, bagus. Kalau china?”&lt;br /&gt;“Panda!”&lt;br /&gt;“Oke. Arab?”&lt;br /&gt;“Unta dong!”&lt;br /&gt;“Nah, kalau Indonesia?”&lt;br /&gt;“Tak salah lagi. Pasti tikus berdasi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Audisi Film Horor&lt;br /&gt;Setelah keluargamu memandikan dan mengkafanimu. Kau meminta izin pada ibumu untuk mengikuti audisi bintang film pocong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar Ayah&lt;br /&gt;Semenjak ibu meninggal setengah tahun lalu. Ayah melarangku masuk ke dalam kamarnya. Karena rasa penasaran, pada suatu malam ketika ayah tidak ada di rumah, diam-diam aku mengintip kamar ayah dari atap. Di ranjang ayah aku melihat ibu terbaring tanpa pakaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesin Cuci Bayi&lt;br /&gt;Karena tak bisa memandikan bayinya, ia meminta mesin cuci untuk melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak Kakek&lt;br /&gt;Ketika ditanya perihal silsilah keluarga, ia menyebutkan, bahwa bapak dan kakeknya ialah satu orang yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burung gagak&lt;br /&gt;Kau terheran-heran, sudah beberapa hari ini burung gagak itu bertengger di atap rumahmu. Berkoak seperti menunggu mangsa. &lt;br /&gt;“Kata orang-orang tua, kalau ada burung gagak di atas atap rumah berarti  salah satu dari keluarga itu ada yang akan …”&lt;br /&gt;“Walah… kamu ini ngomong apa. Burung gagak itu yang akan mati.” Lantas kau keluar menenteng senapan angin. Kau bidik kepala burung gagak itu. Dan… Dooorr!!! Peluru nyasar bersarang dalam kepalamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contekan Nama Tuhan&lt;br /&gt; Karena dia seorang pelupa, ketika memasuki liang lahad  anaknya menyelipkan sebuah kertas contekan yang berisi nama Tuhan. Tentu saja anaknya lupa, bahwa dia tak bisa membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutir Gundu&lt;br /&gt; Ketika gundu itu disentilnya. Tanah berguncang dan rekah. Pepohonan tumbang tercabut dari akarnya. Air laut meruah melabrak apa saja. Gunung-gunung beterbangan dan penyok saling tabrak. &lt;br /&gt;Lalu, seperti seorang pelayan restoran, dengan menu di dua tangannya ia bertanya, “kau pilih manis atau pahit?” &lt;br /&gt;Dan kebanyakan manusia memilih yang manis. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*  Malang, April 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 Juni 1984. Menulis puisi, cerpen, dan novel. Saat ini bergiat di Komunitas sastra Lembah Ibarat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-5558688058603306384?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/5558688058603306384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2010/11/40-cerita-kiriman-dajjal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/5558688058603306384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/5558688058603306384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2010/11/40-cerita-kiriman-dajjal.html' title='40 Cerita Kiriman Dajjal'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-514236149434230496</id><published>2010-09-27T03:58:00.000-07:00</published><updated>2010-09-27T04:00:36.746-07:00</updated><title type='text'>Lelaki yang Tampak Anggun oleh Air Mata (dimuat di koran Jurnal Nasional 26 September 2010)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TKB5PQ5TlRI/AAAAAAAAASA/4MoS5I8oG5g/s1600/0.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TKB5PQ5TlRI/AAAAAAAAASA/4MoS5I8oG5g/s320/0.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5521546446296552722" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh Mashdar Z&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;RUANG ini seperti hutan berkabut di malam-malam tua. Lengang. Hanya aku dan dia. Aku menatapnya seperti bocah kecil yang menatap patung peri yang hendak terbang, mataku berkristal. Kami bersitatap. Ada nuansa puncak dari warna merah jambu yang ganjil, yang selama ini melecutku pada pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah bisa kujawab. Aku asing. Serupa pengembara yang tak pernah menemukan sentuhan-sentuhan lembut. Aku tersisih. Serupa bayi yang menggeliat di gundukan sampah. Miris, kotor dan menjijikan. Dan yang mungkin kusesali, sampai detik ini aku masih bernapas...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ia meronta, kursi ringkih yang didudukinya berderak-derak. Ia tersengal-sengal, menghela napas berat, lalu hening. Matanya mengilat menatapku, di sana kutemukan rasa muak yang tak pernah bisa kuukur. Sudah hampir seharian aku duduk di hadapannya. Menatap lekat wajahnya yang menyimpan kesumat dan kebencian yang mendadak meledak seperti gumpalan mendung hitam di tengah kemarau panjang. Matanya terus menatapku, seperti sebilah belati yang tak henti-henti menguliti perasaanku. Apa pun dan bagaimanapun, aku tak peduli. Aku benar-benar sudah tak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam, waktu ia menyusulkan undangan terakhir untukku, aku menuangkan serbuk tidur ke dalam minumannya. Membopong tubuhnya yang berat ke kamar kosong ini. Mendudukannya di sebuah kursi kayu. Memplester mulutnya rapat-rapat. Lalu mengekang tubuhnya dengan lilitan tambang. Sudah hampir seharian ia terkungkung di ruang congek ini. Mataku yang sembab menghujamnya tanpa jeda. Aku ingin ia tahu, aku tak main-main. Sudah selayaknya utas persahabatan ini lepas menjadi cambuk berduri yang memecutku dari waktu ke waktu. Dan kini, kepedihan telah melumat sisi kemanusiaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak detik pertama mengenalnya, aku telah merasakan keganjilan ini. Tutur sikapnya yang lembut dan senyumnya yang seperti bulan sabit, telah dengan mudah menyihirku, menjadikanku sinting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maafkan aku Al... " aku menatap matanya dalam-dalam. Perlahan. Ia balas menatapku. Tatapan jijik. Tapi dadaku berdesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al..., apa kau tahu? Sungguh aku tak pernah memikirkan sebelumnya, kalau aku bisa melakukan ini padamu. Memang, aku sudah menduga bagaimana nanti akhirnya. Kau akan menemuinya, mengucapkan cinta, menikahinya, memadu kasih dan saling berserah kehangatan dengan perempuan itu. Sedangkan aku? aku seperti orang terkutuk yang tak layak untuk memanen kebahagiaan. Apa ini adil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Althaf, nama itu memiliki kekuatan luar biasa untuk memporak-porandadakan detak jantungku. Setiap kali mendengar nama itu darahku selalu berdenyar lebih cepat seperti sengatan arus listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini... dia telah ada di hadapanku. Aku bisa melakukan apa saja padanya. Aku bisa memandang keelokannya sepuas hatiku. Menggenggam tangannya, mengusap wajahnya, memeluk tubuhnya, mengendus wangi keringat kelelakiannya yang serupa wangi sabun....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tetap saja, ada perih yang tak bisa kujangkau dengan sayatan belati sekalipun. Upaya apa pun yang kulakukan, takkan pernah bisa membuat hatinya condong kepadaku. Aku takkan pernah bisa memilikinya secara utuh, bahkan sampai nanti rambutku pun memutih atau nyawa meregang dengan raga sekalipun. Sungguh perih di ujung perih. Demi memikirkannya, dadaku selalu sesak dan tubuhku menggigil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU mendekatinya, dengan gerak perlahan kubuka plester yang menyumpal bibirnya yang kering dan merah. Ia terlihat sangat lemas, tak bertenaga. Sudah hampir seharian ia tak mau makan. Beberapa kali aku membujuknya. Ia mau membuka mulutnya, namun sesuap nasi yang masuk ke mulutnya ia semburkan lagi ke wajahku. Sama sekali aku tak marah. Kesabaranku tak pernah habis untuk membujuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makanlah. Aku akan menyuapimu," kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pufh...." dia meludahi wajahku. Untuk kesekian kali kurasakan cairan hangat itu meleleh di wajahku. Kunikmati perih itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tahu, kau sudah kelewat muak padaku. Tapi aku tak peduli... aku hanya ingin kau tetap bersamaku." Aku duduk menyandarkan kepalaku pada lututnya yang gemetaran. Ia meronta, mengguncangkan pahanya, seolah sangat jijik denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangkat kepalaku, "Kalau kau tak mau makan, aku juga tak akan makan. Biarkan kita mati lemas. Setidaknya aku bisa mati bersamamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lepaskan aku, anjing...! Kau psiko...!" gertaknya lirih, ia benar-benar kehabisan tenaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Drrttz...." handphone di saku celanaku bergetar. Aku lekatkan kembali plaster untuk menutup mulutnya. Untuk yang kedua kali keluarganya menghubungiku. Aku mengangkatnya dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bil..., bagaimana ini Bil....?" Suara di seberang sana, panik, "Kami belum menemukan Althaf."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Althaf meronta-ronta mengetahui aku sedang berbicara dengan ibunya. Sempat kulihat otot menyembul dari lenganya yang putih. Aku menjauh darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tante tenang, barangkali ia sedang berkunjung ke rumah temannya yang lain. Bukankah Althaf memiliki banyak teman."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya. Tapi kenapa sejak kemarin HP-nya tidak aktif. Ia juga sama sekali tidak memberi kabar. Hiks...hiks...," kudengar Ibu Althaf terisak pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, Tante. Tante sabar dulu. Saya akan coba hubungi beberapa teman Althaf, nanti kalau ada kabar, saya akan hubungi Tante."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana saya bisa sabar, Bil. Nanti malam pernikahannya akan dilangsungkan, sedangkan sekarang Tante tak tahu dia berada di mana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kata pernikahan, sesak di dadaku kambuh, perih di jantungku lumat, panas di wajahku membara. Benar, malam nanti Althaf akan menikah. Menjadi milik orang lain. Bagaimana mungkin aku membiarkan itu. Althaf harus jadi milikku seorang atau tak menjadi milik siapa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, Bil... terima kasih kamu mau membantu Tante. Tante tak tau harus bagaimana. Undangan telah menyebar. Calon istrinya menangis seharian. Dan kalau malam ini Althaf.... "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Klek." kutekan tombol off, lalu... "Prak!!" kubanting telepon genggam itu sampai berkeping-keping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan, undangan, calon istri.... Persetan dengan semuanya. Semuanya memusuhiku. Aku tak kan tinggal diam. Kepedihan telah melumat kewarasanku. Aku melangkah pelan, mendekati Althaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuremas rambutnya yang hitam mengilat. Kudekatkan wajahku ke wajahnya. Dekat sekali. Hidung kami hampir bersentuhan. Aku mendesis, "Malam ini kau tak kan menikah dengan siapa pun. Kau akan tetap di sini, bersamaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak menjawab, bibirnya hanya bergetar. Ia menahan geram dengan memejamkan matanya. Dapat kurasakan hembusan napasnya yang runtun. Dadaku berdesir, bersikejar dengan sesak dan getir yang terus-menerus mencibirku. Kurasakan lagi lelehan hangat merambat dari sudut mataku. Kutatap Althaf dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah Al... pertemuan kita berbuah fatal, bukan? Mengapa kau harus tertarik pada makhluk lain. Tidakkah aku cukup bagimu. Aku juga bisa merapikan tempat tidurmu seperti biasanya, aku juga bisa memasakkan nasi goreng untukmu, aku bisa mencucikan pakaianmu, bahkan dengan senang hati aku akan memijit pundakmu bila kau lelah setelah seharian bekerja. Lalu mengapa kau memilih perempuan itu? Jika saja kau tahu, aku memiliki cinta yang murni, yang tak dimiliki siapa pun atau perempuan mana pun. Kalau memang kau tidak mencintaiku, setidaknya kasihanilah aku. Hh... Bagaimana aku akan membiarkanmu begitu saja, setelah kau berhasil membuatku sinting, Althaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENJA benar-benar matang ditingkahi adzan magrib yang sayup dan terasa sangat panjang. Kurasakan nuansa yang begitu kental dengan warna biru. Aku teringat masa kecilku. Banyak sekali nuansa biru. Aku teringat ketika ayah dan perempuan itu menitipkan aku dan ibu pada alam yang telantar. Sejak itu aku hidup bersama ibu seorang, bertahun-tahun sampai aku beranjak remaja, sampai ibu menitipkan aku ke saudara jauhnya, sampai ia berpamitan bekerja keluar negeri dan tak pernah kembali. Rasa dahagaku akan sentuhan seorang ayah telah berubah menjadi bentuk yang lain. Sungguh, aku tak pernah menyalahkan siapa pun, ayah, apalagi ibu. Aku juga tak pernah menyesali hidup, barangkali aku hanya menangisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih duduk bersimpuh di sisi Althaf. Mataku terasa lengket oleh air mata yang kental dan hampir mengering. Sesekali kutengadahkan wajah. Kulirik Althaf yang selalu gemetar. Jelas sekali matanya pun berair. Baru kali ini kulihat ia menangis. Aku sendiri tak tahu, alasan apa yang bisa memancing air matanya. Barangkali rasa benci, atau mungkin ia takut tidak bisa menikahi perempuan itu malam ini. Atau mungkin ia kasihan padaku, sahabatnya yang mungkin sudah dianggapnya tidak waras. Entahlah... yang jelas wajah Althaf tampak anggun dan biru oleh air matanya. Adakah ia melihatku seperti itu dengan lelehan dari dua sudut mataku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al... kau menangis? Dalam keadaan menangis pun pesonamu tak akan pernah luntur. Teruslah menangis, agar kau tampak anggun sepertiku. Tak ada larangan menangis bagi laki-laki seperti katamu tempo itu. Buktinya kau kini menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hh... Benarkah rasa muakmu padaku bisa membuatmu menangis. Atau jangan-jangan kau menangis hanya karena takut kehilangan perempuan itu. Hh... kau takut kehilangannya, apakah rasa takutmu seperti rasa takutku akan kehilanganmu? Ya, kau pasti menyesal. Seharusnya malam ini kau mengelus tangan perempuan itu dan menyematkan selingkar cincin di jari manisnya. Seharusnya malam ini kau mengucap ikrarrmu untuk membuka lembaran baru hidupmu yang berseri. Seharusnya malam ini kau bersanding memoles kebahagiaan dengan orang-orang tercintamu. Ha... ha... tapi lihatlah, Tuhan pun tak bisa memisahkanmu dariku. Hu... hu... hidup macam apa ini? Cinta macam apa ini? Ha... ha... lucu sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, aku menyandarkan kepalaku pada lututnya yang masih gemetar. Basah di mataku merembes dan mengembang pada celananya yang polos. Kali ini ia tak bergeming. Aku meliriknya, sekilas. Ia menatapku. Aku hampir tak percaya, tatapan itu sangat lembut, lunak. Seolah ia ingin mengatakan: maafkan aku, kawan. Ini semua salahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, itu semua salahmu. Sikap dan tuturmu kelewat lembut untuk seseorang yang butuh kasih sayang sepertiku. Pesona lelakimu terlalu kuat untuk merangkul jati diriku yang terlampau lemah. Dan parasmu itu, begitu jernih dan sejuk bagi dahagaku. Dengan itu semua,bagaimana mungkin jiwaku yang rawan tidak tertawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatapnya, "Sekali lagi maafkan aku, Al..." aku buka lekatan plester yang membungkam mulutnya, "Bicaralah kalau kau ingin bicara."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maafkan aku. Seharusnya semua ini tidak seperti ini," tuturnya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rangkul kakinya, semakin kutenggelamkan kepalaku di pangkuannya. Ia diam saja. Kami larut dalam diam beberapa saat, sampai ia mengangkat kembali suaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semua masih bisa diperbaiki, Bil. Bagaimanapun, kau sahabatku. Jangan kau pikir aku tak peduli padamu. Sekarang, aku mohon, lepaskan aku! Dan kita akan selesaikan semuannya dengan baik. Kau belum terlambat untuk kembali. Jalanmu masih panjang," ucapnya tanpa jeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi aku sakit, Al.... "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau harus berpikir waras, Bil. Kau bisa melawan perasaan itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku balas terdiam. Mudah sekali kau mengatakannya, Al... kau memang tidak merasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami hanyut dalam diam yang panjang. Kurasakan kenyamanan yang getir di pangkuannya. Entahlah, apa yang kini sedang dirasakannya. Detik-detik ini telah sampai. Pada detik inilah seharusnya ia meronta mengerahkan segenap kekuatan lelakinya untuk melepaskan diri dan berlari menemui mempelainya. Tapi entahlah, ia hanya diam dan tenang. Tidak bergerak atau berbicara apa pun. Barangkali ia lelah dengan usaha dan bujuknya yang sia-sia. Atau mungkin ini puncak kepedihannya sehingga mulutnya tercekat tak bisa berkata-kata. Entahlah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diam itu, tiba-tiba kudengar pintu depan digedor-gedor. Aku dan Althaf tergelak kaget, sebelum ia berteriak kembali kusumpal mulutnya dengan plester. Ia meronta, kursi yang didudukinya berderak-derak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami polisi...! Buka pintunya, atau kami dobrak...!!!" bunyi teriakan dari luar sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tergagap, hampir tak percaya. Benarkah semua ini akan segera berakhir? Aku tak bergeming. Kurangkul tubuh Altaf erat-erat. Rasa nyaman, panik, takut, sedih, semua melebur memblender dadaku yang sesak. Wajah Althaf memerah, kedua matnya tampak tegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dug... duggg. Brakk!!!" suara pintu depan roboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudengar serangkaian langkah mendekati kamar pengap yang terkunci dari dalam ini. Pintu itu terguncang-guncang karena gedoran dari luar. Keringat dingin terasa mengembun di kening dan seluruh tubuhku. Dan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Brak!!!" cahaya dari luar menyilaukan kami berdua yang terpuruk dalam kamar gelap ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Althaf...." teriak ibunya, histeris. Polisi memberinya isyarat untuk tetap tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biadab, kau Nabil...!!!" umpat wanita itu. Umpat dan kutuklah aku sesukamu, ibu, karena kau tak kan pernah paham masalahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu harus berbuat apa. Tanpa berpikir lebih, ku ambil sebilah belati di saku celanaku dan kutadahkan di leher Althaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan ada yang mendekat!" sentakku gamang dan gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Althaf menangis tak karuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebaiknya Anda buang senjata itu. Menyerahlah!" Kata salah seorang polisi. Polisi itu nekat mendekat dengan acungan pistol di tanganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan mendekat...!!!" tegasku. Polisi itu berhenti dari langkah kecilnya. Semakin lekat belati itu menempel pada leher Althaf. Leher putih itu tersayat. Sedikit darah kuaraskan di jemariku. Althaf menahan perih tanpa suara. Aku tak percaya bisa melakukan ini. Aku menangis. Aku tak mungkin melakukan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benakku kalut, aku lengah dan... "Dor...!" aku tersentak. Belati di tanganku terlempar ke lantai. Kurasakan kaki kiriku nyeri bukan main. Aku tersungkur. Kulihat darah merembes dari sepatuku yang putih. Ketika aku hendak berdiri dan meraih belati yang rebah di sebelahku, tembakan itu terulang pada pundak kananku. Aku menggelinjang menahan sakit dan panas yang tak terkilas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang tampak berlari mendekati Althaf dan melepaskan tambang yang mengikat tubuhnya. Ibunya merangkulnya sambil menangis. Dua orang polisi masih mengguling-gulingkan tubuhku dengan satu kakinya. Orang-orang itu memicingkan mata, menatapku seperti hendak meludahiku. Namun, kurasakan pandanganku tiba-tiba saja semakin buram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bayang entah ngiang, kurasakan Althaf mendekatiku, merangkulku sambil menangis. Ia seperti berkata-kata. Namun, aku tak mendengar apa pun. Ia mengguncang-guncang tubuhku. Merangkulku. Membopongku entah ke mana. Ke sebuah mobil putih? Ah, bukan, barangkali ke kursi pelaminan. Hh..., itu tak mungkin. Entahlah, tapi rasanya ada yang salah. Karena ibu melahirkan aku sebagai lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Malang, 30 Agustus 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-514236149434230496?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/514236149434230496/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2010/09/lelaki-yang-tampak-anggun-oleh-air-mata.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/514236149434230496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/514236149434230496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2010/09/lelaki-yang-tampak-anggun-oleh-air-mata.html' title='Lelaki yang Tampak Anggun oleh Air Mata (dimuat di koran Jurnal Nasional 26 September 2010)'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TKB5PQ5TlRI/AAAAAAAAASA/4MoS5I8oG5g/s72-c/0.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-2349525750745301050</id><published>2010-09-27T03:51:00.000-07:00</published><updated>2010-09-27T03:58:28.558-07:00</updated><title type='text'>Carroline ( dimuat di koran Jurnal Bogor, 26 September 2010 )</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TKB4qfektfI/AAAAAAAAAR4/mEmWVX4U9II/s1600/KayipZamanDusleri.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 268px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TKB4qfektfI/AAAAAAAAAR4/mEmWVX4U9II/s320/KayipZamanDusleri.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5521545814555801074" /&gt;&lt;/a&gt;oleh Mashdar Zainal &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liz telah menyiapkan hidangan makan malam dengan sangat sempurna. Sup wortel sebagai makanan pembuka, steak cumi panggang dan nasi merah sebagai hidangan inti, ditutup dengan pudding cokelat bertabur kacang almond. Anggur, apel kiss, dan carry muda selalu ia siapkan sebagai pencuci mulut. Carroline (7 tahun), putri semata wayang Liz, sudah tidak sabar menunggu ibunya menyelesaikan tata hidangnya. Celemek bermotif kelopak sakura sudah dipakainya sejak tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sudah lapar, Carrol?” Tanya Liz sambil menata piring dan garpu-sendok dengan tata aturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu, Mom. Aku sudah tidak sabar. Perutku sudah berkokok-kokok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sabar sedikit ya! Kita tunggu Dad dulu, sebentar lagi dia pulang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah…, Tunggu Dad lagi. Tapi Carrol sudah lapar, Mom!” Liz terdiam memandangi wajah putrinya, memohon sedikit pengertian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dad pasti akan pulang terlambat lagi, Mom, dan aku sudah lapar. Benar-benar lapar.” Carroline merajuk, tidak memedulikan tatapan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kita harus selalu menunggu Dad, Mom?” Cerocos Carroline lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liz tersenyum kecut. “Karena, tanpa Dad, makan malam ini bukan makan malam keluarga.” Ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ingat!!! Makan malam keluarga bukan malam malam keluarga tanpa seorang lelaki. Jadi, jangan pernah ada makan malam sebelum aku datang!” Liz terigat ancaman Matt, suaminya. Liz tak sanggup menjelaskan pada putrinya tentang perangai bapaknya yang begitu keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liz tak bisa mengingat-ingat, sejak kapan perilaku Matt, suaminya, menjadi demikian kasar. Tapi yang Liz sadari, perilaku Matt berangsur berubah sejak pertama kali Matt tahu  bahwa bayi yang dikandung Liz adalah bayi perempuan, bayi yang menurut Matt hanya pandai merajuk dan menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, sejak pertama kali mereka berpacaran, Matt selalu berangan-angan menimang bayi lelaki. Sering sekali Matt bercerita panjang lebar tentang keajaiban bayi lelaki. Kata Matt, lelaki adalah awal dari sesuatu yang megah. Bahkan wanita pertama sekalipun dicipta dari rusuk seorang lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, sepanjang hari Liz  memelihara kekhawatirannya. Ia takut jika suatu saat nanti tak bisa memberi Matt sebuah kebanggaan: bayi lelaki. Liz membayangkan, Matt akan membencinya, menjauhinya, memadunya, atau kalau lebih buruk lagi menceraikannya. Ah, rasa sakit itu sudah terawang-awang di benak Liz sejak lama. Tapi apa boleh buat, waktu itu Liz begitu mencintai Matt. Ia sangat takut akan kehilangan Matt. Tapi entah mengapa, cinta itu berangsur pudar ketika perilaku Matt berubah menjadi demikian liar dan ringan tangan, jauh dari yang ia bayangkan. Meski lahir dan bathin Liz sudah memar membiru, namun Liz tetap berusaha mempertahankan jatidirinya sebagai istri, juga sebagai ibu dari Carroline, permata hatinya. Ya, setidaknya Liz masih punya Carroline, jika suatu saat nanti Matt melemparnya ke jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Carroline menggeliat dalam timangannya, Matt menjadi jarang di rumah. Ia lebih sering nongkrong di café biliyard, bermain taruhan dan sesekali berburu rusa ke hutan di pinggiran kota. Kealpaan Matt di rumah, bagi Liz adalah hal yang lebih baik. Karena, ketika Matt berada di rumah, Liz tak pernah menemui kenyamanan. Matt selalu saja mencari-cari kesalahan Liz, agar bisa melampiaskan kekecewaanya. Bahkan hal-hal sepele seperti hidangan makan malam yang kurang cocok, cukup bisa Matt jadikan alasan untuk menyeret Liz ke dalam kamar, menggelandangnya melewati tangga, dan menjadikannya bulan-bulanan tengah malam. Dan Carroline tak pernah bisa memahami itu. Begitu rapi Liz menyembunyikan memar di balik senyumnya, demi Carroline. Ketika Carroline bertanya, mengapa Liz suka menjerit-jerit dalam kamarnya, Liz selalu menjawab bahwa Dad suka menggelitiknya habis-habisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu mengapa malam itu Dad menyeretmu, Mom?” Tanya Carroline juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, kalau itu memang Mom yang salah! Mom pantas mendapatkan itu. Sebenarnya Dad-mu sangat sayang pada Mom, dan tentu juga padamu. Kau tahu itu, kan?” Carroline mengangguk saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam berlalu, Matt belum juga muncul dari balik pintu. Carroline menatap pudding cokelat yang mengkilap di atas meja. Carroline menelan ludahnya. Liz memperhatikan itu. Carroline lemas, menundukan kepalanya hingga membentur bibir meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dad sebentar lagi datang, dan kita akan makan malam bersama. Makan malam keluarga. Oh ya, bonekamu mana, Carrol? Tak kau ajak dia makan malam?” Liz mengalihkan perhatian putrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carroline mengangkat kepala dan tersenyum lebar. “Kau benar, Mom. Aku melupakan Chaty, akan kujemput dia sekarang.” Carroline melompat dari kursinya, berlari ke dalam kamar untuk mengambil Chaty, boneka chubby-nya. Liz tersenyum lalu menundukkan kepalanya. Beberapa saat kemudian, Carroline datang dengan Chaty yang sudah ia dekap di dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakan pada Chaty, sebentar lagi makan malam akan dimulai. Suruh dia bersiap-siap.” Tutur Liz. Carroline mulai berbisik di telinga Chaty. Selanjutnya ia asyik bersama bonekannya. Beberapa kali Liz menatap jam dinding tua yang detiknya terasa sangat lelet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dad kapan pulang, Mom?” Liz tersentak ketika tiba-tiba Carroline muncul di hadapannya. Liz menatap mata putrinya. Sayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku dan Chaty sudah lapar, Mom. Benar-benar lapar!” Liz melirik jarum jam sekali lagi, dia menghela napas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“baik sayang, kau dan Chaty boleh bersiap-siap. Mom akan ambilkan kau hidangan pembuka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeach!!!” Teriak Carroline, girang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liz mulai menyendokkan semangkup sup, dan memberikannya pada Carroline. Carroline tak sabar untuk segera menyantapnya. Hati Liz tak tenang, tapi Liz sempat tersenyum ketika melihat putrinya menyantap sup dengan lahapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mom tak makan?” Tanya Carolline.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Usssst…! Tak baik makan sambil bicara. Mom akan tunggu Dad-mu. Makanlah! Akan Mom ambilkan kau steaknya.” Liz mendengar suara pintu berderit disusul kemeletak pantofel ketika menyunguhkan sepiring steak untuk Carroline. Tiba-tiba tangannya gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matt datang terburu-buru. Setelah menggantungkan jas kulitnya, Matt menyambar sebotol bir yang berjajar di atas meja kecil, di sudut ruang. Matt duduk dan mereguk bir botolnya beberapa kali, lalu matanya nyalang menatap Liz dan Carroline bergantian. Liz merasakan kakinya gemetar. Carroline mengkerut, menyantap hidangannya pelan-pelan sambil menunduk. Tiba-tiba Matt meletakkan botolnya dan bangkit menuju meja hidang. Matt duduk di kursi paling ujung, kursi khusus tempat kepala keluarga. Dengan cepat Liz menyiapkan rangkaian makan malam untuk suaminya, setelah itu ia menyiduk semangkuk sup untuk dirinya sendiri. Matt mulai menyantap hidangan di depannya. Liz dan Carroline duduk berhadap-hadapan, sesekali bertukar pandang. Ketika tatapan Matt menelisik mereka, mereka kembali menekuni piring masing-masing. Liz masih menyeruput supnya pelan-pelan, ketika tiba-tiba Matt bangkit dan menggebarak meja. Sup dalam mangkuk kecil di hadapan Liz terguncang dan meruah, kuahnya menggenang di atas meja lalu mengalir ke lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matt menarik tangan Liz dengan kasar lalu menyeretnya, menggelandangnya melewati tangga, Liz meronta, tapi cekalan tangan Matt terlalu kuat. Carroline  menghentikan kunyahan wortel yang ada di mulutnya. Ia hanya terpaku di meja makannya. Menyaksikan-lagi-ibunya diseret Dad dengan kasar. Matt terus menyeret Liz dan memasukkanya ke dalam kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam Carroline bangkit dan berlari menyusul Liz. Carroline berhenti di depan pintu kamar Matt yang sedikit terbuka, dari situ Carroline bisa melihat dua kaki Liz yang menendang-nendang lantai. Pandangannya terhalang punggung Matt yang lebar. Tapi dengan sangat jelas Carroline bisa mendengar bunyi tamparan, kulit beradu kulit. Carroline juga bisa mendengar suara Liz mengaduh kesakitan. Carroline tersentak ketika tiba-tiba wajah Matt berbalik menatapnya. Tatapan yang sangat menyeramkan. Carroline tak juga bergerak dari tempatnya ketika Matt mendekatinya dan menyeretnya, persis seperti ketika ia menyeret Liz. Liz bangkit dan berusaha menarik tangan Matt yang mencengkram kuat-kuat lengan Carroline. Tapi usaha Liz sia-sia. Matt terus menyeret Carroline. Boneka di tangan Carroline burguncang-gungang. Matt melempar Carroline ke dalam kamar tamu yang sudah lama kosong dan tak terpakai. Matt memutar batang kunci, mancabutnya, dan menaruhnya ke dalam saku celana. Liz hanya bisa menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari sudah Carroline mendekam dalam kamar kosong itu Sesekali Matt membukanya untuk menaruh sepiring nasi dan segelas air.  Kali ini Matt benar-benar berkuasa atas Carroline. Beberapa kali Liz memohon kepada Matt supaya membiarkan Carroline, tapi Matt hanya bergeming. Bila rengekan Liz didengarnya mulai menganggu, tak segan-segan Matt menyumpalnya dengan kain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila tengah malam mulai merembang, Liz tak pernah jenak tidur. Ia membayangkan Carolline yang terpuruk menyedihkan dalam kamar gelap itu. Lepas tengah malam Liz selalu mendengar suara Pintu digedor-gedor. Ketika Liz beranjak ke kamar itu. Matt selalu memelototinya, dan seolah berkata ‘Jangan ke sana, atau kukurung sekalian kau di sana’. Bila gedoran pintu itu tak juga berhenti, Matt segera bertindak. Ia akan mendatangi kamar itu, masuk dan menguncinya dari dalam. Dari balik pintu Liz hanya bisa bersimpuh menempelkan telinga pada daun pintu, berusaha mendengarkan suara-suara Carolline. Tapi Liz tak mendapati suara apapun, kecuali suara reot ranjang, atau sesuatu yang dipukul-pukul. Liz benar-benar tak tahan. Bahkan pada hari kedua. Liz belum juga melihat wajah Carroline. Ia kelewat kesal pada Matt. Maka pada sebuah kesempatan makan malam (Tanpa Carroline tentunya), Liz sudah merencanakan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa menumu malam ini, Liz?” Tanya Matt. Tanpa Carroline Matt tampak lebih lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti biasa.” Jawab Liz lesu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa kau buatkan secangkir cappucino untukku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lizz beranjak ke dapur. Inilah kesempatan yang ditunggu-tunggu Liz. Segelas cappucino kental ia ramu. Sedikit serbuk venom ia campurkan. Liz mengaduknya tergesa-gesa, dengan rahang bergemeletuk. Matanya nyalang menyimpan kesumat. Liz kembali pada Matt dengan secangkir cappucino panas yang berguncang di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Thanks!” Liz tak sabar menunggu Matt meneguknya. Matt masih asik dengan surat kabar di tanganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minumlah, Matt, sebelum dingin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, tentu.” Matt meletakkan korannya dan mengangakat secangkir cappucino yang masih mengepul di tangannya. Beberapakali ia meniupnya sebelum akhirnya meneguknya. Dengan senyum puas dan mata mengkilat Liz menyaksikan suaminya meneguk racun itu. Bahkan Lizz menyaksikan kemenangannya ketika Matt menggelinjang memegangi lehernya, Liz juga merasakan matanya mulai berair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Matt merosot dari kursinya. Kaku tak bergerak. Liz segera menggeledah kantung baju dan celana Matt. Di sana ia menemukan kunci kamar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Carroline…!” Ia berteriak. Berlari menaiki tangga. Dibukanya kamar itu tergesa-gesa. Liz memeutar kunci dan mendorong daun pintu sampai menghantam dinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Carrol…!?” Mata Liz menelisik seisi kamar, tapi ia tak menemukan siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Carrol…! Kau dimana sayang? Ini Mom!” Serunya sekali lagi. Tetap tak ada jawaban. Liz mulai panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengoknya pojok-pojok kamar, bawah meja, bawah ranjang. Tapi Liz tak menemukan siapapun. Ia duduk bersimpuh. Lemas. Beberapa detik kemudian, sebelum ia menemukan boneka chubby milik Carroline terpotong-potong di atas ranjang, ia baru menyadari sesuatu: daun jendela di hadapannya menganga lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Malang, April 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-2349525750745301050?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/2349525750745301050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2010/09/carroline-dimuat-di-koran-jurnal-bogor.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/2349525750745301050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/2349525750745301050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2010/09/carroline-dimuat-di-koran-jurnal-bogor.html' title='Carroline ( dimuat di koran Jurnal Bogor, 26 September 2010 )'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TKB4qfektfI/AAAAAAAAAR4/mEmWVX4U9II/s72-c/KayipZamanDusleri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-949952083274240857</id><published>2010-09-27T01:04:00.000-07:00</published><updated>2010-09-27T01:59:10.389-07:00</updated><title type='text'>ALAMAT  E-MAIL CERPEN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TKBVpNpa_-I/AAAAAAAAARw/MfXCEYs59Gk/s1600/NewPicture.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 256px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TKBVpNpa_-I/AAAAAAAAARw/MfXCEYs59Gk/s320/NewPicture.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5521507309682622434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan-kawan, ini adalah alamat email media yang saya kletahui... mari berkarya, mari menulis... kirim dan kirim, dimuat tak dimuat urusan belakangan... yang jelas tak pernah ada usaha yang sia-sia. Mari kita buktikan, smoga posting bermanfaat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. opini@kompas.co.id // opini@kompas.co.id [Bre Redana, Kompas, Jakarta]&lt;br /&gt;2. sekretariat@republika.co.id [Ali Ridho, Republika, Jakarta]&lt;br /&gt;3. editor@jawapos.co.id [Arief Santoso, Jawa Pos, Surabaya]&lt;br /&gt;4. ktminggu@tempo.co.id  [Nirwan Dewanto, Koran Tempo, Jakarta]&lt;br /&gt;5. triwikromo@yahoo.com (Suara Merdeka)&lt;br /&gt;6. koransp@suarapembaruan.com (Suara Pembaruan)&lt;br /&gt;7. redaksilampost@yahoo.com (Lampung Post)&lt;br /&gt;8. redaksi@surabayapost.info/ /Surabaya_news@yahoo.com (Surabaya Post)&lt;br /&gt;9. redaksi@seputar-indonesia.com// donatus@seputar-indonesia.com (SINDO)&lt;br /&gt;10. redaksi@jurnalbogor.com (jurnal bogor)&lt;br /&gt;11. amiherman@yahoo.com [Suara Karya, Jakarta]&lt;br /&gt;12. ahda05@yahoo.com [Ahda Imran, Pikiran Rakyat, Bandung]&lt;br /&gt;13. tamba@jurnas.com [Arie MP Tamba, Jurnas, Jakarta]&lt;br /&gt;14. redaksi@batampos.co.id [Hasan Aspahani, Batam Pos, Batam] &lt;br /&gt;15. donyph@jurnas.com [Dony PH, Jurnal Bogor, Bogor]&lt;br /&gt;16. tejapurnama@yahoo.com [Teja Purnama, Global, Medan]&lt;br /&gt;17. budaya_ripos@yahoo.com [Riau Pos, Riau]&lt;br /&gt;18. post_azh@yahoo.co.id [Azhari, Sumatra Ekspres, Palembang]&lt;br /&gt;19. yusrizal_kw@yahoo.com [Yusrizal KW, Padang Ekspres, Padang]&lt;br /&gt;20. huberitapagi@yahoo.com [Berita Pagi, Palembang]&lt;br /&gt;21. elkasabili@yahoo.co.id [Sabili]&lt;br /&gt;22. nova@gramedia-majalah.com (Tabloid Nova)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-949952083274240857?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/949952083274240857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2010/09/alamat-e-mail-cerpen.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/949952083274240857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/949952083274240857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2010/09/alamat-e-mail-cerpen.html' title='ALAMAT  E-MAIL CERPEN'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TKBVpNpa_-I/AAAAAAAAARw/MfXCEYs59Gk/s72-c/NewPicture.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-152381730834308890</id><published>2010-09-02T00:41:00.000-07:00</published><updated>2010-09-02T00:46:32.519-07:00</updated><title type='text'>Yang Bersarang dalam Kenangan...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TH9Vzy6pzJI/AAAAAAAAAQY/dQC3cML_psc/s1600/12397_1362722984711_1130675866_1117410_8272889_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TH9Vzy6pzJI/AAAAAAAAAQY/dQC3cML_psc/s320/12397_1362722984711_1130675866_1117410_8272889_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5512218817254247570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;: Fahlia Ambar&lt;br /&gt;Ada kota-kota kecil dalam kenangan &lt;br /&gt;tempatmu berdiam menyusu waktu&lt;br /&gt;ada jalan-jalan becek dalam kenangan&lt;br /&gt;setapak berkelok yang penuh gema dan nama-nama&lt;br /&gt;ada gedung-gedung kosong dalam kenangan &lt;br /&gt;seruang lenggang yang penuh oleh aroma parfummu &lt;br /&gt;ada pagar-pagar runcing yang ditumbuhi puisi, dalam kenangan&lt;br /&gt;tempat dimana kau selalu sangsi untuk memilih menjadi buta atau bisu&lt;br /&gt;ada gang-gang buntu dalam kenangan&lt;br /&gt;serupa cerita-cerita fiksimu yang tak pernah selesai&lt;br /&gt;ada sebilik kamar dalam kenangan&lt;br /&gt;di mana puisi menghayati keperawanan dan keperjakaan&lt;br /&gt;ada sepetak dapur berantakan dalam kenangan&lt;br /&gt;di situlah kau meracik rindu yang tak pernah matang&lt;br /&gt;ada penghujung sampah dalam kenangan&lt;br /&gt;yang bekas bibirmu selalu menjelma kulit apel merah yang berserkan&lt;br /&gt;ada yang tak mampu diubah dalam kenangan&lt;br /&gt;serupa garis simpul mati Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang,  Juni 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-152381730834308890?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/152381730834308890/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2010/09/yang-bersarang-dalam-kenangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/152381730834308890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/152381730834308890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2010/09/yang-bersarang-dalam-kenangan.html' title='Yang Bersarang dalam Kenangan...'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TH9Vzy6pzJI/AAAAAAAAAQY/dQC3cML_psc/s72-c/12397_1362722984711_1130675866_1117410_8272889_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-1093320821424616592</id><published>2010-08-31T20:54:00.000-07:00</published><updated>2010-08-31T21:00:11.483-07:00</updated><title type='text'>SAYEMBARA CIPTA PUISI REMAJA PUSAT BAHASA KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TH3ParTWWQI/AAAAAAAAAPQ/3r14sa0-saQ/s1600/notepadpencil1199.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 225px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TH3ParTWWQI/AAAAAAAAAPQ/3r14sa0-saQ/s320/notepadpencil1199.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511789576178784514" /&gt;&lt;/a&gt;1. Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah cipta puisi merupakan karya sastra padat, terpusat, dengan acuan sedikit bicara banyak makna. Cabang seni sastra ini bagi kebanyakan orang agak rumit dan sulit. Bahasa puisi berbeda dengan bahasa prosa yang memiliki satu arti sesuai dengan yang tersurat. Untuk membaca karya puisi, diperlukan sikap terbuka yang kreatif. Orang tidak dapat serta-merta menangkap makna puisi seperti halnya orang membaca karya prosa. Barangkali, orang bisa langsung menangkap apa yang diceritakan dalam puisi. Namun, untuk memahami isi ceritanya, masih diperlukan renungan dan pembacaan kembali yang lebih cermat. Puisi tidak hanya mempersoalkan arti atau makna, tetapi juga bagaimana arti atau makna itu disampaikan oleh penyairnya. Soal penyampaian ini menyangkut bentuk ungkapan puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai suatu bentuk ungkapan sastra, puisi memiliki beberapa unsur di dalamnya. Unsur-unsur itu, antara lain imaji, tema, metafora, simbol, dan irama. Seperti halnya, jenis karyakarya sastra atau seni yang lain, puisi merupakan ungkapan rasa dan pikir seorang penyair dengan cara atau metode memberikan imaji yang terpadu utuh dalam satu kesatuan maksud. Maksud atau tujuan puisi dapat berupa: menceritakan sesuatu, melukiskan sebuah karakter manusia, impresi atau kesan dan tanggapan terhadap sesuatu, ungkapan atau ekspresi rasa dan pikir, dan ungkapan ide atau sikap seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remaja mengenal puisi lewat bangku sekolah atau pembacaan puisi yang tersebar di panggung kesenian setempat. Patut disayangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahwa pada saat ini kreativitas remaja dalam bersastra, khususnya cipta puisi jarang dilakukan. Kelompok remaja sekarang lebih cenderung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menggemari bentuk-bentuk kreativitas yang kurang mengandung nilai pendidikan. Potensi bakat dan minat remaja terhadap puisi tentu akan berkembang dengan baik apabila didukung dengan pelatihan dan kesempatan berkreasi. Salah satu upaya untuk dapat menarik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;minat remaja dalam cipta karya sastra, khususnya cipta puisi. Pusat Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional dalam rangka Bulan Bahasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan Sastra 2010, dengan tema “Pembentukan Karakter Bangsa melalui Peningkatan Kualitas Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyelenggarakan Sayembara Cipta Puisi Remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayembara cipta puisi remaja ini bertujuan untuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. meningkatkan minat remaja terhadap sastra, khususnya puisi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. meningkatkan daya cipta dan kreativitas remaja terhadap puisi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. menumbuhkan sikap positif dan cinta sastra bagi remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Peserta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta sayembara ini adalah masyarakat umum (bukan warga dan keluarga Pusat Bahasa, atau Balai/Kantor Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional) kelompok remaja berusia 13—20 tahun di seluruh Indonesia. Usia dibuktikan melalui kartu tanda penduduk, dan surat keterangan yang sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Persyaratan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tema Sayembara Cipta Puisi ini disesuaikan dengan tema Bulan Bahasa dan Sastra Tahun 2010, tidak mengandung pornografi, dan   tidak berpotensi menimbulkan konflik yang berkaitan dengan SARA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Naskah puisi ini harus asli (bukan saduran, terjemahan, jiplakan), belum pernah dipublikasikan atau diterbitkan, dan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara sejenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Naskah puisi disertai dengan surat pernyataan bahwa puisi tersebut adalah karya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Naskah puisi ditulis dalam bahasa Indonesia, diketik rapi dengan jarak 1,5 spasi, dan dicetak di kertas HVS kuarto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu puisi (rangkap tiga), dengan dilapirkan biodata, alamat lengkap, dan fotokopi identitas diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Naskah puisi dikirim ke Pusat Bahasa, paling lambat 9 Oktober 2010 (stempel pos).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Naskah puisi yang telah masuk menjadi milik Pusat Bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Naskah puisi yang dinilai layak akan terbit dalam buku antologi puisi diterbitkan oleh Pusat Bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Penilaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a Penilaian naskah dan penentuan pemenang akan dilakukan oleh tim juri yang terdiri atas pakar puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b Penilaian mencakup aspek isi, daya puitik, penyajian, dan bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c Putusan tim juri tidak dapat diganggu gugat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d Hasil penilaian diumumkan pada tanggal 22 Oktober 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Hadiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang akan mendapatkan piagam, terbitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat Bahasa yang relevan, dan uang tunai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(dipotong PPh sebesar 20%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang I : Rp5.000.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang II : Rp4.000.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang III : Rp3.000.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang Harapn I : Rp2.500.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang Harapan II : Rp2.000.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang Harapan III: Rp1.500.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Alamat Panitia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat Bahasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia Sayembara Cipta Puisi Remaja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kementerian Pendidikan Nasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta 13220&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telepon (021) 4706287, 4706288 Pesawat 127&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HP: 08121368882&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﻿Catatan: Mohon disebarkan ke teman-teman yang lain. Trimakasih deela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentari ·SukaTidak Suka · Bagikan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYEMBARA CIPTA PUISI REMAJA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUSAT BAHASA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah cipta puisi merupakan karya sastra padat, terpusat, dengan acuan sedikit bicara banyak makna. Cabang seni sastra ini bagi kebanyakan orang agak rumit dan sulit. Bahasa puisi berbeda dengan bahasa prosa yang memiliki satu arti sesuai dengan yang tersurat. Untuk membaca karya puisi, diperlukan sikap terbuka yang kreatif. Orang tidak dapat serta-merta menangkap makna puisi seperti halnya orang membaca karya prosa. Barangkali, orang bisa langsung menangkap apa yang diceritakan dalam puisi. Namun, untuk memahami isi ceritanya, masih diperlukan renungan dan pembacaan kembali yang lebih cermat. Puisi tidak hanya mempersoalkan arti atau makna, tetapi juga bagaimana arti atau makna itu disampaikan oleh penyairnya. Soal penyampaian ini menyangkut bentuk ungkapan puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai suatu bentuk ungkapan sastra, puisi memiliki beberapa unsur di dalamnya. Unsur-unsur itu, antara lain imaji, tema, metafora, simbol, dan irama. Seperti halnya, jenis karyakarya sastra atau seni yang lain, puisi merupakan ungkapan rasa dan pikir seorang penyair dengan cara atau metode memberikan imaji yang terpadu utuh dalam satu kesatuan maksud. Maksud atau tujuan puisi dapat berupa: menceritakan sesuatu, melukiskan sebuah karakter manusia, impresi atau kesan dan tanggapan terhadap sesuatu, ungkapan atau ekspresi rasa dan pikir, dan ungkapan ide atau sikap seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remaja mengenal puisi lewat bangku sekolah atau pembacaan puisi yang tersebar di panggung kesenian setempat. Patut disayangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahwa pada saat ini kreativitas remaja dalam bersastra, khususnya cipta puisi jarang dilakukan. Kelompok remaja sekarang lebih cenderung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menggemari bentuk-bentuk kreativitas yang kurang mengandung nilai pendidikan. Potensi bakat dan minat remaja terhadap puisi tentu akan berkembang dengan baik apabila didukung dengan pelatihan dan kesempatan berkreasi. Salah satu upaya untuk dapat menarik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;minat remaja dalam cipta karya sastra, khususnya cipta puisi. Pusat Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional dalam rangka Bulan Bahasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan Sastra 2010, dengan tema “Pembentukan Karakter Bangsa melalui Peningkatan Kualitas Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyelenggarakan Sayembara Cipta Puisi Remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayembara cipta puisi remaja ini bertujuan untuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. meningkatkan minat remaja terhadap sastra, khususnya puisi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. meningkatkan daya cipta dan kreativitas remaja terhadap puisi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. menumbuhkan sikap positif dan cinta sastra bagi remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Peserta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta sayembara ini adalah masyarakat umum (bukan warga dan keluarga Pusat Bahasa, atau Balai/Kantor Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional) kelompok remaja berusia 13—20 tahun di seluruh Indonesia. Usia dibuktikan melalui kartu tanda penduduk, dan surat keterangan yang sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Persyaratan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tema Sayembara Cipta Puisi ini disesuaikan dengan tema Bulan Bahasa dan Sastra Tahun 2010, tidak mengandung pornografi, dan   tidak berpotensi menimbulkan konflik yang berkaitan dengan SARA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Naskah puisi ini harus asli (bukan saduran, terjemahan, jiplakan), belum pernah dipublikasikan atau diterbitkan, dan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara sejenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Naskah puisi disertai dengan surat pernyataan bahwa puisi tersebut adalah karya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Naskah puisi ditulis dalam bahasa Indonesia, diketik rapi dengan jarak 1,5 spasi, dan dicetak di kertas HVS kuarto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu puisi (rangkap tiga), dengan dilapirkan biodata, alamat lengkap, dan fotokopi identitas diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Naskah puisi dikirim ke Pusat Bahasa, paling lambat 9 Oktober 2010 (stempel pos).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Naskah puisi yang telah masuk menjadi milik Pusat Bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Naskah puisi yang dinilai layak akan terbit dalam buku antologi puisi diterbitkan oleh Pusat Bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Penilaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a Penilaian naskah dan penentuan pemenang akan dilakukan oleh tim juri yang terdiri atas pakar puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b Penilaian mencakup aspek isi, daya puitik, penyajian, dan bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c Putusan tim juri tidak dapat diganggu gugat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d Hasil penilaian diumumkan pada tanggal 22 Oktober 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Hadiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang akan mendapatkan piagam, terbitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat Bahasa yang relevan, dan uang tunai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(dipotong PPh sebesar 20%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang I : Rp5.000.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang II : Rp4.000.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang III : Rp3.000.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang Harapn I : Rp2.500.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang Harapan II : Rp2.000.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang Harapan III: Rp1.500.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Alamat Panitia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat Bahasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia Sayembara Cipta Puisi Remaja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kementerian Pendidikan Nasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta 13220&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telepon (021) 4706287, 4706288 Pesawat 127&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HP: 08121368882&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-1093320821424616592?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/1093320821424616592/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2010/08/sayembara-cipta-puisi-remaja-pusat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/1093320821424616592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/1093320821424616592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2010/08/sayembara-cipta-puisi-remaja-pusat.html' title='SAYEMBARA CIPTA PUISI REMAJA PUSAT BAHASA KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TH3ParTWWQI/AAAAAAAAAPQ/3r14sa0-saQ/s72-c/notepadpencil1199.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-5282599498180958544</id><published>2010-08-02T02:26:00.000-07:00</published><updated>2010-08-02T02:31:42.012-07:00</updated><title type='text'>Ku-mu: Dua Karib yang Memenggal Masa Lalu (dimuat di Jurnas, Jakarta, Minggu 1 Agustus 2010)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TFaP9tA8WtI/AAAAAAAAAPA/7SORlnvBVpY/s1600/3752393894_8fcedaab94.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 281px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TFaP9tA8WtI/AAAAAAAAAPA/7SORlnvBVpY/s320/3752393894_8fcedaab94.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500742285097982674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Mashdar Z.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBENARNYA aku bisa bilang ‘Jika kau ingin apa yang kuingini, maka ambillah', daripada kau mengambil milikku diam-diam dari belakang. Itu benar-benar lebih menyakitkan dari mati. Dan bagimu, mungkin ini cukup rumit. Ya, ini memang cukup rumit. Maka untuk mendinginkan semua ini, sudah seharusnya kita mengingat-ingat bagaimana awal mula kita dipertemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita dipertemukan? Tentu saja, kita tidak pernah ada janji untuk bertemu di rumah kos penuh kecoak itu. Tapi, di situlah pertama kali kita dipertemukan-hanya karena kamar kos kita bersebelahan. Dan di kamar kosmu yang kacau itu pertama kali kau mempersilahkan aku duduk. Kau mengajakku berkenalan, menawariku segelas kopi dingin dan sebatang rokok yang hampir patah. Sambil melepuskan asap rokokmu kau berceloteh tentang rumah kos seperti apa yang cocok untuk pemuda sepertimu. Aku hanya sesekali mengangguk dan berkata ‘oh' demi mengimbangi keramahanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau bercerita, kalau kau adalah seorang karyawan sebuah pabrik kertas yang buruh-buruhnya tak pernah suka berdemo menuntut kenaikan gaji. Kau juga menjelaskan bahwa kau adalah anak seorang petani sawit di Padang, Sumatera Barat. Orang tuamu mengirimmu ke tanah Jawa ini tak lain supaya kau meneruskan kuliah. Tapi, nyatanya kau tak betah menjadi mahasiswa. Kau malah iseng menjadi buruh pabrik. Tentu saja orang tuamu di kampung kecewa. Tapi, dari caramu bercerita sepertinya kau cukup bangga dengan keputusanmu sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Manusia hidup harus berdikari, bukan?" tuturmu terdengar bijak. Tapi, jujur, aku merasa tersindir. Karena, aku masih pemuda kencur yang tak bisa berdiri dengan kaki sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu merangkak dan menyulam banyak hal yang tiba-tiba mengakrabkan kita. Seperti ketika menjemur pakaian, aku suka meminjam hanger-mu, sebagaimana kau suka meminjam buku sajakku untuk kau salin dan kau berikan pada teman-wanita-kerjamu. Kelakuanmu memang benar-benar lelaki-selalu malas untuk membersihkan kamar atau menyisir rambut. Seprai ranjangmu penuh lubang sulutan rokok. Abu rokok tercecer di mana-mana. Di pojok kamarmu, di belakang pintu, teronggok gelas-gelas besar bekas kopi-yang entah kapan, yang mungkin akan kau cuci seminggu sekali. Itu sedikit gambaran tentang kelakuanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita berbicara tentang kelakuan kita masing-masing, kita seperti tengah terlibat dalam debat kusir. Kau ke Sabang, aku ke Merauke. Kau nge-rock, aku dangdutan. Kau ke ceruk pantai, aku mendaki gunung. Yah, begitulah. Selalu punggung kita yang bersitatap. Tapi, entah mengapa, perbedaan itu terasa sangat manis. Seolah kita harus menyerah pada sebuah pepatah bahwa perbedaan itu ada untuk saling melengkapi. Ya. Itu benar. Buktinya aku tak pernah mempermasalahkan ketika kau menumpahkan segelas kopi di atas Karpet turki-ku. Kau juga tidak pernah marah ketika aku menyebutmu kecoak gudang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persahabatan kita memang begitu manis. Kita acap makan satu daun berdua, minum dengan gelas plastik yang sama. Kita membaca buku dan bermain kartu, bermain kata dan saling mengingatkan ketika bulu mata kita masing-masing tanggal oleh celak yang kita pakai menjelang shalat Jumat. Kita tak ubahnya sepasang pertemuan dan perpisahkan yang tak akan terpenggal oleh apa pun, kecuali oleh perpisahan itu sendiri. Kita selalu meloloskan apa yang terlintas di benak kita, di hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Milikku milikmu. Benar kan?" bisikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bantalku bantalmu. Sandalku sandalmu. Kausku kausmu. Nasimu nasiku. Rokokku rokokmu. Aqua-ku aqua-mu. Dompetku dompetmu. Dan kelak...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Istriku istrimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ha... ha... ha...." Kita tergelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang itu lain, kawan. Barangkali yang benar begini, istriku ya istriku, tapi tak apalah... istrimu istriku. Ha-Ha Bagaimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ha... ha... ha....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku punya sebuah teori. Ya. Setiap orang memiliki sebuah pintu terlarang, yang tak boleh dibuka oleh siapa pun. Kalau tak begitu, kita telanjang di mana-mana, dong!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benarkah? Memangnya apa yang tak kutahu darimu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seperti yang tak kutahu darimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seperti misalnya... diam-diam kau suka menempelkan upilmu di bawah meja?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ha... ha... ha... Kita terbahak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak lucu." Tukas kita bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ha... ha... ha... Kita terbahak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku takut." Celetukmu tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Takut? Takut kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Takut jika suatu nanti kita akan bermusuhan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunggu, tunggu. Kedengarannya sangat menyenangkan bisa bermusuhan denganmu. Tapi, tenanglah, bukankah kita bisa berembug untuk memutuskan siapa yang harus mengalah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan yang muda harus menghormati keputusan yang tua."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan tentu saja, yang tua sudah seharusnya mengalah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, semua berjalan baik-baik saja, bahkan ketika kita dipertemukan dengan gadis manis penunggu kedai mi ayam di ujung gang. Semuanya tetap baik-baik saja. Kita pernah saling ngotot perihal nama gadis itu. Seingatku gadis yang selalu berjilbab itu bernama Maryam, sedang katamu dia memperkenalkan dirinya dengan nama Mery. Entah siapa yang benar. Itu sama-sama tidak penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang kerja kau selalu malas untuk menyalakan kompor, begitu pula denganku. Maka selepas magrib kita selalu datang (bersamaan) ke kedai itu untuk ritual makan malam. Ya, sesore itu kita menyebutnya makan malam. Di sana kita selalu memesan dua mangkuk mi ayam dan dua gelas es teh manis. Aku selalu mengajakmu berlama-lama di kedai itu. Alasanku banyak sekali, menghabiskan waktu-lah, bersantai-lah, daripada di kamar bengong-lah... dan lambat laun kau tahu juga, bahwa diam-diam aku menyukai gadis berjilbab itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas saranmu, akhirnya aku mendekati gadis itu-mendekati yang sekadarnya. Berbulan-bulan aku memelihara warna merah jambu itu. Berbulan-bulan aku bertapa dalam keasyikan yang tak pernah lafas dari lidahku. Kian waktu kita kian akrab saja dengan Maryam. Bahkan kita mulai suka bantu-bantu di warungnya. Satu hal yang kudapati dari kedekatan kita (aku, kau, dan Maryam) adalah bahwa ternyata Maryam lebih tertarik padamu dari padaku. Aku dapat melihat itu dari gaya bicaranya padamu, dari cara dia mencubit lenganmu, ataupun dari paku matanya saat menatapmu. Dan aku tahu betul, aku cemburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekuat-kuat hati kubenamkan alamat buruk itu, dan mulai terasa nada bicara kita mulai goyah. Apalagi ditambah kesibukan kita masing-masing yang tiba-tiba mulai terasa menggunung, memperlebar jarak antara kita. Maka, diam-diam aku suka pergi ke kedai mi ayam itu seorang diri, begitu pula denganmu. Dan entah kenapa, hal semacam itu terasa sangat menyakitkan. Tentu saja aku tak bisa menyalahkanmu. Aku benar-benar merasa berdiri dalam posisi yang sulit. Warna demi warna berangsur-angsur mengental dalam hatiku. Kekecewaan yang memerah pekat. Kecemburuan yang menderu biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku tak juga paham. Apa aku takut Maryam jatuh ke tanganmu, atau aku takut kau yang jatuh ke tangan Maryam. Apa pun itu, pada akhirnya aku akan jatuh pada ceruk lembah yang bernama kehilangan. Dalam romansa yang demikian pelik, akhirnya kau mendekatiku juga. Kau meminta maaf. Aku pun meminta maaf. Kita kembali ke pedang permasalahan-Maryam. Kau bercerita panjang lebar tentang Maryam yang kau kenal. Aku pun mengurai cerita-warta tentang Maryam yang kukenal. Kita bercerita seolah-olah saling menunjukan satu sama lain, siapa yang lebih mengenal Maryam. Meskipun kita sudah bersi-maaf, rupanya kita tak juga lelah untuk saling menjatuhkan. Dan hanya karena kita telah akrab sebelumnya, ini semua terasa lebih menyakitkan dari yang seharusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau ada perasaan padanya?" Akhirnya kata-kata itu terlontar dari mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau yang lebih dulu meliriknya, jadi aku tak berhak," jawabmu ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi aku tahu, dia lebih suka melihatmu daripada melihatku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita sudah sama-sama dewasa. Aku harap ini tak jadi sinetron. Sudah terlalu klise, dua orang karib bermusuhan karena seorang gadis."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengerjapkan mata menangkap kebenaran dalam kata-katamu. Mengakui kedewasaan cara berpikirmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita cari kedai mi ayam yang lain!" ujarmu mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap senyum sinismu, kau pun sengaja menjulurkan lidahmu. Kurasakan sesuatu mulai mencair, "Milikku milikmu. Kau ingat?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ha... ha... ha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sebuah keputusan mutlak, setelah percakapan itu kita benar-benar tak lagi mampir ke kedai mi ayam Maryam. Berjalan di depannya pun kita harus menunduk dan bercepat-cepat. Kalaupun terpaksa menyapa, kita akan melemparkan sapaan ala kadarnya. Tampak wajah murung Maryam ketika kita melewati depan kedai mi ayamnya, dan kita hanya berlalu begitu saja. Demi mengingat-ingat wajah Maryam yang murung, aku selalu dihinggapi perasaan menyesal dan bersalah. Tentu saja, bagi Maryam, ini akan menimbulkan sebuah tanda tanya yang mengusik hatinya. Tapi, mau tidak mau, kita harus mengambil keputusan. Aku pun yakin waktu akan menjadikan semua baik-baik saja. Biarlah kisah kedai mi ayam Maryam berlalu menjadi kenangan ringan kita pada masa tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun lekatnya sebuah pertemuan, perpisahan selalu mengintai di sana. Pertengahan tahun ke-lima, setelah wisuda, kau pun melepasku untuk kembali ke kampung halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau harus melanjutkan hidup, boy!" pesanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana denganmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku? Aku pelancong bebas. Kau ingat? Aku punya sayap dan aku bisa terbang ke mana saja aku mau. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau akan bertahan di kamar penuh kecoak ini? Sampai kapan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampai aku menemukan diriku yang baru."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau harus merias usiamu. Kau tak boleh terus membiarkannya berantakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah, nanti setelah kau terjebak dalam kesendirian baru kau paham bahwa kau butuh seseorang untuk menemukan dirimu yang baru."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh, sulit sekali berbicara bahasa kiasan padamu. Pokoknya kau harus cepat-cepat cari istri, karena kau sudah tua. Karena kau butuh seseorang yang mau mencuci gelas kopimu dan membuang abu rokokmu. Itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ha...ha... kau seperti bapak-bapak yang menasehati bujangnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jiaaahhh!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Tahun berlalu. Sesekali kita saling berkirim kabar lewat surat, atau telepon rumah. Aku bekerja di sebuah surat kabar harian, menjadi seorang wartawan tetap. Kau pun kabarnya sudah kembali ke tanah darahmu, itu pun karena terpaksa. Dari suratmu yang kali terakhir, kau mengabarkan bahwa Bapakmu sempat opname beberapa minggu di rumah sakit-gara-gara serangan jantung. Tentu saja, tanpa topan tanpa badai tiba-tiba kau memberi kabar ke keluargamu bahwa kau harus menikah. Kau sudah menghamili anak orang. Aku pun tercengang. Tak habis pikir, bagaimana orang sepertimu bisa menghamili anak orang. Gadis macam apa pula yang mau dihamili olehmu. Ada-ada saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kau pun pulang membawa calon mempelaimu. Kau menikah di tanah kelahiranmu. Hari-hari kau mengurus ladang sawit milik Bapakmu. Diam-diam aku ikut bahagia, karena kau sudah menemukan bentukmu. Bahkan, sekarang kau sudah menimang seorang putri yang berumur tujuh bulan. Sedang aku, sampai sekarang masih melajang. Aku benar-benar penasaran dengan dirimu yang sekarang. Tapi, semenjak suratmu yang terakhir itu-sekitar setahun yang lalu, kau tak lagi berkirim kabar. Menelpon juga tidak. Jangan-jangan kau sudah lupa padaku?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kuinsyafi juga, sebagai seorang muda sudah selayaknya aku yang menyimpul kembali silaturrahim ini. Kebetulan, akhir bulan, aku ada tugas dari kantor untuk mewakili seminar jurnalistik nasional, ke Sumatera tepatnya ke Padang. Itulah, Tuhan memang selalu mempermudah jalan untuk sebuah itikad baik. Aku pun berangkat dengan bekal sehelai sampul surat-yang di sana tercantum alamat lengkapmu. Aku tak perlu meneleponmu atau apa. Pasti ini akan menjadi sebuah kejutan yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu datang juga. Usai seminar, aku sengaja keluyuran mencari kenalan orang Padang. Pada mereka, aku bertanya perihal alamatmu yang tertera di sampul surat. Rupanya bukan hal yang sulit menemukan alamatmu. Bahkan, seorang kenalan, ada yang mengaku kenal dengan Bapakmu yang petani sawit. Dengan suka rela pula ia mengantarkan aku ke alamatmu. Dan sekali lagi, aku menyebut ini dengan: Tuhan selalu mempermudah jalan seseorang yang memiliki niatan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat petang aku sampai di halaman rumahmu nan gadang. Aku hampir tak percaya, aku melihatmu duduk di tangga muka rumah, dengan wajah segar. Tampaknya kau lepas mandi sore. Kau tampak asyik menikati sisa-sisa koran pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Salam, Boy!" aku terburu-buru mendekatimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tergelak menatapku, terbelalak tak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini aku. Kau ingat?" desakku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau masih terbengong-bengong. Perlahan tangan kita berjabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini aku!!!" aku mengeratkan jabatan tanganku, menekankan kata-kataku. Kau masih terdiam. Wajahmu datar. Tidak tersenyum, tidak pula masam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa, Bang?" Seorang wanita yang menggendong balitanya muncul dari balik pintu. Dia mentapku dengan segelas kopi yang berguncang di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maryam!!!" seruku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bertiga bersitatap. Sementara kau berpikir bagaimana cara menjamuku dengan baik. Aku pun mulai berpikir, bagaimana cara berpamitan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, 30 Maret 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-5282599498180958544?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/5282599498180958544/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2010/08/ku-mu-dua-karib-yang-memenggal-masa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/5282599498180958544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/5282599498180958544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2010/08/ku-mu-dua-karib-yang-memenggal-masa.html' title='Ku-mu: Dua Karib yang Memenggal Masa Lalu (dimuat di Jurnas, Jakarta, Minggu 1 Agustus 2010)'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TFaP9tA8WtI/AAAAAAAAAPA/7SORlnvBVpY/s72-c/3752393894_8fcedaab94.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-396336556520059691</id><published>2010-07-11T21:57:00.000-07:00</published><updated>2010-07-11T22:02:47.035-07:00</updated><title type='text'>LOMBA MENULIS CERPEN REMAJA (LMCR) ROHTO</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TDqhNgyPxyI/AAAAAAAAAOg/iG4ODDI_k4Q/s1600/lmcr5headline-490x225.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 147px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TDqhNgyPxyI/AAAAAAAAAOg/iG4ODDI_k4Q/s320/lmcr5headline-490x225.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5492879949042796322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Berhadiah Total Rp 85  Juta + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD&lt;br /&gt;    * Peserta Siswa SLTP (Kategori A), Siswa SLTA (Kategori B) dan Mahasiswa/Guru/Umum  (Kategori C)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat-syarat Lomba:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Lomba ini terbuka untuk pelajar tingkat SLTP (Kategori A), SLTA (Kategori B) dan Mahasiswa/Guru/Umum (Kategori C)  dari seluruh Indonesia maupun yang studi/bekerja di luar negeri. Kecuali keluarga besar PT ROHTO Laboratories Indonesia dan Panitia/Dewan Juri LMCR 2010&lt;br /&gt;   2. Lomba dibuka 21 April 2010 dan ditutup 15 September 2010 (Stempel Pos)&lt;br /&gt;   3. Tema Cerita: Dunia remaja dan segala aspek kehidupannya (cinta, kebahagiaan, kepedihan, harapan, kegagalan, cita-cita, derita dan kekecewaan)&lt;br /&gt;   4. Judul bebas tetapi harus mengacu tema Butir 3&lt;br /&gt;   5. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu judul&lt;br /&gt;   6. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia literer (indah, menarik, mengalir) dan komunikatif. Bahasa gaul dan bahasa daerah/asing  boleh digunakan untuk segmen dialog para tokohnya – jika itu diperlukan dan sesuai dengan tema&lt;br /&gt;   7. Naskah yang dilombakan harus asli (bukan jiplakan) dan belum pernah dipublikasi&lt;br /&gt;   8. Ketentuan Khusus:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Naskah ditulis di kertas ukuran kuarto, ditik berjarak 1,5 spasi, font 12, huruf Times New Roman, margin justified 2 Cm, panjang naskah antara 6 – 10 halaman, dikirim ke panitia dalam bentuk printout 3 (tiga) rangkap/copy disertai file dalam bentuk CD.&lt;br /&gt;   2. b. Cantumkan sinopsis maksimal 1 (satu) halaman, mini-biodata pengarang, foto 4R, fotocopy KTP atau SIM/Paspor/Student Card&lt;br /&gt;   3. Setiap judul cerpen yang dilombakan wajib dilampiri kemasan LIP ICE (bagian kartonnya) atau segel SELSUN Shampo jenis apa saja&lt;br /&gt;   4. d. Naskah cerpen yang dilombakan beserta persyaratannya dimasukkan ke dalam satu amplop (boleh berisi beberapa judul),  cantumkan tulisan PESERTA LMCR-2010 dan Kategori-nya di atas amplop kanan atas dan dikirim ke: Panitia LMCR-2010 LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD – Jalan Gunung Pancar No.25 Bukit Golf Hijau, Sentul City Bogor 16810&lt;br /&gt;   5. Hasil lomba diumumkan tanggal  15 Oktober 2010 melalui www.rayakulturanet dan www.rohto.co.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Keputusan Dewan Juri bersifat final dan mengikat&lt;br /&gt;   2. Hasil Lomba:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing kategori: Pemenang I, II, II dan 5 (lima) Pemenang Harapan Utama,  10 (sepuluh) Pemenang Harapan dan Pemenang Karya Favorit untuk Kategori A: 20 Pemenang, Kategori B: 60 Pemenang dan Kategori C: 100 Pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiah Untuk Pemenang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kategori A (Pelajar SLTP)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Pemenang I – Uang Tunai Rp 4.000.000,- + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD&lt;br /&gt;    * Pemenang II – Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN&lt;br /&gt;    * Pemenang III – Uang Tunai Rp 2.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN&lt;br /&gt;    * 5 (lima) Pemenang Harapan Utama masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN&lt;br /&gt;    * 10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Bingkisan dari PT ROHTO + Piagam LIP ICE-SELSUN&lt;br /&gt;    * 20 (dua puluh) Pemenang Karya Favorit masing-masing mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN&lt;br /&gt;    * Seluruh pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen  Pemenang Utama LMCR-2010&lt;br /&gt;    * Sekolah Pemenang I, II dan II berhak mendapat 1 (satu) unit TV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kategori B (Pelajar SLTA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Pemenang I – Uang Tunai Rp 5.000.000,- + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD&lt;br /&gt;    * Pemenang II – Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN&lt;br /&gt;    * Pemenang III – Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN&lt;br /&gt;    * 5 (lima) Pemenang Harapan Utama masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN&lt;br /&gt;    * 10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Bingkisan dari PT ROHTO + Piagam LIP ICE-SELSUN&lt;br /&gt;    * 60 (enam puluh) Pemenang Karya Favorit masing-masing mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN&lt;br /&gt;    * Seluruh pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen Pemenang Utama LMCR-2010&lt;br /&gt;    * Sekolah Pemenang I, II dan III berhak mendapat 1 (satu) unit TV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kategori C (Mahasiswa/Guru/Umum)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Pemenang I – Uang Tunai Rp 7.500.000,- + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD&lt;br /&gt;    * Pemenang II – Uang Tunai Rp 6.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN&lt;br /&gt;    * Pemenang III – Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN&lt;br /&gt;    * 5 (lima) Pemenang Harapan Utama masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.500.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN&lt;br /&gt;    * 10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Bingkisan dari + Piagam LIP ICE-SELSUN&lt;br /&gt;    * 100 (seratus) Pemenang Karya Favorit masing-masing mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN&lt;br /&gt;    * Seluruh pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen Pemenang Utama LMCR-2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Naskah cerpen yang dilombakan jadi milik PT ROHTO, hak cipta milik pengarangnya. Informasi lebih lanjut e-mail ke rayakultura@gmail.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 10 April 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Panitia LMCR-2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dra. Naning Pranoto, MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber http://www.rayakultura.net/blog/2010/04/lomba-menulis-cerpen-remaja-lmcr-2010/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-396336556520059691?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.rayakultura.net/blog/2010/04/lomba-menulis-cerpen-remaja-lmcr-2010/' title='LOMBA MENULIS CERPEN REMAJA (LMCR) ROHTO'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/396336556520059691/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2010/07/lomba-menulis-cerpen-remaja-lmcr-rohto.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/396336556520059691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/396336556520059691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2010/07/lomba-menulis-cerpen-remaja-lmcr-rohto.html' title='LOMBA MENULIS CERPEN REMAJA (LMCR) ROHTO'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TDqhNgyPxyI/AAAAAAAAAOg/iG4ODDI_k4Q/s72-c/lmcr5headline-490x225.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-6493286259538753999</id><published>2010-06-29T03:25:00.000-07:00</published><updated>2010-07-26T02:14:11.063-07:00</updated><title type='text'>Kampung Lapar (dimuat di REPUBLIKA, 27 Juni 2010)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TE1RvV5KkPI/AAAAAAAAAOo/7PiVAKevsaI/s1600/kampung-lapar.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 273px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TE1RvV5KkPI/AAAAAAAAAOo/7PiVAKevsaI/s320/kampung-lapar.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5498140593861857522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh Mashdar Zainal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETELAH mendengarkan sebuah cerita, Mahisa tak jenak lagi memejamkan kedua matanya, apalagi makan dengan tenang. Semua pasti sepakat bahwa cerita itu memang benar-benar keramat. Ya, cerita tentang masa, bahwa suatu saat nanti matahari akan tergelincir dari ketinggiannya. Matahari akan mengapung beberapa senti di atas kepala manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebongkah bara raksasa akan menjerang manusia hidup-hidup dalam tungku yang terbangun dari batu-batu hati yang keras. Panas akan terus menikam, keringat akan terus mengucur. Ricis seperti hujan di awal tahun. Dengan kaki telanjang, para manusia akan merangkak, saling berebut mengendus keteduhan. Keringat mendidih terus mengucur, menggenang sampai mata kaki, lutut, dada, dan akhirnya meneggelamkan kepala mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahisa tercenung di depan meja makan yang megah. Meja makan berbentuk lingkaran yang terbuat dari batu marmer. Meja makan otomatis yang bisa berputar sendiri, mempersilakan menu-menu istimewa untuk tuannya. Mata Mahisa menilik satu per satu piring, mangkuk, dan cawan berkaki yang semuanya berisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang khadimah mendekatinya, “Mengapa Tuan tak bersegera makan? Bunda Nonya pasti akan memarahi saya jika Tuan tidak jenak makan, hanya karena menu masakan yang saya sajikan kurang menarik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan. Bukan itu, Bi. Emm .… Bi, bibi pernah kelaparan.” Mahisa balas bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa Tuan menanyakan itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena saya belum pernah. Bibi pernah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Syukur alhamdulillah, sejak Bunda Nyonya kecil, bibi sudah ikut keluarga ini. Dan bibi maupun keluarga bibi belum pernah mengalami yang namanya kelaparan. Ya, na’udzubillah, Tuan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok na’udzubillah? Memangnya rasa lapar itu sangat menakutkan ya, Bi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasa lapar itu lebih mengerikan dari apa pun. Rasa lapar datang dari perut. Dan perut adalah ibu dari segala kelaliman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahisa tercenung. Tak sedikit pun hidangan yang tersedia di hadapannya disentuhnya. Ia membayangkan matahari mengapung beberapa senti dari kepalanya. Ia bergidik ngeri. Beberapa detik kemudian ia berlari ke kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuan, Tuan kenapa? Mau ke mana? Tuan?” bibi mengejarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahisa mengambil kaus jaketnya dan berlalu, “Maaf, Bi. Saya ingin jalan-jalan. Nanti kalo Bunda telepon dan menanyakan apa saya sudah makan atau belum. Bibi bilang saja kalau saya sedang puasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuan puasa?” bibi mematung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahisa tersenyum dan berbalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu Tuan mau ke mana?” bibi membuntutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jalan-jalan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, jalan-jalannya ke mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke kampung lapar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kampung lapar?” bibi tercengang, mencerna sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Bi. Kampung yang membuat saya penasaran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibi terus mengintil, “Lalu Tuan pulang jam berapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah, Bi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok entahlah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, saya akan pulang setelah saya benar-benar kenyang dengan rasa lapar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibi mematung di depan pintu. Mulutnya menganga. Alisnya bertaut. Dahinya berkerut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahisa bergegas meninggalkan bibi yang masih mematung di depan pintu. Ia sengaja meninggalkan kunci mobilnya di kamar. Ia hanya ingin berjalan. Benar-benar berjalan dengan dua kakinya yang telanjang. Beriring langkahnya yang kukuh dan terus berayun, sesuatu yang ada dalam kepalanya meletup-letup. Ia telah hidup puluhan tahun, dan bagaimana mungkin ia tak pernah merasakan lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari Mahisa terperangkap oleh perhatian bundanya. Maklumlah ia putra semata wayang. Sejak kecil, Mahisa telah menjadi sebongkah emas bagi keluarganya. Jangankan kelaparan, digigit nyamuk pun bunda tak akan membiarkannya, bunda akan segera mengolesi bentolnya dengan minyak tawon. Meski bunda seorang wanita karier, ia tak pernah lepas perhatian kepada putra satu-satunya. Siapa lagi yang akan memperhatikannya. Pun papa tak mesti seminggu sekali ada, papa adalah seorang duta negara yang sibuk, yang selalu melakukan perjalanan jauh dengan pesawat terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bunda nyonya berangkat kerja, semua keperluan Mahisa telah dipasrahkan kepada bibi, orang kepercayaan keluarga. Tak lupa, tiga sampai lima jam sekali, bunda nyonya menelepon dari kantornya. Menanyakan apakah Mahisa sudah makan dan minum vitamin, atau dia pergi ke mana dan dengan siapa, lalu ngapain saja, pulang jam berapa. Begitulah rentetan pertanyaan bunda untuk Mahisa. Terkadang Mahisa mulai merasa jenuh. Bukan, bukan jenuh. Mahisa hanya merasa kurang nyaman dengan perhatian bunda yang berlebihan. Ia bukan lagi bocah belasan tahun. Tapi, apa pun keputusan bunda, Mahisa selalu menghormatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahisa menoleh ke belakang, rumahnya yang menjulang masih tampak dari kejauhan. Ia terus melangkah. Kaki putihnya mencengkram gili-gili. Setapak demi setapak. Sengatan matahari mulai menjilat tengkuknya. Ia menengadahkan wajah ke langit. Silau. Kakinya terus berayun, dari trotoar, sesekali meloncat ke jalan beraspal yang membara seperti panggangan steak. Detik-detik menggeliat kepanasan. Menit dan jam berlalu menjadi bulirbulir keringat. Seperti asap yang terjebak dalam tungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sudah ayun langkah Mahisa. Sama sekali ia tak tahu-menahu di mana sekarang ia berada. Baru saja ia melewati perbatasan kota kedua. Meski acap kali alisnya bertaut, tapi ia tak pernah khawatir tersesat, karena ia benar-benar tahu arti tersesat. Yaitu, ketika arah tak jangkau pandang dan matahari berguling-guling beberapa senti di atas kepala. Itulah tersesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perutku.” Mahisa mengusap perutnya. “Sebentar lagi aku akan sampai di kampung lapar. Aku tak boleh beku langkah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaki Mahisa kini berayun dengan runtun, bagai langkah paskibra. Ia memicingkan mata ketika tiba-tiba asap tebal menghalangi pandangannya. Ia mencium bau plastik entah rambut terbakar. Ia tak peduli, ia hanya sedikit memperlambat langkahnya. Ketika asap itu perlahan pudar, Mahisa menghentikan hentak langkahnya. Matanya nanar menatap sebuah kampung yang beratap seng dan kardus-kardus bekas. Dari tempatnya berdiri, Mahisa bisa mengucup aroma kumuh. Kumuh yang aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahisa kembali menggerakkan kakinya, ia melewati gundukan sampah yang menggunung di dekat pintu masuk kampung. Ia melewati rumah-rumah ringkih yang menjerit dalam diam. Sunyi. Air kotor menggenang di mana-mana. Lalat dan nyamuk sampah menguing. Tanah-tanah becek menguapkan bau lumut yang terkontaminasi keserakahan. Sesekali Mahisa mendengar jeritan parau dari dalam rumah-rumah yang pintunya tertutup oleh kain-kain kumal. Mahisa melihat dua anak kecil yang menggelosor di bawah kursi sambil menjilati ingusnya. Berikutnya, ia menyaksikan ibu-ibu tua yang menyuapi anaknya yang busung lapar dengan makanan yang dikerubuti lalat. Mahisa tak menghentikan langkahnya. Matanya nyalang seperti kamera yang menjepret apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah berikutnya, Mahisa melihat dua orang pemuda yang mencengkram kaki binatang yang meronta-ronta. Perempuan baya di sebelahnya menggenggam parang yang berkilat. Seorang anak kecil yang tak berbaju, bergelendotan di kaki perempuan itu. Mahisa mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang akan kalian lakukan.” Tanya Mahisa mengagetkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami akan menyembelih binatang ini.” Salah seorang pemuda menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, itu bukan kambing, kan? Itu anjing, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, ini bapak kami. Beliau berubah menjadi anjing. Beliau sendiri yang meminta kami menyembelihnya. Beliau hanya tak ingin melihat kami kelaparan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahisa terhenyak dan nyaris muntah. Ia bergegas meninggalkan gerombolan itu dengan kaki mulai gemetar. Beberapa kali perutnya berkeriuk, berkabar tentang rasa lapar yang sebenarnya. Mahisa mempercepat langkah kakinya. Tergesa. Ia terhenyak, serta merta menghentikan langkah, ketika kakinya menyandung sesuatu. Sebuah kardus. Kardus yang tertutup kain tipis seperti taplak meja. Ada yang menggeliat dalam kardus itu. Mahisa bertanya-tanya. Disingkapnya kain penutup itu perlahan. Seonggok bayi merah menggeliat menendang-nendang dinding kardus. Mahisa miris melihatnya. Dadanya sesak. Ketika telunjuknya mendekat, hendak menyentuh tangan bayi itu. Mahisa benar-benar tak percaya. Bayi itu bisa bicara. Bayi itu mengaku, sengaja dibuang ibunya karena tak punya cukup biaya untuk membeli susu atau sekadar pisang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dada Mahisa masih bertalu dalam rasa sesal dan pertanyaan-pertanyaan. Ketika matanya menengadah ke langit, ia merasakan, bahwa matahari yang berpijar di petala langit tampak lebih besar dari yang seharusnya, lebih dekat. Mahisa menunduk, mengabaikan silau yang menikam pupilnya. Mahisa menjerit sekeras-kerasnya ketika kardus berisi bayi di hadapannya lenyap dibawa lari seekor anjing. Mahisa tak kuasa mengejarnya. Ia panik, berlari pontang-panting tak yakin arah. Setelah beberapa meter, di bawah sebuah pohon yang rindang, ia berhenti. Napasnya tersengal-sengal. Kali ini perutnya terasa menciut, ususnya mengering melilit lambung dan tulang. Ia yakin sekali, itu yang disebut lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahisa melempar paku pandangnya jauh. Sejauh hasta pandang. Ia berusaha mengingat-ingat jalan pulang, dan sama sekal ia tak berhasil. Ia benar-benar ingin pulang. Bukan untuk memenuhi perutnya dengan makanan. Mahisa hanya ingin membawakan makanan yang melimpah di rumahnya kepada orang-orang itu, orang-orang yang dihantui rasa lapar dan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Mahisa tahu, apa itu lapar. Pantas saja, dalam cerita itu, orang-orang yang tak peduli dengan saudaranya sesama manusia—yang kelaparan—kelak tak akan dapat naungan ketika Matahari benar-benar didekatkan sampai beberapa senti di atas kepala mereka. Ya, Mahisa tak ingin mencicipi matahari memberangus kepalanya, selebihnya Mahisa hanya ingin berbagi. Tapi bagaimana? Ia benar-benar tak ingat jalan pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahisa terheran-heran, perjalanannya sudah terasa sangat lama. Tapi langit tak juga remang. Matahari semakin nanar dengan pijarnya. Mahisa memutuskan untuk kembali meneruskan perjalanannya, ke mana saja, yang penting ia bergerak. Mahisa memutar haluan sampai ia menemukan kembali perbatasan kota. Di sebuah gerbang tugu, ia membaca tulisan ‘Selamat Datang di Kota Kenyang’. Ya, itulah kota tempat ia tinggal selama ini. Ia senang bukan kepalang, berkali-kali ia menggumam hamdalah. Anehnya, setelah memasuki perbatasan, Mahisa tak menemukan satu rumah pun, tak juga pepohonan, atau jalan-jalan beraspal. Sejauh mata memandang, yang ada hanya hamparan pasir. Serupa gurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahisa mengayun langkahnya penuh keragu-raguan. Ia bertanya-tanya, apa yang telah terjadi dengan kota ini. Apa ini sebuah mimpi? Mahisa menjambak rambutnya sendiri. Sakit. Tapi ini sangat aneh, belum genap satu hari ia pergi, dan semuanya berubah. Tukang sulap mana yang bisa menyulap kota menjadi padang gersang. Mahisa mengerjapkan matanya. Hawa panas kembali menyengat tengkuknya. Mahisa sendiri merasakan, dulu kota tempat ia tinggal tak pernah sepanas ini. Apa karena padang pasir ini? Di mana pula penduduk kota? Ia tak melihat seorang pun di sana. Sepi yang menyala-nyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setapak demi setapak, Mahisa menggerakkan langkahnya. Ia sangat khawatir dan takut. Ia menegadahkan kepalanya ke langit. Silau. Matahari tampak lebih besar dari biasanya. Lebih dekat. Ia kembali memutar cerita itu dalam kepalanya, cerita tentang masa, bahwa suatu saat nanti matahari akan tergelincir dari ketinggiannya. Matahari akan mengapung beberapa senti di atas kepala manusia. Sebongkah bara raksasa akan berputar-putar di atas kepala manusia. Panas akan terus menikam, keringat akan terus mengucur. Ricis seperti hujan di awal tahun. Dengan kaki telanjang, para manusia akan merangkak, saling berebut keteduhan. Keringat mendidih terus mengucur, menggenang sampai mata kaki, lutut, dada, dan akhirnya menenggelamkan kepala mereka. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, April 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 Juni 1984. Menulis puisi, cerpen, dan novel. Novelnya yang sudah terbit: Zalzalah (Semesta, Pro-U Media Jogja, 2009). Puisinya juga termaktub dalam antologi puisi: Doa ‘Akasyah (Beranda, Intrans, Malang, 2009). Saat ini bergiat di Komunitas Sastra Lembah Ibarat dan FLP Malang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-6493286259538753999?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/6493286259538753999/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2010/06/kampung-lapar-dimuat-di-republika-27.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/6493286259538753999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/6493286259538753999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2010/06/kampung-lapar-dimuat-di-republika-27.html' title='Kampung Lapar (dimuat di REPUBLIKA, 27 Juni 2010)'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TE1RvV5KkPI/AAAAAAAAAOo/7PiVAKevsaI/s72-c/kampung-lapar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-7672543133486473951</id><published>2010-06-29T03:23:00.000-07:00</published><updated>2010-07-26T02:20:16.541-07:00</updated><title type='text'>Di Kolong Langit Jeddah yang Pucat (dimuat di Surabaya Post 6 Juni 2010)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TE1TBNVf_yI/AAAAAAAAAOw/fZXGBgumxWE/s1600/A-Thousand-Splendid-Suns-Khaled-Hosseini-abridged-compact-discs.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 202px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TE1TBNVf_yI/AAAAAAAAAOw/fZXGBgumxWE/s320/A-Thousand-Splendid-Suns-Khaled-Hosseini-abridged-compact-discs.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5498142000314056482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Mashdar Z.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau rasakan layar kecemasan mengembang di wajahmu yang kuning pucat. Seperti siluet senja yang melesat di antara punggung Gunung Radwa dan Abha yang kelabu. Kau teringat nenekmu yang sebatang kara di negeri seberang. Kau teringat wajahnya yang cekung, atau punggungnya yang membungkuk karena saban hari merangkak mengambah alas[1] Watu Gilang untuk memunguti ranting-ranting kering, atau geguguran daunan jati. Nenekmu hanya seorang buruh tani yang ketika menunggu musim panen sama halnya dengan menunggu lebaran tiba. Bila musim tanam selesai, nenekmu selalu merangkak menyisiri hutan-hutan di kaki Gunung Wilis, untuk segendong kayu bakar atau segepok daun jati yang nantinya akan ia tukarkan dengan beras dan minyak curah. Ah, kau benar-benar merindukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun lalu, sebelum kau melesat terbang untuk meraih serpihan rizqi di bawah langit kota Jeddah yang jauh, kau tak pernah bisa lepas dari nenekmu. Kau hidup berdua saja dengannya. Ibumu keracunan ketuban saat melahirkanmu, biaya persalinan yang pas-pasan tidak memungkinkanya untuk memperoleh tindakan cepat, maka setiap nenekmu bercerita perihal kelahiranmu, kau seperti menyayat luka yang terpatri di wajahmu. Tak cuma itu, berselang satu setengah tahun terpaut usiamu, ayahmu mangkat karena sengatan paru-paru basah yang sama sekali tak tersentuh tangan medis, selain kehendak Tuhan tentu saja karena alasan klasik yang klise: biaya. Itulah mengapa kau begitu benci dengan kemiskinan. Kemiskinan telah merenggut orang-orang yang kau cinta sebelum kau sempat mematri raut wajah mereka dalam benakmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu, nenekmu begitu menyayangimu. Kau layaknya manik permata yang selalu di elu-elukannya. Wajahmu cantik, gerak lakumu jujur dan lugu. Ia tak mau jika kau menjadi lekang dan rapuh hanya karena pengaruh pergaulan di kampungmu yang mulai menyisihkan nilai-nilai ketimuran seorang gadis. Tentu kau masih ingat dengan Eli, teman sekelasmu yang mati bunuh diri gara-gara tak kuasa menanggung aib yang menggembung di perutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, seusai menamatkan pendidikan di sekolah menengah atas, nenekmu menyarankanmu untuk bertebaran ke negeri jauh, menjemput berkah yang telah disebar Gusti Allah di muka bumi. Awalnya kau bersikeras untuk tetap tinggal menemani nenekmu, agar tetap bisa menjagainya di usia senja. Namun air mata tua nenekmu telah meluluhkan keras kepalamu. Akhirnya kau pun berangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itulah, kau rasakan pertama kali betapa birunya warna perpisahan. Pikiranmu bergejolak. Di usiamu yang baru belasan tahun itu, tak pernah kau bayangkan kau akan melayarkan bahtera seorang diri, jauh ke tengah samudera kehidupan yang luas tak beranah tepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika perahu telah kukayuh ke tengah, pantang bagiku membalik arah, biarpun besar gelombang, kemudi patah, layar robek, itu lebih baik daripada memutar haluan pulang.” Bisikmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asing sekali ketika kakimu menapak negeri bertanah gurun itu. Di sebuah rumah yang megahnya seperti masjid itu kau bekerja. Merawat perempuan pikun dan balita. Dengan gaji tujuh ratus real yang tak pernah sampai ke tanganmu. Tahun pertama kau bekerja, kau hidup seperti budak tawanan perang. Sayyidah[2] Fatat yang bermata lebar dan bercelak tebal itu selalu mengawasi gerak-gerikmu. Barangkali ia tak mau melihatmu bermalas-malasan. Melihatmu duduk tanpa melakukan sesuatu, baginya adalah sama halnya membuang dirham[3].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaddah[4] Raisyah, perempuan renta yang melata di kursi roda itu pun selalu menyusahkanmu. Kau merawat perempuan pikun itu seperti merawat cicitnya. Menyuapinya saat makan, menyeka tubuhnya yang lemir, mengelap air liurnya, atau kalau lebih buruk lagi menimpal bekas kotorannya. Awalnya kau merasa jijik dan hendak muntah, tapi lama semakin lama kau menjadi sangat terbiasa. Kau bayangkan wanita tua itu nenekmu dan semuanya menjadi lebih mudah kau lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun berganti tahun kau jalani, dapat kau rasakan lembaran demi lembaran hidupmu yang datar dan buram tanpa warna. Kebosanan yang merestan di kepalamu kini telah lumat oleh ketidakberdayaan. Dekat sekali kau rasakan campur tangan Tuhan atas skenario yang kau perankan sekarang ini. Maka kau bisa apa? Bahkan ketika Sayyid[5] Junaid, suami Sayyidah, mulai berani mencolek-colek pinggulmu, kau pun tak bisa berbuat apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai datanglah suatu ketika yang celaka. Sayyidah menggelar sebuah pesta besar-besaran di rumahnya. Seluruh tenagamu dikurasnya. Kakimu gemetar melihat keramaian yang begitu mencekam. Dari balik gorden dapur kau lihat para tamu yang mengagungkan pesta dan kesenangan. Orang-orang berhidung panjang dan bercambang tebal, orang-orang berkulit hitam dan berambut kriting, mereka berkumpul melebur dalam tahniah[6] dan tari-tarian. Mereka menyatap kambing guling dan ikan sadil ‘arab seperti serigala lapar. Nasi samin yang kau tanak semalam suntuk, tandas oleh perut mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai pesta, dan tamu-tamu pulang. Kau merangkak membereskan sisa-sisa pesta yang berantakan. Sayyidah pergi mengantarkan saudara jauhnya dan mungkin kembali esok lusa. Tinggalah kau seorang, bersama nenek pikun dan Sayyid Junaid yang tatapan matanya seperti hendak menerkam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itulah, ketika tiba-tiba Sayyid Junaid memintamu ke kamarnya untuk memijtnya, kau juga tak bisa menolak. Malam itu bisa kau rasakan, kau seperti ayam kecil yang terperangkap dalam liang musang. Benarlah, Sayyid Junaid mulai merayumu. Kau menolaknya, akibatnya kau pun mendapat satu tamparan keras di pipi kananmu. Kau berontak, hendak berlari darinya, dengan cekatan pula lelaki arab bernafsu kuda itu merengkuhmu, melumatmu dalam tarian-tarian menyeramkan. Semenjak itu, malam-malam tua telah menjadi seteru yang menyematkan luka abadi dalam lubuk dadamu. Seperti lolongan rase gunung, setiap malam kau memperpanjang tangismu sambil mencakar wajahmu sendiri. Ngilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah tersemat ribuan jarum dalam ketubanku. Aku musafir asing yang kehilangan kaki. Lantas musti bagaimana aku meneruskan mimpi. Luka ini terlampau mendarah daging, rasanya waktu pun tak akan mampu menyembuhkannya. Ini memang tak lebih sakit dari mati, tapi ini lebih buruk dari mati.” Cercaumu, pilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petang itu, ketika rumah Sayyidah sepi kau berjingkat meninggalkan perempuan tua yang tergolek di kasur bersama kotorannya sendiri itu. Kau benar-benar sudah tak tahan. Kau berjingkat membawa beberapa helai pakaian yang kau bungkus dalam kain jarit milik nenekmu. Kau cek setiap penjuru pintu. Semua terkunci rapat. Kau berpikir, mereka memang sengaja memasungmu. Kau pun tak pendek akal. Kau turun lewat balkon samping dengan beberapa utas kain yang kau kaitkan jadi temali. Kau sudah seperti buronan yang hendak kabur dari bui. Tak kau pikirkan, kau tak membawa bekal atau uang sepeserpun. Ah, barangkali gejolak badai di batinmu mengalahkan rasa lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah! Di tanah gharib[7] itu kau jadi gelandangan. Ayunan langkahmu selalu gontai musabab lututmu yang selalu gemetar menahan beratnya beban yang kau pikul seorang diri. Perutmu juga terasa melilit dan panas. Kepalamu berat bukan main. Kau mulai suka terbatuk-batuk. Sempurna sudah apa kau cemaskan sejak pertama kali menginjak tanah terik berdebu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau melanglang serupa orang terusir. Berteman baik dengan trotoar-trotoar dan rasa lapar. Hingga sampailah langkahmu pada bangunan kardus di bawah jembatan Waladhaek yang gagah itu. Di sana kau bertemu dengan Suryani, gadis 17 tahun asal Jombang, yang bernasib sama denganmu atau barangkali lebih buruk. Bisa kau tilik bekas luka memar di jidadnya, juga bekas luka bakar yang menghitam di lengan kirinya. Kabarnya ia kabur karena tak tahan oleh siksaan majikannya. Tak hanya Suryani yang jadi penghuni kolong jembatan angkuh itu. Di sana juga ada Nunung asal Tasikmalaya yang sengaja dibuang majikannya karena memiliki penyakit kulit menjijikkan yang konon menular. Ada juga Dwi, Fauziah, dan Jumiati. Semua memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Ah, bagimana dengan kisahmu sendiri? Sama mirisnya dengan kisah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa manusia harus lahir ke muka bumi, jika ia tak memiliki hak untuk hidup selayaknya manusia. Dunia memang angkuh.” Bisikmu lembut seperti kabut yang menguapkan aroma racun yang kental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Di kolong jembatan itu kau hidup bersama mereka seperti keluarga. Saling bertukar kata dan saling menghibur. Apa yang mereka makan, itulah yang kau makan. Tapi, selalu saja, ada yang pahit yang membaur bersama hari-harimu, hari-hari kalian. Lihat saja Nunung, tampaknya dia yang paling rapuh menahan beban. Sepanjang siang dan malam yang dilakukanya hanya termenung dan menangis. Badanya kurus karena tak pernah mau makan. Pucat masih tampak di wajahnya meski hampir seluruh kulitnya dipenuhi bintil-bintil merah yang berminyak dan mengelupas. Beberapa kali ia menyalahkan Tuhan yang telah sempurna menyengsarakan hidupnya. Beberapa kali Nunung tampak mengeluhkan rasa perih di ulu hati dan sekujur tubuhnya. Ia menangis tak henti-henti, ingin bertemu dengan ibu-bapak dan sanak keluarganya di kampung halaman. Tapi apa boleh buat. Setelah menangis panjang itu, Nunung tak tampak lagi sampai kau menemukanya terjuntai kaku di tiang rangka jembatan dengan lilitan tambang di lehernya. Ah, haruskah semua ini berakhir memar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau terisak menahan bongkah cadas di dadamu. Kau usap perutmu yang kian hari kian menggembung. Ini salah siapa? Tak ada yang salah. Demi memikirkan semua itu, nyeri di kepalamu kambuh. Badanmu terasa semakin ringkih dan kedinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan… kalau memang aku harus mati waktu dekat ini. Jangan biarkan aku mati dalam keterasingan. Izinkan aku mati di pangkuan nenekku, di kampung halamanku.” Kau terus terisak sampai suaramu serak dan habis, sampai rasa kantuk yang indah menjemputmu untuk singgah ke alam bawah sadar. Alam di mana mimpi buruk menjadi hal yang lebih indah. Ah, semua mengalir saja seperti air. Kehidupan selalu begitu. Dunia selalu begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau gagap terbangun di akhir sepertiga malam, kau rasakan badanmu menggigil bukan main, perutmu terasa sangat mual, begitu pula kepalamu terasa sangat nyeri dan berat. Kau beranjak dari rumah beratap jembatan itu. Kau semakin menggigil. Kedua gigimu bergemeletak menahan dingin. Kau tatap rembulan pucat yang berlayar ke utara menghindari arakan mendung gelap. Sepi. Teman-temanmu masih pada terlelap, terpasung gelap. Sekali lagi kau tengadahkan wajah ke langit lepas. Kau berusaha mengingat seperti apa warna langit di kampung halamanmu. Sama kah? Di kampungmu, pada detik itu, kau akan mendengar alunan tarhim seperti eufoni[8] kramat yang melengking dari petala langit. Kemudian nenekmu akan membangunkanmu untuk mengambil air wudhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa, tiba-tiba dadamu penuh sesak, perasaanmu tidak enak. Mungkin kau terlalu merindukan nenekmu, kampung halamanmu. Rasanya kau ingin tertidur lagi, dan tiba-tiba nenekmu datang dan membenarkan letak selimutmu. Ah, tapi perutmu sangat mual, tenggorokanmu sangat perih dan sesak bagai tercekik, bahkan kau terbatuk-batuk dalam. Ada apa lagi dengan tubuh rapuh ini? Beberapa jenak, kau terbatuk-batuk lagi, semakin dalam. Perlahan kau merasa ada yang meleleh dari lubang hidungmu. Kau menyentuhnya. Kau mendapati cairan kental, warnanya merah pekat. Tak kau pedulikan. Kau merebahkan tubuhmu di atas hamparan rumput kering yang mengembun. Matamu menyimpan cermin yang dapat mengundang kupu-kupu yang terpasung rembulan di atas sana. Kau tersenyum menyapa bintang-gemintang yang kesepian. Tiba-tiba kau merasa seperti tertidur di pangkuan nenekmu.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Malang, 5 September 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-7672543133486473951?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/7672543133486473951/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2010/06/di-kolong-langit-jeddah-yang-pucat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/7672543133486473951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/7672543133486473951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2010/06/di-kolong-langit-jeddah-yang-pucat.html' title='Di Kolong Langit Jeddah yang Pucat (dimuat di Surabaya Post 6 Juni 2010)'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TE1TBNVf_yI/AAAAAAAAAOw/fZXGBgumxWE/s72-c/A-Thousand-Splendid-Suns-Khaled-Hosseini-abridged-compact-discs.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-8046737940618512633</id><published>2010-06-29T03:18:00.000-07:00</published><updated>2010-07-26T02:22:26.447-07:00</updated><title type='text'>Bocah Pasir Brantas ( dimuat di Surabaya Post edisi 4 April 2010 )</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TE1To5HJIKI/AAAAAAAAAO4/mj11T0MxJ9w/s1600/merenung1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 208px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TE1To5HJIKI/AAAAAAAAAO4/mj11T0MxJ9w/s320/merenung1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5498142682079895714" /&gt;&lt;/a&gt; Oleh Mashdar Zainal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila luapan air mulai susut, tepian bengawan itu selalu dipenuhi kerikil dan endapan-endapan pasir basah, yang bila mengering akan tampak menggunduk seperti bukit-bukit kecil di padang gurun. Ia hapal betul, kapan air akan meluap dan surut. Dari rumahnya ia dapat mendengar kemerosak air pasang. Sesekian waktu bila ia rasa air telah susut, ia akan menaiki tanggul tepian sungai itu sambil membawa serok dan ciduk pasir yang dibuatnya dari bekas kaleng kotak biskuit. Karena rumahnya paling dekat, ia selalu dapat mengumpulkan pasir lebih banyak daripada teman-temanya.&lt;br /&gt;Ia tinggal di tepian bengawan itu bersama ibu dan kedua adiknya. Ayahnya hilang ditelan bah besar lima tahun lalu, jasadnya juga tak pernah ditemukan . Tak ada yang tahu, apakah ia masih hidup atau sudah mati. Rumah bambu itulah satu-satunya warisan nenek moyangnya yang turun temurun hidup sebagai penggali pasir. Bengawan dan rumah rapuh itu hanya terpisah oleh tanggul tinggi yang tampak kokoh, yang mungkin telah ada sebelum kakek buyutnya lahir. Tanggul itulah yang setiap hari ia naik-turuni. Dari seberang tanggul itulah ia membantu ibunya yang pincang untuk menghidupi kedua adik perempuannya.&lt;br /&gt;Orang-orang biasa memanggilnya Thekhel. Badanya kecil tapi tegap dan berisi. Kulitnya hitam mengkilat oleh sengatan matahari dan debu-debu pasir. Rambutnya cepak, merah dan kering. Usianya belum genap lima belas tahun. Setamat SMP ia sengaja tidak melanjutkan sekolah. Ia tahu, ibunya tidak mungkin bekerja lebih untuk membiayai sekolahnya. Maka ia putuskan untuk terjun berjibaku dengan pasir dan kerikil, meneruskan pekerjaan warisan moyangnya.&lt;br /&gt;Satu adiknya berumur sepuluh tahun, dan satunya lagi baru masuk SD. Dengan kakinya yang pincang sebelah, ibunya hanya bisa bekerja sebagai buruh cuci dan kadang-kadang sebagai tukang ikat bawang di rumah juragan Warsi. Bila tak ada pekerjaan, sementara dua diknya masih sekolah, ibu selalu menyusulnya turun ke sungai untuk sekedar membawakan air putih atau makanan kecil yang bisa ia santap saat beristirahat dari galian pasirnya.&lt;br /&gt;Berapapun hasil yang ia dapat dari menggali pasir, selalu ia serahkan pada ibunnya. Ibunya pun tak pernah banyak bicara keculai mengucapkan terima kasih. Di antara teman-temannya sesama penggali pasir, hanya ia yang tidak berani macam-macam. Sebenarnya bisa saja ia menyimpan sendiri uang hasil jerih payahnya untuk ditukarkannya dengan rokok atau minuman berbotol yang menyengat itu. Setiap kali teman-temanya mengajak pesta kecil-kecilan ia selalu memiliki alasan yang tepat untuk menolaknya. Itu ia lakukan semata karena ia sangat mencintai ibu dan adik-adiknya.&lt;br /&gt;Lamat-lamat ia masih bisa mengingat kata-kata ayahnya lima tahun lalu, kini ia baru bisa betul-betul mencerna kata-kata itu, “Fakir itu dekat sekali dengan kafir, le…, hanya ada dua pilihan bagi orang miskin seperti kita, syukur atau kufur. Kalau kita bersyukur maka derajat kita akan lebih tinggi dibanding orang-orang kaya yang pandai bersyukur. Tapi kalau kita kufur…. Derajat kita akan lebih rendah dari pada orang kaya yang kufur…. ”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Di usianya yang masih hijau ia sudah memiliki banyak sekali pengalaman biru. Hidup serba sederhana, sebagai penggali pasir tak pernah membuatnya mengeluh. Hari melaju dari minggu ke bulan dan tahun. Hari-harinya tak ada yang baru. Pagi-pagi buta sebelum dunia terbangun ia telah bangun. Usai ke surau ia akan cepat-cepat mengganti pakaiannya dengan dengan kaos oblong panjang yang warnanya sudah tak jelas. Pagi-pagi itu ia akan menaiki tanggul dan turun ke tepian bengawan untuk menepuk-nepuk endapan pasir dengan kakinya. Ia bisa mengira-ngira, mana pasir yang bagus dan mana pasir yang kurang bagus. Bila terdengar suara ‘bug…’ maka bisa ia pastikan, pasir itu bagus dan tidak banyak bercampur kerikil. Setelah itu ia akan mulai membuat tanda galian di situ.&lt;br /&gt;Para tengkulak dan juragan truk pasir selalu tepat waktu mengangkut pasir-pasirnya. Bila pasir yang ia kumpulkan bagus, maka satu baknya bisa dihargai 60 sampai 75 ribu. Namun bila pasir yang ia dapat bercampur lumpur dan kerikil, biasanya para tengkulak hanya akan menghargainya 40 ribu atau terkadang 50 ribu.&lt;br /&gt;Selepas musim penghujan, menjelang kemarau. Ia akan mengumpulkan banyak uang. Sebab, setelah air sungai susut sepanjang tepian sungai Brantas akan dipenuhi endapan pasir. Para penduduk akan berbondong-bondong, berebut menandai galian. Sebab bila telah ada satu galian, pantang bagi orang lain untuk meneruskan galian di tempat tersebut.&lt;br /&gt;Bila musim hujan kembali, ia akan banyak menganggur. Sebab luapan sungai yang deras tak memungkinkannya untuk membuat galian. Bilam musim hujan tiba, ia akan menghabiskan banyak waktunya di rumah. Menjagai kedua adiknya, ketika ibunya pergi ke desa seberang untuk mengambil dan mengantar cucian.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hujan berinai malam itu. Ia bisa mendengar gemuruh air bah datang. Ia teringat, sedikit pasir yang ia kumpulkan susah payah tadi pagi akan hilang tak bersisa diseret luapan air. Kedua adiknya sudah tertidur pulas di atas gelaran tikar. Ia dan ibunya duduk di bangku panjang sambil mengudap kerupuk layu yang di goreng ibu sore tadi. Percikan hujan dari luar bisa menerobos celah-celah atap yang tidak rapat. Dingin. Ia duduk sambil membuntal tubuhnya dengan kain sarung.&lt;br /&gt;,“Sepertinya, Ramdahan tahun ini kau harus beristirahat dari galian pasirmu. Musim hujan tampaknya akan berlanjut sampai habis lebaran qurban.” Ungkap ibunya.&lt;br /&gt;“Iya, bu. Sepertinya begitu.” Balasnya lesu.&lt;br /&gt;“Yah, kau tak perlu murung. Rizki sudah ada yang mengatur. Seperti tahun-tahun lalu, meski musim hujan panjang, kita juga masih bisa makan.”&lt;br /&gt;“Iya, berbulan-bulan cuma makan thiwul dengan lauk ikan asin.”&lt;br /&gt;“Hush…! kau tak boleh bicara begitu. Apapaun itu, kita harus tetap bersyukur. Toh, setiap bulan Ramadhan tiba, berkah dari Gusti Allah banyak bertebaran.”&lt;br /&gt;Ia tidak menyahut hanya bergeming merapatkan buntalan sarung yang membungkus tubuhnya.&lt;br /&gt;“Oh, ya Khel… besok ada santunan di Rumah Haji Syakur. Ibu sudah dapat kuponnya, besok tinggal ambil.” Ibunya coba menghibur.&lt;br /&gt;“Alhamdulillah….” kata itu saja yang keluar dari mulutnya.&lt;br /&gt;“Yah, sudah. Malam ini kita harus cepat-cepat tidur. Besok, ibu harus berangkat pagi-pagi untuk mengantri. Kau tahu sendiri kan… antrian yang mengambil santunan itu jumlahnya ratusan orang. Ibu harus berangkat pagi supaya dapat urutan lebih awal, supaya bisa pulang lebih cepat.”&lt;br /&gt;“Atau biar saya saja yang mengambil ke sana.” Tawarnya.&lt;br /&gt;“Ah, tak usah. Biar ibu saja. Kau di rumah saja, jagai adik-adikmu. Tak usah masak. Buat buka, biar nanti ibu beli saja di warung. Ya, semoga ibu bisa pulang sebelum bedug maghrib.” jelas ibunya yang kemudian beringsut merebahkan diri di gelaran tikar, di sebelah adik-adiknya terbaring.&lt;br /&gt;Sampai benar-benar malam ia belum juga dapat memejamkan matanya. Ia pandangi ibu dan kedua adiknya yang terbaring pulas. Senyum getir mengembang di antara dua bibirnya. Ricis hujan tak juga reda, seperti nyanyian panjang pengantar tidur. Perutnya terasa keroncongan. Ia beranjak ke dapur, mencari-cari makanan namun tak menemukan apapun. Ia kembali duduk menyandarkan kedua tanganya di punggung meja. Sampai tertidur.&lt;br /&gt;Pagi-pagi buta, sebelum adzan subuh melesat memecah kesepian langit, ia terbangun. Dilihatnya sang ibu telah sibuk menyiapkan tas anyaman dan jarit gendong yang biasa dipakainya untuk mengambil dan mengantar cucian.&lt;br /&gt;“Ibu mau berangkat sekarang?” tanyanya dengan suara serak mengantuk.&lt;br /&gt;“Iya, setelah shalat ibu langsung berangkat. Kamu jaga adik-adikmu. Kalau butuh apa-apa, ibu tinggalin duit sepuluh ribu, ada di dalam lemari di selempitan sarung bapakmu.” Jawab ibunya.&lt;br /&gt;Ia menguap lalu mengangguk dengan suara tak jelas. Adzan subuh menggelegar. Dalam keadaan masih mengantuk, ia beranjak untuk cuci muka. Ia lihat ibunya telah mengenakan mukena dan menggelar sajadah. Beberapa jenak, ibunya berteriak memanggilnya.&lt;br /&gt;“Khel…, ibu berangkat dulu, ya.”&lt;br /&gt;“Ya…” sahutnya dari dalam kamar mandi.&lt;br /&gt;Ia menggigil keluar dari kamar mandi. Dingin yang tidak biasanya. Dilihatnya rumah sudah sepi. Kedua adiknya masih lelap meski sesekali menggeliat. Perasaannya terasa ganjil. Entah mengapa, ia ingin berlari menyusul ibunya. Ia berharap-harap supaya ibunya bisa mendapat antrian paling depan dan pulang lebih awal.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sepanjang pagi samapai siang, ia tak keluar rumah. Rupanya udara beku tadi pagi mengendap di sekujur tubuhnya. Ia menggigil. Kepalanya terasa agak berat. Beberapa kali ia mengingatkan kedua adiknya untuk tidak main jauh-jauh apalagi ke sungai. Ia terbaring di atas dipan bambu di ruang tengah, tepat di bawah jendela. Sesekali ia mendongakkan wajahnya ke layar jendela untuk memastikan bahwa kedua adiknya masih bermain di halaman. Dari jendela itu, ia pun bisa mengawasi belokan di ujung gang. Beberapa kali ia melirik ke belokan ujung gang itu, berharap-harap melihat ibunya yang membawa bingkisan sambil jalan bergoyang-goyang karena kakinya panjang sebelah.&lt;br /&gt;Selepas ashar, badanya mulai terasa meriang. Ibunya juga belum datang. Sudah lima kali kedua adiknya menanyakan kapan ibunya pulang. Ia hanya bisa menjawab nanti dan nanti sambil menghibur kedua adiknya, bahwa ibunya akan datang dengan membawa makanan dan biskuit. Setelah itu, kedua adiknya akan berteriak kegirangan.&lt;br /&gt;“Kalau capek main sebaiknya kalian istirahat dulu. Nanti kalau ibu datang, kalian akan kakak bangukan.” Katanya pada kedua adiknya yang tampak bosan.&lt;br /&gt;Kedua adiknya mengangguk lalu rebah di gelaran tikar sambil saling jawil dan sesekali cekikikan. Ia tersenyum melihat adik-adiknya. Tak terasa, payah tubuhnya mengantarkannya pada lelap begitu saja. Ia gagap terbangun ketika mendengar bedug maghrib ditalu beberapa kali lalu disusul adzan maghrib. Ia terkejut, tak mendapati kedua adiknya. Ia meloncat dari dipan sambil teriak-teriak memanggil nama kedua adiknya. Ditengoknya kamar yang cuma satu-satunya itu, adiknya tidak ada di sana. Ruang dapur juga ditiliknya, namun sepi. Sama sekali ia tak mendapati tanda-tanda bahwa ibunya sudah datang. Ia bertanya-bertanya. Rasa takut dan cemas menari-nari di benaknya. Ia berlari keluar rumah, tak pula ia melihat dua gadis kecil itu. Langit mulai remang. Dadanya bergejolak ketika didengarnya gemuruh luapan air balik tanggul. Ia berlari menaiki tanggul sungai, air melup-luap. Ia tercekat melihat dua pasang sandal di atas tanggul itu. Dua pasang sandal adiknya.&lt;br /&gt;Ia meraih dua pasang sandal itu sambil menangis menuruni tanggul. Ia tak mau percaya dengan kecemasannya. Sampai di rumah, ibunya belum juga kembali. Ia semakin cemas. Sama sekali ia tak merasakan lapar atau haus, meski tak seteguk airpun masuk ke dalam tubuhnya. Ia datangi rumah-rumah tetangga untuk menanyakan, apakah meraka tahu dimana adiknya. Namun ia tak mendapat kabar apapun kecuali kabar tentang terjadinya insiden di tempat pembagian zakat di rumah Haji Syakur. Kabarnya 21 orang tewas terinjak-injak gelombang antrian yang jumlahnya ratusan, atau bahkan ribuan. Ia tak bisa lagi berkata-kata. Pingsan pun tak bisa. Mulutnya hanya komat-kamit menyebut nama Tuhan dan ibunya.]*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, September 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-8046737940618512633?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/8046737940618512633/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2010/06/bocah-pasir-brantas-dimuat-di-surabaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/8046737940618512633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/8046737940618512633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2010/06/bocah-pasir-brantas-dimuat-di-surabaya.html' title='Bocah Pasir Brantas ( dimuat di Surabaya Post edisi 4 April 2010 )'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TE1To5HJIKI/AAAAAAAAAO4/mj11T0MxJ9w/s72-c/merenung1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-9165387973360504039</id><published>2010-02-16T23:29:00.000-08:00</published><updated>2010-02-17T01:08:51.893-08:00</updated><title type='text'>Seperti Ibu-Bapak kita, suatu ketika kita pun akan beranjak renta…</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/S3usjW7a_sI/AAAAAAAAAOY/daRZHMSABbQ/s1600-h/bunda_kala_senja.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/S3usjW7a_sI/AAAAAAAAAOY/daRZHMSABbQ/s320/bunda_kala_senja.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439130698430217922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tadi gak sngaja lihat liputan di TV: Sebuah panti jompo. Aku gak tega nontonnya, pedih, kasihan, jengkel, geram. Dari pada meledak, maka segera kubuka lap top, kuputar lagu Ummi (Haddad alwi-Sulis) dan aku pun mulai menulis:&lt;br /&gt;Puluhan perempuan dan laki-laki renta menari di sana… Menggeliatkan tubuh mereka yang rapuh termakan usia. Mereka menyanyikan lagu ‘bengawan solo’ karya Gesang dengan suara parau kering. Scercah senyum memantul dari bibir mereka yang keriput. Ketika sebuah lagu diputar mereka menari dengan tarian alakadarnya. Setelah sedikit hiburan selesai mereka diminta menyampaikan salam pada pemirsa (yang mungkin termasuk keluarga mereka). Ketika mereka diminta berkirim salam, wajah mereka redup. Seorang nenek yang giginya dapat dihitung jari bersalam sambil terkekeh, “Saya titip salam sama Mas Helmi Yahya…”.&lt;br /&gt;Seorang nenek yan lain tak dapat berkata sepatah apapun ketika mereka diminta berkirim salam, tapi tiba-tiba matanya mengkilat. Setelah agak lama ia terisak lirih sambil bertutur, “pingin ketemu anak-anak dan cucu di Palembang…. ”&lt;br /&gt;Tiba-tiba otakku tersentil untuk menulis sebuah perjalanan tentang perasaan mereka yang entah, tak bisa kubayangkan.&lt;br /&gt;Siapapun yang membaca ini, katakana padaku: Apa alas an yang paling tepat untuk mengasingkan (halusnya: menitipkan) seorang ibu atau bapak yang lanjut usia ke panti jompo?&lt;br /&gt;Tidakkah mereka berpikir, ‘manusia renta’pun, mereka tetap hidup, dan punya hati, dan bisa merasakan pedih, dan bias terluka, dan bisa menangis… dan mereka… mereka adalah ibu atau bapak mereka sendiri, bukan orang yang lain.&lt;br /&gt;Benarkah keberadaan ibu atau bapak (ketika usia mereka merangkak senja) menjadi sebuah beban bagi ketentraman keluarga, hingga mreka harus kita asingkan di sudut kesendirian mereka, haruskah mereka kita pisahkan dari cucu-cucu mereka? Barangkali kita tak bisa menebak bahwa harapan puncak seorang manusia renta tak lain adalah hidup tenang di sela kasih sayang anak-cucunya… atau barangkali Tuhan harus mempercepat usia kita, supaya kita bias merasakan bagaimana menjadi tua dan diasingkan…&lt;br /&gt;Sekali lagi… benarkah masuk logika jika kehadiran ibu atau ayah menjadi semacam disturbia…? Benarkah jasad rapuh mereka merusak pandangan kita? Benarkah suara renta mereka memekakkan gendang telinga kita? Benarkah langkah tertatih mereka menjegal langkah kita? Benarkah segala kerentaan ibu-bapak kita menjadi penghalang napas kita? Benarkah? Benarkah?&lt;br /&gt;Ibu-bapak… Tak ingatkah kita. Merekalah yang menuntun, mengajarkan kita bagaimana caranya berjalan, merekalah yang memngajarkan kita membedakan warna cahaya, merekalah yang mengajarkan kita bagaimana menyendok nasi yang benar, merekalah yang yang mengusap kening kita ketika badan kita panas, merekalah yang mengajarkan kita menghapal garis lurus A, lengkung liuk Ba dan titik tiga Tsa… Lantas kemana semua itu….?&lt;br /&gt;Jika seorang ibu mau mengacungkan jarinnya untuk kita jadikan sandaran belajar berjalan, mengapa seorang anak tak bias menyiapkan sebilah tongkat ketika dua kaki ibu mulai gemetar? Jika seorang ibu tak pernah jijik menyeka kotoran kita di waktu kita kecil, mengapa seorang anak merasa jijik setengah mati untuk sekedar mengelap liar ibunya? Jika seorang ibu rela menghentikan detak jantungnya demi degup napas sang anak, mengapa seorang anak terasa berat melapangkan sedikit kursinya untuk diduduki sang ibu?&lt;br /&gt;Seiring rentanya zaman, seolah menjadi sebuah trend: Rumah, keluarga harus terbebas dari sesuatu yang namanya ‘manusia pikun’. Panti jompo di sana-sini semakin penuh, panti social manula semakin laris. Dengan beberapa peser uang, dengan bangga mereka menitipkan bapak-ibu mereka ke panti social… bahkan (Sebuah berita di tv) ada yang sudah melepaskan hati dengan meninggalkan ibu mereka yang pikun di tepian jalan, dengan beberapa lembar ratusan ribu dan beberapa helai baju.&lt;br /&gt;Sebuah fenomena yang miris… Suatu ketika aku ingin menulis sebuah novel atau cerita pendek, atau sekurang-kurangnya sebuah puisi, tentang ketika kita beranjak menjadi tua bersama kesendirian… Kawan…, Kita tak pernah bisa ingkar, bahwa suatu ketika nanti, kitapun akan menjadi tua dan renta…. seperti ibu-bapak kita…&lt;br /&gt;Kawan…, semoga ihwal demikian tak sampai terbesit ke benak kita, sekedear terpikirkan pun jangan… Yah, semoga kita menjadi seorang anak yang layak untuk menyelusup kesebuah tempat istimewa yang disimpan ibu kita di telapak kakinya… Kalaupun tuhan mengizinkan manusia menyembah selain-Nya… yang paling layak kita sembah adalah ibu…&lt;br /&gt;Ummy… ya lahnan a’syaqahu, Wa nasyidan dauman ansyuduhu&lt;br /&gt;Fikulli makanin adzkuruhu, Wa adhallu-adhallu uraddiduhu&lt;br /&gt;Ummy… ya ruhi wa hayati, Ya bahjatan nafsi wa munati&lt;br /&gt;Unsi fil hadiri wal ati&lt;br /&gt;Allahu ta’ala aushoni, Fi sirri walau fil I’laani&lt;br /&gt;Bil birri laki wal-ihsaani&lt;br /&gt;Ismuki manqusyun fi qalbi, Hubbuki yahdini fi darby&lt;br /&gt;Wa du’aiy yahfadhuki rabby&lt;br /&gt;Ibu… lagu yang palin kugemari,&lt;br /&gt;Irama yang selalu kudendangkan,&lt;br /&gt;Dimanapun dan kapanpun akan selalu ku ingat…&lt;br /&gt;Ibu… jiwaku dan hidupku&lt;br /&gt;Penghibah kebahagiaan pemberi harapan&lt;br /&gt;Detik ini, sampai waktu yang panjang…&lt;br /&gt;Tuhan telah menitahkanku&lt;br /&gt;Dalam kesendirian ataupun kebisingan&lt;br /&gt;Aku harus selalu berkasih saying dan berihsan padamu…&lt;br /&gt;Ibu… namamu terpahat di hatiku&lt;br /&gt;Cintaku padamu membawaku ke jalan yang tepat&lt;br /&gt;Do’aku… semoga Allah senantiasa menjagamu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabbighfirliy… dzunubiy wa liwalidayya warhamhuma kamaa rabbayaaniy shaghira….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-9165387973360504039?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/9165387973360504039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2010/02/seperti-ibu-bapak-kita-suatu-ketika.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/9165387973360504039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/9165387973360504039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2010/02/seperti-ibu-bapak-kita-suatu-ketika.html' title='Seperti Ibu-Bapak kita, suatu ketika kita pun akan beranjak renta…'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/S3usjW7a_sI/AAAAAAAAAOY/daRZHMSABbQ/s72-c/bunda_kala_senja.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-4657200606994981554</id><published>2009-12-24T02:10:00.000-08:00</published><updated>2009-12-24T02:16:06.628-08:00</updated><title type='text'>Ibu: Sosok Tuhan dalam diri manusia.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/SzM-9NNpnwI/AAAAAAAAAOQ/tO0RvduRkP0/s1600-h/ibu-perkasa.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/SzM-9NNpnwI/AAAAAAAAAOQ/tO0RvduRkP0/s320/ibu-perkasa.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5418743997896695554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kau ingin melihat bagaimana&lt;br /&gt;sosok Tuhan dengan segala asma' kearifan dan kelembutan-Nya, maka sentuhlah kaki&lt;br /&gt;ibumu.... bacalah tanda-tanda yang mengaur dari rambutnya yang mulai memutih,&lt;br /&gt;simaklah nada-nada dari kerutan yang berdenting di dahinya.... Ketika kau&lt;br /&gt;dapati tubuhmu gemetar da...n matamu membasah, berarti kau telah menemukan sosok Tuhan dalam diri manusia.....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-4657200606994981554?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/4657200606994981554/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/12/ibu-sosok-tuhan-dalam-diri-manusia.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/4657200606994981554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/4657200606994981554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/12/ibu-sosok-tuhan-dalam-diri-manusia.html' title='Ibu: Sosok Tuhan dalam diri manusia.'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/SzM-9NNpnwI/AAAAAAAAAOQ/tO0RvduRkP0/s72-c/ibu-perkasa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-3170565699372541258</id><published>2009-12-15T01:37:00.000-08:00</published><updated>2009-12-15T01:43:33.883-08:00</updated><title type='text'>Pengumuman 5 Karya Terbaik Pantun Lumpur Lapindo</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/SydZ6hXYT-I/AAAAAAAAAOI/cZz0NFmHFyw/s1600-h/lumpur-lapindo.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/SydZ6hXYT-I/AAAAAAAAAOI/cZz0NFmHFyw/s320/lumpur-lapindo.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5415395938860027874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Submitted by firdaus on Tue, 12/15/2009 - 16:05.&lt;br /&gt;Penulis: &lt;br /&gt;Firdaus cahyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya tim juri memilih lima karya terbaik pantun lumpur Lapindo. Sedianya pengumuman ini dipublikasikan pada tanggal 10 Desember 2009, bertepatan dengan hari Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia. Namun karena sesuatu hal, pengumuman itu diundur hari ini (15/12).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berikut lima karya terbaik itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari mana datangnya ubur-ubur&lt;br /&gt;dari laut dalam sekali&lt;br /&gt;Darimana datangnya lumpur&lt;br /&gt;dari lapindo itu yang pasti       &lt;br /&gt;(Karya Iwan Kurniawan, HP : 085723038xxx,: Kp. Pangadegan Hilir Rt 03 Rw 04 Depan PLN Pagelaran   Kec. Pagelaran. Kab. Cianjur Selatan 43266 Jawa Barat, email :gauss_xxx@yahoo.co.id)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada makhluk namanya Buto Ijo&lt;br /&gt;Matanya belo mirip lalat Ijo&lt;br /&gt;Hidup kami sekarang menjadi loyo&lt;br /&gt;Akibat kena lumpur lapindo&lt;br /&gt;(Karya Fadly Kurniawan,  Hp : 0856178xxxx,Green_bxxx@yahoo.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lumpur lapindo cermin diri&lt;br /&gt;untuk pelajaran pemimpin kini&lt;br /&gt;Indonesia bukan negeri kompromi&lt;br /&gt;Kesalahan manusia dibilang takdir ILAHI&lt;br /&gt;(Karya zul fahmi, email fahmi.zxxx@gmail.com)   &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Semur balado, sayur lodeh..&lt;br /&gt;Lumpur lapindo? Cape deh..&lt;br /&gt;(Karya  Yudha Prasetia, Email, yudha_praxxxxx@yahoo.com, Hp: 0838122xxxx)   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tanam bunga dirusak ternak&lt;br /&gt;Tanam padi dimakan unggas&lt;br /&gt;Bagaimana tidak teriak&lt;br /&gt;Rumah kami hilang tak bekas&lt;br /&gt;(Karya Darwanto, Jl. Gajayana Gg.I, No.717 Dinoyo Lowokwaru Malang, HP : 085237561xxx, email:mashdar.zaxxx@yahoo.co.id)   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagi para pemenang lomba pantun yang berada di Jakarta, hadiah dapat diambil pada jam kerja di Kantor Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), Jl.Mampang Prapatan II Nomor 30, Jakarta Selatan -12790 Telp. 021-791 81 683 mulai hari Selasa, 22 Desember 2009. Bagi pemenang yang berada di luar kota, bingkisan hadiah akan dikirim.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Atas nama panitia, Gerakan Masyarakat Sipil Menuntut Keadilan Korban Lumpur  Lapindo (GMKKL) mengucapkan banyak terimakasih bagi para peserta lomba pantun lumpur Lapindo. Tak lupa pula GMKKL mengucapkan selamat bagi lima pemenang lomba pantun lumpur Lapindo.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gerakan Masyarakat Sipil Menuntut Keadilan Korban Lumpur (GMKKL)&lt;br /&gt;Jatam, Kontras, Kiara, Walhi, Satu Dunia, LBH Masyarakat, GMLL, UPC, Imparsial, YLBHI, ICEL, UPLINK, Institut Hijau Indonesia, KAU, Lapis Budaya, SAKSI, Solidaritas Perempuan, HRWG&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-3170565699372541258?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/3170565699372541258/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/12/pengumuman-5-karya-terbaik-pantun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/3170565699372541258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/3170565699372541258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/12/pengumuman-5-karya-terbaik-pantun.html' title='Pengumuman 5 Karya Terbaik Pantun Lumpur Lapindo'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/SydZ6hXYT-I/AAAAAAAAAOI/cZz0NFmHFyw/s72-c/lumpur-lapindo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-8959808243039784215</id><published>2009-12-06T04:12:00.000-08:00</published><updated>2011-03-05T01:29:48.706-08:00</updated><title type='text'>Resensi Novel ZALZALAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Sxuf2bzWlnI/AAAAAAAAAOA/Th1jGKRfo5U/s1600-h/zalzalah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 216px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Sxuf2bzWlnI/AAAAAAAAAOA/Th1jGKRfo5U/s320/zalzalah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412095134740682354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku          : Zalzalah (Biarkan Cinta Sampai pada Akhirnya)&lt;br /&gt;Penulis                 : Masdhar Z&lt;br /&gt;Penerbit              : Semesta, PRO-U Media&lt;br /&gt;Tahun Terbit      : 2009&lt;br /&gt;Tebal                    : 325 halaman&lt;br /&gt;Peresensi            : Rialita Fithra Asmara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala yang fana wajiblah musnah, hanya Tuhan yang Mahabaka yang akan tetap kekal. Segala sesuatu yang ada di dunia ini pasti ada akhirnya. Mungkin juga cinta. Untaian kalimat yang cukup indah untuk mengakhiri novel perdana garapan Masdhar ini. Sebuah novel yang mampu menghantarkan kita pada kesimpulan bahwa sang penulis mampu menjelmakan dirinya menjadi seorang perempuan yang begitu paham dunia jiwa sang perempuan. Begitu lembut, begitu menyentuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan judulnya, Zalzalah yang berarti goncangan maka alur novel ini juga penuh goncangan dengan akhir yang tak terduga. Selain itu, peristiwa gempa yang terjadi di Yogyakarta juga menjadi salah satu latar di dalam novel ini. Kehadiran latar tersebut seolah-olah semakin mengukuhkan novel ini untuk layak diberi judul Zalzalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini berkisah tentang kehidupan tokoh Milati, Misas, dan Hurin. Pergolakan konflik berkutat di antara mereka bertiga. Konflik masih berkutat tentang cinta diantara ketiganya, pemahaman masing-masing tokoh tentang ajaran agama membuat mereka mempunyai persepsi sendiri tentang cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda membaca novel ini dengan seksama, Anda tak hanya disuguhkan kisah cinta yang dramatis tetapi juga selaksa nilai hikmah kehidupan. Satu lagi, Anda akan menemukan betapa mahir penulis meramu dan menghasilkan kata-kata yang terkadang tak lazim digunakan. Netra raya siang sudah lelah dan hampir terpejam di balik kelopak ufuk barat (halaman 8).  Kata-kata itu tak hanya dirangkai dalam sebuah kalimat yang memikat tapi dipilih dengan penuh perhitungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita bermula dari gadis panti di sore hari bernama Milati, seorang anak yatim piatu yang dititipkan di panti asuhan. Panti asuhan yang sekaligus juga pesantren. Di sanalah Milati belajar tentang kehidupan. Ia berteman akrab dengan Syaqib. Seorang pemuda yang senasib dengannya dan diam-diam mencintai Milati. Namun, Milati tak kunjung merasa bahkan ketika Syaqib dikejar-kejar oleh gadis. Gadis itu telah terpesona dengan kebaikan hati Syaqib tetapi hati Syaqib sama sekali tak terikat dengan gadis itu. “Karena hatiku sudah untuk oaring lain” (halaman 32) begitu kata Syaqib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik mulai muncul ketika tumbuh benih-benih cinta antara Milati dan Misas. Misas adalah mahasiswa S2 lulusan Yaman. Namun, karena Misas telah dijodohkan dengan Hurin, cinta mereka tak bisa bersatu. Sebenarnya cinta mereka bisa diperjuangkan. Sayang, Milati membohongi kata hatinya dengan mempertimbangkan banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik semakin mencuat ketika Misas dan Hurin menikah dan Milati harus hidup serumah dengan suami istri itu. Hal ini dikarenakan Hurin adalah seorang gadis buta, dan Milati adalah orang kepercayaan yang dipercaya bisa menjaga Hurin.&lt;br /&gt;Pernikahan Misas dan Hurin bukan malah memupus rasa cinta Misas kepada Milati atau sebaliknya. Bahkan Milati begitu dicekam rasa cemburu dan ia selalu ingat akan rasa cintanya kepada Misas seperti yang terlihat dalam puisi yang ditulis oleh Milati di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan-kenangan selalu terawang&lt;br /&gt;Meskipun lepas ia terbuang&lt;br /&gt;Kenangan tak pernah pelit&lt;br /&gt;Meskipun ia pahit berbelit-belit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kemana kan kubagi duka&lt;br /&gt;Jika kenangan selalu saja       murka&lt;br /&gt;Cukuplah aku bermuram durja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah semua kan mengalir saja (hlm. 209—210)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah akhir cerita yang yang sudah bisa diduga tersaji menjadi ending yang kurang begitu apik. Sebuah ending yang sering kita jumpai pada cerita-cerita kebanyakan. Namun apa pun itu, novel besutan anggota FLP (Forum Lingkar Pena) Malang ini mampu memberikan nasihat berharga dalam menyikapi cinta. Utarakan atau pendam dan membawa timbunan luka yang mungkin entah kapan bisa disembuhkan. Sebuah pilihan yang sulit dan pilihan mana yang terbaik, Anda bisa menemukan jawabannya di dalam novel ini. Selamat membaca dan digoncangkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;? Peresensi adalah alumnus Sastra Indonesia UM dan guru Bahasa Indonesia SMAN 3 Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-8959808243039784215?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/8959808243039784215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/12/resensi-buku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/8959808243039784215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/8959808243039784215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/12/resensi-buku.html' title='Resensi Novel ZALZALAH'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Sxuf2bzWlnI/AAAAAAAAAOA/Th1jGKRfo5U/s72-c/zalzalah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-6738405344654952730</id><published>2009-11-14T03:55:00.000-08:00</published><updated>2009-11-14T04:14:25.265-08:00</updated><title type='text'>Aku jatuh cinta pada hujan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Sv6dbnHsdPI/AAAAAAAAAN4/aXjuZjztwS0/s1600-h/Copyofmua6.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 221px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Sv6dbnHsdPI/AAAAAAAAAN4/aXjuZjztwS0/s320/Copyofmua6.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403929700574459122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Sv6da1_CbII/AAAAAAAAANw/q57ZXwGAs-I/s1600-h/rain-103.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 235px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Sv6da1_CbII/AAAAAAAAANw/q57ZXwGAs-I/s320/rain-103.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403929687384812674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Sv6dasgYmpI/AAAAAAAAANo/zOf7s1tC-yQ/s1600-h/hujANNNN.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 218px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Sv6dasgYmpI/AAAAAAAAANo/zOf7s1tC-yQ/s320/hujANNNN.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403929684840323730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Sv6dbnHsdPI/AAAAAAAAAN4/aXjuZjztwS0/s1600-h/Copyofmua6.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 221px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Sv6dbnHsdPI/AAAAAAAAAN4/aXjuZjztwS0/s320/Copyofmua6.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403929700574459122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Sv6da1_CbII/AAAAAAAAANw/q57ZXwGAs-I/s1600-h/rain-103.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 235px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Sv6da1_CbII/AAAAAAAAANw/q57ZXwGAs-I/s320/rain-103.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403929687384812674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Sv6dasgYmpI/AAAAAAAAANo/zOf7s1tC-yQ/s1600-h/hujANNNN.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 218px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Sv6dasgYmpI/AAAAAAAAANo/zOf7s1tC-yQ/s320/hujANNNN.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403929684840323730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku jatuh cinta pada hujan.....&lt;br /&gt;semenjak menelanjangi pesonanya dari balik jendela&lt;br /&gt;kaca yang berdebu ....... &lt;br /&gt;embun hujan memeluk kaca dan di sana, &lt;br /&gt;jariku bergerak menggurit sebentuk cinta..... &lt;br /&gt;Hujan mengingatkan aku pada banyak hal....&lt;br /&gt;kejernihan, keteduhan, kehangatan.....&lt;br /&gt;Tataplah wajah hujan&lt;br /&gt;dari balik jendela kacamu, &lt;br /&gt;maka ia akan menyentuh hatimu.... &lt;br /&gt;dan kau akan jatuh cinta padanya....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-6738405344654952730?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/6738405344654952730/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/11/aku-jatuh-cinta-pada-hujan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/6738405344654952730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/6738405344654952730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/11/aku-jatuh-cinta-pada-hujan.html' title='Aku jatuh cinta pada hujan'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Sv6dbnHsdPI/AAAAAAAAAN4/aXjuZjztwS0/s72-c/Copyofmua6.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-5257823117950526338</id><published>2009-11-14T03:12:00.000-08:00</published><updated>2009-11-14T03:26:07.956-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Sv6SYGb-TiI/AAAAAAAAANg/NLjU38elh8k/s1600-h/wall_1024x768_7.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Sv6SYGb-TiI/AAAAAAAAANg/NLjU38elh8k/s320/wall_1024x768_7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403917545633631778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku napi no. 786 bila melihat keluar terali penjara.….&lt;br /&gt;Aku melihat bulan, tahun, berganti abad&lt;br /&gt;Harum ladang ayahku tercium dari negeri ini&lt;br /&gt;Panas matahari di sini mengingatkanku pada redup pangkuan ibuku&lt;br /&gt;Hujan di sini membawa musim semi negeriku&lt;br /&gt;Dan musim dingin di sini bersatu dengan hangatnya lodi negeriku&lt;br /&gt;Dan kata dia ini bukan negerimu, tapi kenapa dia nampak seperti negeriku?&lt;br /&gt;Katanya aku bukan seperti dia, lalu kenapa dia mirip aku? &lt;br /&gt;Aku melihat malaikat kecil yang turun dari langit, dia berkata……&lt;br /&gt;Namanya Samiya, dia memanggilku Veer&lt;br /&gt;Dia bagai orang asing, tapi dia bersikap seperti kerabat buatku&lt;br /&gt;Mendengar kata-katanya yang benar&lt;br /&gt;Aku ingin hidup kembali dengan sumpah dan janji2nya&lt;br /&gt;Kata mereka aku bukan seperti dia, lalu kenapa dunia melawan, dia membelaku?&lt;br /&gt;Aku melihat sebuah Zaara baru yang bersatu dengan warna-warni desaku&lt;br /&gt;Dia lupakan impianya demi wujudkan impianku &lt;br /&gt;Kata mereka aku bukan seperti dia, lalu kenapa dia nampak seperti aku?&lt;br /&gt;Dia berbakti  pada kerabat-kerabatku&lt;br /&gt;Dan tinggalkan kerabat-kerabatnya&lt;br /&gt;Kini aku ingin  membahagiakan dia, aku ingin hidup lagi demi dia&lt;br /&gt;Kata mereka negeriku bukan negeri dia, lau kenapa dia tinggal di rumahku?&lt;br /&gt;Kata mereka aku bukan seperti dia, lalu kenapa dia namapak seperti aku?&lt;br /&gt;Itulah kata-kata napi no. 786 bila melihat keluar dari terali besi penjara…..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-5257823117950526338?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/5257823117950526338/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/11/aku-napi-no.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/5257823117950526338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/5257823117950526338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/11/aku-napi-no.html' title=''/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Sv6SYGb-TiI/AAAAAAAAANg/NLjU38elh8k/s72-c/wall_1024x768_7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-5946572810187201887</id><published>2009-11-09T03:54:00.000-08:00</published><updated>2009-11-09T04:31:35.536-08:00</updated><title type='text'>Fiksi Mini FavoritQ</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/SvgLNQeHdCI/AAAAAAAAANY/neRuiwgQJd0/s1600-h/98079large.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 234px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/SvgLNQeHdCI/AAAAAAAAANY/neRuiwgQJd0/s320/98079large.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402080075418399778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Cerpen&lt;br /&gt;[ Jawa Pos ; Minggu, 01 November 2009 ]&lt;br /&gt;35 Cerita buat Seorang Wanita&lt;br /&gt;Oleh : Agus Noor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berubah jadi anjing. Itulah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Anak istrinya yang kelaparan segera menyembelihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teka-teki Laki-laki yang Tak Kembali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkantuk-kantuk perempuan itu menunggu suaminya pulang. Terdengar kunci pintu dibuka pelan. Sejak itu suaminya tak pernah muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengah malam, bayi yang lapar itu terus menangis menjerit-jerit. Pelan-pelan ia mulai memakan jari-jarinya, lengan dan kakinya, melahap usus dan jantungnya, hingga tak bersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan Membunuh Ular di Hari Minggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau bermimpi, seekor ular menyelusup masuk telinga ibumu. Kau menjerit, dan cepat-cepat menghantamnya. Saat terbangun, kau mendapati ibumu mati terkapar bersimbah darah. Kepalanya pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misteri Mutilasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memotong-motong tubuhnya sendiri, dan membuangnya ke kali. Polisi masih sibuk mencari pembunuhnya, sampai kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api Sinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinta berdiri di tepi api penyucian yang berkobar. ''Masuklah...,'' ujar Rama. ''Bila kau belum terjamah Rahwana, api itu akan menyelamatkanmu.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinta menatap pangeran tampan itu dengan mata berkaca-kaca, sebelum akhirnya terjun dalam kobaran api. Semua yang hadir begitu lega ketika menyaksikan api itu perlahan padam: tubuh Sinta tak terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya kedua payudaranya yang gosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah ia bertemu perempuan secantik itu. Mengingatkannya pada Putri Tidur jelita. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama dan meminangnya. Tak ada yang tahu ketika ia membawa mayat itu ke kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Seorang Psikopat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum polisi tiba ia bergegas mengemas koper yang berisi potongan tubuhnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TKI yang Pulang Kampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia dikabarkan mati. Saat ia kembali, keluarganya sedih. Tengah malam ia pun menggantung diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambulans yang Lewat Tengah Malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambulans yang membawa jenazahmu berkali-kali oleng karena sopirnya ngantuk. ''Aku tak mau mati kecelakaan lagi,'' katamu. ''Sini, biar saya setir.'' Pak Sopir pun gantian istirahat di peti mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat ambulans itu melintas pelan menuju rumahmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulat dalam Kepala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah itu begitu iba pada adiknya yang bertahun-tahun terbaring sakit dengan kepala yang makin membengkak. ''Seperti ada ribuan ulat di otakku,'' keluh adiknya selalu. Suatu hari bocah itu melihat ibunya membelah apel, dan ada ulat di dalamnya. Tengah malam, diam-diam, ia mengambil pisau. Kini ia tahu bagaimana menolong adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayat di Pinggir Kali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayat itu ditemukan telanjang di pinggir kali. Ia kemudian dilaporkan ke polisi dan dihukum lima tahun penjara karena dituduh melanggar Undang-undang Pornografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumur Tua di Belakang Rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sumur tua di belakang rumahku. Setiap purnama air sumur itu memerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Dulu,'' cerita Nenek, ''puluhan orang dibantai, dan dibuang ke dalamnya.'' Sejak itu, siapa pun dilarang mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi diam-diam aku suka ke sana. Menyaksikan bangkai mayatku mengapung di dasar sumur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matinya Seorang Pelawak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang tersenyum menyaksikannya di panggung. Ketika ia mati, semua orang tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarapan Pagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potongan daging busuk penuh belatung berceceran di lantai. Bau busuk meruap kamar gelap itu. Sumanto menikmati sarapan paginya dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salju&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari begitu terik. Sebutir salju melayang jatuh di telapak tangan. Ia berteriak gembira. Sejak itu orang-orang menganggapnya gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Paling Indah dalam Hidup Sepasang Suami Istri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya duduk di beranda, menikmati teh hangat, memandang senja yang bagai usia perkawinan mereka. ''Ceritakan kisah paling lucu dalam hidupmu,'' kata si istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Ialah ketika aku membunuhmu,'' jawab si suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudik Lebaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh sekali. Stasiun lengang dan sepi. Cuma ia sendiri. Sesekali terdengar lengking peluit. Tapi kereta itu tak juga muncul. Padahal ia sudah menunggu sejak Lebaran bertahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita dari Koran Pagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahmu menggampar ibumu sampai mati karena ia telah menggorok kamu yang dengan sadis membacok ayahmu hingga tewas hanya karena tak membelikanmu mainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamasya Keluaga Seorang Kerani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liburan sekolah ini ia ingin mengajak anak-anaknya tamasya. ''Meski miskin, sesekali perlu juga kita rekreasi,'' katanya. Anak-anak bersorak gembira. Menyisihkan sedikit uang gaji, digoncengnya anak-anak ke Kebun Binatang. Ia tersenyum menyaksikan mereka berlarian, main prosotan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak ponselnya berbunyi. Dari istrinya, ''Katanya mau ngajak liburan. Anak-anak nunggu di rumah nih!''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buru-buru ia ngebut pulang. Tapi di tikungan sepeda motornya terguling dan truk yang melaju kencang langsung menyambarnya. Sedetik sebelum nyawanya melayang, ia tiba-tiba teringat kalau istrinya sudah meninggal setahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiroko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak terbangun ketika bom atom itu meledak di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reinkarnasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mati di masa depan, aku terlahir kembali di masa silam sebagai diriku yang sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon Hayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kanak, kau mendengar kisah pohon rimbun di alun-alun kotamu. Setiap selembar daunnya luruh, seseorang akan mati. Pernah sebagian besar daunnya rontok ketika terjadi pembantaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini kau gemetar memandangi satu-satunya daun yang tersisa di pohon itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu yang Menunggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anaknya hilang saat kerusuhan. ''Mungkin diculik. Mungkin terpanggang api yang membakar pertokoan,'' kata orang-orang. Sejak itu ia selalu duduk termangu di beranda, hingga larut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun kemudian para peronda masih sering melihatnya duduk di situ, meski ia telah lama mati dan rumah itu sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halte&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkantuk-kantuk kau duduk di halte menunggu angkot yang akan membawamu pulang. Begitulah, setiap hari, kau selalu pulang kerja selarut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angkot datang. Kau segera masuk. Ketika angkot itu kembali melaju, kau menegok ke jalanan sepi di belakangmu. Kau melihat dirimu yang tengah terkantuk-kantuk menunggu di halte itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali seorang peramal mendatangi. ''Kau akan mati ketabrak kereta api,'' katanya. Padahal ia tak pernah dilahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Salah Tangkap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tak pernah bisa mengerti, kenapa polisi menangkapmu. Mereka terus menginterogasi. Menggertak dan memukulmu berkali-kali. Memaksamu agar mengaku. Kau dituduh membunuh kekasihmu. Padahal kekasihmu masih hidup. Kaulah yang mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelucon Seorang Badut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia suka menghibur diri di depan kaca dengan gerakan-gerakan paling lucu yang tak pernah bisa membuatnya tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabrak Lari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat terburu berangkat kantor kau menabrak pejalan kaki. Tubuhnya terpelanting dan tergilas. Kau terus tancap gas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam harinya, istrimu begitu sedih saat mendapat kabar kalau kau mati tertabrak lari ketika pulang kerja sore tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau menangis menceritakan kisah itu padaku yang tadi pagi mati karena tabrak lari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai Pemakaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai dikuburkan, ia pun kembali ke rumah. ''Ayah pulang! Ayah pulang!'' Anak-anaknya berlarian riang. Di pintu, mata istrinya berlinang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kafe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari menunggu ia bercakap-cakap dengan tamunya yang tak pernah datang. Sampai kafe tutup. Dan ia pulang. Tapi pelayan kafe masih melihatnya terus duduk di kursi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alibi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau merasa senang karena akhirnya kau dibebaskan dari tuduhan. Polisi tak bisa mendakwamu, karena ketika kau terbunuh dan mayatmu ditemukan malam itu, kau memang tak ada di tempat kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan yang Mati Membakar Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu ditemukan mati gosong, sambil mendekap bayi yang disusuinya. Orang-orang yang mengangkat mayatnya bersumpah, kalau air susu perempuan itu masih menetes-netes dari putingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Sebuah Kuburan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang bilang kuburan itu berhantu. Bila pulang malam-malam, kau pasti merinding setiap melewatinya. Seperti ada suara yang terus melolong. Kau sedih setiap kali mendengar lolong itu. Lolong itu selalu mengingatkanmu pada kejadian bertahun lalu, ketika kau dulu mati dipotong-potong dan dibuang ke kuburan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutir Debu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat, ketika sebutir debu itu jatuh menyentuh tanah, semesta ini pun meledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta-Jogjakarta, 2008-2009 (Untuk Jenny Ang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Agus Noor, cerpenis dan penulis naskah teater, tinggal di Jogja&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-5946572810187201887?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/5946572810187201887/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/11/fiksi-mini-favoritq.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/5946572810187201887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/5946572810187201887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/11/fiksi-mini-favoritq.html' title='Fiksi Mini FavoritQ'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/SvgLNQeHdCI/AAAAAAAAANY/neRuiwgQJd0/s72-c/98079large.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-8356152100762976760</id><published>2009-10-31T02:52:00.000-07:00</published><updated>2009-10-31T03:04:13.063-07:00</updated><title type='text'>Galerry cerpen(Q)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/SuwJysP6AuI/AAAAAAAAANI/KzvLNijbjpo/s1600-h/Copy+of+khaled_hosseini_a_thousand_splendid_suns.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 260px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/SuwJysP6AuI/AAAAAAAAANI/KzvLNijbjpo/s320/Copy+of+khaled_hosseini_a_thousand_splendid_suns.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5398700819786367714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kolong Langit Jeddah yang Pucat&lt;br /&gt;Cerpen Mashdar Z.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau rasakan layar kecemasan mengembang di wajahmu yang kuning pucat. Seperti siluet senja yang melesat di antara punggung Gunung Radwa dan Abha yang kelabu. Kau teringat nenekmu yang sebatang kara di negeri seberang. Kau teringat wajahnya yang cekung, atau punggungnya yang membungkuk karna saban hari merangkak mengambah alas  Watu Gilang untuk memunguti ranting-ranting kering, atau geguguran dedaunan jati. Nenekmu hanya seorang buruh tani yang ketika menunggu musim panen sama halnya  dengan menunggu lebaran tiba. Bila musim tanam selesai, nenekmu selalu merangkak menyisiri hutan-hutan di kaki Gunung Wilis, untuk segendong kayu bakar atau segepok daun jati yang nantinya akan ia tukarkan dengan beras dan minyak curah. Ah, kau benar-benar merindukannya.&lt;br /&gt;Beberapa tahun lalu, sebelum kau melesat terbang untuk meraih serpihan rizqi di bawah langit kota Jeddah yang jauh, kau tak pernah bisa lepas dari nenekmu. Kau hidup berdua saja denganya. Ibumu keracunan ketuban saat melahirkanmu, biaya persalinan yang pas-pasan tidak memungkinkanya untuk memperoleh tindakan cepat, maka setiap nenekmu bercerita perihal kelahiranmu, kau seperti menyayat luka yang terpatri di wajahmu. Tak cuma itu, berselang satu setengah tahun terpaut usiamu, ayahmu mangkat karena sengatan paru-paru basah yang sama sekali tak tersentuh tangan medis, selain kehendak Tuhan tentu saja karena alasan klasik yang klise: biaya. Itulah mengapa kau begitu benci dengan kemiskinan. Kemiskinan telah merenggut orang-orang yang kau cinta sebelum kau sempat mematri raut wajah mereka dalam benakmu.&lt;br /&gt;Kau tahu, nenekmu begitu menyayangimu. Kau layaknya manik permata yang selalu di elu-elukannya. Wajahmu cantik, gerak lakumu jujur dan lugu. Ia tak mau jika kau menjadi lekang dan rapuh hanya karena pengaruh pergaulan di kampungmu yang mulai menyisihkan nilai-nilai ketimuran seorang gadis. Tentu kau masih ingat dengan Eli, teman sekelasmu yang mati bunuh diri gara-gara tak kuasa menanggung aib yang mengembung di perutnya. &lt;br /&gt;Maka, seusai menamatkan pendidikan di sekolah menengah atas, nenekmu menyarankanmu untuk bertebaran ke negeri jauh, menjemput berkah yang telah di sebar Gusti Allah di muka bumi. Awalnya kau bersikeras untuk tetap tinggal menemani nenekmu, agar tetap bisa menjagainya di usia senja. Namun air mata tua nenekmu telah meluluhkan keras kepalamu. Akhirnya kau pun berangkat. &lt;br /&gt;Ketika itulah, kau rasakan pertama kali betapa birunya warna perpisahan. Pikiranmu bergejolak. Di usiamu yang baru belasan tahun itu, tak pernah kau bayangkan kau akan melayarkan bahtera seorang diri, jauh ke tengah samudera kehidupan yang luas tak beranah tepi. &lt;br /&gt;“Jika perahu telah kukayuh ke tengah, pantang bagiku membalik arah, biarpun besar gelombang, kemudi patah, layar robek, itu lebih baik dari pada memutar haluan pulang.” Bisikmu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asing sekali ketika kakimu menapak negeri bertanah gurun itu. Di sebuah rumah yang megahnya seperti masjid itu kau bekerja. Merawat perempuan pikun dan balita. Dengan gaji tujuh ratus real yang tak pernah sampai ke tanganmu. Tahun pertama kau bekerja, kau hidup seperti budak tawanan perang. Sayyidah  Fatat yang bermata lebar dan bercelak tebal itu selalu mengawasi gerak-gerikmu. Barangkali ia tak mau melihatmu bermalas-malasan. Melihatmu duduk tanpa melakukan sesuatu, baginya adalah sama halnya membuang dirham .&lt;br /&gt;Jaddah  Raisyah, perempuan renta yang melata di kursi roda itu pun selalu menyusahkanmu. Kau merawat perempuan pikun itu seperti merawat cicitnya. Menyuapinya saat makan, menyeka tubuhnya yang lemir, mengelap air liurnya, atau kalau lebih buruk lagi menimpal bekas kotorannya. Awalnya kau merasa jijik dan hendak muntah, tapi lama semakin lama kau menjadi sangat terbiasa. Kau bayangkan wanita tua itu nenekmu dan semuanya menjadi lebih mudah kau lakukan.&lt;br /&gt;Tahun berganti tahun kau jalani, dapat kau rasakan lembaran demi lembaran hidupmu yang datar dan buram tanpa warna. Kebosanan yang merestan di kepalamu kini telah lumat oleh ketidakberdayaan. Dekat sekali kau rasakan campur tangan Tuhan atas skenario yang kau perankan sekarang ini. Maka kau bisa apa? Bahkan ketika Sayyid  Junaid, suami Sayyidah, mulai berani mencolek-colek pinggulmu, kau pun tak bisa berbuat apa-apa. &lt;br /&gt;Sampai datanglah suatu ketika yang celaka. Sayyidah menggelar sebuah pesta besar-besaran di rumahnya. Seluruh tenagamu dikurasnya. Kakimu gemetar melihat keramaian yang begitu mencekam. Dari balik gorden dapur kau lihat para tamu yang mengangungkan pesta dan kesenangan. Orang-orang berhidung panjang dan bercambang tebal, orang-orang berkulit hitam dan berambut kriting, mereka berkumpul melebur dalam tahniah  dan tari-tarian. Mereka menyatap kambing guling dan ikan sadil ‘arab seperti srigala lapar. Nasi samin yang kau tanak semalam suntuk, tandas oleh perut mereka. &lt;br /&gt;Seusai pesta, dan tamu-tamu pulang. Kau merangkak membereskan sisa-sisa pesta yang berantakan. Sayyidah pergi mengantarkan saudara jauhnya dan mungkin kembali esok lusa. Tinggalah kau seorang, bersama nenek pikun dan Sayyid Junaid yang tatapan matanya seperti hendak menerkam. &lt;br /&gt;Malam itulah, ketika tiba-tiba Sayyid Junaid memintamu ke kamarnya untuk memijtnya, kau juga tak bisa menolak. Malam itu bisa kau rasakan, kau seperti ayam kecil yang terperangkap dalam liang musang. Benarlah, Sayyid Junaid mulai merayumu. Kau menolaknya, akibatnya kau pun mendapat satu tamparan keras di pipi kananmu. Kau berontak, hendak berlari dari darinya, dengan cekatan pula lelaki arab bernafsu kuda itu merengkuhmu, melumatmu dalam tarian-tarian menyeramkan. Semenjak itu, malam-malam tua telah menjadi seteru yang menyematkan luka abadi dalam lubuk dadamu. Seperti lolongan rase gunung, setiap malam kau memperpanjang tangismu sambil mencakar wajahmu sendiri. Ngilu. &lt;br /&gt;“Telah tersemat ribuan jarum dalam ketubanku. Aku musafir asing yang kehilangan kaki. Lantas musti bagaimana aku meneruskan mimpi. Luka ini terlampau mendarah daging, rasanya waktu pun tak akan mampu menyembuhkannya. Ini memang tak lebih sakit dari mati, tapi ini lebih buruk dari mati.” Cercaumu, pilu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petang itu, ketika rumah Sayyidah sepi kau berjingkat meninggalkan perempuan tua yang tergolek di kasur bersama kotorannya sendiri itu. Kau benar-benar sudah tak tahan. Kau berjingkat membawa beberapa helai pakaian yang kau bungkus dalam kain jarit milik nenekmu. Kau cek setiap penjuru pintu. Semua terkunci rapat. Kau berpikir, mereka memang sengaja memasungmu. Kau pun tak pendek akal. Kau turun lewat balkon samping dengan beberapa utas kain yang kau kaitkan jadi temali. Kau sudah seperti buronan yang hendak kabur dari bui. Tak kau pikirkan, kau tak membawa bekal atau uang sepeserpun. Ah, barangkali gejolak badai di bathinmu mengalahkan rasa lapar. &lt;br /&gt;Lihatlah! Di tanah gharib  itu kau jadi gelandangan. Ayunan langkahmu selalu gontai musabab lututmu yang selalu gemetar menahan beratnya beban yang kau pikul seorang diri. Perutmu juga terasa melilit dan panas. Kepalamu berat bukan main. Kau mulai suka terbatuk-batuk. Sempurna sudah apa kau cemaskan sejak pertama kali menginjak tanah terik berdebu itu. Kau melanglang serupa orang terusir. Berteman baik dengan trotoar-trotoar dan rasa lapar. Hingga sampailah langkahmu pada bangunan kardus di bawah jembatan Waladhaek yang gagah itu. Di sana kau bertemu dengan Suryani, gadis 17 tahun asal Jombang, yang bernasib sama denganmu atau barangkali lebih buruk. Bisa kau tilik bekas luka memar di jidadnya, juga bekas luka bakar yang menghitam di lengan kirinya. Kabarnya ia kabur karena tak tahan oleh siksaan majikannya. Tak hanya Suryani yang jadi penghuni kolong jembatan angkuh itu. Di sana juga ada Nunung asal Tasikmalaya yang sengaja dibuang majikannya karena memiliki penyakit kulit menjijikan yang konon menular. Ada juga Dwi, Fauziah, dan Jumiati. Semua meiliki kisahnya sendiri-sendiri. Ah, bagimana dengan kisahmu sendiri? Sama mirisnya dengan kisah mereka.&lt;br /&gt;“Mengapa manusia harus lahir ke muka bumi, jika ia tak memiliki hak untuk hidup selayaknya manusia. Dunia memang angkuh.” Bisikmu lembut seperti kabut yang menguapkan aroma racun yang kental.&lt;br /&gt;Begitulah, di kolong jembatan itu kau hidup bersama mereka seperti keluarga. Saling bertukar kata dan saling menghibur. Apa yang mereka makan, itulah yang kau makan. Tapi, selalu saja, ada yang pahit yang membaur bersama hari-harimu, hari-hari kalian. Lihat saja Nunung, tampaknya dia yang paling rapuh menahan beban. Sepanjang siang dan malam yang dilakukanya hanya termenung dan menangis. Badanya kurus karena tak pernah mau makan. Pucat masih tampak di wajahnya meski hampir seluruh kulitnya dipenuhi bintil-bintil merah yang berminyak dan mengelupas. Beberapa kali ia menyalahkan Tuhan yang telah sempurna menyengsarakan hidupnya. Beberapa kali Nunung tampak mengeluhkan rasa perih di ulu hati dan sekujur tubuhnya. Ia menangis tak henti-henti, ingin bertemu dengan ibu-bapak dan sanak keluarganya di kampung halaman. Tapi apa boleh buat. Setelah menangis panjang itu, Nunung tak tampak lagi sampai kau menemukanya terjuntai kaku di tiang rangka jembatan dengan lilitan tambang di lehernya. Ah, haruskah semua ini berakhir memar. &lt;br /&gt;Kau terisak menahan bongkah cadas di dadamu. Kau usap perutmu yang kian hari kian mengembung. Ini salah siapa? Tak ada yang salah. Demi memikirkan semua itu, nyeri di kepalamu kambuh. Badanmu terasa semakin ringkih dan kedinginan. &lt;br /&gt;“Tuhan… kalau memang aku harus mati waktu dekat ini. Jangan biarkan aku mati dalam keterasingan. Izinkan aku mati di pangkuan nenekku, di kampung halamanku.” kau terus terisak sampai suaramu serak dan habis, sampai rasa kantuk yang indah menjemputmu untuk singgah ke alam bawah sadar. Alam di mana mimpi buruk menjadi hal yang lebih indah. Ah, semua mengalir saja seperti air. Kehidupan selalu begitu. Dunia selalu begitu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau gagap terbangun di akhir sepertiga malam, kau rasakan badanmu menggigil bukan main, perutmu terasa sangat mual, begitu pula, kepalamu terasa sangat nyeri dan berat. Kau beranjak dari rumah beratap jembatan itu. Kau semakin menggigil. Kedua gigimu bergemeletak menahan dingin. Kau tatap rembulan pucat yang berlayar ke utara menghindari arakan mendung gelap. Sepi. Teman-temanmu masih pada terlelap, terpasung gelap. Sekali lagi kau tengadahkan wajah ke langit lepas. Kau berusaha mengingat seperti apa warna langit di kampung halamanmu. Sama kah? Di kampungmu, pada detik itu, kau akan mendengar alunan tarhim seperti eufoni  kramat yang menlengking dari petala langit. Kemudian nenekmu akan membangunkanmu untuk mengambil air wudhu. &lt;br /&gt;Entah mengapa, tiba-tiba dadamu penuh sesak, perasaanmu tidak enak. Mungkin kau terlalu merindukan nenekmu, kampung halamanmu. Rasanya kau ingin tertidur lagi, dan tiba-tiba nenekmu datang dan membenarkan letak selimutmu. Ah, tapi perutmu sangat mual, tenggorokanmu sangat perih dan sesak bagai tercekik, bahkan kau terbatuk-batuk dalam. Ada apa lagi dengan tubuh rapuh ini? Beberapa jenak, kau terbatuk-batuk lagi, semakin dalam. Perlahan kau merasa ada yang meleleh dari lubang hidungmu. Kau menyentuhnya. Kau mendapati cairan kental, warnanya merah pekat. Tak kau pedulikan. Kau merebahkan tubuhmu di atas hamparan rumput kering yang mengembun. Matamu menyimpan cermin yang dapat mengundang kupu-kupu yang terpasung rembulan di atas sana. Kau tersenyum menyapa bintang-gemintang yang kesepian. Tiba-tiba kau merasa seperti tertidur di pangkuan nenekmu.]*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Malang, 5 September 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Cerpen ini terilhami dari sebuah berita di media yang mengabarkan tentang seorang TKW muda asal Indonesia yang meninggal di bawah kolong jembatan Jeddah, yang diusir majikanya karena mengidap sebuah penyakit. Sampai ajal menjemputnya, permintaannya yang terakhir belum juga terwujud: bertemu ibu bapaknya di kampung halaman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-8356152100762976760?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/8356152100762976760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/10/galerry-cerpenq_31.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/8356152100762976760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/8356152100762976760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/10/galerry-cerpenq_31.html' title='Galerry cerpen(Q)'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/SuwJysP6AuI/AAAAAAAAANI/KzvLNijbjpo/s72-c/Copy+of+khaled_hosseini_a_thousand_splendid_suns.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-3590803575999943793</id><published>2009-10-15T01:16:00.001-07:00</published><updated>2009-10-15T01:19:32.941-07:00</updated><title type='text'>Zalzalah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Stba3GjTgAI/AAAAAAAAANA/Q8UV_ovNzrM/s1600-h/Copy+of+cover+zalzalah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 243px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Stba3GjTgAI/AAAAAAAAANA/Q8UV_ovNzrM/s320/Copy+of+cover+zalzalah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392738244009099266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Milati masih membisu. Ia tak menentang mata Bu Nyai yang menghunjamnya meminta jawaban, tak juga menunduk. Sebelum ia mendobrak hatinya dan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya, ia haruslah tenang. Karena ia tengah mempertarungkan pikirannya. Haruskah ia mengatakan apa yang sesungguhnya? Apa yang kemudian diputuskan Abah dan Bu Nyai jika ia mengatakan kebenaran hatinya? Sungguh jauh dari bayang benaknya. Betapa banyak mudharat mengintai bila ia mengatakan kebenaran itu. Kebenaran hatinya sebenarnya bukanlah kebenaran yang pahit baginya. Akan tetapi bila ia utarakan juga, maka alangkah banyak orang yang akan terimbas bisanya. Pertunangan antara Misas dan Hurin tentulah sudah matang direncanakan oleh Abah, Bu Nyai tentu juga dari pihak Kyai Syafi’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Milati tak mau melihat kedua ayah ibu asuhnya itu didera aib yang akan tertinggal di mata kyai dari Pare itu. Meskipun ia seorang kyai, Kyai Syafi’ tetaplah manusia yang dapat merasa perih bila dikecewakan dan menanggung luka bila nadi batinnya diiris-iris. Demi kebahagiaan diri, haruskah ia memenggal hubungan baik antara dua keluarga yang terjalin sejak lama? Belum lagi perasaan seorang gadis salehah yang harus ia rebus hidup-hidup di dalam bejana egonya. Bukankah seseorang yang berkorban itu selalu lebih mulia dibandingkan dengan orang yang mengorbankan orang lain? Akan tetapi, mampukah ia menjinakkan zalzalah di dalam hatinya dan merelakan Misas menjadi milik orang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Milati yang sejak kecil hidup dan mengabdi di panti, kini mengambil jalannya sendiri, dan bersama zalzalah ia pergi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-3590803575999943793?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/3590803575999943793/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/10/zalzalah.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/3590803575999943793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/3590803575999943793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/10/zalzalah.html' title='Zalzalah'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Stba3GjTgAI/AAAAAAAAANA/Q8UV_ovNzrM/s72-c/Copy+of+cover+zalzalah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-2409017642805995488</id><published>2009-10-13T03:00:00.000-07:00</published><updated>2009-10-13T03:08:48.238-07:00</updated><title type='text'>Aku, Mentari Dan Bulan</title><content type='html'>Jika malam merayap, aku berbisik:&lt;br /&gt;Surya… surya…&lt;br /&gt;Begitu besarmu kalau malam lenyap pula&lt;br /&gt;Tentu yang menelanmu lebih raya&lt;br /&gt;Atau mungkin terlalu kecilnya aku&lt;br /&gt;Sehingga malam tiba aku tak menjangkaumu&lt;br /&gt;Sudah, biarlah, ada nikmat saat kau sembunyi&lt;br /&gt;Ni'mat menabur benih lelap agar berbunga&lt;br /&gt;Nikmat menghadang berkah agar tak kering&lt;br /&gt;Semua berlalu dengan edarnya&lt;br /&gt;Kalau siang menerang, kukan berdesis lagi :&lt;br /&gt;Bulan… bulan…&lt;br /&gt;Begitu nyaman redup anggunmu&lt;br /&gt;Kalau siang beringsut juga&lt;br /&gt;Tentu ada yang merindumu di seberang sana&lt;br /&gt;Atau mungkin aku saja yang terlampau lemah&lt;br /&gt;Hingga tak kuasa mengejarmu&lt;br /&gt;Sudah, biarlah, ada hajat saat kau pamit&lt;br /&gt;Kalau tidak, semua akan lena saja olehmu&lt;br /&gt;Dan itu bukanlah pilihan jitu&lt;br /&gt;Dalam istirahatmu orang takkan enggan berpeluh&lt;br /&gt;Membangun rumah-rumah di relung cerahnya&lt;br /&gt;Semua memang ada edarnya&lt;br /&gt;Kau dan surya takan berjalan seiring&lt;br /&gt;Seperti aku kini-sepi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-2409017642805995488?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/2409017642805995488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/10/aku-mentari-dan-bulan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/2409017642805995488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/2409017642805995488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/10/aku-mentari-dan-bulan.html' title='Aku, Mentari Dan Bulan'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-593537398863343862</id><published>2009-10-05T05:32:00.001-07:00</published><updated>2009-10-05T05:36:38.228-07:00</updated><title type='text'>Galerry cerpenQ</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Ssnn7inHGbI/AAAAAAAAAM4/W6QIPIwDo14/s1600-h/3727802544_c27c092554_m.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 240px; height: 180px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Ssnn7inHGbI/AAAAAAAAAM4/W6QIPIwDo14/s320/3727802544_c27c092554_m.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389093439214655922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.1  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Bocah Pasir Brantas&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bila luapan air mulai susut, tepian bengawan itu selalu dipenuhi kerikil dan endapan-endapan pasir basah, yang bila mengering akan tampak menggunduk seperti bukit-bukit kecil di padang gurun. Ia hapal betul, kapan air akan meluap dan surut. Dari rumahnya ia dapat mendengar &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;kemerosak&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; suara air pasang. Sesekian waktu bila ia rasa air telah susut, ia akan menaiki tanggul tepian sungai itu sambil membawa serok dan ciduk pasir yang dibuatnya dari bekas kaleng kotak biskuit. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ia tinggal di tepian bengawan itu bersama ibu dan kedua adiknya. Ayahnya hilang ditelan bah besar lima tahun lalu, jasadnya juga tak pernah ditemukan. Tak ada yang tahu, apakah ia masih hidup atau sudah mati. Rumah bambu itulah satu-satunya warisan nenek moyangnya yang turun temurun hidup sebagai penggali pasir. Bengawan dan rumah rapuh itu hanya terpisah oleh tanggul tinggi yang tampak kokoh, yang mungkin telah ada sebelum kakek buyutnya lahir. Tanggul itulah yang setiap hari ia naik-turuni. Dari seberang tanggul itulah ia membantu ibunya yang pincang untuk menghidupi kedua adik perempuannya.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Orang-orang biasa memanggilnya Thekhel. Badanya kecil tapi tegap dan berisi. Kulitnya hitam mengkilat oleh sengatan matahari dan debu-debu pasir. Rambutnya cepak, merah dan kering. Usianya belum genap lima belas tahun. Setamat SMP ia sengaja tidak melanjutkan sekolah. Ia tahu, ibunya tidak mungkin bekerja lebih untuk membiayai sekolahnya. Maka ia putuskan untuk terjun berjibaku dengan pasir dan kerikil, meneruskan pekerjaan warisan moyangnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Satu adiknya berumur sepuluh tahun, dan satunya lagi baru masuk SD. Dengan kakinya yang pincang sebelah, ibunya hanya bisa bekerja sebagai buruh cuci dan kadang-kadang sebagai tukang ikat bawang di rumah juragan Warsi. Bila tak ada pekerjaan, sementara dua adiknya masih sekolah, ibunya selalu menyusulnya turun ke sungai untuk sekedar membawakan air putih atau makanan kecil yang bisa ia santap saat beristirahat dari galian pasirnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Berapapun hasil yang ia dapat dari menggali pasir, selalu ia serahkan pada ibunnya. Ibunya pun tak pernah banyak bicara keculai mengucapkan terima kasih. Di antara teman-temannya sesama penggali pasir, hanya ia yang tidak berani macam-macam. Sebenarnya bisa saja ia menyimpan sendiri uang hasil jerih payahnya untuk ditukarkannya dengan rokok atau minuman berbotol yang menyengat itu. Setiap kali teman-temanya mengajak pesta kecil-kecilan ia selalu memiliki alasan yang tepat untuk menolaknya. Itu ia lakukan semata karena ia sangat mencintai ibu dan adik-adiknya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lamat-lamat ia masih bisa mengingat kata-kata ayahnya lima tahun lalu, kini ia baru bisa betul-betul mencerna kata-kata itu, “Fakir itu dekat sekali dengan kufur, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;le…&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, hanya ada dua pilihan bagi orang miskin seperti kita, syukur atau kufur. Kalau kita bersyukur maka derajat kita akan lebih tinggi dibanding orang-orang kaya yang pandai bersyukur. Tapi kalau kita kufur…. Derajat kita akan lebih rendah dari pada orang kaya yang kufur…. ”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di usianya yang masih hijau ia sudah memiliki banyak sekali pengalaman biru. Hidup serba sederhana, sebagai penggali pasir tak pernah membuatnya mengeluh. Hari melaju dari minggu ke bulan dan tahun. Hari-harinya tak ada yang baru. Pagi-pagi buta sebelum dunia terbangun ia telah bangun. Usai ke surau ia akan cepat-cepat mengganti pakaiannya dengan dengan kaos oblong panjang yang warnanya sudah tak jelas. Pagi-pagi itu ia akan menaiki tanggul dan turun ke tepian bengawan untuk menepuk-nepuk endapan pasir dengan kakinya. Ia bisa mengira-ngira, mana pasir yang bagus dan mana pasir yang kurang bagus. Bila terdengar suara ‘bug…’ maka bisa ia pastikan, pasir itu bagus dan tidak banyak bercampur kerikil. Setelah itu ia akan mulai membuat tanda galian di situ.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Para tengkulak dan juragan truk pasir selalu tepat waktu mengangkut pasir-pasirnya. Bila pasir yang ia kumpulkan bagus, maka satu baknya bisa dihargai 60 sampai 75 ribu. Namun bila pasir yang ia dapat bercampur lumpur dan kerikil, biasanya para tengkulak hanya akan menghargainya 40 ribu atau terkadang 50 ribu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Selepas musim penghujan, menjelang kemarau. Ia akan mengumpulkan banyak uang. Sebab, setelah air sungai susut, sepanjang tepian sungai Brantas akan dipenuhi endapan pasir. Para penduduk akan berbondong-bondong, berebut menandai galian. Sebab bila telah ada satu galian, pantang bagi orang lain untuk meneruskan galian di tempat tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bila musim hujan kembali, ia akan banyak menganggur. Sebab luapan sungai yang deras tak memungkinkannya untuk membuat galian. Bilam musim hujan tiba, ia akan menghabiskan banyak waktunya di rumah. Menjagai kedua adiknya, ketika ibunya pergi ke desa seberang untuk mengambil dan mengantar cucian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hujan berinai malam itu. Ia bisa mendengar gemuruh air bah datang. Ia teringat,  sedikit pasir yang ia kumpulkan susah payah tadi pagi akan hilang tak bersisa diseret luapan air. Kedua adiknya sudah tertidur pulas di atas gelaran tikar. Ia dan ibunya duduk di bangku panjang sambil mengudap kerupuk layu yang di goreng ibu kemarin sore. Percikan hujan dari luar bisa menerobos celah-celah atap rumah yang tidak rapat itu. Dingin. Ia duduk sambil membuntal tubuhnya dengan kain sarung.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;,“Sepertinya, Ramdahan tahun ini kau harus beristirahat dari galian pasirmu. Musim hujan tampaknya akan berlanjut sampai habis lebaran qurban.” Ungkap ibunya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Iya, bu. Sepertinya begitu.” Balasnya lesu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Yah, kau tak perlu murung. Rizki sudah ada yang mengatur. Seperti tahun-tahun lalu, meski musim hujan berkepanjangan, kita juga masih bisa makan.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Iya, berbulan-bulan cuma makan thiwul dengan lauk ikan asin.” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hush…! kau tak boleh bicara begitu. Apapaun itu, kita harus tetap bersyukur. Toh, setiap bulan Ramadhan tiba, berkah dari Gusti Allah banyak bertebaran.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ia tidak menyahut hanya bergeming merapatkan buntalan sarung yang membungkus rapat tubuhnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Oh, ya Khel… besok ada santunan di Rumah Haji Syakur. Ibu sudah dapat kuponnya, besok tinggal ambil.” Ibunya coba menghibur.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Alhamdulillah….” kata itu saja yang keluar dari mulutnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Yah, sudah. Malam ini kita harus cepat-cepat tidur. Besok, ibu harus berangkat pagi-pagi untuk mengantri. Kau tahu sendiri kan… antrian yang mengambil santunan itu jumlahnya ratusan orang, bahkan bisa ribuan. Ibu harus berangkat pagi supaya dapat urutan lebih awal, supaya bisa pulang lebih cepat.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Atau biar saya saja yang mengambilnya ke sana.” Tawarnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ah, tak usah. Biar ibu saja. Kamu di rumah saja, jagai adik-adikmu. Tak usah masak. Buat buka, biar nanti ibu beli saja di warung. Ya, semoga ibu bisa pulang sebelum bedug.” jelas ibunya yang kemudian beringsut merebahkan diri di gelaran tikar, di sebelah adik-adiknya terbaring.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sampai benar-benar malam ia belum juga dapat memejamkan matanya. Ia pandangi ibu dan kedua adiknya yang terbaring pulas. Senyum getir mengembang di antara dua bibirnya. Ricis hujan tak juga reda, seperti nyanyian panjang pengantar tidur. Perutnya terasa keroncongan. Ia beranjak ke dapur, mencari-cari makanan namun tak menemukan apapun. Ia kembali duduk menyandarkan kedua tanganya di punggung meja. Sampai tertidur.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pagi-pagi buta, sebelum adzan subuh melesat memecah kesepian langit, ia terbangun. Dilihatnya sang ibu telah sibuk menyiapkan tas anyaman dan jarit gendong yang biasa dipakainya untuk mengambil dan mengantar cucian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ibu mau berangkat sekarang?” tanyanya dengan suara serak mengantuk.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Iya, setelah shalat ibu langsung berangkat. Kamu jaga adik-adikmu. Kalau butuh apa-apa, ibu tinggalin duit sepuluh ribu, ada di dalam lemari di selempitan sarung bapakmu.” Jawab ibunya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ia menguap lalu mengangguk dengan suara tak jelas. Adzan subuh menggelegar. Dalam keadaan masih mengantuk, ia beranjak untuk cuci muka. Ia lihat ibunya telah mengenakan mukena dan menggelar sajadah. Beberapa jenak, ibunya berteriak memanggilnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Khel…, ibu berangkat dulu, ya.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ya…” sahutnya dari dalam kamar mandi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ia menggigil keluar dari kamar mandi. Dingin yang tidak biasanya. Dilihatnya rumah sudah sepi. Kedua adiknya masih lelap meski sesekali menggeliat. Perasaannya terasa ganjil. Entah mengapa, ia ingin berlari menyusul ibunya. Ia berharap-harap supaya ibunya bisa mendapat antrian paling depan dan pulang lebih awal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="center"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Sepanjang pagi sampai siang, ia  tak keluar rumah. Rupanya udara beku tadi pagi mengendap di sekujur tubuhnya. Ia menggigil. Kepalanya terasa agak berat. Beberapa kali ia mengingatkan kedua adiknya untuk tidak main jauh-jauh apalagi ke sungai. Ia terbaring di atas dipan bambu di ruang tengah, tepat di bawah jendela. Sesekali ia mendongakkan wajahnya ke layar jendela untuk memastikan bahwa kedua adiknya masih bermain di halaman. Dari jendela itu, ia pun bisa mengawasi belokan di ujung gang. Beberapa kali ia melirik ke belokan ujung gang itu, berharap-harap melihat ibunya yang membawa bingkisan sambil jalan bergoyang-goyang karena kakinya panjang sebelah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Selepas ashar, meriang di badanya mulai terasa. Ibunya belum juga datang. Sudah lima kali kedua adiknya menanyakan kapan ibunya pulang. Ia hanya bisa menjawab nanti dan nanti sambil menghibur kedua adiknya, bahwa ibunya akan datang dengan membawa makanan dan biskuit. Setelah itu, kedua adiknya akan berteriak kegirangan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Kalau capek main sebaiknya kalian istirahat dulu. Nanti kalau ibu datang, kalian akan kakak bangunkan.” Katanya pada kedua adiknya yang tampak bosan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Kedua adiknya mengangguk lalu rebah di gelaran tikar sambil saling jawil dan sesekali cekikikan. Ia tersenyum melihat adik-adiknya. Tak terasa, payah tubuhnya mengantarkannya pada lelap begitu saja. Ia terbangun gagap ketika mendengar bedug maghrib ditalu beberapa kali lalu disusul adzan maghrib. Ia terkejut, tak mendapati kedua adiknya. Ia meloncat dari dipan sambil teriak-teriak memanggil nama kedua adiknya. Ditengoknya kamar yang cuma satu-satunya itu, adiknya tidak ada di sana. Ruang dapur juga ditiliknya, namun sepi. Sama sekali ia tak mendapati tanda-tanda bahwa ibunya sudah datang. Ia bertanya-bertanya. Rasa takut dan cemas menari-nari di benaknya. Ia berlari keluar rumah, tak pula ia melihat dua gadis kecil itu. Langit mulai remang. Dadanya bergejolak ketika didengarnya gemuruh luapan air balik tanggul. Ia berlari menaiki tanggul sungai, air melup-luap. Ia tercekat melihat dua pasang sandal di atas tanggul itu. Dua pasang sandal adiknya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Ia meraih dua pasang sandal itu sambil menagis menuruni tanggul. Ia tak mau percaya dengan kecemasannya. Sampai di rumah, ibunya belum juga kembali. Ia semakin cemas. Sama sekali ia tak merasakan lapar ataupun haus, meski sedari sahur tak seteguk airpun masuk  ke dalam tubuhnya. Ia datangi rumah-rumah tetangga untuk menanyakan, apakah meraka tahu dimana adiknya. Namun ia tak mendapat kabar apapun kecuali kabar tentang terjadinya insiden di tempat pembagian zakat di rumah Haji Syakur. Kabarnya 21 orang tewas terinjak-injak gelombang antrian yang jumlahnya ratusan, atau bahkan ribuan. Ia tak bisa lagi berkata-kata. Pingsan pun tak bisa. Mulunta hanya komat-kamit menyebut nama Tuhan.]*&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;* Malang 13 Ramadhan 1930 H&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;* Cerita ini diilhami dari insiden zakat yang terjadi di Pasuruan yang menewaskan 21 orang, pada Ramadhan tahun lalu. Semoga kejadian serupa tidak terulang. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;. 	&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-593537398863343862?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/593537398863343862/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/10/galerry-cerpenq.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/593537398863343862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/593537398863343862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/10/galerry-cerpenq.html' title='Galerry cerpenQ'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Ssnn7inHGbI/AAAAAAAAAM4/W6QIPIwDo14/s72-c/3727802544_c27c092554_m.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-6257577191684284555</id><published>2009-10-05T05:13:00.000-07:00</published><updated>2009-10-05T05:37:39.040-07:00</updated><title type='text'>Veer Zaara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Ssnm2FQgmGI/AAAAAAAAAMw/XviRJhL-yms/s1600-h/wall_1024x768_7.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Ssnm2FQgmGI/AAAAAAAAAMw/XviRJhL-yms/s320/wall_1024x768_7.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389092245924255842" border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.1  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;font face="serif"&gt;&lt;font size="3"&gt;Tentang Romantika. Film india selalu menduduki nomor wahid (setidaknya bagiku). Ceritanya, saya lagi kena efek film india berjudul Ver-Zara, Subhanallah filmnya bagus banget. Mulai dari aktornya, alur ceritanya sampai sinematografinya. Wah… aku tak sempat melihat cela dalam film ini. Mungkin Cuma air mataku yang pancingnya sampai kering (berlebihan). Ver-Zara, film ini mengisahkan tentang pengorbanan seorang pecinta demi nama baik kekasihnya. Ia rela dipenjara yang bukan karena kesalahannya. Selama dua puluh dua tahun ia menghabiskan waktunya dalam kesepian yang berkepanjangan. Yah…. Pokoknya ceritanya sangat menarik hanya saja saya tak bisa menceritakannya….. intinya film ini adalah kesetiaan, dan kebahagiaan yang muncul di waktu senja. &lt;/font&gt;&lt;/font&gt; &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-6257577191684284555?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/6257577191684284555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/10/veer-zaara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/6257577191684284555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/6257577191684284555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/10/veer-zaara.html' title='Veer Zaara'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/Ssnm2FQgmGI/AAAAAAAAAMw/XviRJhL-yms/s72-c/wall_1024x768_7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-1781961704831652048</id><published>2009-08-17T06:56:00.000-07:00</published><updated>2009-08-17T06:58:58.037-07:00</updated><title type='text'>Lomba Menulis Cerpen Remaja 2009</title><content type='html'>&lt;p&gt;PT ROHTO LABORATORIES INDONESIA&lt;br /&gt;Kembali menyelenggarakan:&lt;br /&gt;LOMBA MENULIS  CERPEN REMAJA (LMCR-2009) Memperebutkan:&lt;br /&gt;LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD&lt;br /&gt;Total  Hadiah Senilai Rp 80 Juta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Peserta:&lt;br /&gt;Terdiri dari 3 (tiga) kategori :  Pelajar SLTP, SLTA dan Mahasiswa/Guru/Umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat-Syarat  Lomba:&lt;br /&gt;1.Lomba terbuka untuk Pelajar SLTP (Kategori A), Pelajar SLTA  (Kategori B) dan Mahasiswa/Guru/Umum (Kategori C) dari seluruh Indonesia atau  yang sedang studi/dinas di luar negeri&lt;br /&gt;2.Lomba dibuka tanggal 10 Mei 2009 dan  ditutup tanggal 3 Oktober 2009&lt;br /&gt;3.Tema cerita: Dunia remaja dan segala  aspeknya (cinta, kebahagiaan, kepedihan, harapan, kegagalan, cita-cita,  penderitaan, maupun kekecewaan)&lt;br /&gt;4.Judul bebas, tetapi mengacu pada Butir  3&lt;br /&gt;5.Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 (satu) judul&lt;br /&gt;6.Naskah  ditulis dalam bahasa Indonesia yang benar, indah (literer) dan komunikatif serta  bukan jiplakan dan belum pernah dipublikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.Ketentuan  naskah:&lt;br /&gt;a.Ditulis di atas kertas ukuran kuarto (A-4), ditik berjarak 1,5  spasi, font 12 (huruf Times New Roman), margin kiri kanan rata (justified)  maksimal 5Cm&lt;br /&gt;b.Panjang naskah antara 6 – 10 halaman, disertai: sinopsis,  biodata dan foto pengarang, foto copy indentitas (pilih salah satu:  KTP/Paspor/SIM/Kartu Pelajar/Kartu Mahasiswa) yang masih berlaku&lt;br /&gt;c.Naskah  yang dilombakan dicetak/diprint-out masing-masing judul 3 (tiga) rangkap  disertai file dalam bentuk CD&lt;br /&gt;d.Naskah yang dilombakan per judul dilampiri 1  (satu) kemasan LIP ICE jenis apa saja atau 1 (satu) segel pengaman  SELSUN.&lt;br /&gt;e.Naskah yang dilombakan beserta lampirannya (perhatikan ketentuian  Butir 7b, 7c dan 7d) dimasukkan ke dalam amplop tertutup/dilem, cantumkan  Kategori Peserta pada kanan atas permukaan amplop dan dikirimkan ke Panitia  LMCR-2009 LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD – Jalan Gunung Pancar No.25 Bukit Golf  Hijau Sentul City, Bogor 16810 – Jawa Barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.Hasil lomba diumumkan 31  Oktober 2009 melalui website www.rayakultura.net dan  www.rohto.co.id&lt;br /&gt;9.Keputusan Dewan Juri bersifat final dan  mengikat&lt;br /&gt;10.Naskah yang dilombakan menjadi milik PT ROHTO, hak cipta milik  pengarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil Lomba&lt;br /&gt;Masing-masing kategori: Pemenang I, II, III, 5  (Lima)&lt;br /&gt;Pemenang Harapan Utama, 10 (Sepuluh) Pemenang&lt;br /&gt;Harapan, dan Pemenang  Karya Favorit jumlahnya ditentukan kemudian (jika ada/layak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiah Untuk  Pemenang&lt;br /&gt;Kategori A (Pelajar SLTP)&lt;br /&gt;•Pemenang I: Uang Tunai Rp 4.000.000,-  + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD; Pemenang II: Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam  LIP ICE-SELSUN; Pemenang III: Uang Tunai Rp 2.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN.  Untuk 5 (lima) Pemenang Harapan Utama masing-masing mendapat Uang Tunai Rp  1.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN. Bagi 10 (sepuluh) Pemenang Harapan  masing-masing mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN dan Bingkisan&lt;br /&gt;•Hadiah untuk  sekolah Pemenang I, II dan III masing-masing memperoleh satu unit  televisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kategori B (Pelajar SLTA)&lt;br /&gt;•Pemenang I: Uang Tunai Rp  5.000.000,- + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD; Pemenang II: Uang Tunai Rp  4.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN; Pemenang III: Uang Tunai Rp 3.000.000,- +  Piagam LIP ICE-SELSUN. Bagi 5 (lima) Pemenang Harapan Utama masing-masing  mendapat Uang Tunai Rp 1.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN dan 10 (sepuluh)  Pemenang Harapan masing-masing mendapat hadiah Piagam LIP ICE-SELSUN dan  Bingkisan&lt;br /&gt;•Hadiah untuk sekolah Pemenang I, II dan III masing-masing  memperoleh satu unit televisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kategori C  (Mahasiswa/Guru/Umum)&lt;br /&gt;•Pemenang I: Uang Tunai Rp 7.500.000,- + LIP ICE-SELSUN  GOLDEN AWARD; Pemenang II: Uang Tunai Rp 6.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN;  Pemenang III:Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN. Bagi 5 (lima)  Pemenang Harapan Utama masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.500.000,- + Piagam  LIP ICE-SELSUN dan 10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Piagam  LIP ICE-SELSUN dan Bingkisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;•Hadiah untuk Pemenang Karya  Favorit (jika ada) memperoleh Piagam LIP ICE-SELSUN&lt;br /&gt;•Semua pemenang mendapat  hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen Pemenang LMCR-2009&lt;br /&gt;•Pajak hadiah  para pemenang ditanggung oleh PT ROHTO LABORATORIES INDONESIA&lt;br /&gt;•Informasi  lebih lanjut e-mail ke: lmcr.2009@gmail.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Panitia  LMCR-2009&lt;br /&gt;Dra. Naning Pranoto, MA&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-1781961704831652048?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/1781961704831652048/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/08/lomba-menulis-cerpen-remaja-2009.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/1781961704831652048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/1781961704831652048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/08/lomba-menulis-cerpen-remaja-2009.html' title='Lomba Menulis Cerpen Remaja 2009'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-3762957602231377195</id><published>2009-08-17T06:27:00.000-07:00</published><updated>2009-08-17T06:36:47.696-07:00</updated><title type='text'>Indonesiaku yang lelah.....</title><content type='html'>Berkerjap kerjap di atas sana terbatuk-batuk dimain asap&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-3762957602231377195?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/3762957602231377195/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/08/indonesiaku-yang-lelah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/3762957602231377195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/3762957602231377195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/08/indonesiaku-yang-lelah.html' title='Indonesiaku yang lelah.....'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-5244798833380713024</id><published>2009-07-09T15:16:00.000-07:00</published><updated>2009-07-09T15:27:45.092-07:00</updated><title type='text'>Puisi  Yang  Maha Sastra</title><content type='html'>&lt;p class="verse" id="v1"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hai, kawan.... coba sesajak berikut ini, kau akan terbang oleh keindahannya.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="verse" id="v1"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;'Adiyat...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="verse" id="v1"&gt;Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah,&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p class="verse" id="v2"&gt;dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya),&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p class="verse" id="v3"&gt;dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi,&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p class="verse" id="v4"&gt;maka ia menerbangkan debu,&lt;/p&gt;             &lt;p class="verse" id="v5"&gt;dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh,&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p class="verse" id="v6"&gt;sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya,&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p class="verse" id="v7"&gt;dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya,&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p class="verse" id="v8"&gt;dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p class="verse" id="v9"&gt;Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur,&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p class="verse" id="v10"&gt;dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada,&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p class="verse" id="v11"&gt;sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;QS. al-'Adiyat 1 - 11&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-5244798833380713024?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/5244798833380713024/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/07/demi-kuda-perang-yang-berlari-kencang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/5244798833380713024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/5244798833380713024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/07/demi-kuda-perang-yang-berlari-kencang.html' title='Puisi  Yang  Maha Sastra'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-7796657716181782106</id><published>2009-07-09T15:03:00.000-07:00</published><updated>2009-07-09T15:04:15.832-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>EDUMUSLIM MENYELENGGARAKAN LOMBA MENULIS ESAI ala CHICKEN SOUP&lt;br /&gt;Dengan Tema “DUNIA BELUM BERAKHIR!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ujian” Bukan hal yang asing. Mengandung berjuta makna yang di dalamnya ada kerja keras, usaha, kejujuran, dan keikhlasan. Jika baik hasilnya, maka kita menjadi pemenang. Tapi jika gagal melaluinya, apakah kita menjadi pecundang?? banyak orang memaknainya sebagai kegagalan. Malah ada yang bilang, nasib buruk. Dunia seakan sudah kiamat. Nggak ada lagi harapan. Fyuuuh, sebegitunyakah kita memaknai ujian? TENTU TIDAK! Gagal di Ujian Nasional (UN) bukan berarti selesai, Dunia belum Berakhir!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat kamu yang lulus ujian, pasti dunia begitu indah terasa. Tapi, bagi kamu yang ngga lulus, dunia serasa kiamat. Sedih, lemas, marah, atau bahkan putus asa! Well.. well, sebaiknya kamu tinggalkan sikap seperti itu, come on guys, ngga lulus ujian bukan berarti hilang harapan! Dunia Belum berakhir!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, khusus buat kamu yang ngga lulus, kamu bisa berbagi dengan menuliskan pengalamanmu yang pahit itu dalam lomba bertajuk “DUNIA BELUM BERAKHIR”, sebuah lomba penulisan essay tentang kisah-kisah siswa yang tidak lulus Ujian Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eitt, lomba ini bukan untuk membuka luka lama loh, sekedar untuk berbagi dan memberi semangat buat yang lain, yang mungkin juga bernasib sama. So, yuk menulis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSYARATAN LOMBA :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Peserta adalah Masyarakat Umum yang punya pengalaman tidak lulus UN atau yang anaknya tidak lulus, atau siswa/siswi SMU/SMK yang tidak lulus UN. Atau temanmu, adikmu, saudaramu, muridmu yang tidak lulus dan kamu yang menceritakan atas seizin mereka.&lt;br /&gt;2. Tema tulisan adalah : Bagaimana menerima dan menghadapi kenyataan pahit tidak lulus ujian, dan bangkit dari keterpurukan.&lt;br /&gt;3. Ditulis dalam bentuk ESSAY / Chicken Soup, Format Word.doc, berjumlah 4-6 halaman, kertas kwarto (A4), Font Times New Roman 12, Spasi 1,5&lt;br /&gt;4. Peserta boleh mengirimkan maksimal 2 (dua) naskah.&lt;br /&gt;5. Peserta lomba menyertakan identitas penulis: nama, alamat, email, alamat blog, dan nomor telp/hp yang dapat dihubungi. (ditulis diakhir naskah, tidak dipisah)&lt;br /&gt;6. Memasang Banner Edumuslim bagi peserta yang memiliki web/blog. (bisa didownload di : www.edumuslim. org&lt;br /&gt;7. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baik, benar, indah (literer) dan komunikatif&lt;br /&gt;8. Naskah harus asli (bukan jiplakan) dan belum pernah dipublikasikan serta tidak sedang diikutsertakan dalam lomba apapun.&lt;br /&gt;9. Naskah dikirimkan ke &lt;a rel="nofollow" ymailto="mailto:lombamenulis%40edumuslim.org" target="_blank" href="http://id.mc763.mail.yahoo.com/mc/compose?to=lombamenulis%40edumuslim.org"&gt;lombamenulis@ edumuslim. org&lt;/a&gt; dengan menuliskan label "Dunia Belum Berakhir" pada subject email.&lt;br /&gt;10. Naskah yang masuk menjadi hak panitia. Jika naskah diterbitkan, maka setiap penulis yang naskahnya masuk akan mendapatkan satu bukti terbit. Royalti dan honor yang didapatkan dari penerbitan buku tersebut menjadi hak milik penyelenggara lomba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BATAS PENGIRIMAN NASKAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah dapat dikirimkan mulai tanggal 25 Juni 2009 sampai 25 Agustus 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGUMUMAN PEMENANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang lomba menulis "Dunia Belum Berakhir" akan diumumkan pada tanggal 10 September 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HADIAH BAGI PARA PEMENANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang I: Rp. 300.000,- + paket sponsor&lt;br /&gt;Pemenang II: Rp 200.000,- + paket sponsor&lt;br /&gt;Pemenang III: Rp 100.000,- + paket sponsor&lt;br /&gt;3 Pemenang Harapan : paket hiburan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Tidak diadakan korespondensi dalam bentuk apapun selama lomba berlangsung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Support By:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edumuslim.org&lt;br /&gt;KaosTabletSpirit. com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dani Ardiansyah&lt;br /&gt;www.sekolah- kehidupan. com&lt;br /&gt;www.catatankecil. multiply. com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-7796657716181782106?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/7796657716181782106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/07/edumuslim-menyelenggarakan-lomba.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/7796657716181782106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/7796657716181782106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/07/edumuslim-menyelenggarakan-lomba.html' title=''/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-8724092300546012409</id><published>2009-07-06T05:27:00.000-07:00</published><updated>2009-07-06T05:42:14.868-07:00</updated><title type='text'>LoRonG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/SlHv8qFZAJI/AAAAAAAAAMQ/Wk97xa19GM8/s1600-h/lorong-hitam.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 263px; height: 197px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/SlHv8qFZAJI/AAAAAAAAAMQ/Wk97xa19GM8/s320/lorong-hitam.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355325257288319122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi kok hening berbaring &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="left"&gt;Lorong berkelok kutelusuri&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="left"&gt;Ini lorong. Mana ujung&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="left"&gt;Aku lelah jiwa raga&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="left"&gt;Kubertanya :salah siapa?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="left"&gt;Tiada yang salah&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="left"&gt;Kata pembuat lorong :&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="left"&gt;Tak ada lorong yang tak ada ujung&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="left"&gt;Kataku: bohong…&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="left"&gt;Benar…&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="left"&gt;Kubertanya: kapan aku sampai?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="left"&gt;Nanti…&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="left"&gt;Aku bingung dengan kata-kata "nanti"&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="left"&gt;Aku lelah jiwa raga&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="left"&gt;Jalan kok begini. Aneh…&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-8724092300546012409?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/8724092300546012409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/07/lorong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/8724092300546012409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/8724092300546012409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/07/lorong.html' title='LoRonG'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/SlHv8qFZAJI/AAAAAAAAAMQ/Wk97xa19GM8/s72-c/lorong-hitam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-225583717518118289</id><published>2009-06-03T01:23:00.001-07:00</published><updated>2009-06-07T18:18:47.522-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/SiYzkye2F-I/AAAAAAAAALo/6C5LdOvSGQw/s1600-h/cover+zalzalah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 411px; height: 295px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/SiYzkye2F-I/AAAAAAAAALo/6C5LdOvSGQw/s320/cover+zalzalah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343014715041126370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-225583717518118289?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/225583717518118289/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/06/blog-post.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/225583717518118289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/225583717518118289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/06/blog-post.html' title=''/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/SiYzkye2F-I/AAAAAAAAALo/6C5LdOvSGQw/s72-c/cover+zalzalah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-421715880919111061</id><published>2009-05-26T02:35:00.000-07:00</published><updated>2009-05-26T02:37:06.077-07:00</updated><title type='text'>Alhamdulillah.... Ana ngincer beasiswa S2, eh... dapetnya beasiswa menulis.....</title><content type='html'>&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;      Pengumuman Beasiswa Menulis Karya Terobosan   &lt;/td&gt;     &lt;td class="buttonheading" align="right" width="100%"&gt;  &lt;a href="http://penerbit-salamadani.com/baru/index.php?view=article&amp;amp;id=204:pengumuman-beasiswa-menulis-karya-terobosan&amp;amp;format=pdf" title="PDF" onclick="window.open(this.href,'win2','status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no'); return false;" rel="nofollow"&gt;&lt;img src="http://penerbit-salamadani.com/baru/templates/ja_olyra/images/pdf_button.png" alt="PDF" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/td&gt;     &lt;td class="buttonheading" align="right" width="100%"&gt;  &lt;a href="http://penerbit-salamadani.com/baru/index.php?view=article&amp;amp;id=204:pengumuman-beasiswa-menulis-karya-terobosan&amp;amp;tmpl=component&amp;amp;print=1&amp;amp;layout=default&amp;amp;page=" title="Print" onclick="window.open(this.href,'win2','status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no'); return false;" rel="nofollow"&gt;&lt;img src="http://penerbit-salamadani.com/baru/templates/ja_olyra/images/printButton.png" alt="Print" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/td&gt;     &lt;td class="buttonheading" align="right" width="100%"&gt;  &lt;a href="http://penerbit-salamadani.com/baru/index.php?option=com_mailto&amp;amp;tmpl=component&amp;amp;link=aHR0cDovL3BlbmVyYml0LXNhbGFtYWRhbmkuY29tL2JhcnUvaW5kZXgucGhwP29wdGlvbj1jb21fY29udGVudCZ2aWV3PWFydGljbGUmaWQ9MjA0OnBlbmd1bXVtYW4tYmVhc2lzd2EtbWVudWxpcy1rYXJ5YS10ZXJvYm9zYW4=" title="E-mail" onclick="window.open(this.href,'win2','width=400,height=350,menubar=yes,resizable=yes'); return false;"&gt;&lt;img src="http://penerbit-salamadani.com/baru/templates/ja_olyra/images/emailButton.png" alt="E-mail" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;    &lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;  &lt;td colspan="2" class="createdate" valign="top"&gt;   Friday, 15 May 2009 23:39 &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt; &lt;td colspan="2" valign="top"&gt; &lt;p&gt;Pecinta buku, Alhamdulillah, setelah melalui seleksi ketat, diskusi panjang, dan melibatkan tujuh juri yang terdiri dari penulis nasional, pemerhati perbukuan, dan editor nasional, terpilih 15 nama peserta seleksi “Beasiswa Menulis Karya Terobosan” yang terselenggara atas kerjasama Salam Book House dan Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Barat. Ke-15 nama berpotensi besar ini tersaring dari ratusan peserta yang mengirimkan karyanya melalui FLP Jabar dan Salam Book House, Bandung.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semua nama yang lolos seleksi ini berhak mendapatkan beasiswa senilai Rp3 juta, berupa pelatihan menulis selama tiga hari full di Salam Learning Centre, Bandung dan pendampingan selama tiga bulan. Pelaksanaan kelas beasiswa akan digelar pada bulan Juni 2009. Kepada peserta yang namanya terdaftar di bawah ini, mohon untuk mendaftar ulang ke panitia melalui no telepon (022) 5222052, cp Nunung Nurchasanah, atau datang langsung ke Salam Book House, Jalan Pasirwangi No. 1, Bandung 40254.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berikut nama-nama  peserta beasiswa yang telah lolos seleksi: &lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Radinal Mukhtar Harahap dengan judul "Catatan Mimpi Ibrahim"&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Firman Jufrie dengan judul "Buku-buku Jemari"&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Elen Oktafia dengan judul "Buku..Jendela Dunia Yang Terlupakan"&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sucipto Jamuhur dengan judul "Anak Itu Secarik Koran"&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Adhy M. Nuur dengan judul "Warisan Dari Bapak"&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Winati Aisyah dengan judul "Persahabatan Dalton dan Newton"&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Firma Sari dengan "Seribu Puisi Buat Ditta"&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Haris/Muhammad Wahid Hasyim dengan judul "Tulisan Terakhir Mama"&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sally Rosalina Wahyudin dengan judul "Cinta Pertama Dalam Kamar Buku"&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Darwanto dengan judul "Perjalanan Huruf-huruf yang Lahir dari Rahim yang Langut"&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jahar dengan judul "Membaca: Menggenggam Dunia"&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rahmiati Mayang Sari dengan judul "Aku Memilih Buku harian Mu, Menjadi Maharku"&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Diery Abdullah/Hadi Subari dengan judul ""Opera Keluarga", "My Out of The Ordiary Days"&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ugit Rifai dengan judul "Hitam Diatas Putih"&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rosinta dengan judul "Hikayat Buku Dongeng"&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="center"&gt;Bandung, 15 Mei 2009&lt;br /&gt;Panitia “Beasiswa Menulis Karya Terobosan”&lt;br /&gt;Tasaro GK&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-421715880919111061?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/421715880919111061/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/05/alhamdulillah-ana-ngincer-beasiswa-s2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/421715880919111061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/421715880919111061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/05/alhamdulillah-ana-ngincer-beasiswa-s2.html' title='Alhamdulillah.... Ana ngincer beasiswa S2, eh... dapetnya beasiswa menulis.....'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-8080496932135297254</id><published>2009-05-10T17:13:00.000-07:00</published><updated>2009-05-10T17:16:27.040-07:00</updated><title type='text'>Bayang.... Ngiang.....</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/SgdmdH4DlaI/AAAAAAAAALQ/RaJMcKedYnQ/s1600-h/20080214091204.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 263px; height: 172px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/SgdmdH4DlaI/AAAAAAAAALQ/RaJMcKedYnQ/s320/20080214091204.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5334344934160045474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Kelamku larut yang malam&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Ketika hati berdesir membayang rupa&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Sepiku kidung yang tak bertepi&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Ketika hati berdegup menyimak bunyi&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Gerakku laku yang berontak&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Ketika hati berdebar mengingat sosok&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Apa gerangan rupa di balik kelam&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Kalau bukan cinta, tolong terangkan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Apa gerangan bunyi di bilik sepi&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Kalau bukan cinta, tolong bisikkan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Apa gerangan sosok di kelebat gerak&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Kalau bukan cinta, tolong tampakkan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Kini kusendiri paham meskipun kelam&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Kini kusendiri meratapi meskipun sepi&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Kini kusendiri diam meskipun gerak&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Karena sebuah sua telah membuah fatal&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;b&gt;Cikampek 15-04-08&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/77623261302280157-8080496932135297254?l=mashdarzainal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/feeds/8080496932135297254/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/05/bayang-ngiang_10.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/8080496932135297254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/77623261302280157/posts/default/8080496932135297254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mashdarzainal.blogspot.com/2009/05/bayang-ngiang_10.html' title='Bayang.... Ngiang.....'/><author><name>MASHDAR.ZAINAL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18270304852770395976</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/TS_zR0ktZcI/AAAAAAAAASU/8xoGFWypDuI/S220/a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1mT1GBGzxQw/SgdmdH4DlaI/AAAAAAAAALQ/RaJMcKedYnQ/s72-c/20080214091204.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-77623261302280157.post-8706643402454444278</id><published>2009-05-10T16:53:00.000-07:00</published><updated>2009-08-17T07:07:43.372-07:00</updated><title type='text'>Alamat E-MAIL MEDIA SAK-INDONESIA ( Insya Allah...)</title><content type='html'>&lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Salam Alaikum.... untuk teman-teman yang butuh alamat email media se-indonesia...., di bawah ini rincianya.... tengok dan cari sendiri yah.... semangat terus menulis....!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;THE JAKARTA POST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;opinion@thejakartapost.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;THE JAKARTA POST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;jktpost2@cbn.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;THE JAKARTA POST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;editorial@thejakartapost.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;THE JAKARTA POST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;sundaypos@thejakartapost.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;THE JAKARTA POST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;features@thejakartapost.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;JAWA POS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;editor@jawapos.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KOMPAS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;kompas@kompas.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KOMPAS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;opini@kompas.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KOMPAS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;opini@kompas.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KOMPAS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;kcm@kompas.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;MEDIA INDONESIA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@mediaindonesia.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;MEDIA INDONESIA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;webmaster@mediaindonesia.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;MEDIA INDONESIA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksimedia@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SEPUTAR INDONESIA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;widabdg@seputar-indonesia.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SEPUTAR INDONESIA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@seputar-indonesia.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;REPUBLIKA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;rekor@republika.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;REPUBLIKA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;medika@republika.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;REPUBLIKA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;sekretariat@republika.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;HARIAN IBU&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaktur@harianibu.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SURAT KABAR JAKARTA&lt;br /&gt;MERDEKA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;merdekanews@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;HARIAN INDONESIA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@harian-indonesia.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;RAKYAT MERDEKA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@rakyatmerdeka.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;HARIAN JAKARTA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;aristo@harianjakarta.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;HARIAN JAKARTA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;aristo_jakarta@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;INVESTOR DAILY&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;koraninvestor@investor.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KOMPAS INSIDE&lt;br /&gt;http://www.kompasinside.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SURAT KABAR JAWA BARAT&lt;br /&gt;KOMPAS JABAR&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;kompasjabar@kompas.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SUARA PEMBARUAN&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;koransp@suarapembaruan.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SUARA PEMBARUAN&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;opini@suarapembaruan.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SINAR HARAPAN&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;info@sinarharapan.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SINAR HARAPAN&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;opinish@sinarharapan.co.id&lt;br /&gt;SINAR HARAPAN&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@sinarharapan.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;RADAR BANDUNG&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;radarbandung@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;RADAR BANDUNG&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;radarbandung@yahoo.co.uk&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;METRO BANDUNG&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;metrobdg@rad.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KORAN SUNDA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;koran_sunda@yahoo.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PIKIRAN RAKYAT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@pikiran-rakyat.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PIKIRAN RAKYAT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;cakrawala@pikiran-rakyat.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PIKIRAN RAKYAT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;kampus@pikiran-rakyat.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PIKIRAN RAKYAT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;belia_pr@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PIKIRAN RAKYAT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;gelora@pikiran-rakyat.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PIKIRAN RAKYAT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;dwi@pikiran-rakyat.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PIKIRAN RAKYAT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;otokirpr@pikiran-rakyat.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PIKIRAN RAKYAT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;didih_otokir@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PIKIRAN RAKYAT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;mardjanzen@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PIKIRAN RAKYAT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;prminggu@pikiran-rakyat.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PIKIRAN RAKYAT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;seagpr@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PIKIRAN RAKYAT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;khazanah@pikiran-rakyat.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PIKIRAN RAKYAT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;beritapr@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PIKIRAN RAKYAT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;seagpr@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PIKIRAN RAKYAT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;percil@pikiran-rakyat.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PIKIRAN RAKYAT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;wakhu@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PIKIRAN RAKYAT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;belia@pikiran-rakyat.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PIKIRAN RAKYAT (BUDHIANA)&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;budipr_bdg@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;TRIBUN JABAR&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;tribunjabar@persda.co.id&lt;br /&gt;atau tribunjabar@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SURAT KABAR JAWA TENGAH DAN JOGJA&lt;br /&gt;KOMPAS JATENG&lt;br /&gt;kompasjateng@kompas.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KOMPAS JOGJA&lt;br /&gt;kompasjogja@kompas.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SUARA KARYA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@suarakarya-online.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SUARA MERDEKA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;humainia@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SUARA MERDEKA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@suaramer.famili.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SOLO POS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;litbang@solopos.net&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SOLO POS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@solopos.net&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;WAWASAN&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@wawasan.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BERNAS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;bernasjogja@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BERNAS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;editor@bernas.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KEDAULATAN RAKYAT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@kr.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;RADAR KUDUS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;radarkudus@hotmail.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SURAT KABAR JAWA TIMUR&lt;br /&gt;KOMPAS JATIM&lt;br /&gt;kompas@sby.dnet.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SURYA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;surya1@padinet.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SURABAYA NEWS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;surabaya_news@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SURABAYA POST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@surabayapost.info&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SURABAYA POST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;tya@surabayapost.info&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SURABAYA POST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;surabayanews2003@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;DUTA MASYARAKAT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;dumas@sby.centrin.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;RADAR SURABAYA&lt;br /&gt;radarsurabaya@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SURAT KABAR BALI, SUMATERA, KALIMANTAN DAN SEKITARNYA&lt;br /&gt;SURAT KHABAR BALI DAN SEKITARNYA&lt;br /&gt;BALI POST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;balipost@indo.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BISNIS BALI&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;info@bisnisbali.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;DENPASAR POS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;denpostbali@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;DENPASAR POS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;denpos@indo.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;POS KUPANG&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;poskupang@kupang.wasantara.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;POS KUPANG&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;poskupang@persda.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SURAT KHABAR KALIMANTAN&lt;br /&gt;RADAR BANJARMASIN&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;afoez99@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;RADAR BANJARMASIN&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@radarbanjarmasin.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BANJARMASIN POST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;banjarmasin_post@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BANJARMASIN POST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;banjarmasin_post@persda.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BANJARMASIN POST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;bpostmania@telkom.net&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PONTIANAK POST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@pontianakpost.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KALTIM POST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@kaltimpost.net&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SURAT KHABAR SUMATERA&lt;br /&gt;RIAU POS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@riaupos.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;LAMPUNG POST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksilampost@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BANGKA POS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;bangkapos@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BANGKA POS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@bangkapos.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BATAM POS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@harianbatampos.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SRIWIJAYA POST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;sriwijayapost@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SRIWIJAYA POST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;sripo@persda.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;RIAU TRIBUNE&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;riautribune@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SERAMBI&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;serambi@indomedia.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SERAMBI NEWS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@serambinews.com&lt;br /&gt;MAJALAH&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa majalah yang beredar di sekitar kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;READER’S DIGEST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;Respati.Wulandari@feminagroup.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;READER’S DIGEST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;editor.rd@feminagroup.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SALAFY&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;majalahsalafy@ygy.centrin.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SINYAL&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@majalahsinyal.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SUARA HIDAYATULLAH&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@hidayatullah.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SUARA HIDAYATULLAH&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;majalah@hidayatullah.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SWA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;swaredaksi@cbn.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SWA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;sekredswa@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;TEMPO&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;koran@tempo.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;TEMPO&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;teknologi@tempo.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;TRUST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@majalahtrust.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ANNIDA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;annida@ummigroup.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BOBO&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;bobonet@gramedia-majalah.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;FORUM&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;forumkeadilan@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;FORUM&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@forum.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GADIS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;info@gadis-online.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GATRA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@gatra.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GATRA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;gatra@gatra.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GATRA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;surat@gatra.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GE MOZAIK&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;ge_mozaik@ganeca-exact.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GONG&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;gongetnik@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;HAI&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;hai_magazine@gramedia-majalah.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;HEALTHY LIFE&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;read_healthylife@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;INFOLINUX&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@infolinux.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;INSIDE INDONESIA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;admin@insideindonesia.org&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;INTISARI&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;intisari@gramedia-majalah.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;MAJALAH ILMIAH QUAD&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;quad@brawijaya.ac.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;MAJALAH ILMIAH TEKNIK ELEKTRO&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;hsantoso@bdg.centrin.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;MAJALAH ILMIAH TEKNIK ELEKTRO&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;eniman@paume.itb.ac.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;MAJALAH ILMIAH UNJANI&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;unjani@bdg.centrin.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;MAJALAH ILMIAH UNJANI&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;fmunjani@bdg.centrin.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;MATABACA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;ade_trimarga@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;MATABACA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;adetri@matabaca.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;MATABACA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@matabaca.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;MATRA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;matranet@rad.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;NEOTEK&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@neotek.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PARAS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;majalahparas@yahoo.coma&lt;br /&gt;TABLOID&lt;br /&gt;TABLOID&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;TABLOID INTELIJEN&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;tabloid_intelijen@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;TABLOID ROAMING&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi@tabloidroaming.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;TABLOID SMS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;tabloid_sms@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;TREN DIGITAL&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;trendigital@bisnis.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;TREN DIGITAL&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;ahmad.djauhar@bisnis.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;TREN DIGITAL&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;web@bisnis.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;JURNAL&lt;br /&gt;Berikut ini alamat beberapa jurnal.&lt;br /&gt;JURNAL&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;jurnal@cbn.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;JURNAL ILMIAH HUKUM LEGALITY…&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;heru@umm.ac.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;JURNAL ISLAM&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;jurnalislam@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;JURNAL PEMIKIRAN ISLAM&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;i3ti@indosat.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;JURNAL RISTEK&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;jurnal@ristek.go.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;JURNAL SAINS MATEMATIKA TEKN…&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;jmst@utlab.ut.ac.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;A PLUS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;majalah_aplus @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ACEH INFO&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;kontak @ acehinfo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ACEH INSTITUT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;info @ acehinstitute.org&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ACEH INSTITUT ORG&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;info @ acehinstitute.org&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ACEHINFO&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;kontak @ acehinfo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;AGRINA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;tabloid_agrina @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;AKSI&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;fileaksi @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;AKU ANAK SALEH&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;akuanaksaleh2003 @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;AKU ANAK SALEH&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;akuanaksaleh @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;AKUTAHU&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;koestoer @ eng.ui.ac.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;AL IZZAH&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;al_izzah_majalah @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;AL KISAH&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;al_kisah @ hotmail.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;AL MUSLIMUN&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;almuslimun @ telkom.net&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ALIA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;majalah_alia @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;AMANAH&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;karbala @ cbn.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;AMANAH&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ gemari.or.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ANALISADAILY&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;online @ analisadaily.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ANGGUN&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;majalahanggun @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ANNIDA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;annida @ ummigroup.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ANTARA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;antnews2003 @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ANTARA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;lkbn2002 @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ANTARA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;antara1 @ antara.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;AULADI&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;info @ auladi.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;AULADI&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;mediaauladi @ myquran.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;AZZIKIRA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;majalah_azzikra @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BALANS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;balansekonomi @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BALI POST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;balipost @ indo.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BANDUNGPLUS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;bdg_plus @ yahoo.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BANGKA POS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;bangkapos @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BANGKA POS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ bangkapos.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BANJARMASIN POST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;banjarmasin_post @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BANJARMASIN POST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;banjarmasin_post @ persda.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BANJARMASIN POST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;bpostmania @ telkom.net&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BAPPENAS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;oswar @ bappenas.go.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BAPPENAS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ ampl.or.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BATAM POS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ harianbatampos.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BENING&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;bening33 @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BERITA FOTO&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ beritafoto.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BERITA INDONESIA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ beritaindonesia.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BERITA IPTEK&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ beritaiptek.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BERITA SORE&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ beritasore.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BERITA SORE&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;edy @ beritasore.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BERNAS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;editor @ bernas.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BINTANG HOME&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksibintanghome @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BISNIS BALI&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;info @ bisnisbali.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BISNIS INDONESIA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;sekretaris @ bisnis.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BISNIS INDONESIA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ bisnis.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BISNIS JAKARTA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ bisnisjakarta.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BISNISKITA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi_bisniskita @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BOBO&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;bobonet @ gramedia-majalah.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BOLA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ bolanews.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BOM&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;bomber @ bdg.centrin.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BPKP&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;pengawasan @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BPPS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;wr-bpps @ semarang.wasantara.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BUJET&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;bujet @ bdg.centrin.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BUKU&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;indonesiabuku @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BUMN REVIEW&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ bumnreview.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;CHEMISTRY&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;artikel @ chem-is-try.org&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;CHEMISTRY&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ chem-is-try.org&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;CHIP&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;andre.mantiri @ chip.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;CITA CINTA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;citacinta @ feminagroup.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;CUPUMANIK&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;cupumanik @ plasa.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;CUPUMANIK&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;cupu_manik @ plasa.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Divisi EFK&lt;br /&gt;Penerbit Erlangga&lt;br /&gt;Jl. H. Baping Raya No. 100,&lt;br /&gt;Ciracas Jakarta 13740&lt;br /&gt;Telp. (021) 8717006 Ext. 154&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;DAUR ULANG&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;hamkafauzan @ hotmail.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;DENPASAR POS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;denpostbali @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;DENPASAR POS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;denpos @ indo.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;DETIK&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ detiksport.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;DETIK&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ staff.detik.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;DETIK (ANDI A]&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;andi @ staff.detik.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;DEXA MEDICA (Kedoketaran)&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;medcom @ dexa-medica.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;DHIA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;usahamulia @ bdg.centrin.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;DIALOG&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;dialog @ crb.elga.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;DIGICOM&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;Redaksi @ majalahdigicom.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;DIGITA KAMERA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;artikel @ kamera-digital.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;DIMENSI&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;kirana @ istecs.org&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;DIMENSI&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;dimensi @ istecs.org&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;DUNIA INSINYUR&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;duniair @ indo.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;DUTA MASYARAKAT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;dumas @ sby.centrin.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;E PSIKOLOGI&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;epsi @ cbn.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;EKOLITA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;ekolita @ ptsi.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;EKSEKUTIF&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi_eksekutif @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;EKSPRESI&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;mukhid_translator @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;EKSPRESI&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;ekspresi_2006 @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ELEKTRO&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;rusmanto @ elektroindonesia.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ENDONESA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;dhista @ endonesa.net&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ENERGI INDONESIA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;energi @ sains.org&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ENTROPI&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;entropinews @ lycos.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;EQUATOR NEWS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ equator-news.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ERA MUSLIM&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ eramuslim.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ESTATE&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ estate.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;FAJAR&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;uslimin @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;FAJAR&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;nurul_ucha @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;FAJAR&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;fajarupg @ indosat.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;FIT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;fit @ feminagroup.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;FMIPA UNISBA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;fmipa_unisba @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;FOKUS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;bisnis @ fokusindonesia.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;FOKUS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ fokusindonesia.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;FORUM&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;forumkeadilan @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;FORUM&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ forum.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GADIS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;info @ gadis-online.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GALAMEDIA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redgala @ pro.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GAMMA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;musfardi @ gamma.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GATRA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ gatra.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GATRA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;gatra @ gatra.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GATRA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;surat @ gatra.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GE MOZAIK&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;ge_mozaik @ ganeca-exact.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GEBRAK INDONESIA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;putrakabanshmh @ centrin.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GEMA PRIA ONLINE&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;mustar @ bkkbn.go.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GENTA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;genta @ peter.petra.ac.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GEOPANGEA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;ega @ egagunawan.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GEOPANGEA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ geopangea.or.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GERIMIS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;red_gerimis @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GONG&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;gongetnik @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GONTOR&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;majalahgontor @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GUGAT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi_gugat @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GUGAT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;tabloid_gugat @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GUSDUR&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ gusdur.net&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;HAI&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;hai_magazine @ gramedia-majalah.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;HALUAN RAKYAT INDONESIA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;haluan_ri @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;HARIAN IBU&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaktur @ harianibu.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;HARIAN INDONESIA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ harian-indonesia.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;HARIAN JAKARTA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;aristo @ harianjakarta.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;HARIAN JAKARTA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;aristo_jakarta @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;HEALTHY LIFE&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;read_healthylife @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;HIDAYAH INTISARI&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;hidayah_intisari @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;HIKMAH&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksinurani @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;HOME&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ bintang-indonesia.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;HUKUMONLINE&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;leo @ hukumonline.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;HUNIAN&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;tabloidhunian @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;IDE PSIK-ITB&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;webmaster @ psik-itb.org&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;IDS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;ids @ LISTSERV.SYR.EDU&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;IGA RINI KARTIKA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;accounting @ indo-karir.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;IKAPI&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;sekretariat @ ikapi.or.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;IN CU-VL&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;feedback @ mitra.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;INDO KARIR&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;pakpos @ indo-karir.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;INDO KARIR&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ indo-karir.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;INDO KARIR&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;tika @ indo-karir.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;INDO KARIR&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;putri.nuansa @ indo-karir.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;INDO KARIR&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;Inge @ indo-karir.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;INDO KARIR&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;kartika @ indo-karir.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;INDO POS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;indopos @ jawapos.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;INDONESIA MEDIA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;info @ indonesiamedia.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;INDONESIA MEDIA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;indomedia @ aol.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;INDOPOS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;editor @ indopos.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;INFO&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ infokomputer.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;INFOLINUX&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ infolinux.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;INO&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;inomajalah @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;INSANI DIGEST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;insanidigest @ gmail.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;INSIDE INDONESIA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;admin @ insideindonesia.org&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;INTIPER&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ instiper.ac.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;INTISARI&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;intisari @ gramedia-majalah.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;IQTISHAD&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;bsetyanto @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;IREYOGYA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;ireyogya @ indosat.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;IRFAN&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;irfan_mu @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;IRFAN&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;irfan_mi @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ISLAM VOICE&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;editor @ islamicvoice.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ISLAMUDA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ islamuda.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ISOLA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;upm_isola @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jakun LATIVI&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;jakun @ lativi.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;JAWA POS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;editor @ jawapos.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;JMI&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;jmi @ unpad.ac.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;JURNAL&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;jurnal @ cbn.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;JURNAL ILMIAH HUKUM LEGALITY…&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;heru @ umm.ac.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;JURNAL ISLAM&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;jurnalislam @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;JURNAL PEMIKIRAN ISLAM&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;i3ti @ indosat.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;JURNAL RISTEK&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;jurnal @ ristek.go.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;JURNAL SAINS MATEMATIKA TEKN…&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;jmst @ utlab.ut.ac.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KABINET&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;jus_ril @ yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KABINET&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksikabinet @ bloracenter.net&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KALTIM POST&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ kaltimpost.net&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KASYAF&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;kasyaf @ akmaliah.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KAWULA MUDA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ kawula-muda.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KBRI NORWEGIA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;kbrioslo @ online.no&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KEDAULATAN RAKYAT&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;redaksi @ kr.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KEMITRAAN&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;partnership.ckm @ undp.org&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KETAWA KETIWI&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;humor @ bozz.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KID’S LAB&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;waguna @ bdg.centrin.net.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KISUNDA&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;kisunda @ yahoogroups.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KOMPAS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;kompas @ kompas.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KOMPAS&lt;br /&gt;E-mail Address(es):&lt;br /&gt;kompasjabar @ kompas.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight:
