PARCEL (Tabloid Nova, edisi Lebaran 2016)




Setiap kali lebaran tiba, perempuan itu selalu mendapat kiriman tiga buah parcel yang sama. Parcel pertama berisi aneka biscuit, sirup, dan beberapa makanan kecil—yang seolah tak akan habis untuk ia kudap sampai lebaran tahun depan. Parcel kedua, berisi selusin toples dan beberapa cangkir porselin lengkap dengan tekonya. Sedangkan parcel ketiga, berisi mukena, sajadah, dan beberapa pakaian siap pakai dengan merek terkenal. Baginya, tiga parcel itu tak ubahnya ornamen-ornamen kesunyian, yang terpajang di sudut ruang tamu dan lemari, yang membuat hawa semakin beku.
Perempuan itu punya tiga anak, satu laki-laki dan dua perempuan, yang laki-laki jadi tentara dan jarang pulang—bahkan saat lebaran, sedangkan dua anak perempuannya semuanya sudah menikah dan mengikuti suami masing-masing. Mereka akan pulang hanya jika suami-suami mereka mengizinkan. Tiga parcel itu dari mereka. Perempuan itu seringkali mengingat-ingat kapan terakhir ia berkumpul dengan anak-anak dan cucu-cucunya, dan itu adalah tiga tahun lalu, ketika suaminya (bapak dari anak-anak dan kakek dari cucu-cucunya) meninggal.  Dan mungkin anak-anak akan bisa berkumpul lagi ketika nanti tiba gilirannya masuk ke lahad, menyusul suaminya. Entahlah.
Anak-anak tinggal di pulau jauh di seberang lautan, dan sebab itulah ia lebih mengedepankan pemakluman daripada ego kerinduannya sebagai orang tua. Setidaknya, ia masih bisa tersenyum, karena anak-anak tak lupa menelpon dan bertanya kabar setiap bulan, atau berkirim parcel setiap tahun.
Begitulah perempuan itu membohongi dirinya sendiri, ia tahu, jauh di kedalaman hatinya, acap kali ia merasa sebagai orang tua yang malang dan dianggap tidak penting oleh anak-anaknya. Bagaimana pun orang tua tetaplah orang tua, jarak bukanlah sesuatu berarti. Apalagi sekarang sudah jamannya pesawat terbang, yang bisa melintas dari pulau ke pulau hanya dalam waktu kurang dari satu hari. Atau mungkin, orang tua dan anak-anak memang punya dimensi dunia yang berbeda, di mana nuansa kasih dan kerinduan juga berbeda. Di dunia anak-anak, mungkin kerinduan tak setebal di dunia orang tua. Namun, apapun itu, ia selalu siap menerima kemungkinan terburuk—anak-anaknya tidak akan datang, dan hanya mengirimkan parcel seperti sebelum-sebelumnya.
Dengan hati yang redam ia terus memandangi cangkir-cangkir dan beberapa pakaian dalam lemari—semua adalah hasil dari kiriman parcel yang sama, di tahun-tahun sebelumnya. Semuanya berjajar dan terlipat rapi, persis seperti ornamen-ornamen yang tak berpaedah apapun kecuali menguarkan nuansa kesunyian yang begitu palung. Demi memikirkan itu, ia acap menitikan air mata sambil terduduk di kursi rotan di ruang depan seraya melempar pandang jauh keluar jendela. Sedangkan foto-foto keluarga yang bercengkerama di dinding-dinding itu, tak ubahnya benda-benda jahat yang selalu mentertawainya dan mempecundanginya.
Ia akan tersenyum dan kemudian mengusap air matanya setelah mengingat bahwa para tetangga dan bocah-bocah mungil mereka tak pernah alpa menengok rumahnya yang besar lagi senyap itu. Di saat-saat seperti itu ia berpikir bahwa memiliki tetangga yang banyak akan jauh lebih menentramkan ketimbang memiliki anak yang banyak. Dan lagi, Tuhan tentu tak akan menyuruh hambaNya untuk menghormati para tetangga sedemikian rupa kecuali karena alasan yang sangat istimewa. Ia sering mengibaratkan, jika di rumahmu terjadi kebakaran, maka orang pertama yang akan membantumu memadamkan air bukanlah anak atau saudaramu yang ada di seberang jauh, melainkan para tetangga di sebelah kanan-kiri rumah.
Jadi, sebenarnya ia tak perlu sesedih itu kalaupun lebaran kali ini anak-anaknya tidak pulang seperti lebaran-lebaran sebelumnya. Toh ia masih punya para tetangga yang begitu peduli. Dan anak-anak tetangga yang manis-manis itu sudah ia anggap seperti cucu-cucu sendiri, yang akan selalu ia selipkan angpau di tangan-tangan mungil mereka ketika mereka berdatangan dan bersalaman di pagi lebaran. Ia tersnyum lagi dengan mata yang masih sembab. Lebaran tinggal beberapa lagi, batinnya.
Belum lagi usai dari lamunannya, seseorang mengetuk pintu rumahnya. Mungkin anak-anak tetangga yang disuruh ibunya mengantarkan nastar atau kue kering. Jelang lebaran seperti ini, para tetangga memang suka saling antar makanan dan kue dari satu rumah ke rumah yang lain, itulah salah satu alasan kuat mengapa ia tak mau pindah ke kota untuk tinggal di perumahan anaknya yang bertingkat dan berteralis seperti penjara. Tiga tahun lalu, genap tujuh hari selepas meninggalnya si bapak, si sulung—yang seorang tentara, pernah memintanya untuk turut serta ke kota dan tinggal bersama menantu dan cucu-cucunya, tapi ia menolak. Dua anaknya yang lain juga menawarinya hal serupa, tapi tetap saja ia tak sudi meninggalkan rumah warisan moyangnya yang sudah terlampau ia cintai itu.
Ia bergegas membuka pintu, dan ia salah, yang datang bukanlah anak tetangga, melainkan lelaki berseragam yang mengantarkan parcel. Parcel pertama. Dari anak pertama. Ia meminta petugas pengantar barang itu untuk meletakkan parcel setinggi satu meter itu di sudut ruang tamu, seperti tahun-tahun sebelumnya. Selepas pengantar barang itu pergi, ia menghela napas tuanya dengan berat. Anak lelakinya kini menjelma menjadi sebuah parcel yang bisu dan tak mampu mengobati apapun, termasuk kerinduan. Dan dua anaknya yang lain juga akan segera menyusul—menjelmakan wujudnya menjadi parcel. Ia pasrah dan mencoba tetap tersenyum.
Dua parcel yang lain—dari kedua anaknya yang lain, datang tiga hari jelang lebaran. Genap sudah. Tiga parcel itu terpajang di sudut ruang tamu. Utuh. Belum terbuka sedikitpun. Dan biasanya, anak-anaknya akan segera menelpon untuk menanyakan apakah parcel kiriman mereka sudah datang—alih-alih menanyakan bagaimana perasaan ibu mereka yang selalu berlebaran dengan sekantung parcel. Dan begitulah, pada malam lebaran, setelah beri’tikaf di masjid sampai menjelang subuh, ia akan selalu melangkah pulang dengan air mata yang tak bisa ia tahan. Ia sendiri bingung, apakah ia menangis lantaran alunan takbir yang syahdu itu, atau menangis karena memikirkan dan merindukan anak-anaknya.
Sesampainya di rumah, ia akan terduduk di kursi rotan ruang depan—masih mengenakan mukenanya—sambil  memandang tiga parcel di sudut ruang berlama-lama. Itulah wujud ketiga anaknya sekarang. Haruskan ia memeluk dan menciumi parcel-parcel itu dan mengatakan: lebaran kali ini ibu memaafkan kalian, sama seperti lebaran-lebaran sebelumnya dan lebaran-lebaran yang akan datang. Pada detik itu juga, ia memohon ampun kepada Tuhan jika semua perasaan yang ia pelihara selama ini adalah salah. Bagaimanapun ia sangat mencintai anak-anaknya. Maka, untuk ke sekian kalinya ia berpasrah, jika Dia berkehendak mendatangkan anak-anak yang teramat dirindukannya itu, tentu Dia akan mendatangkan anak-anak itu dengan cara-Nya. Dan selepas itu ia tertidur sampai takbir jelang sholat id memabangunkannya.
***
Pada pagi lebaran, jauh di tiga tempat yang berbeda, tiga orang anak mendapatkan kiriman sebuah paket yang misterius. Tergeletak di depan pintu, tanpa nama pengirim. Ketika masing-masing dari mereka membukanya, yang mereka dapati hanya sebuah kardus besar yang kosong. Melompong. Dan entah mengapa, seperti tersaput sihir, tiba-tiba saja batin mereka dihinggapi kesunyian yang teramat sangat, seakan-akan tak ada lagi kesunyian yang lebih sunyi dari itu. Dan kesunyian itu mendadak membuat mereka rindu pada hangat pangkuan ibu mereka, seperti ketika mereka kecil.
Pada hari itu juga mereka memesan tiket pesawat paling cepat (kendati mahalnya berlipat-lipat) dan segera terbang ke rumah masa lalu mereka, untuk bersimpuh dan mencium kaki ibu mereka. Dan mereka hanya bisa bertangisan, ketika suara takbir dari televisi di ruang tengah besahut-sahutan menghampiri cuping mereka.***
Malang, 2014

Rumah Rayap, Lampung Post, Minggu, 15 Mei 2016




Rumah kami adalah rumah yang terhimpit jalan raya, selokan kecil, dan rel kereta api. Tidak lebar. Tidak bertingkat. Dan tidak bersertifikat. Dindingnya adalah potongan-potongan papan, seng, kardus, dan plafon rusak yang ditempel sembarangan. Terikat kawat di sana-sini. Tiangnya bambu gelondongan yang sudah totol-totol dimakan kutu. Lantainya masih tanah—yang akan berdebu di musim kemarau dan akan becek di musim hujan. Atapnya, masih sejenis dengan dinding, potongan-potongan seng dan plafon rusak yang disampirkan sekenanya.
            Rumah kami adalah rumah yang berdesak-desak. Bersebelahan dengan tempat sampah. Tak ada sofa. Tak ada meja. Tapi ada lemari alakadarnya. Tak ada kipas. Tak ada kulkas. Tapi ada tivi yang tombolnya sudah mengelupas. Tak ada taman. Tak ada kamar. Tapi ada kakus yang harumnya na’udzubillah. Tempat duduknya adalah lincak, bekas papan yang dipaku sana-sini dan diberi empat kaki. Ranjangnya ranjang soak, gratisan dari pasar loak. Tapi kasurnya beli, meski sekarang sudah menggumpal dan harus dijemur seminggu sekali.
            Itulah rumah kami. Rumah yang menyempal-nyempal macam rumah rayap. Rumah yang berselengkatan macam kapal pecah. Tak elok dipandang mata. Tak sedap diraba rasa. Tapi, meski bagaimanapun, rumah itu adalah rumah kami. Rumah yang layak kami cintai. Rumah yang layak kami pertahankan, dari apa saja dan siapa saja yang hendak merobohkannya, termasuk dari serbuan binatang kecil bernama rayap.
***
Mengingat rumah kami bersebelahan dengan tempat sampah dan masih beralas tanah, sasejujurnya, rumah kami memang tak cukup aman dari aneka macam binatang, khususnya rayap tanah. Kupikir hanya satpol PP saja yang berminat meruntuhkan rumah kami. Tapi tidak. Rumah kami yang sudah reot itu rupanya diminati juga oleh rayap tanah. Dan rayap-rayap tanah itu benar-benar keras kepala. Menyerbu tak pandang musim. Musim kemarau beranak pinak. Musim hujan kian merebak.
Rayap-rayap itu menyembul dari lubang-lubang tanah yang tak penah kami perhatikan keberadaanya. Berbondong-bondong. Rayap-rayap itu membangun rumah di mana-mana, di kaki ranjang, di kosen pintu, di punggung lemari, di papan dinding, di balik tumpukan kardus, bahkan di atap rumah.
Kami sudah bosan mengusir rayap-rayap itu. Kami pernah membakarnya dengan oncor. Tapi ia tetap saja kembali dan membuat rumah yang baru. Kami juga pernah meracuninya dengan minyak tanah yang sekarang sudah langka itu. Tapi tetap saja, tak mempan. Kapur semut, kapur barus, semprotan anti serangga, daun pandan, semua sudah kami coba, tapi rayap-rayap itu selalu muncul lagi dan lagi.
Lambat laun, rayap-rayap itu sudah seperti serdadu yang menyeramkan. Setiap hari tinggal dan tidur satu atap dengan kami. Menggerogoti tiang, kaki ranjang, lincak, kardus, bahkan koran-koran bekas yang susah payah kami kumpulkan dari jalan ke jalan dan hendak kami jual kembali.
Rayap-rayap itu benar-benar keterlaluan. Tapi, sebagai pemilik rumah, sebagai tuan, kami akan selalu menang melawan rayap. Meski pada akhirnya, semua akan berlakon seperti komidi putar. Di mana pun rayap-rayap itu membangun rumah, kami tak mau kalah. Kami akan terus menggempurnya. Menghancurkannya. Mereka membangun lagi. Kami menggempurnya lagi. Mereka membangun lagi. Kami menggempur lagi. Begitulah. Berputar-putar. Seperti komidi putar.
Kami tak tahu apakah rayap punya jiwa pantang menyerah, yang jelas kami dibuatnya terengah-engah. Kian kami basmi, rayap-rayap itu kian merajalela. Bahkan secara terang-terangan, mereka berani membangun rumah di atas tanah, di depan mata kepala kami, di tempat kami berwira-wiri. Serbuk tanah itu dibuatnya menggumpal, berdiri condong kesana-kemari, bercabang-cabang seperti ornamen ranting pohon. Tak bosan-bosan kami menendangnya. Membuatnya remuk. Membuatnya hancur. Tapi, malam hari, ketika kami tinggal tidur, paginya, rumah rayap itu kembali bermunculan, seperti kecambah di musim hujan.
Pada akhirnya, sadar atau tidak sadar, kami telah menyerah. Mungkin ada sesuatu yang harus kami tiru dari tabiat rayap: pantang menyerah.
Dan selanjutnya, yang terjadi, rumah-rumah rayap itu akan terus menyempal di rumah kami. Di atas tanah yang kami huni. Tapi, kami tak sudi lagi merusak rumah-rumah mungil itu, kami sudah lelah, kecuali, jika rayap-rayap itu sudah benar-benar mengancam keberadaan rumah kami.
***
Cerita yang sejujurnya adalah, rayap-rayap raksasa itulah yang lebih kami cemaskan keberadaannya. Rumah ini pernah rebah tujuh kali oleh penggusuran. Katanya, untuk pelebaran jalan raya, demi kenyamanan pengguna jalan. Katanya juga, kami—para penduduk yang menghuni tanah sempit selama puluhan tahun ini, tak memiliki sertifikat yang sah. Jadi, tanah yang mungkin sudah dibabat dan dirawat nenek moyang kami ini adalah tanah milik pemerintah. Entahlah. Kami memang tak pernah makan bangku sekolah. Dan orang yang tak pernah makan bangku sekolah memang berpotensi untuk dijajah.
            Sudah puluhan kali kami berdemo, membawa spanduk dengan kata-kata yang kami sendiri terkadang tak paham artinya. Dan yang terjadi adalah sama, seperti komidi putar. Rumah kami kembali dibuldoser tanpa ampun. Hancur. Rata dengan tanah. Tapi, tak perlu menunggu waktu. Dalam hitungan minggu kami sudah membuat rumah itu kembali berdiri. Meski compang-camping, menggunduk di sana-sini, seperti kemah.
            Lambat laun pemerintah akan lupa, atau mungkin lelah dan sengaja membiarkan. Maka, rumah kami berdiri lagi. Menyempal-nyempal lagi. Dan kami kembali hidup seperti sedia kala. Membuka tambal ban di pinggir jalan. Membuka warteg murahan. Berjualan cilok dan tempura. Menjadi buruh cuci. Mengasong. Memulung. Mengemis… hingga kabar pelebaran jalan itu kembali menjewer telinga kami.
Penyakit pelebaran jalan itu kambuh lagi. Kami harus berdemo lagi. Menenteng-nenteng spanduk dan tutup panci lagi. Satpol PP datang berbondong-bondong lagi. Buldoser mengerami rumah kami lagi. Rumah kami hancur lagi. Kami menangis lagi. Kami bangkit lagi. Mengais-ngais lagi. Membangun rumah dari kardus lagi. Memulai dari awal lagi. Begitulah. Berputar-putar. Seperti komidi putar. Dan kami selalu memerankan tokoh yang memar.
***
             
Bagaimanapun, rayap tetaplah rayap. Dan sebagaimana layaknya rayap, kami tak pernah peduli pada ulah manusia yang selalu menghancurkan rumah-rumah kami. Jumlah kami puluhan, ratusan atau bahkan ribuan. Setelah rumah kami hancur, kami akan berbondong-bondong lagi untuk mendirikan rumah yang baru lagi. ***
Malang, 2013

Penglihatan, Kompas, Minggu, 17 April 2016





 Aroma napas ibu berwarna seperti akar rumput yang baru dicabut dari tanah basah. Mirip aroma rempah yang segar.
Ibu telah menjelaskan puluhan kali. Bahkan mungkin ratusan kali. Dengan napas aroma akar rumput basah yang sama. Bahwa aku terlahir sempurna. Tubuh dan indraku utuh, tidak ada yang cuwil atau rompal. Tidak ada yang panjang sebelah ataupun kecil sebelah. Semua sempurna. Bahkan sepasang mata ini. Sepasang mata ini. Orang bilang aku buta. Tapi ibu bilang, aku hanya melihat dengan cara berbeda. Melihat dengan cara berbeda. Itu saja.
Anak-anak lain suka bertanya, apakah yang aku lihat hanya gelap? Gelap itu artinya berwarna hitam. Tak ada cahaya. Kata mereka, gelap itu seperti ketika kau memejamkan mata. Ketika kau memejamkan mata, maka kau takkan dapat melihat. Seperti itulah aku. Seperti itulah orang buta. Mungkin aku tak paham seperti yang mereka paham. Seperti apa warna gelap. Seperti apa warna hitam. Ketika aku memejamkan mata, sama rasanya dengan ketika ibu mematikan lampu saat aku disuruh berangkat tidur. Setelah terdengar bunyi klik—tanda lampu dimatikan, semua hanya menjadi sedikit berbeda. Seperti itulah gelap. Gelap hanya sedikit berbeda dengan tidak gelap.
Barangkali gelap mereka memang berbeda dengan gelapku. Namun, seperti mereka, aku pun masih bisa merasakan kehadiran cahaya. Aku masih bisa merasakan sesuatu yang disebut ‘silau’ oleh mereka. Suatu pagi, ibu pernah membawaku ke taman, dan menyuruhku mendongak. Sesuatu yang hangat, yang bukan tangan ibu, mulai meraba wajahku. Sesuatu yang megah dan seperti hendak memelukku. Aku nyaris terperenyak.
“Itu matahari, Sayang. Cahayanya hangat dan agung, raja di siang hari,” ucap ibu. Aku tahu, ibu juga mendongak. Aroma akar rumput basah itu menyebar ke langit. Beberapa titik  jatuh ke wajahku.
Pada malam yang dialiri angin yang lembut seperti satin, ibu juga membawaku ke halaman rumah. Ia juga menyuruhku mendongak. Tak ada usapan hangat. Tapi aku merasakan sesuatu yang lembut mengaliri wajahku. Megah sekaligus ramah.
“Itu rembulan, Sayang. Cahayanya anggun dan redup, ratu di malam hari,” telisik ibu. Angin satin itu membawa aroma akar rumput basah milik ibu ke mana-mana.
Sejak ibu mengenalkanku pada matahari dan rembulan—aku lupa kapan, tapi itu sudah lama sekali, aku telah bisa membedakan gelap dan terang dengan sangat gamblang. Gelap adalah ketika kau sendiri. Dan terang adalah ketika sesuatu yang megah membersamaimu. Dan hal itu: cahaya, membuatku lebih mudah mengayunkan langkah.
Aku berjalan dengan meraba cahaya, menyelisik suara, dan membaui aroma. Dan bagiku, itu tak ada kesulitan sama sekali. Tak ada kesulitan sama sekali. Aku tetap bisa melihat, hanya dengan cara berbeda, seperti kata ibu. Aku melihat ibu dengan meraba wajahnya dan menyelisik suaranya. Hingga dapat kubayangkan wajah ibu dalam benakku. Begitu terang. Begitu jelas. Suara ibu renyah. Renyah itu seperti ketika kau makan kerupuk yang baru diambil dari dalam toples. Renyah itu tegas tapi lembut. Mirip suara ‘krap’. Seperti itulah suara ibu.
Ibu adalah satu-satunya kawan dekatku yang paling dekat. Setelah ibu, baru ada Lukas dan Elias yang sudi berkawan denganku. Yang lain juga berkawan, tapi tidak terlalu dekat. Dekat artinya, mereka sering meluangkan waktu bersamaku dan suka mengajakku bercakap-cakap. Ibu, Lukas, dan Elias, suka melakukan itu. Sebab itu, aku berjanji pada diriku sendiri, bahwa Lukas dan Elias akan tetap jadi kawanku sampai kapanpun. Tapi Lukas dan Elias punya kebiasaan buruk, mereka suka datang mengendap-endap. Padahal ibu tak pernah memarahi mereka. Tapi mereka tetap saja suka datang mengendap-endap.
Ketika ibu tengah sibuk dengan pekerjaan di dalam rumah. Biasanya Lukas dan Elias muncul dan mengajakku bermain di halaman rumah. Di sana ada dua ayunan. Aku duduk di ayunan yang satu, sedangkan Lukas dan Elias duduk di ayunan yang lain. Mereka bilang di halaman rumahku banyak bunga. Ibuku memang suka sekali dengan bunga. Ada mawar. Melati yang merambat ke tiang teras. Ada juga kamboja dan bougenvil dalam pot. Lukas dan Elias menjelaskan bahwa bunga-bunga itu bermacam-macam warna. Ada banyak warnanya.
“Mawar itu merah, melati itu putih, kamboja merah muda, bougenvil putih dan merah muda, tapi merah mudanya berbeda dengan merah muda kamboja,” ujar Lukas.
“Kalau daunnya, hampir semua berwarna hijau,” Elias turut menjelaskan.
Aku hanya berterima kasih dan lalu tersenyum, melebarkan sudut bibir ke kiri dan ke kanan. Kata ibu, begitulah cara orang tersenyum. Aku bisa membayangkan dengan mudah seperti apa bentuk mawar, melati, kamboja, dan bougenvil, meski aku tak begitu paham dengan warna-warna mereka.
Ibu, Lukas, dan Elias mengamati warna dengan mata kasat mereka. Sedangkan aku mengamati warna dengan caraku sendiri. Merah seperti aroma garam dan karat. Seperti aroma darah. Kata ibu darah berwarna merah. Meski aku tahu, mawar punya aroma yang khas—orang-orang menyebtnya harum, tapi bagiku warna mawar seperti garam dan karat. Dan mawar berduri, jariku pernah tertusuk duri bunga itu. Mengeluarkan darah. Darah yang beraroma seperti garam dan karat. Garam dan karat.
Adapun warna melati seperti rasa pahit dan sepat. Warna kamboja seperti serbuk minuman yang dituang ke dalam gelas. Warna bougenvil seperti sobekan kertas. Dan warna daun-daun seperti puding cincau yang mendidih dalam panci. Sekali lagi, aku berbicara tentang warna, bukan aroma. Bagiku warna adalah bentuk. Merah adalah bentuk. Putih adalah bentuk. Merah muda dan hijau juga sebuah bentuk. Barangkali itulah yang disebut ibu sebagai ‘melihat dengan cara berbeda’. Melihat dengan cara berbeda.
Suatu malam, di usiaku yang ke sepuluh, kami duduk mengitari meja makan. Aku dan ibu duduk bersebelahan. Ayah duduk di seberang. Aku tidak terlalu dekat dengan ayah. Tapi aku bisa membayangkan wajah ayah dari suaranya yang keras seperti dahan patah, juga aroma napasnya yang dingin seperti udara yang menyambar ketika kulkas dibuka. Aku pernah meraba wajah ayah, hampir sama dengan wajah ibu dan wajahku. Hanya saja wajah ayah kasar di beberapa bagian. Menurut ibu, itu sisa kumis dan jenggot yang dipangkas. Itu adalah salah satu tanda bahwa laki-laki dan perempuan berbeda. Laki-laki dan perempuan berbeda.
Ayah bekerja sebagai pejabat negara. Kata ibu, ayah orang penting. Ayah dekat dengan presiden. Dan sebab itu, ayah jarang sekali tinggal di rumah. Ayah sering pergi ke ibu kota. Dan bahkan keluar negeri. Aku dan ibu sudah terbiasa ditinggalkan ayah. Sebenarnya, di rumah kami ada dua orang pelayan, yang satu namanya No, ia bekerja merawat taman. Dan yang satu namanya Tik, ia bagian mengurusi pekerjaan rumah. Tapi menjelang  petang mereka selalu pulang. Dan aku tak begitu suka dengan mereka. Mereka jarang berkata-kata, dan seringkali, aroma mereka yang satu seperti tanah becek dan yang satu seperti kain terbakar. Tapi bagaimanapun, mereka sudah berbaik hati sudi membantu ibu sampai petang. Jadi aku tetap menghormati mereka.
Kami masih mengitari meja makan, ketika ayah menyampaikan, bahwa sebentar lagi, aku akan bisa melihat. Melihat dengan cara yang sama, persis seperti ayah dan ibu melihat. Seperti Lukas dan Elias melihat. Kata ayah, itu hadiah ulang tahunku yang ke sepuluh. Hadiah yang takkan pernah kulupakan. Ayah berbicara soal donor mata. Yang kutahu, donor itu semacam pemberian. Berarti pemberian mata. Dan ibu menyinggung soal operasi. Yang kutahu, operasi itu pekerjaan yang berhubungan dengan pisau, dokter bedah, dan kesembuhan seseorang.
Sepertinya pembicaraan ayah dan ibu akan berlangsung lama. Sebab itu, setelah makan malam, ibu mengantarku cuci muka, cuci kaki, sikat gigi, dan lalu tidur. Klik. Lampu dimatikan. Klek. Pintu ditutup dari luar. Seketika, dalam benakku muncul bentuk-bentuk yang beterbangan. Warna-warna, aroma-aroma, dan cahaya yang berlompatan. Ketika itu, tiba-tiba Lukas dan Elias datang. Seperti biasa, mereka datang diam-diam. Barangkali mereka memanjat jendela. Kata Lukas, mereka sempat menguping soal hadiah ulang tahun itu. Soal aku akan bisa melihat dengan cara yang sama. Melihat dengan cara yang sama.
“Akan lebih baik kalau kau tidak menerima hadiah itu,” desis Lukas.
“Betul,” sahut Elias, “hampir semua penglihatan manusia adalah anak panah iblis yang dilesatkan. Dan itu akan menikam dirimu sendiri. Sudah banyak buktinya.”
“Lagi pula, sebagian besar manusia memiliki wajah dan sosok yang menyeramkan dan kadang menjijikkan untuk dilihat. Kau pasti akan ketakutan.”
“Dan seringkali mereka mendesis seperti ular derik. Berisik dan mencelakai orang.”
“Akan banyak sekali hal di dunia ini yang tak ingin kau lihat nantinya. Percayalah, kau takkan suka melihat dengan cara yang sama.”
Aku hanya menyimak ucapan mereka. Dengan rasa ngeri yang mulai melata.
“Tapi semua terserah padamu,” singkat Lukas.
“Ya, keputusan tetap ada di tanganmu,” Elias menambahkan.
Malam itu, Lukas dan Elias pamit setelah kukatakan bahwa aku harus segera tidur. Sejujurnya, aku mulai bosan dan menganggap mereka hanya menakut-nakutiku. Setelah aku bisa melihat seperti yang lain, tentu akan semakin banyak anak yang mau berkawan denganku. Pasti Lukas dan Elias cemas akan hal itu. Padahal aku sudah bersumpah, sampai kapanpun, mereka akan tetap jadi kawan dekatku. Sampai kapanpun.
Setelah malam itu, Lukas dan Elias masih datang sesekali untuk mengingatkan soal pengelihatan manusia yang kata mereka mengerikan itu. Sampai ayah dan ibu benar-benar membawaku ke rumah sakit untuk hadiah istimewa itu. Ketika aku sampai di rumah sakit, cahaya berlesatan di hadapanku. Aroma-aroma membaur menjadi satu. Warna-warna beradu. Juga suara Lukas dan Elias yang terus mengiang sayup di telingaku. Hingga aku seperti tertidur. Tidak ingat apa-apa lagi.
Entah berapa lama, ketika aku terbangun, sebagian kepalaku sudah dibaluti kain panjang dan pipih. Setelah beberapa hari, ketika kain itu dibuka, perlahan, mataku segera mengerjap. Cahaya mendekap tubuhku. Seperti kain raksasa yang meringkusku. Dan semua menjadi begitu berbeda. Ibu bertanya, apakah aku bisa melihat? Apakah aku merasa silau? Aku hanya tersenyum lebar. Ibu menciumku. Wajah ibu persis seperti yang kubayangkan selama ini. Persis. Namun aroma akar rumput basah itu lenyap entah kemana.
Dan aku merasa sangat girang bisa melihat begitu banyak binatang berkeliaran. Berbaur dengan manusia. Aku tahu itu binatang karena mereka memiliki moncong. Semacam bibir yang menjorok ke depan. Ibu pernah bercerita, bahwa salah satu berpedaan fisik antara manusia dan binatang adalah pada moncongnya. Bahkan bebek dan ikan lele sekalipun memiliki moncong. Sungguh, aku merasa takjub dengan dunia baruku.
Aku tidak sabar untuk mengucapkan terima kasih pada ayah yang telah menghadiahiku sebuah pengelihatan. Sebuah dunia baru. Aku dan ibu telah menunggu ayah di depan pintu setelah beberapa hari ayah pergi ke luar kota seperti biasanya. Ketika ayah keluar dari mobil, aku baru tahu bahwa ayah juga memiliki moncong. Ayah juga memiliki moncong. Tiba-tiba aku teringat kata Lukas dan Elias. Namun entah mengapa, semenjak aku memiliki pengelihatan yang sama, Lukas dan Elias tak pernah muncul lagi. Mereka menghilang.
Ketika aku bertanya pada ibu perihal Lukas dan Elias, ibu menjawab enteng. Kata ibu, Lukas dan Elias hanya sepasang anjing kembar milik tetangga sebelah. Anjing kembar yang suka keluyuran ke halaman rumah kami. ***
Madiun,  Desember 2015