Lelaki yang Tampak Anggun oleh Air Mata (dimuat di koran Jurnal Nasional 26 September 2010)

Oleh Mashdar Z

RUANG ini seperti hutan berkabut di malam-malam tua. Lengang. Hanya aku dan dia. Aku menatapnya seperti bocah kecil yang menatap patung peri yang hendak terbang, mataku berkristal. Kami bersitatap. Ada nuansa puncak dari warna merah jambu yang ganjil, yang selama ini melecutku pada pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah bisa kujawab. Aku asing. Serupa pengembara yang tak pernah menemukan sentuhan-sentuhan lembut. Aku tersisih. Serupa bayi yang menggeliat di gundukan sampah. Miris, kotor dan menjijikan. Dan yang mungkin kusesali, sampai detik ini aku masih bernapas...

***

Kembali ia meronta, kursi ringkih yang didudukinya berderak-derak. Ia tersengal-sengal, menghela napas berat, lalu hening. Matanya mengilat menatapku, di sana kutemukan rasa muak yang tak pernah bisa kuukur. Sudah hampir seharian aku duduk di hadapannya. Menatap lekat wajahnya yang menyimpan kesumat dan kebencian yang mendadak meledak seperti gumpalan mendung hitam di tengah kemarau panjang. Matanya terus menatapku, seperti sebilah belati yang tak henti-henti menguliti perasaanku. Apa pun dan bagaimanapun, aku tak peduli. Aku benar-benar sudah tak peduli.

Semalam, waktu ia menyusulkan undangan terakhir untukku, aku menuangkan serbuk tidur ke dalam minumannya. Membopong tubuhnya yang berat ke kamar kosong ini. Mendudukannya di sebuah kursi kayu. Memplester mulutnya rapat-rapat. Lalu mengekang tubuhnya dengan lilitan tambang. Sudah hampir seharian ia terkungkung di ruang congek ini. Mataku yang sembab menghujamnya tanpa jeda. Aku ingin ia tahu, aku tak main-main. Sudah selayaknya utas persahabatan ini lepas menjadi cambuk berduri yang memecutku dari waktu ke waktu. Dan kini, kepedihan telah melumat sisi kemanusiaanku.

Sejak detik pertama mengenalnya, aku telah merasakan keganjilan ini. Tutur sikapnya yang lembut dan senyumnya yang seperti bulan sabit, telah dengan mudah menyihirku, menjadikanku sinting.

"Maafkan aku Al... " aku menatap matanya dalam-dalam. Perlahan. Ia balas menatapku. Tatapan jijik. Tapi dadaku berdesir.

Al..., apa kau tahu? Sungguh aku tak pernah memikirkan sebelumnya, kalau aku bisa melakukan ini padamu. Memang, aku sudah menduga bagaimana nanti akhirnya. Kau akan menemuinya, mengucapkan cinta, menikahinya, memadu kasih dan saling berserah kehangatan dengan perempuan itu. Sedangkan aku? aku seperti orang terkutuk yang tak layak untuk memanen kebahagiaan. Apa ini adil?

Althaf, nama itu memiliki kekuatan luar biasa untuk memporak-porandadakan detak jantungku. Setiap kali mendengar nama itu darahku selalu berdenyar lebih cepat seperti sengatan arus listrik.

Dan kini... dia telah ada di hadapanku. Aku bisa melakukan apa saja padanya. Aku bisa memandang keelokannya sepuas hatiku. Menggenggam tangannya, mengusap wajahnya, memeluk tubuhnya, mengendus wangi keringat kelelakiannya yang serupa wangi sabun....

Tapi tetap saja, ada perih yang tak bisa kujangkau dengan sayatan belati sekalipun. Upaya apa pun yang kulakukan, takkan pernah bisa membuat hatinya condong kepadaku. Aku takkan pernah bisa memilikinya secara utuh, bahkan sampai nanti rambutku pun memutih atau nyawa meregang dengan raga sekalipun. Sungguh perih di ujung perih. Demi memikirkannya, dadaku selalu sesak dan tubuhku menggigil.

***

AKU mendekatinya, dengan gerak perlahan kubuka plester yang menyumpal bibirnya yang kering dan merah. Ia terlihat sangat lemas, tak bertenaga. Sudah hampir seharian ia tak mau makan. Beberapa kali aku membujuknya. Ia mau membuka mulutnya, namun sesuap nasi yang masuk ke mulutnya ia semburkan lagi ke wajahku. Sama sekali aku tak marah. Kesabaranku tak pernah habis untuk membujuknya.

"Makanlah. Aku akan menyuapimu," kataku.

"Pufh...." dia meludahi wajahku. Untuk kesekian kali kurasakan cairan hangat itu meleleh di wajahku. Kunikmati perih itu.

"Aku tahu, kau sudah kelewat muak padaku. Tapi aku tak peduli... aku hanya ingin kau tetap bersamaku." Aku duduk menyandarkan kepalaku pada lututnya yang gemetaran. Ia meronta, mengguncangkan pahanya, seolah sangat jijik denganku.

Aku mengangkat kepalaku, "Kalau kau tak mau makan, aku juga tak akan makan. Biarkan kita mati lemas. Setidaknya aku bisa mati bersamamu."

"Lepaskan aku, anjing...! Kau psiko...!" gertaknya lirih, ia benar-benar kehabisan tenaga.

"Drrttz...." handphone di saku celanaku bergetar. Aku lekatkan kembali plaster untuk menutup mulutnya. Untuk yang kedua kali keluarganya menghubungiku. Aku mengangkatnya dengan tenang.

"Bil..., bagaimana ini Bil....?" Suara di seberang sana, panik, "Kami belum menemukan Althaf."

Althaf meronta-ronta mengetahui aku sedang berbicara dengan ibunya. Sempat kulihat otot menyembul dari lenganya yang putih. Aku menjauh darinya.

"Tante tenang, barangkali ia sedang berkunjung ke rumah temannya yang lain. Bukankah Althaf memiliki banyak teman."

"Iya. Tapi kenapa sejak kemarin HP-nya tidak aktif. Ia juga sama sekali tidak memberi kabar. Hiks...hiks...," kudengar Ibu Althaf terisak pelan.

"Baik, Tante. Tante sabar dulu. Saya akan coba hubungi beberapa teman Althaf, nanti kalau ada kabar, saya akan hubungi Tante."

"Bagaimana saya bisa sabar, Bil. Nanti malam pernikahannya akan dilangsungkan, sedangkan sekarang Tante tak tahu dia berada di mana."

Mendengar kata pernikahan, sesak di dadaku kambuh, perih di jantungku lumat, panas di wajahku membara. Benar, malam nanti Althaf akan menikah. Menjadi milik orang lain. Bagaimana mungkin aku membiarkan itu. Althaf harus jadi milikku seorang atau tak menjadi milik siapa pun.

"Baik, Bil... terima kasih kamu mau membantu Tante. Tante tak tau harus bagaimana. Undangan telah menyebar. Calon istrinya menangis seharian. Dan kalau malam ini Althaf.... "

"Klek." kutekan tombol off, lalu... "Prak!!" kubanting telepon genggam itu sampai berkeping-keping.

Pernikahan, undangan, calon istri.... Persetan dengan semuanya. Semuanya memusuhiku. Aku tak kan tinggal diam. Kepedihan telah melumat kewarasanku. Aku melangkah pelan, mendekati Althaf.

Kuremas rambutnya yang hitam mengilat. Kudekatkan wajahku ke wajahnya. Dekat sekali. Hidung kami hampir bersentuhan. Aku mendesis, "Malam ini kau tak kan menikah dengan siapa pun. Kau akan tetap di sini, bersamaku."

Ia tak menjawab, bibirnya hanya bergetar. Ia menahan geram dengan memejamkan matanya. Dapat kurasakan hembusan napasnya yang runtun. Dadaku berdesir, bersikejar dengan sesak dan getir yang terus-menerus mencibirku. Kurasakan lagi lelehan hangat merambat dari sudut mataku. Kutatap Althaf dalam-dalam.

Lihatlah Al... pertemuan kita berbuah fatal, bukan? Mengapa kau harus tertarik pada makhluk lain. Tidakkah aku cukup bagimu. Aku juga bisa merapikan tempat tidurmu seperti biasanya, aku juga bisa memasakkan nasi goreng untukmu, aku bisa mencucikan pakaianmu, bahkan dengan senang hati aku akan memijit pundakmu bila kau lelah setelah seharian bekerja. Lalu mengapa kau memilih perempuan itu? Jika saja kau tahu, aku memiliki cinta yang murni, yang tak dimiliki siapa pun atau perempuan mana pun. Kalau memang kau tidak mencintaiku, setidaknya kasihanilah aku. Hh... Bagaimana aku akan membiarkanmu begitu saja, setelah kau berhasil membuatku sinting, Althaf.

***

SENJA benar-benar matang ditingkahi adzan magrib yang sayup dan terasa sangat panjang. Kurasakan nuansa yang begitu kental dengan warna biru. Aku teringat masa kecilku. Banyak sekali nuansa biru. Aku teringat ketika ayah dan perempuan itu menitipkan aku dan ibu pada alam yang telantar. Sejak itu aku hidup bersama ibu seorang, bertahun-tahun sampai aku beranjak remaja, sampai ibu menitipkan aku ke saudara jauhnya, sampai ia berpamitan bekerja keluar negeri dan tak pernah kembali. Rasa dahagaku akan sentuhan seorang ayah telah berubah menjadi bentuk yang lain. Sungguh, aku tak pernah menyalahkan siapa pun, ayah, apalagi ibu. Aku juga tak pernah menyesali hidup, barangkali aku hanya menangisinya.

Aku masih duduk bersimpuh di sisi Althaf. Mataku terasa lengket oleh air mata yang kental dan hampir mengering. Sesekali kutengadahkan wajah. Kulirik Althaf yang selalu gemetar. Jelas sekali matanya pun berair. Baru kali ini kulihat ia menangis. Aku sendiri tak tahu, alasan apa yang bisa memancing air matanya. Barangkali rasa benci, atau mungkin ia takut tidak bisa menikahi perempuan itu malam ini. Atau mungkin ia kasihan padaku, sahabatnya yang mungkin sudah dianggapnya tidak waras. Entahlah... yang jelas wajah Althaf tampak anggun dan biru oleh air matanya. Adakah ia melihatku seperti itu dengan lelehan dari dua sudut mataku?

Al... kau menangis? Dalam keadaan menangis pun pesonamu tak akan pernah luntur. Teruslah menangis, agar kau tampak anggun sepertiku. Tak ada larangan menangis bagi laki-laki seperti katamu tempo itu. Buktinya kau kini menangis.

Hh... Benarkah rasa muakmu padaku bisa membuatmu menangis. Atau jangan-jangan kau menangis hanya karena takut kehilangan perempuan itu. Hh... kau takut kehilangannya, apakah rasa takutmu seperti rasa takutku akan kehilanganmu? Ya, kau pasti menyesal. Seharusnya malam ini kau mengelus tangan perempuan itu dan menyematkan selingkar cincin di jari manisnya. Seharusnya malam ini kau mengucap ikrarrmu untuk membuka lembaran baru hidupmu yang berseri. Seharusnya malam ini kau bersanding memoles kebahagiaan dengan orang-orang tercintamu. Ha... ha... tapi lihatlah, Tuhan pun tak bisa memisahkanmu dariku. Hu... hu... hidup macam apa ini? Cinta macam apa ini? Ha... ha... lucu sekali.

Sekali lagi, aku menyandarkan kepalaku pada lututnya yang masih gemetar. Basah di mataku merembes dan mengembang pada celananya yang polos. Kali ini ia tak bergeming. Aku meliriknya, sekilas. Ia menatapku. Aku hampir tak percaya, tatapan itu sangat lembut, lunak. Seolah ia ingin mengatakan: maafkan aku, kawan. Ini semua salahku.

Ya, itu semua salahmu. Sikap dan tuturmu kelewat lembut untuk seseorang yang butuh kasih sayang sepertiku. Pesona lelakimu terlalu kuat untuk merangkul jati diriku yang terlampau lemah. Dan parasmu itu, begitu jernih dan sejuk bagi dahagaku. Dengan itu semua,bagaimana mungkin jiwaku yang rawan tidak tertawan.

Aku menatapnya, "Sekali lagi maafkan aku, Al..." aku buka lekatan plester yang membungkam mulutnya, "Bicaralah kalau kau ingin bicara."

"Maafkan aku. Seharusnya semua ini tidak seperti ini," tuturnya pelan.

Aku rangkul kakinya, semakin kutenggelamkan kepalaku di pangkuannya. Ia diam saja. Kami larut dalam diam beberapa saat, sampai ia mengangkat kembali suaranya.

"Semua masih bisa diperbaiki, Bil. Bagaimanapun, kau sahabatku. Jangan kau pikir aku tak peduli padamu. Sekarang, aku mohon, lepaskan aku! Dan kita akan selesaikan semuannya dengan baik. Kau belum terlambat untuk kembali. Jalanmu masih panjang," ucapnya tanpa jeda.

"Tapi aku sakit, Al.... "

"Kau harus berpikir waras, Bil. Kau bisa melawan perasaan itu."

Aku balas terdiam. Mudah sekali kau mengatakannya, Al... kau memang tidak merasakannya.

Kami hanyut dalam diam yang panjang. Kurasakan kenyamanan yang getir di pangkuannya. Entahlah, apa yang kini sedang dirasakannya. Detik-detik ini telah sampai. Pada detik inilah seharusnya ia meronta mengerahkan segenap kekuatan lelakinya untuk melepaskan diri dan berlari menemui mempelainya. Tapi entahlah, ia hanya diam dan tenang. Tidak bergerak atau berbicara apa pun. Barangkali ia lelah dengan usaha dan bujuknya yang sia-sia. Atau mungkin ini puncak kepedihannya sehingga mulutnya tercekat tak bisa berkata-kata. Entahlah....

Dalam diam itu, tiba-tiba kudengar pintu depan digedor-gedor. Aku dan Althaf tergelak kaget, sebelum ia berteriak kembali kusumpal mulutnya dengan plester. Ia meronta, kursi yang didudukinya berderak-derak.

"Kami polisi...! Buka pintunya, atau kami dobrak...!!!" bunyi teriakan dari luar sana.

Aku tergagap, hampir tak percaya. Benarkah semua ini akan segera berakhir? Aku tak bergeming. Kurangkul tubuh Altaf erat-erat. Rasa nyaman, panik, takut, sedih, semua melebur memblender dadaku yang sesak. Wajah Althaf memerah, kedua matnya tampak tegang.

"Dug... duggg. Brakk!!!" suara pintu depan roboh.

Kudengar serangkaian langkah mendekati kamar pengap yang terkunci dari dalam ini. Pintu itu terguncang-guncang karena gedoran dari luar. Keringat dingin terasa mengembun di kening dan seluruh tubuhku. Dan....

"Brak!!!" cahaya dari luar menyilaukan kami berdua yang terpuruk dalam kamar gelap ini.

"Althaf...." teriak ibunya, histeris. Polisi memberinya isyarat untuk tetap tenang.

"Biadab, kau Nabil...!!!" umpat wanita itu. Umpat dan kutuklah aku sesukamu, ibu, karena kau tak kan pernah paham masalahku.

Aku tak tahu harus berbuat apa. Tanpa berpikir lebih, ku ambil sebilah belati di saku celanaku dan kutadahkan di leher Althaf.

"Jangan ada yang mendekat!" sentakku gamang dan gemetar.

Ibu Althaf menangis tak karuan.

"Sebaiknya Anda buang senjata itu. Menyerahlah!" Kata salah seorang polisi. Polisi itu nekat mendekat dengan acungan pistol di tanganya.

"Jangan mendekat...!!!" tegasku. Polisi itu berhenti dari langkah kecilnya. Semakin lekat belati itu menempel pada leher Althaf. Leher putih itu tersayat. Sedikit darah kuaraskan di jemariku. Althaf menahan perih tanpa suara. Aku tak percaya bisa melakukan ini. Aku menangis. Aku tak mungkin melakukan ini.

Benakku kalut, aku lengah dan... "Dor...!" aku tersentak. Belati di tanganku terlempar ke lantai. Kurasakan kaki kiriku nyeri bukan main. Aku tersungkur. Kulihat darah merembes dari sepatuku yang putih. Ketika aku hendak berdiri dan meraih belati yang rebah di sebelahku, tembakan itu terulang pada pundak kananku. Aku menggelinjang menahan sakit dan panas yang tak terkilas.

Beberapa orang tampak berlari mendekati Althaf dan melepaskan tambang yang mengikat tubuhnya. Ibunya merangkulnya sambil menangis. Dua orang polisi masih mengguling-gulingkan tubuhku dengan satu kakinya. Orang-orang itu memicingkan mata, menatapku seperti hendak meludahiku. Namun, kurasakan pandanganku tiba-tiba saja semakin buram.

Entah bayang entah ngiang, kurasakan Althaf mendekatiku, merangkulku sambil menangis. Ia seperti berkata-kata. Namun, aku tak mendengar apa pun. Ia mengguncang-guncang tubuhku. Merangkulku. Membopongku entah ke mana. Ke sebuah mobil putih? Ah, bukan, barangkali ke kursi pelaminan. Hh..., itu tak mungkin. Entahlah, tapi rasanya ada yang salah. Karena ibu melahirkan aku sebagai lelaki.

* Malang, 30 Agustus 2009

0 komentar: