Melankolia (SINDO, Minggu, 8 Juli 2012)

-->
Aku terdampar begitu saja di tempat ini, seperti terjatuh tiba-tiba dari rahim langit yang terbelah. Aku terlempar, kemudian nyugsep ke tanah. Sekujur tubuhku compang-camping oleh luka. Aku mengaduh. Tertatih. Meraba-raba. Mencoba berdiri. Langut, disambut jutaan sepi yang mendesis-desis.
“Selamat datang, kami termazkur sepi, kami akan setia menemanimu…”
Aku terkesiap. Melepaskan panah pandang. Hanya ada remang. Remang yang lapang. Lapang yang lengang. Langit muram, seperti wajah perawan yang kalah dalam roman. Tempat ini tampak seperti sebuah lukisan tanpa warna. Hanya warna kertas dan warna pensil. Putih. Hitam. Perpaduan, kelabu dan remang.
***
Aku berdiri tepat di tengah ruas jalan yang sangat lebar. Satu-satunya jalan yang ada. Jalan yang pangkal dan ujungnya tertelan remang. Aku tersesat. Tak tahu harus kemana. Sejauh apapun aku melangkah, yang kutemui hanya sepi. Sepi yang mendesis-desis.
“Kami, termazkur sepi, kami yang akan menjadi temanmu, dalam abadi...” desisan itu kembali mengusap cuping telingaku. Hawa dingin berkibas-kibas di tengkukku.
Aku terus melangkah. Mencari arah. Tapi tak kutemui apapun. Aku terus meraba-raba. Merangkak. Berlari. Menggelosor. Meloncat-loncat. Berjalan miring. Berjalan mundur. Dan semua tak pernah merubah apapun. Sepi masih menyala-nyala. Remang masih berdentang-dentang. Aku tetap berjalan. Maju. Hingga hampir menubruk sesuatu, sebuah tiang. Tiang yang tampak berguncang-guncang. Seperti digempur ratapan. Aku mendekati tiang itu. Semakin dekat. Semakin lekat. Dalam remang, mataku masih sempat meyakini bahwa tiang itu berasal dari bayangan seorang gadis yang berdiri kaku di tepi jalan, seperti seonggok tiang, bahunya berguncang, dihantam ratapan. Ia mengalunkan desis yang lirih dan panjang, seperti tengah bercinta dengan tangisan.
“Apa kau manusia?” sepi pecah oleh suaraku.
Tiang itu menoleh dengan wajah penuh. Garis cekung di matanya tampak seperti bekas aliran sungai yang telah lama mengering. Tapi, tiba-tiba, matanya terbelalak. Ia melihatku seperti melihat sebuah kejutan.
“Apa kau benar-benar manusia?” ia balas bertanya, pertanyaan yang serak dan sama dengan pertanyaanku.
“Hei, itu pertanyaanku. Seharusnya kau jawab dulu.”
“Tentu aku manusia,” isaknya hilang, seperti tertelan kabar gembira.
“Tapi kau hanya berdiri dan diam seperti tiang.”
“Apa kau benar-benar manusia?” ia masih mengulang pertanyaannya.
“Apa aku tampak seperti bukan manusia.”
“Aku hanya masih belum percaya.”
“Sekarang kau sudah boleh percaya.”
“Apa aku boleh menyentuhmu?”
Aku tidak menjawab. Tapi tangannya bergerak seperti robot, berdecit oleh karat, seperti lama sekali tidak digerakkan. Perlahan tangan itu mendekati kepalaku. Mengusap rambut sampai ke dagu.
“Maaf, tapi kau aneh sekali,” lirihku sambil sedikit mengelak dari usapan tangannya.
“Kurasa ini wajar, aku benar-benar lupa kapan terakhir kali bertemu manusia.”
“Bagaimana ceritanya?”
“Aku sendiri tak tahu. Aku terdampar begitu saja di tempat ini, seperti terjatuh tiba-tiba dari langit yang terbelah”
“Apa kau ingat, apa yang terjadi sebelum kau terdampar tiba-tiba dari langit yang terbelah?”
“Mungkin aku lupa, tapi, mungkin juga aku ingat. Yang jelas, aku telah kehilangan banyak hal, yang menjadikan duniaku tiba-tiba kelam. Ketika aku mencoba mencari arah,  meraba-raba, tiba-tiba saja aku terperosok ke dalam tempat ini, seperti terlempar dari langit.”
“Ternyata kita terdampar di tempat ini lewat pintu yang sama.”
“Pintu yang sama?”
“Ya. Pintu itu bernama kehilangan. Kehilangan memang pintu utama menuju tempat ini.”
“Pintu utama? Bagaimana kau tahu?”
“Kita terdampar di Zona melankolia. Zona air mata. Zona para sepi. Zona kesendirian.”
“Tapi apa hubungannya dengan kehilangan?”
“Memangnya apa yang lebih melankolia dari kehilangan?”
“Ditinggal pergi seseorang yang kau kasihi, mungkin.”
“Jelas sekali. Itu namanya kehilangan. Kehilangan secara lahir dan bathin, kehilangan orang yang kau kasihi.”
“Dihianti?”
“Itu juga kehilangan. Kehilangan kepercayaan.”
“Terjatuh, mungkin?”
“Terjatuh artinya kehilangan keseimbangan.”
“Terasing?”
“Kehilangan teman.”
“Tersesat?”
“Kehilangan arah.”
“Buta?”
“Kehilangan warna.”
“Gila?”
“Kehilangan akal.”
“Mati?”
“Kehilangan segalanya.”
“Artinya?”
“Kehilangan memang ibu dari segala duka.”
Hening.
“Bertahun-tahun aku terdampar di tempat ini. Aku belum mati, tapi aku kehilangan segalanya. Tempat ini mengunci duniaku dari dunia luar. Yang ada hanya kesedihan yang sangat dingin dan tidak ramah.”
“Kau ingin keluar dari tempat ini?”
“Tentu saja.”
“Sebaiknya kita cari jalan keluarnya sama-sama.”
“Ya.”
Aku membantu gadis itu beranjak dari tempatnya berdiri seperti tiang. Tulang-tulangnya berdecit karena lama tidak digerakkan. Kami mulai melangkah. Selangkah demi selangkah. Mencari arah. Sepi sudah sedikit menepi. Sepanjang perjalanan yang entah ke mana tujuanya, kami berbincang-bincang ringan. Berbincang tentang masa lalu.
Gadis itu mengaku, dulunya, sebelum terdampar di tempat ini, ia adalah gadis manis yang periang. Senyumnya mekar seperti mawar. Aromanya harum seperti parfum. Banyak pemuda kampung yang dibuatnya jungkir balik. Ia bercerita, ayahnya adalah seorang pejabat kabupaten, sedangkan ibunya adalah pemilik salon kecantikkan. Ia hidup dalam limpahan tawa yang sempurna. Hingga masa dewasa perlahan-lahan mendatanginya. Ia mulai mengenal pesona laki-laki. Ia mulai mengenal bahwa masa depan harus segera ia tapaki. Dan baginya, bukanlah hal sulit untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Seorang pemuda kaya dengan wajah dewa telah meluluhkan hatinya. Hampir tiga tahun mereka menjalin ikatan. Indah. Seperti kisah putri dan pangeran di negeri awan. Ketika tiba masanya, kedua hati ditautkan di atas pelaminan, tiba-tiba ibunya dipanggil Tuhan. Tanpa alasan, tanpa sakit, tidak pula kecelakaan. Seolah semua terjadi karena memang harus terjadi. Entahlah, rahasia kematian memang begitu remang.
Setelah ibunya meninggal, pernikahannya pun terpaksa ditunda. Berbulan-bulan ayahnya mengurung diri dalam kamar, belum bisa menerima kepergian istrinya. Ayahnya berubah linglung seperti orang lupa. Hingga ia dilepas tugaskan dari jabatannya. Sejak itulah, laki-laki kaya, calon suaminya, mulai jarang menjenguknya.
Ia hidup sendiri dengan ayahnya yang lupa. Mengurusi ayahnya yang kehilangan segala, kehilangan akal sehat sampai berat badan. Hingga laki-laki yang hendak menikahinya, tiba-tiba datang dengan kabar buruk: memutuskan ikat pertunangan. Juga tanpa alasan yang jelas. Selepas laki-laki itu pergi dan mewasiatkan luka, ia menemukan ayahnya menggantung diri di halaman belakang, sudah tak bernyawa. Sejak itulah dunianya sempurna gelap. Ia seperti buta. Tak bisa melihat arah. Ketika ia meraba-raba, mencari arah, ia terperosok ke tempat ini. Tempat yang remang, tempat di mana air mata dan sepi bergumul.
“Sudah kubilang, kisah kita tidak jauh berbeda,” komentarku di akhir ceritanya.
“Ibumu mati tanpa sebab?” ia menyelidik.
“Aku hidup karena kematian ibu.”
“Maksudmu?”
“Beliau pergi setelah melahirkanku.”
“Itu kematian yang indah.”
“Mungkin.”
“Jadi kisahmu tidak setragis kisahku, kan?”
“Ya, memang, tapi kisahku sudah lebih dari cukup untuk menyeretku ke tempat ini.”
Kemudian kuceritakan kisahku padanya. Selepas kepergian ibu, ayahku menikah lagi. Ia mengasuhku dengan kasih yang kurang lengkap. Karena ia sudah membagi kasihnya kepada istri dan pekerjaanya. Sewaktu aku kecil, berkali-kali ayah dipanggil kepala sekolah karena kenakalanku. Dengan itu aku ingin mencuri perhatian ayah. Tapi rupanya aku tidak berhasil, justru yang kudapat dari ayah adalah umpatan dan pukulan.
Sejak itu, aku tumbuh menjadi remaja yang lepas. Ayah tak pernah ambil pusing dengan apa-apa yang kulakukan. Seolah kewajibannya padaku hanya kewajiban membesarkan dan mencukupi kebutuhan lahir saja. Berkali-kali aku tercekal polisi karena tawuran. Dengan mudah ayah melepaskanku dengan sejumlah tebusan. Selepas itu ayah kembali terbang ke dunianya, dan meninggalkanku. Segala bentuk kenakalan, semua pernah aku lakukan. Mulai dari mengisap ganja sampai jajan perempuan. Keluar masuk penjara bukan hal baru buatku. Aku merasa, aku tak harus peduli pada apapun atau siapapun, termasuk diriku sendiri. Terkadang, kurasakan hidupku seperti sampah yang tak pernah berarti apa-apa. Jadi aku tak harus peduli pada apa-apa.
Aku terus melampiaskan kesampahanku pada hal-hal yang sebenarnya sangat menjenuhkan: minum-minum, bermain uang, bermain perempuan. Semua terasa biasa saja, bahkan membosankan. Hatiku sudah benar-benar mati rasa. Hingga suatu ketika, Tuhan memberiku coba. Mungkin adzab. Di tubuhku yang sudah rusak ini, Tuhan menempelkan sebuah penyakit yang paling ditakuti. Penyakit kelamin yang belum ditemukan obatnya. Sempurnalah kesampahanku. Tak seorangpun berani mendekat. Semua menjauhiku, takut tertular penyakitku. Bahkan sejak itu, ayah seperti menghilang dari kehidupanku. Sejak itu pula, aku seperti baru tersadar, bahwa Tuhan itu ada, Tuhan tak pernah tidur. Tuhan selalu mengawasi macam-macam ulah hamba-Nya.
Dalam keterasingan itulah, kurasakan, berangsur-angsur duniaku menghitam. Gelap. Aku kehilangan arah. Buta. Aku meraba-raba. Mencari arah. Hingga tiba-tiba terperosok di tempat ini. Seperti terjatuh begitu saja dari langit yang terbelah. Begitulah mengapa aku bisa sampai di tempat ini.
***
Usai mendengar ceritaku, gadis itu menatapku, sayu. Kami terus berjalan dalam diam.
“Sekarang kau tidak sendiri lagi,” selorohnya tiba-tiba, “bukankah ada aku?”
Aku menatapnya. Sesinar ketulusan berkerling di matanya.
“Kau menghiburku?”
“Di sini bukan hanya ada kau atau aku. Tapi, di sini, ada kita. Kita.”
Kami terus melangkah. Sepi yang membuntuti kami terbirit-birit entah kemana. Kami saling tatap, melempar senyum. Saling memastikan, bahwa di sini, kami tidak sendiri. Akan selalu ada seseorang yang peduli. Di sudut paling pekat sekalipun, cinta selalu ada.
Perlahan, di ujung jalan tempat langkah kami menuju. Kami melihat cakrawala terbelah. Dari dalamnya ribuan cahaya berpendar, seperti senja. Aku tak percaya. Ia tak percaya. Kami tak percaya. Tapi, tiba-tiba seperti ada yang menuntun kami untuk berlari. Mendekati pendar cahaya yang berkilau di hadapan kami.
“Sudah kukatakan, pasti ada jalan,” bisikku lega.
Kami berlari kecil, menyongsong cahaya yang telah lama kami rindukan. Kami benar-benar ingin terjun dan melebur di dalamnya. Di dalam cahaya. Bergelimang cinta.***
Malang, 20 Juli 2011

0 komentar: