Perempuan di Bawah Tiang Lampu (Jurnal Nasional, Minggu, 8 Juli 2012)

-->
Di bibir sebuah jalan. Bila malam menyambar pelan. Setiap pejalan kaki, penjual mie bakso keliling, para penumpang angkot, atau pengendara sepeda motor yang kebetulan lewat, semua akan melihatnya. Melihat perempuan itu membeku. Di bawah tiang lampu. Ia tengadah, memelototi cahaya lampu yang tumpah di wajahnya berlama-lama. Bibirnya bergerak ringan, seolah tengah berkata-kata pada lampu yang mencorong di atas kepalanya. Sesekali ia menatap nanar pada trotoar yang ia pijak, seperti mengenang sebuah jejak.

***
Tepat di tepian jalan. Di belakang tiang lampu kelabu itu. Teronggok sebuah rumah. Rumah yang tampak lelah dengan keadaannya sendiri; Gerbang setinggi pinggul, yang sudah miring dan tak pernah terkunci. Pot-pot tanpa bunga dengan tanah kering yang menggumpal di dalamnya. Lantai teras yang tertutup debu dan plastik-plastik kecil yang diterbangkan angin. Genting-genting yang retak dan melorot kesana kemari. Rumah itu tak ubahnya pesakitan yang dipasung sepi. Tak bisa bergerak. Dan akhirnya memilih mati. 
            Tak siapapun mengerti. Bahwa dulu, puluhan tahun lalu, rumah itu pernah hidup. Rumah mungil yang elegan di tepi jalan. Gerbang berukir setinggi pinggul, yang ketika didorong—dibuka ataupun ditutup, akan selalu ada gadis kecil yang menaikinya sambil berteriak, ‘hore…, terbang, terbang’. Di teras rumah itu, memaku pot-pot mengkilap yang ditanami anthurium dan bonsai. Lantai teras itu selalu mengkilap, lantaran akan ada gadis kecil yang rajin menyapunya, dan bermain bola bekel di atasnya di sore hari.
            Ketika itu, jalanan di depan rumah tak seramai sekarang. Bahkan tiang lampu penerang jalan belum menjulang dan sesemarak sekarang. Hanya satu dua, di perempatan besar, atau di tepi pusat jalan raya yang dilewati bus. Hingga suatu ketika, saat hendak berangkat ke sekolah, gadis kecil itu melihat beberapa orang berdiri di jalanan, di depan rumahnya. Dan siangnya, sepulang sekolah. Ia sudah melihat tiang lampu itu berdiri gagah di depan rumahnya. Bersela pagar dan selokan kecil. Gadis itu berteriak memanggil mamanya.
            “Ma, di depan rumah dipasang lampu besar, Ma. Rumah kita akan menjadi terang, seperti istana, horeee….,” ungkapnya girang. Mamanya yang sudah mengerti ihwal tiang lampu itu, cukup tersenyum dan mengangguk.
            Selanjutnya, hari-hari berikutnya gadis kecil itu lebih suka melakukan banyak hal di teras rumahnya: makan malam, belajar, membaca buku, atau terkadang-kadang ia membawa kursi plastik ke bawah tiang lampu itu dan berlagak seperti tukang ronda. Tiang lampu itu sudah seperti sahabat baginya.
            Suatu petang, lampu itu pernah tidak menyala. Dan gadis itu sangat cemas. Ada apa gerangan? Apakah lampunya rusak? Atau kabelnya putus? Dalam cemasnya, gadis kecil itupun mendatangi mamanya, “Ma, mengapa malam ini lampunya tidak menyala?”
“Mungkin kabelnya sedang konslet, atau lampunya yang rusak,” jawab mama santai.
“Kenapa tidak diganti atau diperbaiki?”
“Pasti besok sudah menyala.”
Gadis kecil itu sedikit kecewa dengan tanggapan mamanya. Malam itu, gadis kecil itu berangkat tidur dengan keadaan gelisah. Pasti besok sudah menyala, ia menghibur dirinya.
Pada petang berikutnya, gadis itu hanya termangu di teras rumahnya, tidak menyapu ataupun bermain bola bekel. Ia hanya termangu, memandangi lampu yang seperti melambai-lambai di puncak tiang. Hingga akhirnya, mama menegurnya.
“Magrib, ayo masuk,” tukas mama, yang hanya melongokkan kepala dari balik pintu.
Ia menoleh sebentar, dan menjawab, “Iya, Ma, bentar lagi, tunggu lampunya nyala.”
Tanpa sepatah kata mama beringsut meinggalkannya seorang diri. Lampu di teras rumahnya mulai menyala. Mama menyalakannya. Adzan maghrib pun mulai kumandang. Dan ia masih mematung menunggu lampu jalan itu menyala.
Ketika adzan maghrib sudah berhenti cukup lama. Dan lampu jalan itu belum juga menyala, ia mulai gelisah dan hampir menangis. Untung saja mama segera datang dan berbisik,”Itu hanya lampu, Sayang. Seperti mesin, lampu adalah sesuatu yang bisa rusak. Manusia saja bisa lemas dan sakit bila kepayahan, kurang istirahat.”
“Jadi lampu itu terlalu banyak dinyalakan, ya, Ma.”
Mama mengernyitkan dahi, “Mungkin saja.”
“Tapi, lampu-lampu yang lain tidak mati. Hanya lampu di depan rumah kita saja yang mati.”
“Mungkin memang kebetulan, lampu di depan rumah kita saja yang sedang konslet.”
 “Lalu, kapan lampunya akan menyala, Ma?”
“Entahlah, mungkin besok atau lusa.”
“Jadi, lampunya sedang sakit, ya, Ma?”
“Iya, lampunya sedang istirahat, nanti kalau sudah baikan, pasti menyala.”
Gadis kecil itu masih termangu, menatap tiang lampu yang remang dan mulai didekap gelap.
“Masuk, yuk!” mama meraih pundah gadis kecil itu dan menuntunnya masuk.
***
            Pada petang hari berikutnya dan berikutnya lagi, lampu itu masih belum juga menyala. Hingga gadis kecil itu memutuskan untuk turun tangan. Tanpa sepengetahuan mamanya, gadis kecil itu mendekati tiang lampu di depan rumahnya, diam-diam. Ia menatap lampu yang menggantung di puncak tiang penuh rindu. Ia seperti berkata-kata, “Lama sekali kau tidak menyala, aku rindu kau menyala.” Ia terus menengadahkan kepala. Ia memikirkan sesuatu yang mungkin dapat dilakukannya.
Ia terus tengadah, menatap tiang yang tingginya hampir tujuh kali lipat dari tubuhnya. Ia tersenyum. Beringsut ke halaman, mengambil galah panjang yang biasa ia gunakan untuk memetik buah ceri di depan rumah. Sedikit kurang panjang, pikirnya. Ia ingin menyambungnya, tapi tak tahu dengan apa. Matanya masih nyalang, menatap apa saja yang mungkin bisa ia gunakan untuk memperpanjang galahnya. Hingga tatapannya medarat pada sebuah kursi plastik yang teronggok di teras rumah. tergopoh-gopoh ia menyeret kursi itu sampai ke bawah tiang lampu.
            Tepat di bawah tiang lampu. Ia meletakkan kursi plastik itu hati-hati dan kemudian memanjatnya. Dari atas kursi itu, ia mulai mengulurkan galahnya dan menggoyang-goyangkannya ke arah bola lampu yang bertudung dan menggantung sendu. Sepi. Gerimis tipis mulai turun. Dari dalam rumah, ia mendengar mamanya berteriak menyuruhnya masuk. Ia hanya menjawab alakadarnya, “iya, Ma, bentar lagi…” dan kembali mengayunkan galahnya ke arah lampu di atas kepalanya. Ia ters mengayun, menjentik-jentikan galahnya. Seperti membangunkan harimau yang terlelap dalam kandang.
Beberapa waktu lampu itu berkedip-kedip, hingga ia bersorak “hore”. Tapi lampu itu tidak juga menyala, hanya berkedip-kedip saja. Baju dan wajah gadis kecil itu sudah kuyup oleh gerimis. Untung tak ada petir, pikirnya. Ia tak mau menyerah, dalam hati, ia berjanji, akan membuat lampu itu menyala. Mungkin karena payah, atau kesal, bergantian ia menghantam kabel yang terjulur dan berpilin di tiang lampu.
“Mengapa tidak menyala-nyala. Ayo menyala, menyala…” teriaknya.
Semakin keras ia mengguncangkan galah di tangannya. Bergantian, dari tiang ke lampu, dari lampu ke kabel, dan begitu seterusnya, berulang-ulang. Hingga ia melihat percikan itu di ujung tiang, tepat dimana kabel dan lampu itu bertemu. Terdengar suara ‘dap’. Percikan itu berkilat, seperti menjulur merambah dari kabel ke lampu, dari lampu ke tiang, dari tiang ke galah, dan akhirnya ia merasa seperti ada kekuatan besar yang mendorong tangannya, mengguncangkan tubuhnya. Detik itu ia hampir tak bisa memikirkan apa pun, kecuali, “mungkin lampunya marah.”
Hampir satu menit tubuhn gadis kecil itu mengejang. Hingga kursi plastik tempat ia bersandar roboh ke tanah. Kepala gadis kecil itu membentur tiang sebelum akhirnya sungkur di pangkuan trotoar.
“Ayo masuk, hujan,” dari dalam rumah mama berteriak.
Karena tak mendapati jawaban, mama memutuskan untuk menyusul gadis itu. Mama terhenyak ketika tak mendapati siapapun di teras rumah.
“Mira! Miraaa!”
Mama melirik lampu padam yang masih bergoyang di puncak tiang. Perlahan mama membuka pagar depan. Belum sempurna pagar itu terbuka, mama sudah kembali berteriak. Teriakan yang menyerupai rauangan. Ia menemukan anak gadisnya tengah terkapar di bawah tiang lampu, dengan kening memar dan wajah putih, pucat seperti mayat.
Mama berteriak meminta tolong. Beberapa tetangga yang mendengar jerita itu terhuyung-huyung keluar rumah. Mereka membopong tubuh gadis kecil itu ke teras.
“Ke rumah sakit, ke rumah sakit, panggil taksi,” seru salah seorang.
“Sudah terlambat,” seorang yang lain menyahut.
Mama terduduk lumpuh. Menatap lampu yang masih bergoyang di ujung tiang.
***
Di bibir sebuah jalan. Bila malam menyambar pelan. Setiap pejalan kaki, penjual mie bakso keliling, para penumpang angkot, atau pengendara sepeda motor yang kebetulan lewat, semua akan melihatnya. Melihat perempuan itu membeku. Di bawah tiang lampu. Ia tengadah, memelototi cahaya lampu yang tumpah di wajahnya berlama-lama. Bibirnya bergerak ringan, seolah tengah berkata-kata pada lampu yang mencorong di atas kepalanya. Sesekali ia menatap nanar pada trotoar yang ia pijak, seperti mengenang sebuah jejak. ***
Malang, 2012

0 komentar: