Cerita sinting dan tak
masuk akal ini bermula dari sebuah rumah sempit yang dihuni lima kepala:
seorang ayah bernama Kiwir, seorang ibu bernama Sini, dan tiga orang anaknya—satu
laki-laki dan dua perempuan. Anak pertama,
laki-laki, namanya Dikin, anak kedua perempuan, namanya Srinthil, dan anak ketiga
yang paling bontot, juga perempuan, namanya Minthil.
Kiwir dan Sini sudah lama
sekali mendambakan cucu, maka ketika tiga anaknya beranjak dewasa, Kiwir sudah
mulai merancang dan mencarikan jodoh buat anak-anaknya. Dikin, anak pertamanya,
membuka lapak kecil tambal ban di dekat pasar. Selain menambal ban, Dikin juga
menjual bensin eceran dan stiker. Jika orderan sedang sepi, malam-malam, dengan
sembunyi-sembunyi, Dikin suka melempar puluhan paku payung di sepanjang jalan
yang membentang sampai depan kiosnya. Dikin membuka lapaknya mulai jam tujuh
pagi dan tutup jam lima sore. Kalau malam Dikin suka kelayapan ke tempat
biliyard, atau ke pos ronda di pojok pasar—yang kalau malam sering digunakan
para begundal untuk nongkrong, bermain gitar, kartu, atau sekadar minum-minum.
Sebenarnya Kiwir sudah
menjodohkan Dikin dengan Lilik, anak gadis Mak Iyah yang berjualan nasi pecel
di depan pasar, tapi Dikin menolak mentah-mentah, katanya Lilik terlalu gembrot
dan item. Sebenarnya Dikin sendiri
sudah lama menaruh hati pada Sari, tapi apa boleh buat, sekarang Sari sudah
dipersunting oleh seorang guru madrasah yang konon lulusan pesantren. Diam-diam,
Dikin patah hati dan kemudian melampiaskannya dengan cara nongkrong dan minum-minum.
Kini usia Dikin sudah hampir tiga puluh delapan, dan ia masih tetap jadi
begundal yang tidak bisa diatur. Kiwir sudah bosan membujuk anak laki-lakinya,
Kiwir pasrah, terserah Dikin mau berbuat apa yang penting kalau siang ia masih
sudi membuka lapaknya dan sesekali membelikan bapaknya rokok.
Pupus sudah harapan Kiwir
dan Sini untuk mendapatkan cucu dari Dikin. Tapi tidak masalah, kenyataannya
anak laki-laki memang lebih susah diatur ketimbang anak perempuan. Maka harapan
untuk mendapatkan cucu yang berikutnya jatuh kepada Srinthil. Srinthil adalah
anak gadis yang penurut meski tampangnya memang mendekam di bawah garis rata-rata.
Srinthil juga pinter masak dan bersih-bersih rumah. Paling tidak, Srinthil
sudah punya bekal lumayan untuk menjadi seorang istri atau ibu.
“Apa kabar anak laki-lakimu?
Apa ia sudah menikah?” Begitulah Kiwir bertanya pada setiap rekannya sesama
pengayuh becak. Kalau rekannya menjawab sudah, maka Kiwir akan berkata lagi,
“Aku punya anak gadis yang rajin dan penurut, kalau kau punya teman yang punya
anak bujang, coba tolong tanyakan, siapa tahu jodohnya Srinthil.”
Sudah lima kali Kiwir
mempertemukan anak gadisnya dengan keluarga para bujang, namun begitulah,
semuanya gagal, yang dua orang terang-terangan mengatakan tidak, yang seorang
mengatakan belum siap, dan yang dua orang lagi, dengan tutur yang gamang menjawab:
kami akan memikirkannya lagi. Dan semua itu terjadi setelah para bujang itu
melihat paras Srinthil yang dipenuhi jerawat batu yang membuat pipinya lebih
mirip makadam.
Harapan Kiwir dan Sini
untuk mendapatkan cucu dari Srinthil nyaris putus, hingga datanglah
rekannya—yang sesama tukang becak—ke rumah Kiwir dengan seorang pemuda berpakaian
satpam lengkap. Pemuda itu mengaku bernama Gatot, bekerja sebagai satpam di
sebuah pabrik kertas. Melihat paras Gatot yang biasa-biasa dan bahkan jauh dari
kata tampan, Kiwir tersenyum lega, “yang ini tampaknya cocok.”
Tak perlu menunggu waktu,
dua keluarga pun dipertemukan, setelah berembung kesana-kemari, pada akhirnya,
dua keluarga mengucapkan kalimah sepakat, yang artinya, Gatot dan Srinthil akan
segera dinikahkan. Kiwir dan Sini menumpahkan kebahagiaanya dengan mengundang
orkes dangdut koplo semalam suntuk, di pesta pernikahan anaknya. Semua berjalan
lancar dan meriah. Namun, rupanya, Kiwir tetap tak bisa berbuat apa-apa,
setelah berkalang bulan menikah Srinthil tidak juga hamil.
Segala macam cara sudah
dilakukan Kiwir, mulai dari mencarikan obat kuat untuk Gatot dan Srinthil,
supaya mereka terus berjuang tanpa putus asa. Kiwir juga sudah mendatangi dukun
sampai berkunjung ke tempat-tempat keramat. Namun tetap saja, nihil. Srinthil
tak juga hamil. Waktu berlalu begitu saja, tak terasa pernikahan Srinthil sudah
menginjak tahun ke lima, dan perut Srinthil tak kunjung melendung. Kiwir
pasarah.
Harapan untuk mendapatkan
cucu dari Srinthil tampaknya akan muspra juga, seperti harapannya pada Dikin.
Melihat keluarganya begitu sepi tanpa kehadiran anak kecil, Sini, sang istri, malah
jatuh sakit. Setelah diperiksakan ternyata terserang stroke. Kiwir semakin pusing. Ia merasa bahwa Tuhan sengaja
mempermainkan hidupnya. Meski demikian, harapan Kiwir dan Sini untuk
mendapatkan cucu tetap menyala meski sedikit redup. Dan begitulah, sesuatu yang
tak terduga bisa datang kapan saja dalam kehidupan siapa saja. Setelah harapan
mereka untuk mendapatkan cucu nyaris padam, pada suatu malam, Minthil—anak
perempuan mereka yang paling bontot, mendatangi bapak ibunya sambil sesenggukan
dan berkata, “Pak, Mak, aku hamil.”
Kiwir dan Sini tak tahu,
apakah itu kabar gembira atau malapetaka. Anak perempuan yang menikah baik-baik
dan memiliki suami baik-baik tak kunjung hamil meski ditunggu bertahun-tahun,
nah ini, anak perempuan yang baru lulus SMP tiba-tiba lapor bahwa ia tengah
hamil. Celakanya lagi, Minthil tak pernah mau mengatakan, siapa lelaki yang
menghamilinya. Mengingat paras Minthil lebih jernih ketimbang kakaknya, sangat
patut kalau ada laki-laki berminat pada Minthil. Tapi siapa lelaki itu? Tidak
bisakah ia meminta Minthil dengan cara baik-baik?
Menerima kenyataan bahwa
anak perempuanya telah hamil tanpa suami, penyakit Sini kian menjadi-jadi,
setelah stroke, kini Sini mengidap
stress. Sini belum siap untuk menerima gunjingan dari warga sekitar. Kiwir juga
sudah berusaha kesana kemari, bahkan ia nekat meminjam uang di pegadaian untuk
membayar orang supaya mau bersandiwara untuk dinikahkan dengan Minthil. Tapi
usaha Kiwir nol, tak ada satu lelaki pun yang sudi menikah dengan perempuan
yang sudah hamil duluan, bahkan meski ia dibayar.
Semakin bulan, perut
Minthil semakin melendung, satu-satunya cara untuk memperkecil rasa malu mereka
adalah mengurung Minthil di dalam rumah, setidaknya sampai anaknya lahir, atau
sampai keajaiban lain datang.
Hari-hari memang berlalu
sangat cepat, kandungan Minthil sudah mengijak bulan ke sembilan. Dan bayi yang
dikandung Minthil lahir tepat sembilan bulan kurang tiga belas hari. Karena
muka Kiwir dan keluarganya masih saja dihantui rasa malu, Kiwir lebih memilih
untuk mendatangkan dukun bayi ketimbang membawa Minthil ke rumah sakit.
Setidaknya, ia bisa membayar dukun bayi itu untuk mengarang cerita jika ada
orang bertanya siapa sebenarnya ayah dari anak Minthil.
Sampai bayi laki-laki Minthil
melek dan merengek-rengek, Minthil sendiri masih setia membungkam mulutya.
Dikin, Srinthil, Sini, semuanya terus-terusan mendesak Minthil untuk mengatakan
siapa ayah dari bayinya. Hampir setiap hari, selama sembilan bulan, mereka
terus melemparkan pertanyaan basi itu. Satu-satunya orang yang tak pernah
memaksakan kehendak pada Minthil adalah Kiwir, sebagai kepala keluarga, Kiwir
merasa bahwa ia harus mengemukakan pendapat yang paling bijak dengan selalu
mengatakan, “Sudahlah, kalau ia tak mau mengatakannya jangan dipaksa, mungkin
ia masih trauma karena diperkosa, ibarat nasi kini, sudah menjadi bubur, jadi
kita harus terima… lagi pula sudah lama bukan kita mendambakan cucu?”
Minthil selalu menelan
ludahnya yang sepat setiap kali mendengar bapaknya berbicara seperti itu. Ia
tak tahu harus berkata apa. Ia hanya bingung, tak tahu bagaimana harus menjelaskan
kepada anaknya jika kelak anaknya sudah besar. Minthil menghela napas berat,
membayangkan ia harus berlari seumur hidup, berlari dari sebuah kenyataan bahwa
ayah dan kakek dari anaknya adalah orang yang sama.***
Malang, 2013
1 komentar:
Mas kalau mau tahu dimuat radar surabaya bagaimana? beli koran atau lihat e paper? kalau e paper alamatnya apa? terima kasih.
Posting Komentar