Rumah Rayap, Lampung Post, Minggu, 15 Mei 2016




Rumah kami adalah rumah yang terhimpit jalan raya, selokan kecil, dan rel kereta api. Tidak lebar. Tidak bertingkat. Dan tidak bersertifikat. Dindingnya adalah potongan-potongan papan, seng, kardus, dan plafon rusak yang ditempel sembarangan. Terikat kawat di sana-sini. Tiangnya bambu gelondongan yang sudah totol-totol dimakan kutu. Lantainya masih tanah—yang akan berdebu di musim kemarau dan akan becek di musim hujan. Atapnya, masih sejenis dengan dinding, potongan-potongan seng dan plafon rusak yang disampirkan sekenanya.
            Rumah kami adalah rumah yang berdesak-desak. Bersebelahan dengan tempat sampah. Tak ada sofa. Tak ada meja. Tapi ada lemari alakadarnya. Tak ada kipas. Tak ada kulkas. Tapi ada tivi yang tombolnya sudah mengelupas. Tak ada taman. Tak ada kamar. Tapi ada kakus yang harumnya na’udzubillah. Tempat duduknya adalah lincak, bekas papan yang dipaku sana-sini dan diberi empat kaki. Ranjangnya ranjang soak, gratisan dari pasar loak. Tapi kasurnya beli, meski sekarang sudah menggumpal dan harus dijemur seminggu sekali.
            Itulah rumah kami. Rumah yang menyempal-nyempal macam rumah rayap. Rumah yang berselengkatan macam kapal pecah. Tak elok dipandang mata. Tak sedap diraba rasa. Tapi, meski bagaimanapun, rumah itu adalah rumah kami. Rumah yang layak kami cintai. Rumah yang layak kami pertahankan, dari apa saja dan siapa saja yang hendak merobohkannya, termasuk dari serbuan binatang kecil bernama rayap.
***
Mengingat rumah kami bersebelahan dengan tempat sampah dan masih beralas tanah, sasejujurnya, rumah kami memang tak cukup aman dari aneka macam binatang, khususnya rayap tanah. Kupikir hanya satpol PP saja yang berminat meruntuhkan rumah kami. Tapi tidak. Rumah kami yang sudah reot itu rupanya diminati juga oleh rayap tanah. Dan rayap-rayap tanah itu benar-benar keras kepala. Menyerbu tak pandang musim. Musim kemarau beranak pinak. Musim hujan kian merebak.
Rayap-rayap itu menyembul dari lubang-lubang tanah yang tak penah kami perhatikan keberadaanya. Berbondong-bondong. Rayap-rayap itu membangun rumah di mana-mana, di kaki ranjang, di kosen pintu, di punggung lemari, di papan dinding, di balik tumpukan kardus, bahkan di atap rumah.
Kami sudah bosan mengusir rayap-rayap itu. Kami pernah membakarnya dengan oncor. Tapi ia tetap saja kembali dan membuat rumah yang baru. Kami juga pernah meracuninya dengan minyak tanah yang sekarang sudah langka itu. Tapi tetap saja, tak mempan. Kapur semut, kapur barus, semprotan anti serangga, daun pandan, semua sudah kami coba, tapi rayap-rayap itu selalu muncul lagi dan lagi.
Lambat laun, rayap-rayap itu sudah seperti serdadu yang menyeramkan. Setiap hari tinggal dan tidur satu atap dengan kami. Menggerogoti tiang, kaki ranjang, lincak, kardus, bahkan koran-koran bekas yang susah payah kami kumpulkan dari jalan ke jalan dan hendak kami jual kembali.
Rayap-rayap itu benar-benar keterlaluan. Tapi, sebagai pemilik rumah, sebagai tuan, kami akan selalu menang melawan rayap. Meski pada akhirnya, semua akan berlakon seperti komidi putar. Di mana pun rayap-rayap itu membangun rumah, kami tak mau kalah. Kami akan terus menggempurnya. Menghancurkannya. Mereka membangun lagi. Kami menggempurnya lagi. Mereka membangun lagi. Kami menggempur lagi. Begitulah. Berputar-putar. Seperti komidi putar.
Kami tak tahu apakah rayap punya jiwa pantang menyerah, yang jelas kami dibuatnya terengah-engah. Kian kami basmi, rayap-rayap itu kian merajalela. Bahkan secara terang-terangan, mereka berani membangun rumah di atas tanah, di depan mata kepala kami, di tempat kami berwira-wiri. Serbuk tanah itu dibuatnya menggumpal, berdiri condong kesana-kemari, bercabang-cabang seperti ornamen ranting pohon. Tak bosan-bosan kami menendangnya. Membuatnya remuk. Membuatnya hancur. Tapi, malam hari, ketika kami tinggal tidur, paginya, rumah rayap itu kembali bermunculan, seperti kecambah di musim hujan.
Pada akhirnya, sadar atau tidak sadar, kami telah menyerah. Mungkin ada sesuatu yang harus kami tiru dari tabiat rayap: pantang menyerah.
Dan selanjutnya, yang terjadi, rumah-rumah rayap itu akan terus menyempal di rumah kami. Di atas tanah yang kami huni. Tapi, kami tak sudi lagi merusak rumah-rumah mungil itu, kami sudah lelah, kecuali, jika rayap-rayap itu sudah benar-benar mengancam keberadaan rumah kami.
***
Cerita yang sejujurnya adalah, rayap-rayap raksasa itulah yang lebih kami cemaskan keberadaannya. Rumah ini pernah rebah tujuh kali oleh penggusuran. Katanya, untuk pelebaran jalan raya, demi kenyamanan pengguna jalan. Katanya juga, kami—para penduduk yang menghuni tanah sempit selama puluhan tahun ini, tak memiliki sertifikat yang sah. Jadi, tanah yang mungkin sudah dibabat dan dirawat nenek moyang kami ini adalah tanah milik pemerintah. Entahlah. Kami memang tak pernah makan bangku sekolah. Dan orang yang tak pernah makan bangku sekolah memang berpotensi untuk dijajah.
            Sudah puluhan kali kami berdemo, membawa spanduk dengan kata-kata yang kami sendiri terkadang tak paham artinya. Dan yang terjadi adalah sama, seperti komidi putar. Rumah kami kembali dibuldoser tanpa ampun. Hancur. Rata dengan tanah. Tapi, tak perlu menunggu waktu. Dalam hitungan minggu kami sudah membuat rumah itu kembali berdiri. Meski compang-camping, menggunduk di sana-sini, seperti kemah.
            Lambat laun pemerintah akan lupa, atau mungkin lelah dan sengaja membiarkan. Maka, rumah kami berdiri lagi. Menyempal-nyempal lagi. Dan kami kembali hidup seperti sedia kala. Membuka tambal ban di pinggir jalan. Membuka warteg murahan. Berjualan cilok dan tempura. Menjadi buruh cuci. Mengasong. Memulung. Mengemis… hingga kabar pelebaran jalan itu kembali menjewer telinga kami.
Penyakit pelebaran jalan itu kambuh lagi. Kami harus berdemo lagi. Menenteng-nenteng spanduk dan tutup panci lagi. Satpol PP datang berbondong-bondong lagi. Buldoser mengerami rumah kami lagi. Rumah kami hancur lagi. Kami menangis lagi. Kami bangkit lagi. Mengais-ngais lagi. Membangun rumah dari kardus lagi. Memulai dari awal lagi. Begitulah. Berputar-putar. Seperti komidi putar. Dan kami selalu memerankan tokoh yang memar.
***
             
Bagaimanapun, rayap tetaplah rayap. Dan sebagaimana layaknya rayap, kami tak pernah peduli pada ulah manusia yang selalu menghancurkan rumah-rumah kami. Jumlah kami puluhan, ratusan atau bahkan ribuan. Setelah rumah kami hancur, kami akan berbondong-bondong lagi untuk mendirikan rumah yang baru lagi. ***
Malang, 2013

0 komentar: