Rumah Pulang, Tribun Jabar, Minggu 25 Januari 2016





Semenjak kakek dan nenek meninggal, rumah itu menjadi semakin sunyi. Dan kesunyian itu, seakan memiliki wujud seperti asap yang terus menyebar, mencari jalan keluar. Asap itu seolah menguap dari dinding-dinging, atap-atap, lantai, kursi-kursi, ranjang, lemari, serta sebuah sumur tua yang selalu menganga dan tak pernah kenyang melahap daun-daun kering serta bangkai-bangkai serangga ke dalamnya. 
Halaman belakang rumah kakek berhadapan langsung dengan area pemakaman kampung, hanya berbatas sebuah pagar berupa pohon jarak setinggi pinggul orang dewasa. Ketika melihat pohon-pohon jarak yang berderet itu, aku seperti melihat sebuah pembatas antara riuh dan sepi, antara petang dan pagi, antara hidup dan mati. Kakek dan nenek juga dimakamkan di pemakaman itu. Bahkan nisan-nisan dari kuburan mereka terlihat jelas dari halaman belakang rumah. Seperti dua buah tangan yang menyembul dari dalam tanah dan melambai-lambai.
Tahun-tahun menggeliat, dan  bayangan tentang halaman belakang rumah itu tak pernah berubah. Sebuah sumur dengan timba menggantung di ambang liang. Sebuah ruang mandi yang sangat sederhana, yang tak memilki atap dan pintu, kecuali sebuah kelambu—yang dibikin dari kain sarung yang sudah tidak dipakai dan disampirkan alakadarnya di palangan kayu. Di teritisnya, dua buah kursi anyam yang amburadul telah terjaga selama puluhan tahun. Sampai-sampai kaki kursi itu tenggelam ke dalam tanah dan lapuk dimakan rayap.
Sebelum kakek dan nenek meninggal, mereka betah sekali duduk berlama-lama di kursi itu sambil memandangi puluhan batu nisan yang mencuat di pemakaman belakang rumah. Kakek pernah bilang, memandang batu nisan di pemakaman bisa membuat seseorang menjadi tenang dan berpikir lebih jernih.
Kakek juga pernah berkisah, dulu sekali, neneklah yang bersikeras ingin membangun rumah di pinggiran makam itu.
“Apa kau tidak takut tinggal bersebelahan dengan kuburan?” kakek pernah bertanya serupa itu pada nenek, dan apa jawab nenek?
“Apa yang perlu ditakutkan dari kuburan, dari nisan-nisan, dari benda mati? Toh kita juga akan mati.”
Selanjutnya, nenek menyebut rumah itu sebagai rumah pulang. Dan rumah itu memang selalu mengingatkan mereka untuk pulang. Hampir tak pernah kakek atau nenek menginap berlama-lama di rumah yang bukan rumahnya. Tak ada rumah yang setenang rumah itu. Kata kakek, nenek memang lebih menyukai kesunyian daripada keramaian. Sebab itulah nenek lebih memilih membangun rumah di tanah kosong, di sebelah kuburan yang lengang, ketimbang membangun rumah di sisian jalan, di keramaian, atau di mana pun.
Dari ayah, aku tak pernah mendapat banyak cerita tentang rumah itu, kata ayah—yang merupakan bocah semata wayang kakek dan nenek, yang sedari kecil hidup di rumah itu, rumah itu sama sekali tak ada bedanya dengan rumah-rumah lain. Hanya saja, ketika malam tiba, terasa sangat sunyi. Seperti ada liang dalam rumah itu yang menelan riuh-piuh dunia luar. Namun, dari kakek, aku mendapat banyak cerita menarik tentang rumah di sebelah makam itu. Konon, kata kakek, setiap kali ada orang meninggal, malam harinya, aroma wangi yang ganjil selalu tercium sampai ke dalam rumah, merambah sampai ke dapur, kamar, dan ruang depan.
“Itu hanya aroma bunga selepas pemakaman, aroma bunga dari orang-orang yang nyekar,” ujar kakek. Tapi ujar nenek tidak demikian.
“Bukan, itu bukan aroma bunga, itu adalah aroma dari sebuah pesan. Pesan yang sangat dalam. Dan mungkin hanya kita saja yang bisa menghirupnya.”
“Apa karena rumah kita paling dekat dengan makam?”
“Mungkin.”
Dan setiap kali membaui aroma itu, kakek dan nenek selalu merapatkan genggaman tangan. Menjelang tidur, mereka berbaring  dan menerawang ke langit-langit yang pekat. Tangan mereka tak lepas bergenggaman. Sesekali mereka terisak tanpa sebab, dan kerap kali mereka saling menggumam. Kakek menyebutnya gumaman menjelang tidur. Gumaman yang melulu sama.
“Kelak, salah satu dari kita akan pergi terlebih dahulu dan berpisah ranjang. Salah satu dari kita akan terbaring di ranjang ini, sementara yang lain akan terbaring di belakang sana, di sebuah ranjang yang dingin di bawah gundukan tanah dan tiang nisan.”
Sewaktu nenek hamil, kakek pernah merasa cemas dengan calon bayinya, dengan aroma ganjil yang selalu tercium setiap kali ada orang dikuburkan, hingga kakek mengusulkan untuk pindah rumah. Namun nenek tak pernah sudi pindah rumah, ia terlanjur jatuh cinta pada rumah itu, beserta kesunyian yang meliputinya. Nenek berkaul, setiap orang dilahirkan dari kesunyian dan akan kembali pada kesunyian, bemula dari rahim ibu yang sunyi dan kembali pada rahim tanah yang juga sunyi.
Kakek mengaku, butuh waktu sedikit lama untuk bisa mencecap manisnya kesunyian di rumah pulang itu—kesunyian yang telah lama diagung-agungkan nenek—sampai ia menjadi seorang bapak dan kemudian sedikit beruban dan menjadi seorang kakek, “Semakin seseorang berbau tanah, kesunyian akan semakin berarti. Seperti bayi yang begitu karib dengan aroma keringat ibunya.”
Kakek mengibaratkan hari-harinya bersama nenek di rumah itu seperti mimpi indah dalam sebuah tidur pendek, mimpi yang cepat sekali pergi dan membuat seseorang menjadi pikun. Ketika ayah lahir, aroma ganjil selepas pemakaman pun masih kerap tercium, hanya saja sedikit pudar, mungkin karena mereka sudah terlalu biasa. Dan gumaman menjelang tidur mereka pun menjadi sedikit berbeda, “Kelak, salah satu dari kita bertiga akan berpulang terlebih dahulu...”
Nyatanya, dari mereka bertiga, nenek adalah orang pertama yang meninggalkan rumah pulang untuk pulang ke rumah pulang yang paling pulang. Disusul kemudian kakek, beberapa tahun setelahnya. Dan rumah itu pun sempurna menjadi milik sepi. Ayah sendiri merasa enggan tinggal di rumah yang berhimpitan dengan makam itu. Lagi pula, waktu itu, ayah sudah mendapatkan pekerjaan tetap di kota tempatnya melanjutkan sekolah. Hingga akhirnya ia menikah dan membangun rumah sendiri di kota itu, jauh dari kesunyian rumah pulang, rumah masa kecilnya
Aku tak ingat kapan pertama kali ayah mengajakku ke rumah itu, yang kuingat dari rumah itu hanyalah hawa sunyi serta dua buah kursi anyam yang terdiam di belakang rumah dan menantang makam. Aku sendiri menganggap rumah kakek jauh lebih nyaman ketimbang rumah ayah di kota. Selepas kakek dan nenek meninggal, lama sekali kami tidak mengunjungi rumah itu. Hingga ayah—yang usianya kian uzur dan sering sakit-sakitan, mendadak berinisiatif mengajak kami berziarah ke makam kakek dan nenek, katanya sekalian menjenguk rumah itu.
 “Saat tubuhku terasa begini rapuh, tiba-tiba aku sangat merindukan rumah itu, aku ingin duduk di kursi anyam di belakang rumah sambil memandang lepas ke gunduk makam dan nisan-nisan. Memang, tak ada rumah yang lebih baik dari rumah yang selalu mengingatkanmu akan pulang,” ujar ayah sambil menuang lamunannya.
Entah mengapa, aku merinding mendengar kata-kata ayah yang terakhir.***
Malang, 2014

1 komentar:

Ansar Siri mengatakan...

Aku merinding baca ini, Kang.